Hello august!

Wow.. udah lama banget nggak nulis. Kalo bisa dibilang, gue lagi kagak punya ide buat nulis, belom ada cerita yang bisa dituangkan, 50% mungkin karena duania koas yang gue jalani beberapa bulan belakangan menyita waktu, pikiran, dan hati eleeeee..Tapietapi… gue bakal ada project nulis novel en berhubungan dengan dunia koas, kisah2 di koas, yang mung kin bakal2 mirip sama mini-novel gue sebelumnya “love triase” so kalian bisa sodorin gue cerita tentang koas yang lucu, sweet bahkan yang ancur sekalian, n dengan senang hati gue bakal meramu kata…. 🙂

Advertisements

Novemberain (Hujan dan Kamu)

Aku benci bulan November. Entahlah. Harusnya Tuhan menghapuskan bulan sialan ini atau membuang sebagian hari didalamnya, agar aku tidak terjebak da lam siklus cuacanya. Ya, aku benci bulan November karena siklus hujan yang dimilikinya. Dan sekarang aku harus menerima kenyataan bahwa aku terjebak dalam hujan yang kuperkirakan akan reda sekitar tiga jam lagi. Tiga jam? Memikirkan hal itu malah membuatku semakin mengutuk kesialanku hari ini.
Aku bergerak cepat ke halte, merutuki hujan yang tak kunjung mereda. Kulihat sekilas bangku halte dan mendapati seorang gadis berambut sebahu sedang duduk diam dan tersenyum. Tersenyum? Come on. Apa dia sudah gila? Peduli setan. Aku lalu menghempaskan bokong bersisian dengan gadis itu. Gadis itu menoleh sekilas sebelum akhirnya memberikanku seulas senyum. Aku membalasnya dengan kikuk.
“Udah lama?” Dia hanya mengangguk pelan. Bagus, sekarang aku malah terlihat seperti berbicara dengan ayam sakit. Aku sendiri bingung hendak bicara apa lagi dan akhirnya semua ini menuntunku agar berhenti basa-basi dengannya.
“Kamu nggak suka hujan?” Tanyanya setelah sekitar setengah jam kami terkurung dalam diam. Aku mengangguk cepat.
“Apa enaknya hujan? Lihat. Semua urusanku terbengkalai dan sekarang aku harus menunggunya sedikit berbaik hati padaku agar aku bisa pulang lebih cepat.”
“Kamu lucu.” Ujarnya setelah mendengar luapan kekesalanku.
“Aku suka hujan.” Tambah gadis itu kemudian sembari menatap lekat kedua mataku. Oh Tuhan, matanya. Matanya adalah samudera paling biru yang pernah aku dapati. Aku jatuh cinta! Entahlah. Tiba-tiba saja jantungku berdegup lebih kencang.
“Fid?” suara Digo menyentakku dari lamunan.
“Lo ngelamun? Pasti ngelamun jorok ya???” tuduhnya tanpa ampun. Aku hanya menggeleng keras. Sialan.
“Lo nggak usah bangunin macan tidur, Go. Lo kayak nggak pernah liat Fidel ngamuk aja.” Aku lalu tertawa.
“Sialan lo berdua. Udah, pulang sana! Gue masih mau disini.”
“Masih mau nunggu cewek itu? Udah setahun bro lo nunggu dia dan mana hasilnya? Nol besar! Udahlah. Anggep aja dia nggak pernah hadir dalam hidup lo.”
“Ini nggak ada kaitannya dengan dia. Lo berdua pulang aja daripada nanti gebetan lo pada kabur gara-gara capek nungguin jemputan.”
“Ah, ya. Cynthia pasti ngamuk nih. Gue cabut dulu ya!” Aku mengangguk sekilas.
“Gue juga deh.” Ujar Sandy akhirnya.
***
“Kenapa kamu suka hujan?” tanyaku balik.
“Hmm… entahlah. Aku suka aja.”
“Masa’ nggak ada alasan sih? Aku benci sama hujan aja ada alasannya.”
“Nggak perlu ada alasan untuk suka ataupun cinta sama sesuatu.” Dia lagi-lagi tersenyum dan kali ini lesung di kedua pipinya menyempurnakan lengkung itu.
Senyum itu. Entahlah. Walau sudah hampir setahun berlalu, aku masih bisa mengingatnya dengan jelas. Rambut sebahu. Kedua mata itu. Senyumnya. Semuanya. Kecuali nama. Ah, kenapa aku dengan bodohnya tidak menanyakan nama gadis itu. Sekarang aku seperti orang buta yang berusaha mencari jalan keluar.
Sudah hampir jam lima dan aku kali ini belum berhasil menemuinya. Baru saja aku hendak melangkah, tiba-tiba saja aku menangkap siluet tak asing yang selama ini aku cari dari ekor mataku. Gadis berambut sebahu itu. Segera, aku melayangkan pandang ke arahnya dan seketika itu juga padangan kami beradu. Refleks, aku memberikan senyum terbaik yang kumiliki.
“Kita sebelumnya pernah bertemu.” Ujarku dengan terbata.
Dia mengangguk. “Ya. Dan kau Tuan Pembenci Hujan itu kan?”
Ada rasa bahagia yang menyelusup cepat sampai ke seluruh tubuh saat kudapati dia masih mengingatku dengan jelas walau dengan sebutan yang aneh. Tuan Pembenci Hujan katanya? Tidak mengapa.Setidaknya ada bagian dari diriku yang masih disimpannya rapat-rapat.
“Aku suka hujan dan aku nggak ada alasan di belakangnya.” Dia lalu tersenyum.
Kali ini. Hari ini. Aku pastikan namanya akan ada dalam benakku. Segera.

KUIS BEST RIVAL – MY TWIN SISTER, MY REAL RIVAL

“Lo nggak perlu ngebohongin diri lo sendiri buat bisa ngalahin dia. She’s your sister, not your rival!”
“Lo tau apa tentang rival? Gue harus dapetin Tristan atau gue sama sekali nggak layak lagi untuk hidup. Seumur-umur, baru kali ini gue bisa hampir ngalahin Hanna.” Gue mendengus kesal, lalu menyedot cepat frappucino di hadapan gue. Sialan, sahabat gue malah lebih pro sama sodara―tepatnya sodara kembar gue yang sok cantik itu.
“Apa lo nggak sadar? Lo itu cuma dikuasai ego. Come on, lo udah dewasa dan gue tahu sebenarnya di dalem hati, lo nggak tega buat hancurin hati sodara lo sendiri.”
“Gue nggak mau nyerah. Gue nggak peduli lo ada di pihak gue atau bukan. Yang jelas, gue nggak bakal ngelepasin Tristan gitu aja. Lo tau kan sulitnya gue bisa dapetin hati cowok itu?” Gue lalu teringat apa yang udah Hanna miliki selama ini. Kebanggaan menjadi ketua tim cheerleaders, mendapatkan beasiswa, teman-teman, dan perhatian mama. Dia selalu bisa membuat orang di sekitarnya menyukai kehadirannya dan itu nggak pernah bisa gue lakuin. Dia ramah, supel, pandai mencairkan suasana dan semuanya itu nggak gue miliki sedikitpun. Dan kali ini, saat gue tahu Tristan malah menyukai gue, gue yakin seratus persen, semua hal yang dia miliki saat ini nggak akan ada artinya lagi. Dia jatuh cinta setengah mati sama cowok tengil itu. Dan, mendapatkan hati cowok itu sama aja membuatnya hancur. Ya, gue mau dia ngerasain gimana saatnya dia nggak bisa dapetin apa yang dia mau.
“Lo sadar gak? Kalo lo ngelanjutin ini, lo nggak cuma ngehancurin hati sodara lo sendiri, tapi juga cowok nggak berdosa yang sekarang mulai jatuh cinta sama lo.”
“Gue nggak peduli. Omongan lo nggak bakal mempan lagi ke gue. Gue udah yakin dengan keputusan gue.” Gue lalu beranjak dari kursi, bangkit. Namun, gumaman orang di belakang gue membuat gue refleks menoleh.
“Jadi selama ini lo nggak benar-benar suka sama gue? Lo cuma mau manfaatin perasaan gue biar sodara lo sakit hati? Lo bener-bener nggak punya perasaan. Gue nggak nyangka bisa suka sama cewek kayak lo.” Ujarnya datar.
“Ini nggak seperti yang lo denger, Tan. Gue beneran suka sama lo.”
“Sayangnya mata dan kepala gue menangkap sebaliknya. Oke, gue keluar dari permainan lo!” Dia lalu meninggalkan gue. Gue yang akhirnya perlahan sadar, kalo perasaan gue ke Tristan udah mulai berubah. Saat gue memandang punggungnya perlahan menjauh, gue sadar kalo sekarang gue beneran suka sama dia. Kok rasanya sakit, ya? Damn!

Late

Ketika rasa itu bermetamorfosa, aku seketika terdiam. Aku hanya berusaha mencernanya lamat-lamat. Kupikir semua ini hanya bagian dari omong kosong yang terselip dalam guyonan sahabat-sahabatku, manifestasi dari sindiran mereka terhadap kedekatan kami berdua. Tapi aku sadar, semua ini adalah petunjuk rasa. Cinta. Rasa yang diam-diam membungkus kalbu. Aku sendiri tak bisa mengelaknya untuk hadir, karena aku sendiri pun baru menyadarinya.

Jadi ini, rasa itu. Rasa yang perlahan tiba di hatiku saat rambutku masih dikepang dua. Rasa yang membuatku bersemangat mempelajari apapun yang ada di sekolah, asal dia bersamaku, mengajarkan semua hal itu padaku. Rasa dimana aku dengan riangnya bergelayut manja di lengannya yang gemuk. Tawa yang tercipta saat kami bersama. Ah, mengapa aku baru menyadarinya sekarang saat semuanya terlambat?

Dan kini, ketika jarak memisahkan raga kami, aku baru sadar rasa itu benar-benar nyata. Aku baru tahu bagaimana rasanya rindu yang menghimpit hati. Aku baru mengerti bagaimana rasanya kehilangan dan ditinggalkan. Dia mengajariku segalanya, tentang rasa, tentang nilai hidup dan tentang apapun. Dia yang memberiku cinta dan sakit hati sekaligus. Ah, mengapa aku baru bisa mengerti sekarang?

Sekarang, jika aku berusaha mengejarnya, ini hanya akan menjadi luka baru yang belum tentu sembuh. Aku tahu, cinta ini bukan milikku saja. Kedua matanya memberi isyarat kalau dia juga memiliki cinta ini. Tapi kami sama-sama malu mengaku, sama-sama bersihkukuh dengan keadaan. Keadaan yang memenjarakan kami dalam luka yang kami buat sendiri.

Cinta, katakan padaku apakah aku layak untuk mendampingi hatinya? Layak menunggu hadirnya? Layak memimpikannya dalam tidur? Layak merindukannya dalam detik? Layak menyimpan rasa ini?

Waktu. Berikan kami waktu agar setidaknya kami tidak keliru tentang rasa absurd ini. Biarkan kami mengerti bahwa rasa ini nyata dan ada dalam relung-relung hati kami. Biarlah semua menjadi teka-teki dan nantinya bila semua sudah lengkap, cinta akan mempertemukan kami dalam waktu yang tepat. Aku percaya.

Teh dan Kopi

22 Juni 2014

Hujan baru saja turun. Aromanya yang mencium butiran tanah terasa sangat khas dan aku menyukainya. Aku berlari kecil, masuk ke dalam sebuah kafe yang akhir-akhir ini menjadi tempat hangout terbaik sepanjang masa bagiku. Ya, tentu Adrian adalah alasan utamanya. Aku lalu memesan kopi seperti biasa. Nathan hanya melambaikan tangan sekilas sebelum akhirnya mengembalikan pandangan pada pelanggannya. Kuteguk kopiku lamat-lamat. Biasanya tepat pukul sembilan malam akan ada bunyi gemerincing bel ― tanda seseorang masuk ke kafe ini. Aku hampir beralih pada cangkir kedua dan aku belum menemukannya duduk di sudut kanan kafe. Alunan jazz yang sedari tadi menemani tidak mampu membuatku duduk diam. Padahal biasanya aku betah berjam-jam duduk disini, tentunya sembari menguntit pria itu. Aku benar-benar gelisah. Ah, apa aku perlu menanyakan keberadaannya? Tidak, kurasa aku perlu menahan diri. Jangan sampai Nathan mengetahui kalau aku selama ini mengamati Adrian― sepupunya yang rupawan itu.

“Apa kau mau menambah pesanan?” Sapa Nathan begitu aku ingin beranjak dari kursiku. Aku tersenyum samar lalu menggelengkan kepala. Aku lalu kembali menghempaskan bokongku ke kursi karena pria ini akhirnya duduk di sebelahku.

“Ah, kurasa kafein tak cukup baik buatmu. Kupikir kau perlu menggantinya dengan secangkir teh. Kau mau?” Aku lagi-lagi menjawabnya dengan satu gelengan.

“Tenang saja. Anggap ini bonus karena kau telah menjadi pelanggan tetap kami.”

“Aku tidak minum teh, kawan.” Aku menolaknya dengan sopan.

“Kalau dia tidak mau, biar aku yang mencoba tehmu.” Ujar sebuah suara bernada rendah yang amat kukenal. Adrian?

Oh dear. Aku pikir moment seperti ini tidak akan pernah menyentuh dunia nyataku. How lucky i am today.

“Kau tidak suka teh?” Tanya Adrian sembari menggeser kursi ke arahku.

Aku mengangguk, berusaha menetralkan degup jantung. Kutarik cangkir kopi, dan menyesap isinya pelan―berharap kafein akan menenangkanku. Padahal aku persis tahu bahwa takikardi akan bertambah hebat jika aku menghabiskan kopi sialan ini. Nathan benar, seharusnya aku memesan teh.

“Adrian.” Ujarnya hangat, lalu mengulurkan tangannya. Aku menyambut tangan itu.

“ Helena.” Aku menyebut namaku dan menarik ujung bibirku sekilas.

“Ah, nama yang bagus.” Dia tersenyum, menunjukkan kedua lesung di pipinya. Ah, senyum semanis madu.

“Apa kita sebelumnya pernah bertemu?”

“Tidak. Kurasa tidak.” Sergahku cepat.

“Tapi aku merasa telah mengenalmu begitu lama.”

“Mungkin karena kau sering melihatku mondar-mandir di kafe ini.” Dia mengernyitkan dahi, berusaha mencerna alibiku. For God’s sake, jangan sampai dia ingat kejadian memalukan itu. Kalau sampai itu terjadi, aku lebih baik pura-pura lupa ingatan.

“Ah, mungkin. Tapi entah kenapa garis wajahmu tak asing lagi.”

“Banyak orang yang bilang begitu. Tapi tenang saja, kita belum pernah bertemu sebelumnya.”

***

When we met first time….

Seperti biasa, aku akan selalu memesan iced lemon tea dan beberapa donat lapis cokelat di tempat ini. Kali ini aku ditemani Stella dan tentu saja aku harus menambah milk tea dan beberapa finger food dalam daftar pesananku untuk mengisi perut mungilnya itu.

Aku mengumbar senyum singkat kepada waiter lalu mengembalikan pandangan ke meja begitu pesanan kami tiba. Dimana iced lemon tea-ku?

“Maaf kurasa itu milik Saya.” Ujarku sembari menunjuk gelas yang digenggam pria di sebelahku. Dia agak ragu, menahan gelas yang ada di genggamannya walau sejurus kemudian dia memberikannya padaku. Aku lalu dengan santai menyesapnya.

“Maaf, Nona. Kami salah mengirim pesanan Anda. Iced lemon tea itu memang milik tuan itu.” Pelayan itu menunjuk pria yang minumannya kuambil. Aku tersedak, memuntahkan isi perutku dan seketika mukaku berubah merah padam. Sialan.

“Maaf.” Ujarku. Dia mengumbar senyum tipis yang kuartikan sebagai senyum maklum. Aku berharap semoga Tuhan tak mempertemukan kami kembali.

***

Entah kenapa sejak kejadian itu aku malah menyukainya. Menyukai segaris senyum di wajahnya. Menikmati tatapan teduh miliknya. Merindukan suaranya. Ah, aku sudah gila. Aku benar-benar sudah gila. Seharusnya aku tidak menyukainya seperti ini. Tapi entah kenapa Tuhan malah menunjukkan jalan-Nya. Aku kembali bertemu dengannya saat Nathan meresmikan kafe barunya. Demi Tuhan, aku saat itu ingin meminta Nathan mengenalkannya padaku kalau tidak ada tangan yang bergelayut manja di lengan kokohnya itu. He’s taken.

Aku lalu hanya menikmati perasaanku sendiri. Membiarkan khayalan liar memenuhi benak. Merelakan luka yang terbentuk tiap kali melihat kemesraan mereka. Sial, aku tidak mau meringkuk dalam rasa cinta diam-diam ini. Aku harus berubah. Setidaknya, dia perlu tahu keberadaanku. Setidaknya dia mengetahui rasaku. Tapi, apa aku berani menghancurkan hubungan mereka? Aku masih punya nurani dan semua itu menahan rencana gila yang telah kususun sedemikian rupa.

Beberapa bulan berlalu dan entah Tuhan mengabulkan doaku, kini aku malah mendapatinya berjalan sendiri― tanpa nenek sihir berwajah malaikat di sampingnya. Apa mantera cinta wanita itu telah habis masa berlakunya?

“Ah, pria patah hati. Sini, kubuatkan kau kopi hitam. Atau kau mau latte?”

Adrian tersenyum. “Kau tentu tahu aku menyukai frappucino.”

Sejak saat itu aku mulai memasukkan frappucino dalam daftar minuman favoritku.

***

22:00 WIB.

Aku masih meringkuk dalam kubikel. Seharusnya laporan ini telah kuberikan pada atasanku sore tadi. Sialnya, flashdisk yang memuat data pekerjaanku berisi virus dan aku tidak punya backup data lagi. Alhasil aku harus mengetik ulang dan itu membuatku harus kerja lembur. Awas saja kalau aku sudah tiba di apartemen nanti. Akan kuberi pelajaran adikku itu. Ini pasti ulahnya!

Aku melenggang keluar kubikel dan menuju mesin fotokopi. Ah, akhirnya selesai. Setidaknya aku tidak perlu menumpuk pekerjaanku. Aku paling sebal jika mesti menumpuk pekerjaanku dan pada akhirnya aku mendapat omelan dari atasanku yang supercerewet itu. No! Jangan sampai aku bertemu dengan ceramah panjangnya itu. Selain membuat kuping merah, ocehannya itu akan membuat sakit hati.

Aku lalu bergerak kembali ke kubikel, mengambil tasku dan mematikan komputer kemudian berjalan menuju lift. Kantor sudah sepi, menyisakan dua orang office boy yang masih sibuk membereskan beberapa piring dan cangkir kotor di pantry. Butuh setidaknya tujuh menit untuk tiba di tempat parkir. Untung saja aku bisa menyetir dan karenanya aku tidak perlu khawatir pulang malam sendirian. Aku lalu meng-starter mobilku dan mulai menyusuri jalanan ibukota.

Ibukota belum menunjukkan raut lelah. Ia masih saja hidup dengan gemerlapnya, memandakan kehidupan malam yang semakin larut malah semakin menggeliat. Hari ini aku hanya butuh kasur dan selimut hangat serta segelas wine pemberian paman yang mungkin akan membuat perasaanku membaik. Sekitar sepuluh meter di depanku, terdapat kerumunan abnormal. Aku meyipitkan mataku lalu melemparkan pandangan ke sebelah kanan jalan dan mendapati seseorang. Adrian?

“Adrian?”

“Kau mengenalku?” Ah, bau alkohol memenuhi hidungku. Pria ini mabuk.

“Lebih baik kau ikut denganku.” Aku lalu membopong tubuh besarnya, membawanya menuju mobilku. Aku merogoh saku celananya dan tidak mendapati dompetnya. Sial, mungkin dia telah dijarah oleh orang-orang sebelum aku menemukannya dan aku tidak punya pilihan lain selain membawanya pulang ke apartemenku.

***

“Dia pacar kakak?” suara Riki memecah kesunyian. Aku hanya diam, membaringkan Adrian di sofa.

“Kak?”

“Ada apa?”

“Kakak belum jawab pertanyaanku. Apa dia pacar Kakak?”

“Kalau iya memangnya kenapa? Kau ada masalah?”

“Tidak. Aku suka kok. Pria tampan. Semoga dia tidak secerewet Kak Helena.”

“Dasar anak kecil!” Aku lalu mencubiti pipinya yang gembul itu.

“Aww, sakit Kak!” Ujarnya sembari meronta.

“Hei, Kakak baru ingat. Kau gunakan untuk apa flashdisk Kakak kemarin?”

Flashdisk? Ah, iya. Kemarin Dino mau memberikanku games yang baru di download-nya jadi aku langsung ke kamar kakak dan memberinya flashdisk itu.” Jelasnya lugu. Pantas saja benda itu bervirus. Sial!

“Gara-gara kamu Kakak mesti lembur begini. Lain kali bilang ya kalau mau meminjam sesuatu.”

“Maafin Riki ya, Kak. Riki janji nggak akan ganggu barang kakak lagi.” Ujarnya sembari mengaitkan kelingkingnya ke kelingking milikku. Aku lalu memeluknya erat.

“Kamu tidur lagi, ya. Mau Kakak bacakan dongeng?”

***

Setelah berhasil menidurkan Riki, aku bergerak menuju kamar, merenggangkan otot-otot yang sedari tadi kaku. Aku mengurungkan niatku untuk menyesap wine. Kepalaku berdenyut sesekali. Aku benar-benar lelah.

Terdengar suara Brian McKnight dalam lantunan Marry your daughter-nya menggema di kamar. Aku segera meraih ponselku.

“Halo?”

“Ya.”

“Ini aku Nathan. Apa Adrian bersamamu?”

“Eh? Bagaimana kau mengetahuinya?”

“Seseorang memberitahuku. Wanita tinggi dengan mata cokelat. Siapa lagi kalau bukan kau.”

“Hei. Ada ribuan wanita bermata cokelat dan bagaimana kau bisa menyimpulkannya sesederhana itu?”

“Sudah lupakan saja detail bagaimana aku tahu kau yang membawa Adrian pulang. Ngomong-ngomong Adrian tidak mengusikmu, kan?”

“Dia sedang tertidur.”

“Tolong jaga dia untuk malam ini.”

“Memang kau tidak bisa menjemputnya? Apa dia tidak punya keluarga yang mengkhawatirkannya?”

“Kedua orang tuanya sedang di luar negeri, mengurus beberapa perusahan keluarga disana. Dan tentangku, kau tentu tahu betapa sibuknya aku.”

“Oke. Tapi dia harus membayarku jika ingin minta ini-itu.”

“Tenang saja. Dia tak perlu apa-apa kecuali segelas frappucino dan iced lemon tea.”

“Kalau itu saja, aku tidak masalah. Ngomong-ngomong apa dia punya masalah besar? Aku baru kali ini menemukannya mabuk.”

“Aku tidak tahu. Aku juga heran kenapa dia bisa mambuk seperti itu. Terima kasih sebelumnya.”

“Kau tidak perlu sungkan.” Nathan lalu memutuskan hubungan telepon.

Pikiranku lalu melayang pada kejadian tadi. Apa yang membuat Adrian mabuk? Apa ada masalah besar hingga dia membiarkan dirinya tenggelam dalam bergelas-gelas minuman itu? Hanya ada dua alasan pria memilih menenggak minuman itu. Pertama karena patah hati dan kedua karena ada masalah besar. Ribuan kemungkinan berebut meyakinkanku tapi aku sendiri tidak tahu mana yang tepat. Apa ini semua ada kaitannya dengan wanita itu? Ah, terlalu dini jika kubilang kalau ini semua karena wanita itu. Tapi bisa saja, kan? Pria patah hati lebih sembrono dibanding wanita patah hati.

Semua ini membuatku tak bisa tidur. Aku lalu memutuskan ke dapur, mengambil persedian wine terakhirku. Barangkali seteguk dua teguk mampu membuatku tertidur pulas. Kemudian aku bergerak ke ruang tengah, menghidupkan televisi. Disana, pria itu masih tenggelam dalam mimpi. Kuamati garis-garis wajahnya. Ah, wajah malaikat. Ada apa dengan Adrian? Andai aku bisa meredam semua kegundahan hatinya, mengukir senyum di wajahnya. Tapi semua itu rasanya sulit bagiku. Entah kenapa aku merasakan jarak yang terbentang begitu luas diantara kami.

Aku lalu meraih gelas dan menuangkan wine itu kedalamnya.

***

Frappucino. Minuman dingin khas sebuah kedai kopi franchise. Nathan belajar membuatnya setahun yang lalu dan kemudian membagikan resepnya padaku. Jadi, jika pria itu benar-benar menginginkan frappucino, aku dengan senang hati membuatkannya. Aku pernah membaca sebuah artikel yang mengatakan bahwa seorang penggemar frappucino adalah orang yang suka mencoba hal-hal yang baru dan memiliki sikap sembrono dalam bertindak. Entah benar atau tidak, tapi yang jelas kedua hal itu dimiliki oleh Adrian.

Dari ekor mataku, aku mendapati Adrian bangun dari sofa, melirik ke sekeliling. Mungkin dia bingung karena tahu-tahu tertidur di rumah orang lain. Aku hanya tersenyum melihat tingkahnya itu.

“Kau mau frappucino?” Aku menegurnya. Dia lalu menoleh dan menatap mataku lekat.

“Helena?”

“Ya?”
“Kenapa kau ada disini?”

“Seharusnya aku yang bilang seperti itu. Ini apartemenku.”

“Apa yang terjadi?” ujarnya sembari menghampiriku.

“Kau mabuk.”

“Oh. Dan ya, aku mau frappucino-mu.” Dia kemudian tersenyum.

Aku lalu tersenyum, mengambil sirup cokelat, chocochip, double-strength coffee yang sebelumnya telah kuseduh, es batu dan whipped cream. Kemudian aku mem-blender es batu, memasukkan chocochip dan kopi serta menambahkan whipped cream beserta sirup cokelat sebagai hiasan. Tidak sampai lima menit, frappucino buatanku telah berpindah tangan ke Adrian.

Dia lalu menyesapnya pelan. “Enak.”

“Tentu saja.” Dia kemudian menghabiskan minuman itu dalam sekejap.

“Kau mau lagi?”

“Tidak. Aku hanya perlu tidur dan itupun jika kau tidak keberatan.”

“Silahkan. Aku mau siap-siap ke kantor dulu.”

“Oke.” Dia lalu kembali ke sofa dan merebahkan tubuhnya.

Aku lalu melenggang ke kamar, mengganti pakaianku dengan rok model pensil , kemeja polos yang dilapisi blazer lengkap dengan sepasang stilleto berwarna senada. Tak lupa, aku memoleskan bedak, menggoreskan eyeliner dan maskara, menyapukan samar blush on di kedua apple’s cheek, dan melengkapi penampilanku dengan lipstick warna matte. Perfecto!

“Kau cantik.” Gumam Adrian. Dia lalu berjalan mendekat ke arahku dan kemudian merangkulku dengan gerakan tiba-tiba. Aku terhenyak, campuran antara kaget dan senang.

“Terima kasih.” Bisiknya.

“Hmm?”

“Tidak apa-apa. Lebih baik kau cepat pergi daripada kau terlambat.” Ujarnya sembari menggaruk kepalanya yang kuyakin tidak gatal itu.

“Oh, oke. Nanti kau kunci saja apartemenku dan berikan kuncinya pada Nathan.” Adrian lalu mengangguk dan setelahnya menebarkan senyum manisnya itu.

***

“Apa kau menyukai Adrian?” Stella lalu keluar dari kubikelnya, berjalan ke arahku.

“Menurutmu?”

“Ya. Dari semua yang kau ceritakan padaku, hanya itu yang bisa aku simpulkan sementara. Is it true?” Aku lalu mengangguk cepat.

“Dan tentang Nathan. Apa kau juga menyukainya?”

“Hei, kenapa bawa-bawa nama sepupunya dalam masalah ini?”

“Karena menurutku kau juga menyukainya. Coba kau jelaskan padaku kenapa kau dengan mudahnya menerima ajakan menjadi kekasih palsunya Nathan selain karena kau juga menyukainya? Dia tidak mengiming-iminginmu sesuatu, kan?” Stella menyesap pelan cappucino dalam gelasnya. Kopi dengan sedikit kafein itu sangat pas dengan kepribadiannya yang terlalu sensitif dan perfeksionis.

“Tidak. Itu hanya karena aku sudah menganggapnya teman. Ayolah, he’s not my type.”

“Oke, aku percaya padamu. Tapi bagaimana hubungan pura-pura kalian? Apa kau masih akan meneruskannya? Dan, hei pria tampan seperti Nathan bukan tipemu? Kau sudah tidak waras?”

“Ya. Itu hanya tinggal sebulan lagi dan setelahnya aku bisa kembali menjadi Helena yang dulu lagi. Dan, ya. Nathan benar-benar bukan tipeku. Dia pria baik dan kau tahu good girl lebih menyukai bad boy.”

Stella tertawa renyah. “ Memangnya penguntit sepertimu bisa dikategorikan good girl?” Aku hanya tersenyum masam mendengar sindirannya itu. Sialan.

“Apapun itu aku hanya ingin kau tahu bahwa kebersamaan bisa menumbuhkan perasaan cinta. Kau harus mengingatnya.” Aku hanya mengedikkan bahu dan kembali menatap layar komputer begitu Stella kembali melenggang ke kubikelnya.

Namun, perkataan Stella barusan membuat perasaanku tidak tenang. Aku lalu meraih ponselku dan menekan angka delapan.

“Nathan, kita bisa bertemu?”

“Aku ada di kafe. Kau datang saja kemari.”

“Oke.”

“Helena?”

“Hmm?”

“Ah, tidak apa-apa.”

“Apa ada yang ingin kau katakan padaku?”

“Tidak. Kau teruskan saja pekerjaanmu.”

“Oke. Bye.” Aku lalu memutuskan sambungan telepon. Hari ini aku hanya perlu menyelesaikan satu laporan saja dan setelahnya aku bisa segera menemui Nathan.

Tepat pukul sebelas pekerjaanku selesai. Aku lalu menyambar tas dan ponsel di atas meja kerjaku.

“Aku duluan, ya.” Stella mengangguk sekilas sebelum akhirnya tenggelam dalam lautan laporan yang tak kunjung diselesaikannya itu. Butuh lima belas menit― jika kendaraan tidak mengular liar― untuk tiba di kafe Nathan.

Begitu tiba di depan pintu, aku langsung disambut aroma arabika yang amat kusukai, walau sebenarnya aku sendiri bukan penikmat kopi kelas berat. Aku lalu mengedarkan pandanganku ke sekeliling, mencari sosok pria itu. Nathan. Ah, dia sedang melayani seorang tamu wanita yang sepertinya complain dengan pesanannya. Senyum Nathan yang bersahabat itu membuat kemarahan wanita itu mereda. Ia berulang kali membungkukkan badannya dan menyelipkan permintaan maaf diantaranya.

Hi, good boy!” Sapaku begitu tiba di depannya.

Hi. Duduklah, kubuatkan kau kopi dulu. Atau kau mau mencoba cha latte-ku?”

Cha latte kedengarannya enak.” Dia tersenyum lalu meninggalkanku sendiri di meja. Aku membolak-balik daftar menu dan memutuskan memesan croissant.

Setelah sekitar lima belas menit, Nathan kembali bersama secangkir minuman itu. Aroma rempah menyentuh hidungku. Ah, sepertinya pria ini menawariku jamu-jamuan.

“Kau bilang latte? Kenapa seperti bau jamu pegal linu?”

“Haha. Ini resep terbaru. Aku telah menyesuaikan rasanya. Rempahnya tidak terlalu kuat namun cukup membuat badanmu hangat.” Ujarnya sembari mengangsurkan cangkir berisi cha latte itu padaku.

Aku mengamati minuman itu dari permukaannya. Buih diatas minuman itu menunjukkan krim yang ditambahkan di dalamnya.

“Ada teh hijau, gula, susu, krim, kayu manis, jahe, cengkeh dan kapulaga. Semoga kau menyukainya.”

Aku hanya tersenyum mendengar rincian resep cha latte itu. Pertama kali aku menyesapnya, entah kenapa aku langsung menyukai minuman ini. Nathan benar, rasanya lembut dan aroma rempahnya tidak begitu kuat. Aku akan menambahkannya dalam daftar minuman yang mesti aku coba kalau aku kesini lagi.

“Kau suka sekali mencoba resep baru.”

“Ya. Aku harus begitu kalau tidak mau pelanggan setiaku pindah haluan hanya karena bosan dengan minuman dan makanan yang kami sediakan.”

Aku lalu mengangguk pelan sembari meneguk cha latte. Sesekali aku mencomot croissant yang tadi kupesan dan memasukkanya ke dalam mulut.

“Ngomong-ngomong ada yang ingin kau sampaikan padaku?”

“Oh, ya. Aku sampai lupa tujuanku kesini. Bagaimana nasib hubungan pura-pura kita?”

“Orang tuaku masih belum percaya kalau kau adalah kekasihku. Mereka masih saja berusaha menjodohkanku dengan anak perempuan kolega mereka. Damn it!”

“Apa yang mesti kita lakukan?”

“Kau mau datang ke acara ulang tahun pernikahan orang tuaku?”

***

“Kau mau datang ke acara ulang tahun pernikahan orang tuaku?” Pertanyaan sialan itu terus saja mengitari otakku. Dan dengan mudahnya aku menjawab iya sebelum aku memikirkan pakaian apa yang nantinya akan ku kenakan. Aku bukan tipikal wanita yang gemar mengoleksi barang-barang branded dan hal ini malah menyusahkanku sekarang. Badan Stella terlalu mungil dan karena itu aku tidak bisa meminjam gaun-gaun hebatnya. Argghh!

*ting*

Bel apartemenku berbunyi. Aku menyentak kasar pintu kayu itu dan mendapati seorang kurir dengan box besar di kedua tangannya.

“Maaf, apa anda Helena?”

“Ya. Saya sendiri. Ada apa ya, Mas?”

“Saya cuma mau mengantarkan barang untuk Anda. Tolong tanda tangan disini.” Ujarnya sembari mengangsurkan kertas padaku. Aku lalu membubuhkan tanda tanganku disana.

“Terima kasih.” Ucapku.

Aku lalu membuka kotak berpita ungu keperakan itu. Ternyata kotak itu berisi gaun pastel lengkap dengan aksesoris rambut, anting, cincin, gelang, dan kalung serta sepasang sepatu bertali. Ah, they are so gorgeous!

Belum sempat aku menyentuh mereka satu persatu, ponselku sudah berdering.

Hi, Helena. Kau sudah menerima paketku?”

“Jadi ini semua darimu?” ujarku sembari mengambil sepasang sepatu itu dan memasangkannya di kedua kakiku. Pas.

“Anggap saja ini imbalan karena kau mau datang ke pesta orang tuaku.”

Thanks. Aku akan mengganti semuanya nanti.” Aku lalu melirik ke arah semua aksesoris itu. Ah, aku benar-benar tak sabar ingin memasang mereka semuanya.

No problem. Kau tidak perlu menggantinya. Ini kan semua karenaku. Aku ingin kau tampil cantik malam ini. Aku akan menjemputmu jam delapan malam.”

I wait for you.”

***

Hi, pretty!” sapanya. Ia lalu meraih kedua pipiku dan menciumnya sekilas.

Ready to go?” Aku mengangguk pelan. Dia lalu membuka pintu mobil, membiarkanku masuk ke dalamnya.

“Apa aku tidak mempermalukanmu?”

“Tidak. Tentu saja tidak. You look so beautiful. Malah aku nanti yang harus menahan perasaanku karena semua orang memperhatikanmu.”

“Kau berlebihan.”

No. Adrian mungkin akan terkejut melihatmu.”

“Adrian? Dia datang?”

“Tentu saja. Apa kau lupa kalau dia adalah sepupuku yang artinya keponakan dari keluarga Daniel Sandjaja?”

“Oh, ya. I forgot that. Sorry.”

“Tak apa. Nanti saat kita tiba, kau hanya perlu menebarkan senyum, biarkan aku yang mengambil alih percakapan.” Aku hanya mengangguk mendengar instruksinya. Mudah. Ini bahkan lebih mudah daripada menentukan calon presiden mana yang harus kupilih dalam pemilu tahun ini.

***

“Apa dia kekasihmu?” pertanyaan itu langsung dijawab oleh Nathan dengan anggukan.

“Dia cantik sekali. Kau beruntung, Nathan.” Nathan hanya tersipu mendengar ucapan salah seorang tantenya itu. Aku hanya menebar senyum kikuk. Aku benar-benar kikuk.

“Kami mau mengambil minuman dulu tante. Permisi..” ujarnya seraya meraih jemariku posesif, menarikku menjauh dari kerabatnya.

Tepat saat itulah aku melihatnya, mengenakan tuksedo hitam, barusaja tiba dalam pesta. Aku buru-buru menarik genggaman tangan Nathan. Namun terlambat, Adrian telah melihat genggaman itu sebelum aku benar-benar melepaskannya. Entah kenapa, guratan kekesalan tiba-tiba saja muncul di wajahnya saat itu. Aku sendiri bingung mendefinisikannya.

Hi.” Ujar Nathan, berjalan mendekat ke arah Adrian. Adrian sendiri hanya tersenyum singkat, sambil terus memberikan tatapan penuh tanya padaku.

“Kau mengenali gadisku ini?”

“Tentu saja. Helena?” tebak Adrian. Nathan tertawa karena Adrian masih bisa mengenaliku.

“Ah, kupikir karena dia sudah berdandan seperti ini kau pasti tidak mengenalinya. Nyatanya aku salah besar.” Ucapnya, sembari meraih lenganku, menggandengnya posesif. Aku kikuk melihat sikapnya itu.

“Kau mesti siap-siap menerima kehadirannya. Kami berencana akan bertunangan.”

Aku bisa melihat keterkejutan Adrian. Aku sendiri masih belum bisa mencerna apa yang dikatakan pria itu barusan. Tunangan? Come on, tak ada kata “pertunangan” dalam perjanjian. Apa aku harus melangkah sejauh itu?

“Apa tidak terlalu cepat?”

“Tentu saja tidak. Apa kau keberatan?”

***

“Apa maksudmu dengan mengatakan kalau kita akan bertunangan?” Pertanyaan itu segera saja meluncur dari bibirku begitu aku masuk ke dalam mobil Adrian. Dia hanya terdiam, namun tak berapa lama kemudian dia membuka suara.

“Aku hanya ingin menggertak saja. Apa kau juga keberatan?”

“Bukan. Aku tidak keberatan jika itu bagian dari rencanamu. Tapi bukannya kau mesti menggertak kedua orang tuamu, bukan Adrian yang notabene nya hanya sepupu bagimu?” Aku menolehkan kepala, melihat matanya lekat.

Nathan lalu menatap lurus kedua mata cokelatku―membuatku kesulitan bernapas. Matanya adalah samudera paling biru yang pernah aku selami. “Apa aku salah? Kau menyukainya?” Pertanyaan itu telak menamparku.

How could you say that?”

From your eyes. Dan beritahu aku, apa tebakanku salah?”

“Kau gila! Mana mungkin aku menyukainya.”

“Kau tidak usah berpura-pura lagi. Aku tahu kau menyukainya jauh sebelum ini. Aku tahu kau mengamatinya tiap kali dia mengunjungi kafe. Aku tahu semuanya. Aku tahu cinta diam-diam yang kau jalani selama ini, Na.”

Dan, hal yang hanya bisa kulakukan hanya mengaku. Aku menganggukkan kepalaku pelan dan menangis.

“Tolong, jangan kau beritahu Adrian.” Pintaku. Dia lalu menarikku dalam peluknya.

“Apapun yang kau minta.”

“Maafkan aku, Nath.”

***

Tiga bulan kemudian….

Nathan tetap menjadi sahabatku dan Adrian akhirnya tahu perasaanku karena Nathan dengan sengaja menceritakan semuanya, selengkap-lengkapnya dan itu membuat Adrian langsung mencecarku dengan pertanyaan-pertanyaannya. Dan, setelahnya Adrian malah memintaku menjadi kekasihnya. Aku tak tahu hidup begitu indah saat semuanya sudah jelas dan aku tak perlu diam-diam lagi mencintainya. Nathan masih seperti yang dulu, selalu menawariku resep barunya untuk kucoba dan meminta pendapatku tentang itu. Aku senang dengan sikap hangatnya itu.

Aku beruntung memiliki Nathan, dengan semua kehangatan yang ada dalam dirinya, aku sangat beruntung ada di sampingnya. Dan, Adrian. Aku sangat bersyukur karena Tuhan mau mengabulkan rengekanku untuk bersama pria itu. Aku bahagia. Hidup tak pernah semudah ini sebelum aku mengenal Nathan. Nathan dan Adrian, dua pria yang sampai akhir nanti akan selalu membuatku tersenyum dengan cara yang berbeda. Nathan yang hangat seperti teh dan Adrian yang manis seperti kopi. Teh dan kopi.

*Epilog*

Nathan hanya tersenyum melihat undangan pesta pertunangan yang didominasi warna ungu dan perak yang kini digenggamnya. Ah, andai dia dulu mau berusaha lebih, dia tidak akan sakit seperti ini. Andai ia bisa mengatakan semuanya, jujur pada dirinya dan Helena, bahwa dia selama ini menyukai wanita itu. Tapi entah kenapa semuanya hanya tertahan di langit-langit mulutnya, ia tak ingin wanita itu mengetahui sedikitpun tentang rasa yang disimpannya sejak lama.

Ia akui kalau dirinya memang pecundang besar yang hanya berani mencintai Helena diam-diam. Entah, yang jelas ia cukup bahagia dengan apa yang dimilikinya sekarang. Persahabatan. Dia hanya ingin melihat senyum Helena terukir di wajahnya. Karena dia yakin, suatu saat nanti dia akan menemukan cinta sejatinya tanpa perlu mencintai diam-diam seperti yang dilakukannya dan Helena. Dan, dia yakin, tidak semua cinta yang bersemi harus diutarakan, karena cinta yang sejati tidak perlu diumbar, ia hanya perlu dirasa.

“Nath, apa menurutmu aku lebih baik minum teh atau kopi?”

“Teh dan kopi. Kau cocok untuk keduanya.”

*FIN*

L.O.V.E

Sel otak tak sinkron dengan reaksi tubuh
Mulut terkatup berlidah kelu terdiam
Bak gemuruh di siang hari, degup liar jantung mendominasi
Harusnya ada kupu-kupu mengitari rongga perut
Ada merah padam di kedua tonjolan pipi
Muncul rasa bahagia yang menelusup perlahan
Tapi entah, mungkin semua membeku
Seakan waktu berhenti berputar
Terpaku akan keindahan nirwana dunia
Terpesona dengan setiap lengkung di wajah
Kamu.

[Review] Career First- Maya Arvini

Judul : Career First
Penulis: Maya Arvini
Ukuran: 14 x 21 cm
Tebal: 220 hlm
Penerbit: GagasMedia
ISBN: 979-780-723-1
Career First

Description

There is no shortcut to success.

Karier gemilang bisa dicapai jika kita berhasil melampaui berbagai tantangan sejak di tangga pertama. Sayangnya, banyak di antara kita yang baru memulai karier pertama, tidak punya petunjuk atau kisi-kisi tentang dunia profesional. Padahal banyak tahapan yang harus ditaklukkan karena tidak ada jalan pintas untuk meraihnya.

Career First hadir sebagai panduan untuk pendaki karier pertama maupun yang telah bertahun-tahun menjajaki dunia kerja. Ditulis berdasarkan pengalaman dan kiat dari peraih Young Women Future Business Leader, Maya Arvini, buku ini akan membantu kamu melalui berbagai tantangan dalam dunia profesional untuk melesatkan karier.

Berbagai hal yang akan kita temui dalam proses perjalanan karier, dibahas secara lengkap dalam buku ini, seperti bagaimana memiliki mentor, berkompetisi di lingkungan kerja, membangun aliansi, menyikapi kegagalan, hingga mengupas tentang office politics.

So, prepare yourself first, and get ready for success in your career!  

***

Pertama, terima kasih buat gagas yang bersedia menerima saya menjadi salah satu reviewer dalam one book one day kali ini. Selain itu juga, ucapan terima kasih buat mbak Maya Arvini yang sudah membuat buku yang membuka mata saya lebar-lebar tentang dunia profesional.

Jujur, saya masih terlalu hijau dalam dunia pekerjaan, meski usia saya sudah lewat 20 tahun (read: 21 tahun). Saya sendiri merasa ‘iri’ dengan mbak Maya Arvini tentang segala kesuksesan yang ia tuangkan di setiap lembar buku ini. Untuk itu, saya akan berbagi sedikit tentang buku ini dan semoga ini semua bermanfaat bagi saya dan kalian yang membaca review (pertama) saya ini.

Well, pertama kali liat buku ini rasanya eye catching banget. Warna merah, biru dan kuning gading yang mendominasi sampul terkesan simpel tapi buat penasaran. Pas buka halaman per halaman, baru kerasa atmosfer yang beda. Iya, seperti sampulnya, bagian dalam buku ini juga didominasi warna merah. Saya sendiri menyukai pemilihan warna dalam buku ini karna menurut saya warna merah membuat pembaca merasa bersemangat, sama seperti yang saya rasakan saat kali pertama membuka lembarnya. Terus ada beberapa ilustrasi gambar-gambar yang mendeskripsikan fokus bahasan per bab. Lucu sih, karena kadang sebagian orang lebih mendapatkan fokus saat melihat gambar-gambar yang dianggap menarik dan sejauh ini gambar-gambar itu cukup membantu saya memahami tujuan bahasan per babnya.

Di setiap bab nya, diselipkan kata-kata motivasi yang menurut saya cukup tepat letak, ukuran dan pemilihan warnanya dan saya begitu menikmati pilihan quotes yang dimasukkan mbak Maya Arvini  di dalam bukunya, seperti :

“No matter how far you walk, how hard you work, or how bad it hurts, you’ll always get to where you need to be.” -unknown

S

Ini kalimat pembuka yang ada di halaman lima dan sebagai kalimat pembuka ini cukup menggelitik rasa penasaran saya selaku pembaca untuk membuka halamn buku lebih jauh. Belum lagi quotes lain yang tidak mungkin saya sebutkan semua dalam review ini.

Dan, dari segi isi, nggak ada yang perlu saya komentari karena so far saya nyaman dengan gaya penulisannya yang ringan namun tetap berisi, meski saya menemukan beberapa typo, tapi sejauh ini itu nggak menjadi masalah besar karena saