AMNESIA

            Biarkanlah kisah ini tetap menggantung, menanti akhir yang diimpikan sang penulis skenario. Tak mengapa, meski sang pungguk harus merindu bulannya lebih lama lagi, asalkan semuanya sesuai yang diharapkan. Asal kau ingat, bahwa semuanya harus berakhir indah. Tanpa ada derai air mata berlebihan, kisah ini harus menjadi kisah manis yang menyimpan kenangan indah bagiku dan dirinya.

***

            “Udah, nggak usah manyun lagi.”

             “Terserah aku dong.”

            “Kamu nggak bisa begini terus.” Ujar Jingga geram. Meski matanya terpaku pada jalan di hadapannya, ia masih bisa mengintip raut wajah Lintang. Gadis berparas ayu itu memasang wajah cemberut jika ia sedang kesal dan itu biasanya akan membuat Jingga melunak.

            “Jadi, kamu maunya apa?”

            “Jauhi cewek itu! Aku nggak suka!”

            “Sayang, aku kan udah bilang, kalau dia itu cuma temen, nggak lebih.”

            “Tapi kan, bisa aja dia menganggap kamu lebih.”

            “Kamu nggak perlu negative thinking ke orang lain, nggak baik.”

            “Tuh kan! Kamu belain dia! Udah turunin aja aku disini!” ujar Lintang sembari mengguncang-guncangkan tubuh Jingga.

             “Oke.”

            Jingga lalu menepikan mobilnya, membiarkan Lintang pergi. Lintang sendiri sebenarnya tidak benar-benar ingin Jingga pergi. Ia hanya ingin Jingga menurutinya karena itulah yang biasa pria itu lakukan padanya. Tapi kali ini, pria yang dicintainya itu benar-benar menurunkannya dan ini membuatnya benar-benar kesal. Jangan-jangan Jingga memang ada apa-apa dengan perempuan itu?  Ia menggeleng keras dan berharap ia bisa mematahkan hidung mancung perempuan itu kalau saja ia berani merebut Jingga darinya.

            “God, gue lupa bawa tas pula!” Ia menepuk jidatnya, tersadar kalau tasnya tertinggal di dalam mobil Jingga. Bagus, sekarang selain tak punya uang untuk pulang, ia juga tak punya ponsel untuk menghubungi Pak Asep, sopir pribadinya.

             Hari sudah beranjak malam dan ia tahu daerah ini tidak aman. Sialnya, setelah menunggu setengah putaran jam, ia masih belum menemukan taksi kosong. Kekesalannya semakin menumpuk dan siap untuk diledakkan kapanpun juga. Ia buru-buru melangkah, menyeberang ke sisi lain, berharap ada ojek atau apapun yang bisa membawanya pulang.

            Begitu ia ingin menyeberang, ia tak memperhatikan lagi keadaan dan yang ia tahu hanyalah pandangannya berubah gelap.

***

            Lintang membuka matanya. Kepalanya masih berdenyut. Ia meraba keningnya dan mendapatkan perban disana. Ia memandang ke sekeliling. Ruangan putih dengan aroma antiseptik yang menyengat itu pasti sebuah ruang  klinik atau ruamh sakit. Ia menoleh ke lengan kiri dan mendapati infus menempel erat. Ia tak ingat apa yang terjadi sebelumnya. Meski ia berusaha mengingat, menggali informasi tentang keberadaan dirinya, ia tak tahu.   

            “Kamu sudah sadar?” ujar seorang wanita paruh baya yang sama sekali tak dikenalnya.

            “Anda siapa?”

            “Saya yang menolong kamu. Kamu mengalami kecelakaan dan hanya keajaiban yang membuatmu bisa bertahan.”

            “Saya? Kecelakaan?”

            “Iya. Sekarang, kamu bisa beritahu saya dimana kamu tinggal?  Mungkin orangtuamu khawatir. Namamu siapa?”

            “Nama?” Kepalanya makin berdenyut saat ia berusaha mengingat semua itu.

            “Iya, nama kamu.”

            “Saya tidak tahu.” Wanita itu menampakkan raut wajah terkejut.

            “Kamu tidak ingat?”

            Lintang menggeleng. Ia memukul-mukul kepalanya, berusaha mengingat semuanya. Nihil, isi kepalanya seperti diformat habis, tak bersisa sedikitpun.

***

            “Saya bersedia merawatnya.” Ujar Edgar lantang, meski ia belum sepenuhnya yakin dengan apa yang diucapkannya barusan.

            “Apa kamu yakin? Bisa saja dia pura-pura lupa ingatan dan sengaja membuat kita kasihan padanya.” Ujar seorang ibu yang membantunya membawa wanita itu ke klinik ini.

            “Ya, tapi bisa saja sebaliknya. Ia benar-benar lupa ingatan dan perlu bantuan.”

            “Baiklah, itu terserah padamu saja. Yang jelas, aku sudah memperingatkanmu.”

            Ia meninggalkan wanita paruh baya itu lalu memberanikan diri memasuki ruangan itu. Wanita itu tampak sedang tertidur. Dipandanginya raut wajah wanita itu. Garis-garis wajahnya persis seperti wanita yang ia temui dua tahun lalu, saat ia dirawat di rumah sakit TNI. Wanita itu menjadi salah satu dokter yang memeriksa kondisi tentara-tentara yang barusaja mendarat dari Kongo dalam misi perdamaian. Wanita yang berani menyimpan kenangan dalam otaknya, yang membuatnya jatuh cinta pada sekali pandang.

            Apa ini murni kebetulan? Ia menemui wanita itu dan sekarang ia dalam keadaan lupa ingatan. Ia bisa saja mengaku kalau wanita itu adalah istrinya dan ia berani bertaruh wanita itu tak akan mencurigainya. Tapi ia tahu itu terlalu egois dan ia ingin wanita itu menyukainya tanpa ada keterpaksaan dan kebohongan.

            Ia membelai rambut wanita itu dan mendapati wajah berbentuk hati itu tiba-tiba  terkesiap. Ia terbangun. Buru-buru ia menarik jemarinya dari wanita itu.

            “Kamu siapa?”

            “Edgar.”

            “Edgar?”

            “Ya. Sahabatmu.”

            “Bisa kau beritahu apa yang terjadi padaku?” Edgar lalu menarik napas panjang dan mulai merekayasa semuanya.

            “Jadi namaku Arana dan aku yatim piatu?”

            Edgar mengangguk. Berhasil. Wanita dihadapannya ini benar-benar mempercayainya dan setidaknya ia bisa bernapas lega untuk sementara waktu.

           

           

 

LAST UNNAMED

Sebelum upload yang terakhir, aku cuma mau ngucapin terimakasih buat yang udah baca,komen,kritik,saran sampe akhinya kelar juga novela pertama aku :’)

Oh, ya novela ini aselinya aku kasih nama “Love Stase” dan aku kirim buat lomba di gramediana.com, doakan smoga menang yaaa ❤

 

-Raizel POV-

            “Udah, lo nggak usah buang air mata lo cuma buat orang PHP macam residen ababil itu,”

“Lo nggak ngerti gimana rasanya jadi gue,”

“Justru karena gue sangat mengerti diri lo, gue nggak mau lo terhanyut. Just move on, babe! Life must go on,”

I wish i could be together with him,”

” Kadang nggak semua keinginan kita bisa terwujud. Lo yakin aja bahwa ada seseorang di luar sana yang menunggu lo dan orang itu bukan Reggie.”

Tria mengangsurkan tisunya padaku. Ya, dia memang benar. Hidup harus terus berjalan . Setidaknya aku tahu dari awal kalau dia memang tidak menyukaiku. Ya, aku harus bersikap realistis. Mungkin jalan kami memang ditakdirkan untuk tidak bersimpangan.

Sejenak, semua mahasiswa menutup mulut mereka rapat. Mungkin, dosen sudah masuk. Aku menolehkan kepalaku ke arah pintu utama dan mendapati seseorang yang tidak ingin kilihat wajahnya sekarang Apa aku bermimpi? Tidak, aku rasa tidak. Tapi, bukankah blok obgin sudah berlalu dan itu artinya dia tidak ada urusan disini?

“Kok dia bisa ada disini?”

Aku mengintipnya dari ujung mataku. Dia tak melirik sedikitpun kepadaku. Oke, mungkin sekarang dia sudah belajar melupakanku dan aku juga harus berusaha melupakannya.

Begitu tiba di depan meja komputer, ia segera membuka file dan menyiapkan presentasi. Lalu, dia mengambil kertas absen dan mulai mengabsen mahasiswa satu persatu— hal yang tak pernah ia lakukan sebelumnya. Aku sendiri tak mau ambil pusing.

            “Albert Alviano…”

            “Devita Angelia…”

            “Diego Marcellino..”

            “Hesti Fitria…”

            “Keano Bramadista..”

            “Raizel Anindita,” Aku mengangkat tangan dengan lesu. Sejujurnya, aku tidak bisa membohongi gejolak yang membuncah, karena entah kenapa jantungku terasa berdetak lebih cepat saat dia memanggilku. Tapi, ego yang terlalu menguasai hati membuatku menahan perasaan, mencegahnya keluar, agar Reggie tak tahu kerinduanku yang dalam padanya.

            Setelah ia memanggil satu persatu mahasiswa, lima menit kemudian dokter Rudi datang. Perkuliahan berlangsung singkat, karena dokter Rudi harus mengerjakan operasi pemisahan bayi Friska-Florent, sepasang kembar siam. Seperti kebanyakan dosen, dokter Rudi menyuruh Reggie menandatangani logcard kami. Tak seperti biasa, ia tidak menampakkan wajah masamnya. Ia tampak tersenyum dan tak mengeluh. Aneh.

            Saat dia menandatangani kartu hijau itu, aku seperti dipaksa merangsek masuk ke masa lalu, saat dia memintaku membantunya menandatangani sebagian kartu hijau itu. Kenangan itu mengitari otakku, seperti kaset rusak yang memutar bagian yang sama berulang-ulang. Aku ingin sekali kembali pada masa itu.

            Setelah selesai menandatangani logcard, ia melenggang keluar, seolah tak mengenaliku. Apa dia tidak menganggapku lagi? Aku tahu bahwa aku kemarin terlalu emosi sehingga meninggalkannya begitu saja. Tapi siapa yang tidak emosi melihat orang yang sudah lama kau cintai hanya mempermainkanmu.

            Sepertinya ada yang berbeda pada dirinya hari ini. Ya, kumis tipis yang setia bertengger di wajah macho-nya kini menghilang. Mungkin kemarin dia bercukur dan efek aftershave-nya membuat wajahnya terlihat lebih segar dan muda. Tapi sejujurnya aku lebih menyukai penampilannya dulu. Hmm, tapi bukan itu saja yang berubah. Ada sesuatu yang hilang darinya. Biasanya dia akan bersikap sok ganteng dan membuatku salah tingkah. Hari ini dia cenderung diam, seperti memikirkan sesuatu. Mungkin dia sedang ada masalah dengan Freya.

            Jujur, aku masih mencintainya. Perasaan yang kupupuk bertahun-tahun tak bisa kuhilangkan begitu saja. Mungkin aku sudah terlalu mencintainya, hingga sulit sekali melupakannya.

 

-Richie POV-

            Saat matahari mulai menampilkan rona merahnya, aku dan Reggie sedang duduk di balkon. Hari ini Reggie telah dilantik menjadi dokter spesialis. Aku tak menyangka hari ini akan datang juga. Di balkon, tampak beberapa bungkus keripik kentang, dua kaleng minuman ringan dan gitar kesayangan Reggie. Ia memetik gitarnya perlahan, menyanyikan lagu This Love. Entah kenangan apa yang ada di lagu itu sehingga ia memainkan lagu itu berkali-kali.

            “ Senja disini paling indah,” ujarnya kemudian dengan suara mendesah.

            “Iya.” Balasku, tak kalah pelan. Aku menyodorkan kaleng minuman padanya, lalu ia meneguk pelan isinya.

            “Gue nggak nyangka gue udah jadi dokter spesialis,”

            “Ya, dan sekarang gue mesti manggil lo dengan sebutan dr.Reggie Harmoko,Sp.OG.”

            Dia menoyor pelan pundakku. “ Dan lo kapan nyusul gue?” sindirnya.

            “Secepatnya.”

            Lalu dia kembali memainkan gitarnya. “ Lo sendiri kapan mau melamar Freya?”

            Ia berhenti memetik gitar dan menoleh kearahku. Sedikit terperangah mendengar apa yang baru saja keluar dari bibirku. “ Gue belom kepikiran,”

            “Lo mesti segera memutuskan. Lo tau? Kodrat wanita itu menunggu. Lo mau Freya nikah dengan orang lain cuma karena gak tahan nunggu kepastian dari lo?”

            “Itu berarti gue dan dia belum jodoh.” Jawabnya enteng.

            “Jodoh atau nggak itu tergantung dari sikap kita. Kalo lo emang nggak niat, lo pasti berpikir kalo semua ini emang ditakdirkan Tuhan.”

            “Ya. Sejauh ini gue belom berpikiran sampe kesana. Gue masih ragu.”

            “Hati lo masih nyangkut di Raizel?”

            “Nggak.”

            “Artinya lo udah bener-bener ngelupain Raizel?”

            Dia terdiam. Aku sendiri tidak tahu apa yang menggelayuti pikirannya saat ini. “Gie, lo mesti sadar kalo Raizel cuma masa lalu. Lo mesti menatap masa depan. Kecuali kalo lo emang nggak mau masa depan lo adalah Freya.”

            “Lo nggak paham,”

            “Gue paham. Sangat paham. Mungkin ini saatnya buat lo memutuskan apakah lo mesti melupakan Raizel dan mulai mencintai Freya seutuhnya atau malah lo berhenti berpura-pura mencintai Freya dan mengejar cinta Raizel.”

            “Gue nggak berpura-pura mencintai Freya.”

            “Terserah lo. Gue nggak butuh bantahan dari lo. Gue cuma mau lo jujur sama diri lo sendiri,”

            “Tolong lo jaga Raizel, buat gue.” Dia menyentuh pundakku dan beranjak pergi.

 

-Raizel POV-

            Delapan bulan kemudian…

 

            Ketika masa lalu memaksamu mengingat

            Semua memori yang berpendar kebiruan

            Aku tahu ini bukan saatnya berlari

            Karena mentari mengingatkanku untuk membiarkanku kembali

            Agar masa lalu mengukirkan takdir baru

           

            “Gue nggak nyangka kita udah koas aja,”

            Ya. Delapan bulan berlalu dan kami sekarang sudah berganti status, menjadi seorang koas. Layaknya bunga yang baru mekar, masa awal koas adalah masa yang indah. Mengenakan baju putih, baju kebanggaan para koas, adalah impianku sejak awal masuk kuliah.Terbayang olehku suasana riuh di rumah sakit, sibuknya aku dan koas lain, dan seabrek tugas yang dulunya tak pernah kami pikirkan sebelumnya. Ya, itu bukan masalah. Aku lalu teringat peribahasa “ Semakin tinggi pohon, semakin kencang angin menerpa”. Semakin tinggi tingkat pendidikan, tentu semakin banyak masalah yang dihadapi.

            “Lo dapet stase apa?”

            “Obgin.” Sahutnya ringan. Mendengar kata obgin mengingatkanku akan sosok Reggie. Bagaimana kabarnya? Aku sendiri tidak tahu pasti. Sejak dia datang ke kampus waktu itu, aku tak pernah bertemu dengannya lagi. Ah, aku naif bila aku mengatakan bahwa aku tidak merindukannya.

            “Kalo lo ?”

            “Bedah.” Balasku.

            “Gue baru dapat kabar kalo Reggie udah jadi dokter spesialis.” Aku ber-ooh ria. Bahkan ketika dia sudah menjadi dokter spesialis pun, dia tak sedikitpun mengabariku. Mungkin aku bukan siapa-siapa lagi baginya.

 

-Richie POV-

            Jam beker di kamarku memecah kesunyian. Aku bangun dengan malas. Kadang aku menyesal kenapa aku lebih memilih PTT dulu dibandingkan meneruskan kuliah spesialis. Kuliah spesialis yang cukup terlambat ini memaksaku menyiapkan tenaga ekstra. Ditambah lagi, Departemen Bedah di rumah sakit tempatku bernaung selalu padat. Kami sebagai residen kadang kewalahan melayani mereka. Untunglah ada beberapa koas yang meski belum terampil, mereka cukup cekatan dalam membantu pekerjaan kami.

            Aku segera menuju kamar mandi, menghidupkan keran air hangat. Butir- butir air hangat yang keluar dari shower membuatku rileks. Setelah mandi, aku mengambil baju snelli bersih di lemari, mengambil nametag di baju lamaku dan notes kecil di dalam laci.

            Setelah semua siap, aku bergegas menuju rumah sakit. Sepuluh menit berlalu dan segera saja aku telah tiba di departemen bedah. Koridor rumah sakit masih sepi. Aku menuju ruang tempatku menaruh barang-barangku. Disana ada seorang koas wanita yang tengah sibuk membaca buku. Raut wajahnya tak tampak karena ia menghadap ke samping. Tapi potongan rambut itu membuatku tersadar kalau itu adalah Raizel.

            “Raizel?” Dan gadis itu lalu menatapku dengan mata membulat.

            “Lo? Bukannya lo udah tamat?” tanyanya.

            “Saya belum tamat.” Jawabku pelan.

            “Kok bisa lo ada dua departemen dalam waktu yang berbeda?” Ia masih bingung. Ya, wajar saja ia bingung. Bagaimana mungkin satu orang yang sama ada di dua tempat yang berbeda.

            “Saya bukan Reggie.”

-Raizel POV-

            “Saya bukan Reggie.”

            “Lo nggak usah sok formal deh. Gak asik tau!”

            “Kamu yang mestinya sopan. Saya ini lebih tua dari kamu.”

            “Biasanya lo nggak masalah dengan panggilan gue.”

            “Karena saya bukan Reggie, tolong jangan perlakukan saya seperti kamu memperlakukan Reggie.”

            “Kalo lo bukan Reggie, lo siapa? Kembarannya?”

            Dia mengangguk pasti. Tapi, bagaimana bisa? Selama ini Reggie tak pernah menceritakan masalah ini padaku. Jadi, kalo bukan Reggie yang menemuiku tiga tahun lalu, itu berarti pria ini yang kutemui? Oh, dear. Aku mencintai orang yang salah selama ini.

            “Jadi nama kakak siapa?” ujarnya, melunak.

            “Richie. Richie Harmoko.”

            “Kalo kakak adalah kembaran Reggie, kok kalian nggak tamat bareng?”

            “Bukan urusan kamu!” Sergahnya. Dia berlalu, pergi meninggalkanku.

            “Kok nih orang ngeselin banget sih!” gumamku.

 

-Richie POV-

            Semenjak aku menjelaskan bahwa aku dan Reggie kembar, aku semakin dekat dengan Raizel. Memang, kadang ada pertengkaran kecil diantara kami berdua. Tapi aku maklum. Aku kadang terlalu kaku terhadapnya, sedang dia menganggapku layaknya Reggie yang easy going. Seperti saat ini, saat aku dan dia sibuk memilih tempat makan siang.

            “Di Java Freeze aja, kak!” Aku membayangkan kami berdua duduk berhadapan. Raizel tersenyum malu-malu. Ah, itu bukan tempat yang pas! Terlalu romantis bagi orang kaku sepertiku. Lucu pasti. Lagipula, tempat itu cukup jauh dari rumah sakit. Bagaimana kalau ada pasien gawat darurat sedangkan kami baru melahap sesendok makanan? Aku buru-buru memikirkan tempat yang dekat saja dari rumah sakit.

            “Pizza Hut!” Mendengar ide itu, ia memberengut.

            “Kalo tau kita makan di Pizza Hut, nggak usah naik mobil juga bisa!” Ujarnya sembari mengerucutkan bibir. Tapi begitulah dia, tak sampai lima menit, mood-nya langsung berubah, apalagi kalau sudah melihat menu makanan. Segera saja dia memesan dua pan pizza.

            “Pelan-pelan makannya, entar kamu tersedak.”

            “Uhuuk…”

            “Nah kan, apa aku bilang.” Aku lalu menyodorkan gelas padanya. Dia meminumnya cepat.

            “Eh, aku mau tanya, kenapa kamu nggak pernah manggil dia dengan sebutan ‘kakak’ seperti panggilanmu ke aku?”

            “Karena dia itu kayak ababil. Jadi belom pantes dipanggil kakak.”

            Aku tertawa. Memang, tingkah Reggie masih saja seperti ABG labil. Tapi, memang seperti itulah dia.

            “Ya, setidaknya kamu panggil dia kakak.”

            “Terserah aku dong, Kak!” ujarnya sembari memeletkan lidah.

            “Eh, operasi tadi itu gimana kak?”

            “Oh, operasi laparotomi tadi? Sukses kok. Untung usus yang nekrosis nggak terlalu panjang, jadi ligasi-nya nggak terlalu sulit.”

            “Entar jelasin ya kak. Soalnya operasi tadi katanya mau masuk ujian.”

            “Oke. Ngomong-ngomong kamu nggak kangen sama Reggie?”

            Dia terdiam. “Apa perlu aku kangen sama dia? Dia kan udah punya pacar, Kak.”

            “Nggak ada salahnya rindu sama seseorang, apalagi seseorang yang pernah berarti buat kita.”

            “Jadi kakak pengen aku kangen sama Reggie?”

            “Ya, nggak gitu juga sih. Aku maunya kamu jujur sama perasaanmu sendiri. Jangan sampai orang lain lebih memahamimu ketimbang dirimu sendiri.”

            “Jadi kakak merasa lebih mengenalku?”

            “Mungkin. Kamu itu terlalu mudah dibaca.”

            “Jadi apa yang kakak baca sekarang dari wajahku?” Dia menunjuk wajahnya. Aku terkekeh geli.

            “Kenapa ketawa? Emang wajahku kayak topeng monyet?”

            “Iya.”

            “Ih.. kakak ini ngeselin banget sih!”

            “Kamu sih..”

 

-Raizel POV-

            Aku maunya kamu jujur sama perasaanmu sendiri. Jangan sampai orang lain lebih memahamimu ketimbang dirimu sendiri.

            Kata-kata kak Richie tadi menggaung terus di telingaku. Aku sendiri sebenarnya masih mengharapkannya kembali. Tapi, aku tahu bahwa mengharapkan kekasih orang lain adalah sebuah kesalahan besar. Aku tidak mau seperti itu. Itulah kenapa selama ini aku mengubur dalam-dalam rasa itu. Membiarkannya gersang, hilang perlahan, dan sampai akhirnya habis tak bersisa. Tapi, aku tak bisa. Semakin aku berusaha melupakannya, semakin kuat dia bercokol di kepalaku.

            Aku sendiri tidak tahu harus bagaimana. Apa aku harus mencari penggantinya? Tapi itu berarti aku terlalu egois. Aku menjadikan seseorang sebagai pelarian. Itu akan menambah masalah baru nantinya. Tapi, aku sudah terlalu lelah didera rasa ini. Aku ingin keluar, tapi sebagian hatiku memaksaku bertahan.

            Dan, tentang kak Richie, seseorang yang perlahan memasuki kehidupanku. Aku tahu dia hanya ingin aku jujur pada perasaanku. Aku yakin dia adalah orang yang selama ini aku cari. Tapi aku sadar, orang yang kucintai adalah Reggie. Richie hanyalah alasan yang membawaku mencintai Reggie.

 

-Raizel POV-

            “Kamu mau makan dimana? Ayo aku traktir hari ini.” Ujar Kak Richie. Tidak biasanya dia yang duluan mengajakku.

            “Terserah kakak aja deh.”

            Dia lalu membawaku ke suatu kafe yang baru beberapa hari dibuka. Aku barusaja mendengarkan Tria bercerita tentang tempat ini. Suasana disini lumayan menyenangkan. Interior bangunan disusun sedemikian rupa sehingga kita seolah berada di pesawat. Pelayannya pun mengenakan baju ala pramugari dan pilot. Aku akan menandai tempat ini sebagai tujuan hangout berikutnya.      

            “Kamu udah pernah kesini sebelumnya?” Aku menggeleng.

            “Berarti aku adalah orang yang pertama mengajakmu?”

            “Iya. Ngomong-ngomong baru dapet proyek ya? Kok tiba-tiba mau traktir aku?”

            “Kamu nggak perlu tau sekarang.” Ujarnya sembari menebarkan senyum penuh arti.

            “Mbak dan mas mau pesan apa?” tegur pelayan itu ramah.

            “Kamu mau apa, Zel?”

            “Terserah kakak deh.”

            “Oke, keluarin makanan yang paling spesial disini ya, Mbak!”

            “Oke, Mas. Silahkan ditunggu pesanannya.”

            Tak sampai sepuluh menit pesanan kami keluar. Pelayan itu membawa kereta dorong berisi nampan besar. “Kak, uang kakak cukup, kan?” ujarku sembari menelan ludah. Aku tak membawa uang sepeser pun dan dengan makanan sebesar itu aku bisa memperkirakan betapa mahalnya hidangan yang tersembunyi di dalamnya.

            “Kamu tenang saja.”

            Begitu pesanan itu diletakkan di mejaku, aku membuka penutupnya dan mendapati dua puluh satu cupcake mini berhiaskan miniatur animasi dokter. Lucu sekali. Rasanya sayang untuk melahapnya.

            “Happy birthday. Semoga kamu bisa mendapatkan apa yang kamu inginkan.” Dia mengacak-ngacak rambutku lalu tersenyum. Senyum yang mengingatkanku akan sosoknya tiga tahun lalu. Senyum yang dulu membuatku jatuh cinta.

“Makasih, Kak!”

“Nah, ini buat kamu.” Ujarnya seraya menyodorkan sebuah kotak ungu berlapis pita keperakan. Saat ingin meraihnya, tiba-tiba ponselku berbunyi.

“Liat aja dulu. Siapa tahu penting.”

Aku lalu membuka ponsel dan mendapati notifikasi dari LINE. Ada dua pesan dari Reggie. Satu berisi foto dirinya bersama selembar kertas bertuliskan “Happy birthday Raizel. Love you.”

            Masih dalam keadaan setengah sadar, aku membuka satu file lainnya berisi rekaman suaranya.

            Selamat ulang tahun tukang ngambek! Jangan ganjen sama cowok lain, ya! Love you.

            “Siapa?”

            “Reggie.” Desahku pelan. Dia sepertinya mengerti maksud desahan itu.

I love you too,Gie..

            Kurasa stase selanjutnya yang mesti kulewati adalah stase cinta. Love stase.

UNNAMED-10

-Richie PoV-

Aku barusaja menyelesaikan operasi apendektomi begitu hujan menghampiri waktu istirahatku. Aku suka menghabiskan waktu bersama rimbunnya hujan. Menikmati bau tanah yang mencium rintik hujan dan segelas kopi hitam menurutku adalah perpaduan sempurna. Teman-temanku sebagian pulang, sedangkan aku dan beberapa residen lain masih harus menjalani tugas jaga.

“Gue duluan,ya.” ujar Kevin, teman baikku. Aku hanya tersenyum singkat lalu melambai pelan ke arahnya.

Entah apa yang ada di pikiranku, hingga segera saja aku melenggang ke sebuah kafe tak jauh dari rumah sakit tempatku menjalani masa residen. Tak apalah, lagipula tugas jagaku masih sekitar dua jam lagi dimulai. Tak ada salahnya jika aku membiarkan otot dan otakku istirahat sejenak,sekedar memulihkan. Di depan halte, kulihat mobil Reggie terparkir. Tak jauh dari situ, Reggie bersama seorang wanita sedang berbicara. Aku tak bisa melihat wajahnya lebih jelas karena rambut pendek wanita itu menutupi wajahnya.

Apa aku perlu menghampiri mereka? Aku menggeleng. Tidak, sepertinya itu bukan urusanku. Mungkin nanti aku tanyakan saja pada Reggie secara langsung.

Begitu tiba di kafe. Aku melihata Freya sedang duduk menyendiri di sudut kiri kafe. Aku segera menyambar kursi di sebelahnya dan menghempaskan bokongku. Dia tampak terkejut, namun sejurus kemudian dia malah melemparkan senyum.

“Hai, kak!” sapanya. Dia memaksa tersenyum, padahal aku tahu dia sedang ada masalah. Matanya tampak kosong.

“Lo nggak lagi berantem sama Reggie, kan?”

Dia tampaknya terkejut dengan pertanyaanku. Namun, ia kemudian menjawab  dengan gelengan kepala.

“Lo nggak usah bohong sama gue,” lagi-lagi dia menunjukkan ekspresi terkejutnya kepadaku. Freya, perasaanmu terlalu mudah dibaca.

Swear, kak!” Ucapnya, berusaha meyakinkanku.

“Kalo lo nggak mau cerita gak apa-apa, dan gue harap lo mau cerita ke gue kalo Reggie nyakitin lo.”

Dia mengangguk sekali.

Dan, hujan hari ini, kunikmati bersama Freya, wanita yang mencintai adikku.

-Reggie POV-

Sorry, aku tadi pulang duluan.” Gue mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang. Sebelah tangan gue sibuk memasangkan earphone ke telinga, sedang sebelah lagi memegang kemudi. Sungguh, gue nggak benar-benar ingin melakukannya tadi―meninggalkannya begitu saja di saat gue tahu Raizel menguping pembicaraan kami. Gue tahu ini nggak logis, tapi entah apa yang ada di pikiran gue saat itu sehingga gue dengan ringannya melangkah pergi, berusaha mengejar langkah kecil Raizel.

Di seberang sana, Freya terdengar menghembuskan napas panjang.Gue nggak terlalu berharap dia akan memaafkan gue, tapi mengetahui kekecewaan hatinya membuat dada gue nyeri.

“Kamu boleh marah sama aku, tapi kamu mesti tahu bahwa yang ada disini, di hatiku, sepenuhnya cuma kamu, nggak ada yang lain,” Ucap gue tulus. Serius, gue bukan dalam edisi menggombal kali ini. Gue cuma pengen dia tahu perasaan gue sebenarnya. Sesederhana itu.

“Gue nggak perlu marah dan nggak ada yang perlu lo lurusin,” Begitu yang meluncur dari bibirnya. Gue tahu, dia terlalu lelah untuk marah-marah dan pernyataannya tadi semakin membuat gue yakin dia kecewa. Dia memutuskan hubungan telepon dan gue benar-benar yakin dia kecewa. Sungguh, gue nggak ngerti akan perubahan sikap Freya. Sebelum kami pacaran, setidaknya dia nggak pernah seperti ini, cemburu overdosis. Dia selalu bisa mengerti apapun kondisi gue dan dia selalu percaya kata-kata gue. Sekarang, dia sepertinya sulit menyimpan kepercayaan itu. Apa semua wanita begitu? Apa seluruh sel otak wanita dipenuhi cemburu, hingga dengan mudahnya merasakan itu? Gue benar-benar nggak ngerti.

Terdengar Adam Levine menggemakan lagunya di telinga gue, buru-buru gue angkat panggilan itu. “Lo bisa beliin gue keripik kentang di minimarket?”

Gue mengangguk. Sadar bahwa anggukan gue nggak bisa diliat olehnya, gue buru-buru mengiyakan. Gue lalu memarkir mobil gue di depan minimarket yang nggak jauh dari rumah sakit. Begitu melewati freezer es krim, gue langsung mencomot beberapa es krim kacang merah, berharap Freya menyukainya.

Seusai membayar belanjaan, gue langsung memutar arah ke rumah Freya. Gue mengetuk pintu rumahnya tiga kali dan meninggalkan kantong es krim beserta selembar kertas. Forgive me.

Gue lalu kembali ke rumah sakit untuk mengantarkan keripik kentang pesanan Richie. Kasihan dia mesti jaga beberapa hari ini full tanpa istirahat. Gue tahu bahwa keripik kentang adalah angin surga buatnya.

“Nih,” Gue mengangsurkan kantong keripik kentang kepadanya.

“Lo nggak ada masalah sama Freya kan?” Kok dia bisa tahu,sih?

“Nggak,” ujar gue ringan, berharap bisa menyamarkan kebohongan.

“Gue harap ada atau nggak masalah diantara kalian berdua, ini samasekali nggak ada hubungannya sama cewek yang ada bersama lo di halte sore tadi.”

Gue tercekat. Nih orang punya cctv apa cenayang sih? Kok bisa tahu kalo gue sama Raizel sore tadi? Bener-bener mati kutu gue!

“Lo tau darimana?”

“Gue tadi ngeliat lo,”

Gue lalu menceritakan semuanya. Tentang Raizel dan pertemuan kami. Tentang pena.Tentang kedekatan kami. Tentang rasa absurd yang menggerogoti sebagian hati gue.

“Jadi, cewek itu ngerasa pernah ketemu sama lo tiga tahun lalu?”

Gue mengangguk. “Gue heran, padahal lo tau sendiri kalo gue nggak pernah ketinggalan pena, jarum atau sebagainya. Barang gue selalu lengkap dan gue nggak pernah pinjam punya orang lain. Apa lo pernah ngerasa pinjam pena ke seseorang?”

Dia tampak menerawang. “Pernah, tapi gue lupa persisnya kapan,”

“Apa menurut lo dia salah mengenali kita?”

Dia mengedikkan bahu. “Lo pernah cerita kalo lo punya saudara kembar?”

“Nggak. Menurut gue itu nggak penting. Lagipula gue tahu kalo lo nggak suka sama anak kecil,”

“Siapa bilang? Oh gue tahu! Lo takut dia suka sama gue?”

“Nggak ada cewek yang suka sama cowok dingin dan kaku kayak lo, jadi gue nggak ada alasan buat takut tersaingi sama lo,”

“Kita liat aja nanti,”

-Richie POV-

Aku akhirnya mengerti masalah yang terjadi diantara Reggie dan Freya. Reggie terlalu gengsi untuk mengatakan yang sebenarnya. Atau mungkin, hal yang lebih parah adalah bahwa dia mencintai dua wanita itu sekaligus.

Aku sendiri merasakan adanya koneksi antara aku dan Raizel. Tapi aku juga masih ragu apakah Raizel adalah gadis itu? Kecelakaan di suatu tempat, di waktu yang sama, mungkin saja dialami oleh lebih dari satu orang. Lagipula aku tidak tahu asal usul gadis itu dan tidak tahu pasti apakah dia masih ada di daerah ini atau sudah merantau ke daerah atau bahkan belahan dunia lain. Aku penasaran seperti apa rupa Raizel hingga membuat Reggie jatuh cinta.

Sudahlah, daripada sibuk memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang malah membuat kepalaku bertambah nyeri, lebih baik aku menghabiskan keripik kentang yang telah Reggie berikan padaku.

Barusaja aku mencomot keripik kentang, konsulen bedah memanggilku.

“Besok, tolong kamu persiapkan kuliah di kampus.” Aku mengangguk. Apa ini murni kebetulan? Aku tidak tahu persis. Lalu, kenapa aku malah berteriak kegirangan dalam hati saat aku tahu besok aku mungkin bertemu Raizel? Mungkin otakku sudah tidak waras karena dipaksa bekerja seharian penuh. Ya, pasti itu.

Berhubung aku tak membawa baju snelli bersih lebih, aku segera mengirim bbm ke Reggie untuk membawakan bajuku.

Gie, tlg bawain snelli gw yg ad di dlm lmari. Mksh.

Sent.

Sekarang yang perlu kulakukan hanya membiarkan tubuhku beristirahat selagi belum ada pasien gawat di IGD. Residen jaga di IGD hari ini adalah aku, Helena, Ulil dan Vino. Mereka bisa diandalkan untuk sementara waktu.

***

07.30 WIB

“Chie, Lo nggak ke kampus?”

Aku membuka mataku tipis dan mendapati bayangan Reggie disana. Apa aku sudah ada di rumah? Aku lalu mengusap kedua mataku. Aku masih berada di bangku koridor rumah sakit. Gosh! Aku telat!

“Lo kenapa gak ngebagunin gue sih,”

“Gue baru sampe,”

“Gue mesti ke kampus sekarang,” Aku lalu bergegas menuju kamar mandi. “Lo nggak perlu ini?” Teriak Reggie. Aku membalikkan badan dan segera menangkap snelli yang Reggie lempar ke arahku.

Thanks,” Dia mengangguk singkat. Aku harap air dingin mampu mengusir kantuk yang masih menderaku.

***

Koridor kampus ini masih sama. Bahkan dengan mudah aku bisa mengenali goresan tanganku di dinding laboratorium mikrobiologi. Semuanya tidak berubah. Begitu tiba di depan pintu, aku segera disambut tatapan ingin tahu dari ratusan mahasiswa disana.

Aku mengambil posisi di depan kelas, menghempaskan bokong ke kursi depan komputer dan segera membuka file bahan kuliah untuk hari ini. Setelah semua siap, aku laluu mengabsen satu persatu mahasiswa.

“Albert Alviano…” Seorang mahasiswa berkulit hitam menunjuk tangan.

“Devita Angelia…”

“Diego Marcellino..”

“Hesti Fitria…”

“Keano Bramadista..”

Begitu seterusnya hingga tiba nama Raizel.

“Raizel Anindita,” Seorang mahasiswi penghuni barisan depan, dengan potongan rambut sebahu menunjuk tangan dengan lesu. Dia tak berusaha menatapku. Apa sebegitu bencinya ia pada Reggie hingga ia memalingkan wajahnya dariku? Apa aku perlu mengakui kalau aku dan Reggie adalah orang yang berbeda? Buru-buru kutepis pikiran itu jauh-jauh.Untuk sementara waktu, biarlah kututup rapat rahasia itu.

UNNAMED-9

-Reggie POV-

Gue menoleh sekilas saat seseorang di belakang gue menghempaskan cangkir secara kasar. Mungkin lagi patah hati, gue membatin.

“Raizel!” Teriak teman si-cewek-pelempar-cangkir kepadanya. God! Ternyata dia Raizel. Bagus, dia pasti sudah mendengar percakapanku dengan Freya. Sekarang, mungkin dia sudah tak mau lagi melihat muka gue dan itu menyakitkan.

Gue lalu meng-SMS Raizel.

Gue tunggu di halte.

-Raizel POV-

Gue tunggu di halte.

            Untuk apa aku mesti menurutinya? Toh, hatinya juga tidak akan pernah dia berikan untukku. Seharusnya aku menyadari itu dari awal. Mana mungkin residen sesempurna dia tidak memiliki kekasih dan aku dengan begitu mudahnya hanyut dalam perasaan itu. Aku benar-benar bodoh.

Hei, dimana taksi? Aku sudah bolak-balik melihat arloji di tanganku dan tak menemukan taksi kosong sekalipun.

“Zel?” Suara itu memanggilku. Diego lalu membuka helm-nya dan menepikan motor. “Nggak dijemput lagi?” Aku mengangguk.

“Ya udah. Gue anterin.” Dia menggamit lenganku refleks dan aku tidak melepaskan genggaman tangan itu.

“Zel!” Teriak suara berat itu ke arahku. Aku buru-buru melepaskan tanganku dari Diego. “Gue perlu bicara sama lo,”

“Menurut Saya tidak ada lagi yang perlu dibicarakan. Permisi.” Aku membungkukkan badan sedikit dan meninggalkannya. Dia buru-buru menarik lenganku. Aku berusaha melepaskan tarikan itu.

“Zel, dengerin gue!” Pintanya.

“Apa lagi yang perlu saya dengar?’ ujarku sarkastik.

Sorry, gue harap lo nggak berpikir kalau gue bener-bener suka sama lo. You’re too young for me. Lo ngerti?’ Dia memegang kedua bahuku, membawaku persis ke kedua matanya. Tuhan, mengapa tak Kau biarkan dia menjadi milikku?

“Tapi kenapa lo bertingkah seolah-olah lo suka ke gue? Lo cuma mau nyakitin gue?” Tak terasa cairan bening keluar dari pelupuk mataku.

“ Gue cuma..”

“Cuma apa? Cuma mau mempermainkan gue? Gue nyesel gue membiarkan rasa itu tumbuh selama ini. Gue nyesel ketemu lo tiga tahun lalu. Gue berharap nggak pernah ketemu lo,” Aku menghapus air mata yang mulai mengering.

“Tiga tahun lalu?”

“Ya, tiga tahun lalu. Saat lo berusaha menyelamatkan bapak tua yang kecelakaan di deket kampus,”

“Gue nggak pernah nyelametin bapak tua?’

“Lo nggak usah bohong. Gue masih ingat nametag itu dan gue harap lo nggak lupa bahwa lo pernah pinjem pena gue buat nolong bapak itu,” Aku menunjuk nametag yang menempel di snelli-nya.

“Tapi gue bener-bener…”

“Udahlah, gue nggak peduli lagi,” Aku menggamit lengan Diego dan pergi meninggalkannya. Benar-benar meninggalkannya.

UNNAMED-8

-Raizel POV-

            Seminggu kemudian…

            “Nggak terasa ya udah kelar aja blok obgin. Padahal kalo diitung-itung udah sembilan minggu lewat.” Ujarku sembari menyeruput kopi hitam di hadapanku.

            Iya. Sembilan minggu lamanya aku bisa dengan leluasa lebih dekat bersama Reggie. Menikmati waktu-waktu yang tak sengaja hadir diantara kami berdua. Sudah seminggu lamanya, sejak pertemuan terakhir kami, kami tak bertemu. Bagaimana kabarnya? Aku sendiri tak tahu.

            “Zel! Lo mesti liat yang ada di belakang lo!”

            Aku menurut. Kutolehkan kepalaku ke belakang dan mendapati hal buruk di hadapanku. Si bodyguard menggandeng mesra Reggie!

            Jantungku seperti terhempas, jatuh masuk ke sela-sela perut. Entah apa yang terjadi pada otot-otot oromotor-ku sehingga aku tak mampu berkata-kata lagi. Bagaimana bisa dia bermesraan dengan wanita lain sementara dia memintaku menjaga hati?

            Bagus. Sekarang dia malah memilih duduk tepat memunggungiku sehingga aku dengan leluasa mendengarkan percakapan mereka.

            “Kamu mau makan apa, Sayang?” suara berat itu menyentuh telingaku samar. Oke, sekarang mereka sudah memanggil dengan sebutan aku-kamu.

            “Terserah deh,”

            “Eh, pulang nanti aku anter ya?”

            “Gak usah, Sayang. Kamu kan residen jaga buat malem ini. Udah biar aku pulang naik taksi aja,”

            “Aku nggak mau ngeliat kamu nunggu lama-lama. Kata orang, daerah sini banyak pemalak.” Persis seperti yang pernah dia ucapkan padaku waktu itu.

            Aku tak tahan lagi. Ku hempaskan cangkir yang sedari tadi kugenggam, memberi mereka senyum singkat lantas berlalu pergi. “Raizel!” Tria memanggilku. Peduli setan. Aku sudah tak tahan lagi mendengar percakapan mereka lebih jauh. 

Drew looks at me, I fake a smile so he won’t see

That I want and I’m needing everything that we should be

I’ll bet she’s beautiful, that girl he talks about,

And she’s got everything that I have to live without.

 

Drew talks to me, I laugh ’cause it’s so damn funny

And I can’t even see anyone when he’s with me

He says he’s so in love, he’s finally got it right,

I wonder if he knows he’s all I think about at night

 

He’s the reason for the teardrops on my guitar

The only thing that keeps me wishing on a wishing star

He’s the song in the car I keep singing, don’t know why I do

 

Drew walks by me, can he tell that I can’t breathe?

And there he goes, so perfectly,

The kind of flawless I wish I could be

She better hold him tight, give him all her love

Look in those beautiful eyes and know she’s lucky ’cause

UNNAMED-7

-Raizel POV-

“Bisa gak lo cuma liat ke gue, bukan yang lain?” Reggie mengucapkannya mantap sembari menatap ke dalam kedua mataku. Mataku sendiri mengerjap-ngerjap, otakku berhenti bekerja dan jantungku berhenti memompakan darah. Apa telingaku salah menangkap gelombang suaranya? Tidak, aku rasa tidak. Aku barusaja memeriksakan diriku ke dokter THT lantaran telingaku kemasukan air dan ia bilang bahwa pendengaranku dalam kondisi prima. Tuhan, bisa Kau putar lagi waktu? Agar aku bisa merekam kata-kata itu di otakku sekali lagi. Agar aku bisa meyakinkan diriku bahwa yang kudengar itu tak salah.

Dia lantas mengembalikan pandangannya ke balik kemudi. Suasana disitu terasa serba canggung. Aku sendiri tidak tahu mesti berbuat apa. Aku akui bahwa sebuah tanya itu adalah pernyataannya secara tak langsung akan perasaannya selama ini. Pantas saja dia selalu tak menyukai ada laki-laki yang mendekatiku. Dia cemburu, dan sebagian besar survey membuktikan bahwa cemburu itu tanda cinta. Cinta!!

Aku tidak sanggup lagi memikirkan kenyataan indah apa yang nantinya akan muncul di hidupku. Aku menatapnya dari ujung mataku dan menangkap kegelisahan dari gerak-geriknya. Mungkinkah akan ada sebuah pernyataan lagi ?

“Gie,”

“Hmm,”

“Lo nggak apa-apa?” Ia mengangguk dalam diam. Ia melajukan kendaraan hingga tak terasa telah tiba di depan rumahku.

“Gie,” Aku kembali memanggilnya.

“Untuk pertanyaan lo, gue rasa lo tahu jawabannya,” Aku tersenyum sekilas dan membiarkan mobilnya melaju pergi, meninggalkan hatiku yang masih bersemu merah.

-Reggie POV-

“Untuk pertanyaan lo, gue rasa lo tahu jawabannya,” ujarnya. Gue sendiri gak tahu gue mesti seneng atau malah sedih. Dari sorot matanya gue tahu dia sudah mulai menaruh hati ke gue. Gue sendiri gak terlalu peduli. Dia masih terlalu kecil buat gue. She’s too young for me.

Tapi, kenapa tadi gue malah ngomong asal? Dia pasti menduga kalo gue juga punya rasa ke dia. Akhir-akhir ini otak gue selalu gak sinkron ama mulut. Ada aja yang membuat orang menyalahartikan ucapan gue.Oke, kita anggap apa yang gue udah bilang tadi ngawur, tapi masalahnya adalah kenapa gue malah suka saat dia menunjukkan perasaannya ke gue. Ada sesuatu yang membuat gue selalu nyaman bersamanya. Apa mungkin gue udah mulai suka juga sama Raizel? Gue menggeleng keras.

She’s too young for me.

Gue lalu menekan angka delapan. “Fre, gue tunggu di tempat biasa.”

-Freya POV-

“Fre, gue tunggu di tempat biasa.” Ia langsung menutup telepon dan belum membiarkan gue menjawab. Gue sendiri agak cemas mendengar suaranya tadi. Nggak biasanya dia mengeluarkan suara seperti itu. Dia bukan tipikal orang yang dengan mudah menunjukkan apa yang dia rasa sebenarnya. Dari nada bicaranya, gue yakin kalo dia ada masalah dan gue adalah satu-satunya hati yang mau menjadi tong sampah segala gundahnya.

Gue lalu bergegas menuju tempat yang ia maksud. Sepuluh menit berlalu dan gue akhirnya tiba disana dan mendapati kegelisahan hatinya. Gue nggak langsung menegurnya, gue malah membuat secangkir cokelat hangat, satu-satunya hal yang membuat hatinya membaik.

Setelah selesai, gue keluar dari dapur dan mengangsurkan cangkir cokelat hangat itu padanya. Dia menyesapnya sekali, lalu mulai mengeluarkan ekspresi gue-selalu-suka-buatan-lo ke arah gue. Ya, cokelat hangat buatan gue adalah ternikmat nomor dua setelah buatan nyokapnya.

Gue lalu merapatkan kursi dan mulai menginterogasinya.

“Lo kenapa? Lo tau? Gue mesti berlarian sepanjang koridor, memastikan apa lo baik-baik aja dan setelah menyesap cokelat hangat buatan gue, lo malah senyum-senyum! Lo kemasukan jin galau ya?”

Dia tersenyum lagi. Ah, gue lega mendapati senyum itu di wajahnya. Gue merasa beban di pundak gue sedikit terangkat. “Hei, kenapa senyum-senyum lagi?”

“Lo nggak kesurupan hantu patah hati kan, Gie?” Gue menempelkan tangan ke keningnya. Normal.

Dia menarik tangan gue lalu menggumam. “ Gue suka sama lo,” Lalu memeluk tubuh mungil gue erat.Gue masih belum bisa menyaring apa yang keluar dari mulutnya tadi dan anehnya gue malah membiarkanya mendekap tubuh gue. Gue juga suka sama lo.

-Reggie POV-

Freya datang setelah sepuluh menit lalu gue menghubunginya. Tuhan, entah bagaimana gue menjelaskan perasaan ini sekarang. Freya yang selalu membuat gue nyaman, menawarkan kehangatan dari setiap senyum manisnya, selalu tahu cara membuat gue bahagia. Mungkin karena kami sudah bersahabat sejak lama, sehingga dia tahu gue sampe hal paling kecil sekalipun. Dia yang selalu mengkhawatirkan gue. Dia yang selalu tahu apa yang gue rasa.

Seperti saat ini, begitu tiba ia langsung masuk ke dapur dan gue yakin dia sedang membuat cokelat hangat kesukaan gue. Kenapa gue dengan begitu bodohnya, sepersekian detik yang lalu berpikir bahwa gue menyukai Raizel? Gue salah.Gue tahu gue salah.

Gue menarik tangannya dari kening gue lantas mendekap tubuhnya, merapat ke gue. “ Gue suka sama lo,”

Entah kenapa gue rasa dia juga menyukai gue, karena ia gak melepaskan pelukan gue. Gue merasa gak perlu apa-apa lagi, selain keberadaan dan hatinya. Cukup itu dan gue tahu diapun mengiyakan dalam hati.

Sekarang gue baru ngerti maksud ramalan itu.Gue sudah memilih.

UNNAMED 6

-Raizel POV-

Satu setengah jam di depan tumpukan modul membuatku mual. Ternyata banyak juga yang sudah kami pelajari. Pemeriksaan obstetri dan ginekologi, pemasangan IUD, pemeriksaan IVA dan pap smear, kuretase, serta resusitasi neonatus. Saat Reggie dan residen lain menerangkan, mereka hanya menerangkan poin-poinnya saja. Saat melongok ke modul, barulah aku sadar bahwa semuanya mesti dimasukkan kepala dan aku bukan tipikal orang yang dengan mudah menghapal dalam kurun waktu singkat. Aku pernah bertanya pada kakak tingkat dan mendapati kemuraman di wajahnya. Baiklah, sekarang aku mulai bergidik ngeri membayangkan apa yang terjadi besok.

Tria sedang sakit jadi ia tak mengikuti ujian blok ini. Biasanya kami akan belajar bersama, saling bertukar informasi dan menghapal sampai larut malam. Kami punya kebiasaan, yaitu begitu besok ujian OSCE berlangsung, salah satu dari kami akan menginap di rumah yang lain, sehingga kami punya waktu lebih untuk belajar. Sekarang, teman belajarku sedang absen dan itu artinya aku harus merelakan diriku begadang sendirian.

Lo telpon aja Reggie. Sekali mendayung, dua-tiga pulau terlampaui.

Begitu pesan singkat yang terkirim ke ponselku. Aku tahu ini saatnya aku bertemu dengannya, belajar sekaligus melepas rindu. Tapi aku terlalu takut untuk memulai. Berkali-kali aku mengetik message untuknya, tapi akhirnya message itu selalu mendarat di draft, bukan sent item.

Dia kayaknya tau bocoran soal besok.

Aku akhirnya menghubungi Reggie, berharap ia benar-benar tahu soal apa yang keluar esok hari. Setelah terdengar nada tunggu tiga kali, barulah kumerasakan gendang telingaku disentuh lembut oleh suara beratnya di ujung sana. Aku tersenyum, baru tersadar kalau aku sudah tidak mendengar suaranya seminggu terakhir. Rasanya seperti sudah lama sekali.

“ Halo? Ada apa, Zel?”

“Lo sibuk gak hari ini? Gue mau minta ajari buat OSCE besok”

“Hmm, lumayan sih,”

Percakapan itu menggantung sesaat, sampai akhirnya kudengar dia sudah bicara lagi “ Kita ketemuan di tempat biasa jam lima sore,”

Aku tidak langsung menjawab iya karena aku masih trauma kejadian waktu itu. Dia sepertinya mengetahui itu.

“Gue nggak akan lupa,” Dia menambahkan dan aku tahu kali ini ia benar-benar serius.

-Reggie POV-

Begitu Raizel menelpon, gue baru sadar kalau besok adalah ujian OSCE. Pantas saja dokter-dokter konsulen tadi mengadakan rapat tertutup. Ah, ya! Gio tadi ikut rapat juga dan itu berarti dia tahu soal yang bakal keluar.

Gio, soal OSCE besok apaan?

Lo mau ikut ujian juga?

            Gue perlu. Dan untuk pertanyaan lo, jawabannya pasti nggak! Zzz..

            Perlu buat apa? Jangan-jangan buat cewek yang kemaren? Lo udah tau pin-nya? Kok gak kasih tau gue??

            Lo kepo banget. Pokoknya gue ada perlu!

            Awas ya! Kalo lo udah tau pin cewek itu, lo mesti share ke gue!

            Ok guue bagi ntar, kirimin soal cepetan!

            Hap. Akhirnya gue berhasil dapetin soal buat besok! Boong dikit gak apa-apa, apalagi boong ke tukang modus macam Gio. Just like ‘a little white lie’ hehehe…

-Raizel POV-

Aku tiba di kafe tepat pukul setengah lima. Disana belum ada tanda-tanda kemunculan residen ababil itu. Apa dia lupa lagi? Demi Tuhan, kalau saja dia melakukan itu lagi, aku tidak segan-segan melemparkan cokelat hangat ini di wajahnya!

“Hai,”

Aku menoleh ke belakang dan mendapati Reggie bersama sebuah tas besar.

“Lo baru pulang mudik?”

Dia tersenyum masam dan tak menjawab pertanyaanku. Ia malah membuka tas besar itu dan mengeluarkan isinya.

“Punya lo?” Aku menunjuk manequin panggul wanita lengkap beserta alat reproduksi di dalamnya, persis seperti yang kugunakan dalam labskill, bahkan coretan nama Diego di sisi kiri panggul manequin itu pun sama! Aku berharap ini bukan…

“ Punya rumah sakit. Secara de jure, gue ambil diam-diam,”

“Kita pulangin aja deh!”

“ Gue susah ngambilnya, masa mau dibalikin gitu aja. Kita cuma punya waktu sejam dan setelahnya gue mesti ngembaliin ini. Jadi kita mesti mulai sekarang,”

Aku mengangguk. Aku tidak menyangka dia melakukan semua ini untukku. Hanya untukku. Padahal sepersekian menit lalu, aku mencurigai janjinya. Oh, dear.

“Jadi kita cuma belajar IUD, Pap Smear, pemeriksaan obstetri sama resusitasi aja,”

“Tapi kan masih ada yang lain? Lo yakin?”

“Intuisi gue selalu benar. Lo percaya aja ama gue!” Dia menepuk-nepuk dadanya.

Sepanjang sore kami habiskan dalam urutan pemasangan IUD, pemeriksaan Pap Smear, sampai resusitasi neonatus. Berhubung kami tak punya manequin bayi, kami hanya saling tanya jawab kasus kegawatdaruratan pada bayi baru lahir. Terkadang diselingi tawa Reggie saat aku salah menyebutkan satu kata saja dalam checklist.

“Kita mesti pulang,”

Aku pun mengekorinya dan terbesit suatu harap, agar hari ini tidak berlalu begitu cepat.

-Reggie POV-

“Gie,”

“Hmm?”

“Makasih. Gue nggak tau apa jadinya gue tanpa lo dan manequin itu,”

“Lo nggak perlu sungkan,”

“Untuk semua yang lo lakukan hari ini, makasih,”

Gue nggak langsung menatapnya, hanya melihat sekilas dari balik kaca mobil. Meski mata gue minus parah, gue tahu ada titik air di sudut matanya. Mungkin ia terharu dengan apa yang udah gue lakuin buatnya hari ini. Buru-buru gue mengangsurkan tisu yang ada di atas dashboard. Ia menerimanya. Di saat itulah tatapan kami beradu dan entah sejak kapan gue merasa deg-degan kalo liat Raizel. Seperti saat ini. Saat gue menatap lekat mata hitamnya yang menenggelamkan, membuat gue terperosok dalam candu yang memabukkan.

Entah dorongan darimana yang membuat tubuh gue bergerak merapat mendekati tubuhnya. Semakin dekat, dekat, dan dekat hingga gue bisa mencium aroma vanilla yang menguar dari helai rambutnya.

Begitu jarak kami tak sampai 30 sentimeter lagi, suara ponsel Raizel menyentakku ke alam sadar. Kami lalu sama-sama menjauuhkan diri.

Sorry,” Ujarnya. Dia lalu berbicara dengan orang yang menelponnya tersebut.

“Halo?” ujarnya. Aku memberi isyarat padanya, bertanya siapa yang menelepon. Dia menjawab sekilas dengan gerakan bibir tanpa suara. Temen. Begitu yang samar-samar kuartikan dari gerakan bibir itu.

“Kamu mau minta aku temenin kamu buat dateng ke birthday party-nya Angel?”

Tampaknya seseorang di seberang sana menjawab iya, hingga buru-buru Raizel menambahkan.

“Aku bisa selama acaranya gak tabrakan sama acaraku dan Bunda. Kuusahain ya, Go.”

Go? Mungkinkah itu Diego? Bocah sok playboy yang akhir-akhir ini gencar mendekati Raizel. Gue merasa cowok itu nggak pantes buat Raizel. For God’s sake, kenapa tiap kali gue tahu ada yang berusaha deketin Raizel, gue selalu nggak suka? Gue selalu merasa nggak ada yang pantas buat Raizel. Jadi siapa yang pantas ? Gue? Gue menggeleng keras. Gue udah gila.

“Bisa gak lo cuma liat ke gue, bukan yang lain?” Ucap bibir gue yang nggak sinkron ama kendali otak gue. Mata Raizel langsung membulat.

Gosh! Gue bener-bener udah gila.

UNNAMED 5

-Raizel POV-
Setelah pensi, kami tidak pernah bertemu lagi. Tiap kali aku mengunjungi kafe, aku tidak pernah sekalipun menemukan batang hidungnya. Jika aku menemuinya di bagian kebidanan, dia pasti mengira kalau aku merindukannya. Ya, aku memang merindukannya. Sepertinya sepi juga tanpa omelan, sikap sok dewasanya, dan senyumnya. Mungkin kali ini aku sudah benar-benar mencandu kehadirannya.
Aku ingin sekali menghubunginya. Tapi, dengan apa aku memulai pembicaraan? Tak mungkin tahu-tahu aku mengaku menghubunginya hanya untuk melepas rindu yang menumpuk di sudut hati. Bisa besar kepala dia! Kuliah dr. Ahmad pun ternyata digantikan oleh dokter yang lain karena dr.Ahmad sedang mengikuti seminar di Jogja, jadi tak ada alasan buatku untuk meminta slide padanya. Atau aku pakai saja taktik minta diajari OSCE? Tapi, OSCE kan masih seminggu lagi dan aku sudah tak bisa menanggung rindu selama itu. Bagaimana caranya, Tuhan? I miss him so bad.
-Reggie POV-
Gue bener-bener sibuk minggu ini. Entah kenapa ada aja pasien yang datang, entah itu beneran mau melahirkan atau sekedar kontraksi Braxton-Hicks semata. Mungkin gara-gara seminggu ini Freya udah masuk lagi. Freya terkenal sebagai residen pemanggil pasien. Pas gue jaga sama Gio, waktu cuma terbuang sia-sia, karena bener-bener gak ada pasien. Tapi pas Freya masuk, gue bisa pastiin kalo setiap hari gak akan absen kedatangan pasien. Bukanya gue nggak suka, tapi kalo banyak begini, gimana gue mau istirahat? Gimana gue mau hangout diem-diem? Gimana gue mau ketemu Raizel? Eh ngomong-ngomong soal Raizel, gue nggak pernah lagi ngeliat dia sejak pensi. Dia juga nggak nelpon gue untuk minta slide.
“Eh, you-know-who gak pernah keliatan lagi ya?”
“Jelas. Dia kan lagi seminar,”
“Loh bukannya dia mesti ngajar di kampus?”
“Lo itu kudet banget ya? Dia kemaren digantiin sama dr. Yusuf,” Freya menjelaskan. Sekarang dia udah senyum-senyum sendiri kayak orang gila.
“ Udah ! Jangan lo pikirin dr. Yusuf. Entar lo malah erotomania lagi!”
“Reggie!!!!” Dia menyerbuku dengan cubitan pedasnya. Gila! Badannya doang yang kecil, tapi cubitannya dahsyat!
“Awas lo, ya!” Gue lalu mengejar Freya yang udah jauh ninggalin gue.
Hap! “Lo nggak bisa lari lagi!” kata Gue saat berhasil memegang tangannya. Dia meronta, namun karena tenaga gue lebih besar, gue bisa dengan mudah menggelitikinya. Tapi dia nggak nyerah, dia balik mencubiti gue bertubi-tubi. Dia nggak bisa berkutik lagi saat gue memiting lehernya. Masih berani ngelawan gue? Reggie dilawan! Hehehe..
“Gue nggak akan kemana-mana,” gumamnya.
Perkataan itu sederhana, tapi pas Freya yang ngucapin kok jadi dalem banget,ya?
-Freya POV-
Gue sebenernya cuma mau liat ekspresi Reggie aja pas gue nyebutin nama dokter ganteng itu. Gue tahu Reggie itu paling males kalo denger tentang dokter itu. Entah apa alasannya, gue sendiripun sampe sekarang nggak ngerti.
Dari Gio gue tahu kalo beberapa hari ini Reggie lagi deket sama mahasiswi itu. Mahasiswi yang waktu itu datang menemuinya. Gue pernah ngeliat sekilas. Gadis berpotongan rambut sebahu dengan poni menjuntai menutupi dahinya. Cukup good-looking menurut gue. Dia hanya perlu polesan sedikit dan, Tada! Semua orang akan sadar kalo dia cantik banget. Semoga Reggie nggak akan sadar akan hal itu. Gue sebel aja ngeliat Reggie deket sama orang lain.
Gue dan Reggie udah kenal lama. Kami berdua kayak kembar dempet. Kemana-mana berdua. Orang yang tidak kenal kami lebih dekat pasti mengira kalo kami pacaran. Gue selalu klarifikasi kalo kami cuma sahabat. Gak lebih. Awalnya gue nggak terlalu peduli dengan itu. Gue cuma nggak mau Reggie mikir macem-macem tentang gue dan itu berhasil. Dia selalu datar kalo ada yang membicarakan kami berdua. Mungkin dia udah terbiasa bersama gue, mendengar gosip-gosip itu dan nggak mau ambil pusing.
Gara-gara kami nggak pernah pisah, gue nggak pernah merasa nyaman kalo ada pria lain yang mencoba masuk ke hati gue. Gue bukannya gak peduli. Gue tahu Michael bela-belain nyiapin semuanya buat gue, buat nembak gue. Tapi gue bukan tipikal orang yang bisa basa-basi. Kalo gue nggak suka, gue pasti bilang nggak. Mungkin karena itu gue nggak pernah bisa membina hubungan spesial dengan lawan jenis. Jadilah gue kemana-mana bersama Reggie, yang membuat semua orang yakin kami lebih dari sekedar sahabat.
Reggie itu orangnya easy going. Semua masalah dianggapnya sepele. Di rumah sakit ia dipanggil tukang telat, raja pelupa, atau pembolos kronis. Gue tahu semua tentang dia. Dia yang suka diam-diam ke kafe, memesan secangkir kopi dan menyesapnya lamat-lamat. Tentang betapa suka dia menghabiskan berjam-jam waktunya di depan laptop, tentang cokelat hangat, tentang mimpinya membuka rumah sakit sendiri, semuanya, kecuali tentang apa yang ada di balik hatinya.Gue nggak bisa bener-bener tahu apa yang ada disana.
Tapi tadi dia menatap gue lama dan gue tau itu bukan tatapan yang biasa dia tunjukkan ke gue. Entah setelah ini apa gue boleh berharap lebih atau nggak.

UNNAMED-4

-Reggie POV-
Gue melangkah mantap ke kampus. Begitu masuk lapangan, gue langsung disambut suasana khas pensi. Ternyata tema pensi kali ini adalah negara. Disana gue bisa menemukan miniatur Cina, Meksiko, Korea, Jepang, Belanda, dan Arab. Gue bisa rasakan dengan jelas atmosfer yang berbeda tiap gue berpindah dari satu stan ke stan lain.
Begitu tiba di stan Belanda , gue ngeliat Raizel lagi sibuk menerima orderan delivery kembang. Bajunya lucu banget. Baju lengan pendek, rok motif kotak-kotak, celemek panjang motif bunga-bunga plus topi segitiga yang setia nangkring di atas kepalanya. Di lengan kirinya tergantung keranjang bunga. Sekarang dia malah mirip noni Belanda. Yaiks, nasibnya ternyata nggak jauh-jauh dari gue enam tahun lalu. Dari jarak segini, gue bisa ngeliat bulir-bulir keringatnya. Kesian, dia mesti bermandi keringat. Gue lalu punya ide cemerlang !
“Gue mau beli satu,” gumam gue sembari menoel pundaknya.
Dia keliatan terkejut tapi gue yakin dia seneng gue ada disini.
“Bunga apa?”
Gue sebenernya gak tau dia suka bunga apa, jadi gue tanya langsung aja ke dia. Ternyata dia suka mawar, sama kayak namanya. Gue lalu memutuskan membeli sembilan. Dia memberi gue selembar kertas, untuk nulis pesan katanya. Jadi gue tulis..
Bunga mawar pasti cocok buat tukang ngambek.
Dia sempat terdiam, gue nggak tahu apa yang dia pikirkan, tapi dari sorot matanya gue tahu dia seneng banget. Gue tiba-tiba aja teringat Freya. Kasihan dia. Sampe sekarang dia belom bisa masuk karena masih sakit. Gue berencana jenguk dia abis ini.
“Lo jual bitterballen, kan?”
-Raizel POV-
“Lo jual bitterballen, kan?”
Aku mengangguk cepat. “Lo suka?”
Dia tampak berpikir “Nggak. Lo tau kan sih Freya, residen cewek yang lo temuin waktu itu?”
Aku tahu siapa yang dia maksud. Aku hanya mengangguk sekadarnya.
“Nah, Dia lagi kena flu dan dia itu suka banget bitterballen . Gue mau jenguk dia abis ini,”
Aku ber-ooh ria. “Yuk, kita beli!” Dia lalu menarik lenganku. Spontan, aku melepaskan tangannya. Dia tersenyum maklum.
Di stan bitterballen, dia ternyata membeli dua puluh biji bitterballen. Aku semakin kesal karena yang dia pikirkan sekarang adalah Freya, bukan aku.
“Nih, buat lo!” Dia lalu menyodorkan kotak sterofoam itu padaku. Ternyata dia membelikan untukku juga. Aku lalu menikmati setiap gigitan bitterballen itu lamat-lamat. Dia mencomot beberapa bitterballen dari punyaku dan melahapnya cepat. Cara dia makan lucu sekali. Rongga mulutnya menggembung, terisi penuh oleh bitterballen. Dengan mulut masih melumat bitterballen, aku berbicara.
“Kita ke stan ramalan yuk,”
“Ogah!”
“Plis!!!” Aku menatapnya penuh harap. Dia mulai luluh.
“Oke deh. Tapi jangan lama-lama!”
Aku melingkarkan ibu jari dan telunjuk.Oke.
Kamipun bergegas menuju sudut stan Fortune Teller.
Seseorang berbaju serba hitam duduk di sudut ruang kecil dengan ukuran tak lebih dari 3×3 meter yang semua ornamen beruansa hitam, tak lupa bola kristal di atas meja. Aku tidak bisa melihatnya wajahnya dengan jelas karena pencahayaan disana amat minim.
“Siapa yang ingin diramal?” Aku dengan cepat mengacungkan tangan.
Peramal itu lalu mengocok kartu, menyusunnya menjadi satu baris dan menyuruhku memilih tiga diantaranya. Ia lalu mulai menafsirkan makna kartu yang kupilih.
“Nona manis, pangeran berkuda itu sebenarnya tahu kemana ia harus melangkah, tapi kabut tebal membuatnya ragu hendak kemana ia menuju,” Aku tidak tahu apa maksudnya. Mendengar kata pangeran berkuda saja sudah membuatku berpikir kalo orang itu adalah Reggie. Tapi, apa tadi katanya? Kabut tebal? Nah ini yang belum ia mengerti apa maksudnya.
“Tapi kau tak usah khawatir. Dia akan segera tiba ke tujuan begitu kabut itu menghilang,”
Dia masih membiarkanku tenggelam dalam kebingungan begitu tahu tahu tangannya sudah mengocok kartu dan menyuruh Reggie memilih beberapa.
“Untukmu, kurasa ini saatnya kuda putih itu harus memilih. Jika ia maju, ia akan diterkam serigala lapar dan jika ia mundur ia akan masuk jurang. Semuanya serba sulit, tapi jika semakin menunda , keadaan akan semakin memburuk,”
-Reggie POV-
“Udah. Gak usah dimasukin hati. Semua itu cuma permainan kartu,” Gue meyakinkan, lebih untuk gue sendiri.
Dia hanya mengangguk lesu. “ Coba lo bayangin. Gue disamain ama kuda. Lagian gak mungkin kan ada serigala lapar di rumah sakit?”
Dia tertawa. “ Kalo konsulen lapar sih banyak!” Tawanya lagi-lagi meledak.
Gue lalu teringat. Jangan-jangan maksud dari kartu itu adalah kalo gue bakal dapet penguji galak minggu depan. Kenapa tadi gue nggak kepikiran ya? Arrgghh.
“Lo kenapa?”
“”Nggak apa-apa. Yuk kita merapat ke pinggir stage,” Dia mengekori gue. Posisi seperti ini, posisi dia disamping gue, tersenyum ke arah gue, membuat gue merasa nyaman. Ada desir-desir bahagia yang menguar dari senyumnya, membuat gue takikardi. Apa gue udah…
“Yuk!”
Dia membuyarkan lamunan gue, maju ke depan dan mulai menikmati suasana mini concert di depannya. Sejenak gue merasa cuma dia yang mengisi dunia gue. Gue selalu suka saat dia ada di samping gue entah kenapa. Saat dia menatap gue lekat, gue merasa kayak detak jantung gue berhenti.Gue mungkin udah gila karena gue sekarang berharap waktu bisa berhenti sebentar aja.
-Raizel POV-
Dia mengajakku ke pinggir panggung. Dari jauh sudah terlihat kalau barisan paling depan sudah memadat. Untung aku bersamanya, karena dengan postur menjulang seperti yang ia miliki, dia dapat dengan mudah menyeruak dari kerumunan. Coba saja kalau aku berjalan sendiri, mungkin aku sudah terinjak-injak oleh penonton yang lain. Hiks!
Kami lalu memilih berdiri di sayap kiri panggung. Ternyata sekarang giliran kelasku yang menyanyi. Di atas panggung sudah berdiri Diego, Revan, Steve, Aji, dan Reza. Mereka membawakan lagu This Love-nya Maroon Five. Lagu lama memang, tapi dari antusias penonton, aku tahu kalau lagu ini benar-benar membuat suasana hidup.
“Lagu ini khusus buat seseorang yang ada di depan gue,” Ujar Diego seraya menatapku. Diego pun selalu menunjukku di beberapa bagian lagu dan itu membuatku tersanjung. Baru kali ini ada laki-laki yang menyanyikan lagu buatku. Ditambah lagi lagu dari band favoritku. Aaaaa..
Today is perfect day!
-Reggie POV-
Bener kan dugaan gue selama ini kalo si playboy kelas teri itu lagi pedekate sama Raizel! Pake acara bilang kalo lagu itu buat Raizel pula! Norak banget sih! Kayak gak ada cara lain aja! Yang jadi objek malah senyam-senyum gak jelas pula. Panas! Argggh
“Diego tadi manis juga ya!” Dia menggumam.
“Apaan?”
“Eh, Gie, menurut lo maksud si Diego nyanyi buat gue apaan ya?” Dia bertanya dengan polosnya. Glek! Nih anak seumur-umur belum pernah dimodusin kali ya? Masa gitu aja gak ngerti.
“Dia itu norak! Udah ah kenapa sih bahas-bahas dia terus?”
“Soalnya dia orang yang pertama nyanyi buat gue. Romantis banget tau!”
“Yang kayak gitu dibilang romantis? Itu mah norak, kampungan ! Dasar ABG sekarang tingkahnya pada norak semua,”
“Loh kok jadi sewot sih,”
“Elo sih yang mulai duluan,”
Dia lalu diam. Gue juga ikutan diam. Gue memutar mp3 player berharap suasana bisa mencair.
“By the way, suara Diego mirip juga ya sama Adam Levine!”
Dia membahas itu (lagi) ! Arrggghhh….

UNNAMED-3

-Raizel POV-
“ Untuk apa saya marah sama dokter?” Aku berpura-pura seolah tidak terjadi apa-apa.
“Lo patut marah ama gue,” Bagus. Dia sadar aku memang seharusnya marah.
“Memang dokter salah apa sama saya? Saya tidak sedang marah sama siapapun. Permisi.” Aku meninggalkannya begitu saja. Mungkin dia terkejut dengan perubahanku yang lagi-lagi memanggilnya dengan sebutan “dokter” bukannya “lo” seperti biasa. Ah, aku tidak peduli lagi tentangnya. Terserah dia mau apa dan bersama siapa!
Aku lalu mencoba menghubungi Pak Min. Hari ini sudah terlalu sore dan aku malas pulang sendirian. Kucoba berulang kali namun yang terdengar hanya suara operator. Tiba-tiba ada suara klakson di belakangku. Aneh, padahal aku sudah ada di trotoar, namun suara klakson itu terus menguntitku. Aku menoleh ke belakang dan mendapati Diego tersenyum manis kepadaku.
“Zel, lo nggak dijemput?”
Aku menggeleng. Diego lalu menepikan motornya.
“Gue anter aja deh? Itung-itung ucapan terima kasih karena lo udah sabar ngajarin gue tadi,”
“Nggak usah, gue bisa naik taksi kok!” Aku menolak. Bukan karena aku tidak mau, tapi lebih kepada tidak mau berurusan dengan omelan Papa. Dia tidak suka aku diantar-jemput laki-laki, itulah mengapa ia menyiapkanku supir pribadi yang siap mengantarkanku kemana saja. Tapi sekarang aku sendiri tidak tahu dimana batang hidung Pak Min!
“Ayo deh. Gue sekalian mau minta tolong sama lo,”
Pantas saja dia sedari tadi memaksaku. Ternyata ada udang di balik batu!
“Lo mau minta tolong apa?”
Dia menjelaskan. “ Gue disuruh Vano beli IUD buat labskill besok. Gue gak tau mesti beli dimana,”
“Lo beli aja di apotek,”
“Gue udah kesana. Tapi nggak ada,”
“Lo bisa minta ke bidan,”
“Bidan di deket rumah gue jutek abis. Gue nggak berani,”
“Ya ampun, lo kan cowok. Masa’ takut sama ibu bidan sih?”
“Gue bukan takut, cuma males aja. Temenin gue ya??” Dia memohon.
“Oke ,deh,” ucapku, akhirnya.
Dia lalu memberiku helm, “ Lo selalu bawa helm dua?”
Dia tersenyum. “ Tadi gue nganterin adek gue ke kampus,”
Aku lalu naik ke atas motornya.
“Pegangan, ya!”
Kami berdua tidak sadar ada sepasang mata yang menatap kesal ke arah kami.
-Reggie POV-
Gue baru aja keluar dari parkiran begitu melihat Raizel sedang menunggu di depan. Apa gue anterin aja, ya? Pikiran itu terus berkecamuk dalam otak gue.
Gue lalu memutuskan menemuinya. Tapi gue terlambat. Si playboy kelas teri itu udah ada bersama Raizel. Gue nggak tau cowok itu ngomong apa sampe Raizel nurut naik ke motor bututnya kayak kerbau dicucuk hidungnya.
Cowok itu pinter banget cari kesempatan. Pasti Raizel lagi nggak dijemput, dan dia tahu itu. Melihat Raizel merangkul cowok itu dari belakang, membuat gue semakin panas. Sialan! Gue melempar kaleng minuman di depan gue.
Kenapa gue kalah cepet? Gue memaki dalam hati.

-Raizel POV-
Kalau mata Reggie menghasilkan energi panas, mungkin aku sudah jadi abu. Bagaimana tidak ? Dia melotot ke arahku sepanjang labskill. Seperti saat aku dipanggil oleh salah satu residen untuk membantunya memperagakan pemasangan IUD di depan aula, ekor mataku menangkap senyum masam bertengger di wajahnya.
Saat kami sudah terbagi dalam kelompokpun, dia masih melotot galak ke arahku. Aku gerah diperhatikan seperti itu terus. Meski aku memunggunginya, aku merasa tatapannya itu seperti menembus dari punggungku, membuatku semakin tak nyaman.
Kalaupun dia mau marah, atas dasar apa? Karena yang seharusnya marah itu aku, bukan dia. Titelnya saja yang residen, tapi tingkah seperti ababil. Dasar residen ababil!
Diapun sepertinya tidak memiliki etiket baik kepadaku. Buktinya, ia tak berusaha mengakui kesalahannya, menjelaskan kepadaku alasan kenapa dia ingkar janji kemarin. Dia malah pergi begitu saja, bahkan sebelum labskill usai.
Mungkin dia mau jalan sama bodyguard-nya. Memikirkan itu membuat dadaku nyeri. Arggh!!
-Reggie POV-
Hari ini Gio yang presentasi. Gue nggak kepikiran kalo dia bakal manggil Raizel untuk jadi asisten sementara. Dasar tukang modus!
“Gie, lo ada pin BB cewek itu nggak?” Suara Gio menyadarkan gue.
“Cewek mana?”
“Itu.. arah jam sepuluh,” Gue lalu memiringkan kepala gue ke arah yang dimaksud. Ternyata Raizel. Sialan!
“Nggak ada,”
“Eh ngomong-ngomong dia udah punya pacar belum,ya?”
“Nggak ada. Memangnya kenapa? Lo suka?”
“ Kalo iya emang kenapa? Lo juga suka?”
“Nggak,” jawab gue cepat.
“Bagus, deh,”
Saat hati gue lagi panas-panasnya, Freya mengirim bbm.
Gue nitip es krim ya.
Gue buru-buru keluar. Hari ini Freya gak masuk. Tubuhnya drop karena dipaksa jaga malem dua hari berturut-turut, dan es krim kacang merah adalah obat mujarab baginya. Entah apa yang terkandung dalam es krim itu, karena setelah dia melahap habis dua bungkus, sakitnya langsung mereda. Mungkin gue perlu membuat penelitian tentang itu.
Gue meluncur ke minimarket terdekat. Begitu gue memutar arah, gue melihat Raizel (lagi). Kali ini batang hidung cowok itu belum muncul. Yes! Gue belom telat!
Spontan, gue mendekatinya. Dia terlihat bengong saat dia tahu yang menurunkan kaca mobil itu gue. Dia bergerak mundur.
“Masuk, gih!” Tawar gue.
Dia menggeleng.
“Gue nggak mau ngeliat lo nunggu lama-lama. Kata orang, daerah sini banyak pemalak. Tapi kalo lo nggak mau, terserah,” Gue lalu menutup kaca mobil. Dari balik kaca mobil, gue bisa melihat dia cemas dengan apa yang gue bilang barusan.
Dia lalu membuka pintu mobil, merelakan dirinya dianter gue! Misi berhasil!
Sepanjang jalan, kami hanya terdiam, tenggelam dalam pikiran masing-masing. Mungkin dia nyesel nebeng gue. Gue lalu memutar lagu-lagu manis, karena sepertinya cewek manis seperti dia lebih suka lagu-lagu macam Back to December, Royals, atau mungkin A Thousand Years .
Tapi dia mencekal tangan gue. “Gue suka Maroon Five,”
“Bagus deh. Soalnya stok lagu gue kebanyakan penyanyi cowok,”
“ Rumah lo masih jauh?”
“Tinggal belok kiri sekali,”
Gue menurut. Dia lalu menyuruh berhenti. Rumah bergaya minimalis. Gue ingat itu dalam hati.
Dia lalu membuka pintu. “Makasih,” gumamnya.
Gue mengangguk. “Eh, tunggu sebentar!” teriak gue.
Dia kemudian berbalik dan menyodorkan gue tatapan seribu tanya.
Gue lalu merogoh jok belakang. “Gue nggak tau lo suka rasa apa, tapi gue harap lo suka,”
Dia melongok ke dalam kantong putih yang sekarang udah berpindah pemilik.
“Maaf,”
“ Gue kemaren mesti follow up pasien dan gue lupa ada janji sama lo,”
Samar-samar gue lihat wajahnya tersenyum. “Gue udah maafin, kok!”
“Eh, bisa gue pinjem hape lo?” Dia menatap gue bingung, tapi akhirnya menyerahkan benda putih itu kepadaku. Aku lalu mengetik beberapa digit angka lalu mengembalikan ponselnya.
“Lo nggak perlu ke bagian kalo mau minta slide. Cukup hubungi gue. Cukup sekali aja gue mesti merelakan kuping gue merah karena ocehan you-know-who,”
“Oke.”
“Hei,”
Dia kemudian berbalik (lagi).
“Misscall, dong! Gue nanti gak tau kalo yang nelpon gue itu elo. Lo tau sendiri kan kalo gue banyak fans,”
Dia tertawa ringan dan gue tau masalah selesai!
-Raizel POV-
Ini mimpi! Aku mencoba mencubiti kedua pipiku , namun yang kudapat hanyalah rasa sakit. Oh,dear. It’s real.
Aku tidak tahu bisikan malaikat apa yang merasuki tubuh Reggie hingga ia bersikap semanis ini padaku. Aku awalnya kesal karena dia tadi buru-buru pergi. Tapi ternyata, dia menyiapkan semuanya! Es krim, mengajakku pulang bersamanya, dan permintaan maaf! Jujur, ini diluar ekspektasiku, tapi aku senang.
Dan tentang es krim, bagaimana dia tahu kalau aku suka es krim kacang merah? Dari sekian banyak rasa es krim, kenapa dia memilih es krim kacang merah? Mungkinkah itu pertanda kalo kami berjodoh? Aku tidak berani berharap terlalu jauh.
Lagi-lagi dia menghadiahiku kejutan. Dia meminta nomor ponselku dengan alasan agar aku lebih mudah menghubunginya. Tidak perlu mengetahui apa maksudnya, yang jelas bukan aku duluan yang meminta nomor ponsel. Yes!
Dengan begitu, aku ada alasan untuk menghubunginya. Dengan begitu aku bisa meluapkan rinduku kapan saja. Bagus. One step closer.
Do you ever think when you’re all alone, all that we could be?
Suara David Archuletta menggema di kamarku. Ada SMS masuk.
Jangan tidur terlalu malem. Gue nggak mau ngeliat lo telat besok.

Bolehkah aku berharap lebih sekarang?
-Reggie POV-
Gue seneng banget dia udah gak marah lagi. Rasanya sebagian beban di pundak gue terangkat. Lega. Ditambah dia tadi memberi gue senyuman. Senyuman yang beberapa hari ini gue rindukan.
Selepas mengantar Raizel pulang, gue buru-buru memutar arah, menuju rumah Freya. Sesampai disana gue disambut suara bindeng Freya. Common cold.
“Lo udah baikan?” Gue menempelkan punggung tangan gue ke keningnya. Agak sedikit panas.
“Agak mendingan,” Dia melihat tangan gue. “Mana pesenan gue?”
God! Gue kasih ke Raizel pula tadi! Gue terlalu senang sampe gue nggak sadar kalo es krim itu buat Freya. Dan sekarang Freya menatap gue penuh harap.
“Hmm, gue lupa,” Entah kenapa gue nggak bisa jujur. Gue lihat gurat kecewa di matanya.
“Apa perlu gue balik?”
Dia menahan lengan gue. “Jangan pergi,”
Jangan pergi
Gue terpaku.
-Raizel POV-
Hari ini kuliah selesai lebih cepat karena salah satu dosen berhalangan hadir. Vano lalu mengambil alih kelas. Dia mengumumkan hari ini akan diadakan rapat angkatan. Semua protes.
Aku bersikap netral, begitu juga dengan Tria. “Rapat apa sih?”
“Rapat pensi,”
“Emang kita dapet tema apa?”
“Belanda,”
“Kenapa gak Korea aja sih?”
“Yey, namanya juga diundi. Kita kan gak tau kita bakal dapet apa,”
“Iya juga sih,”
Rapat itu sendiri berjalan tak lebih dari sejam. Karena aku tak bisa acting, bermain alat musik , menyanyi ataupun memasak, jadi kurelakan diriku berperan sebagai kurir bunga.
Aku coba meng-SMS Reggie.
Dateng pensi yuk!
Kutunggu balasan darinya, tapi entah berapa lama aku menunggu, suara David Archuletta tak muncul-muncul. Mungkin dia lagi sibuk.
-Reggie POV-
Gue baru aja selesai visite pasien saat gue lihat ada SMS masuk.
Dateng pensi yuk!
Pas gue mau ngebales, taunya pulsa gue abis. Gue buru-buru ke konter, tapi konter dekat rumah sakit udah pada tutup. Hmm, atau nggak usah bales aja, tapi tau-tau dateng kesana? Pasti dia seneng banget.
Gue lalu merapat kearah Gio. “Lo bisa gantiin gue jaga besok gak? Gue mau jenguk Freya,”
Dia mengangguk. Yey!
Udah lama gue nggak dateng ke pensi kayak gini. Terakhir kali gue dateng, gue jadi tukang anter kembang. Itu adalah tugas paling nggak manusiawi. Menyaksikan kemesraan orang lain sementara gue cuma dapet bau asem gara-gara baju gue keringetan, keliling kampus buat nganterin kembang.
Gue nggak sabar ngeliat matahari besok!
-Raizel POV-
Menjadi kurir bunga ternyata cukup menyenangkan. Apalagi melihat pasangan-pasangan baru bermunculan. Ya, bunga adalah salah satu cara mengungkapkan perasaan. Lagipula siapa sih yang tidak suka jika ada seseorang yang memberi bunga, apalagi oleh orang yang kita suka? Aku kadang bermimpi seseorang memberiku bunga, berlutut di hadapanku dan mengucapkan “will you be mine?” seperti yang sering ku tonton di drama korea. Pasti romantis.
Masih dalam lamunan, aku merasa ada seseorang menyentuh pundakku. Reggie. Dia mengenakan sweater warna beige dan jeans warna senada. Ini masih dalam bagian lamunan?
“Gue mau beli satu,” Dia lalu mengeluarkan selembar seratus ribuan.
“Bunga apa?”
“ Menurut lo yang paling bagus yang mana?”
“Mawar!” jawabku spontan.
Dia mengerucutkan bibirnya. “Itu pasti karena nama lo Raizel, jadi lo anggep paling bagus,”
“Itu salah satu alasan. Mawar itu lambang perasaan. Gue yakin siapapun yang dikasih mawar, apalagi mawar merah, bakal seneng banget,”
Dia mengambil sembilan tangkai. “Kenapa lo ngambil sembilan?”
“Karena sembilan itu sempurna,”
Aku lalu memberikan selembar kertas.
“Buat nulis pesen,”
Dia mengangguk kemudian tak sampai lima menit mengembalikan lagi kertas itu kepadaku.
“Buat siapa?” Aku berharap bukan untuk bodyguard-nya.
“Buka aja sendiri,”
Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi.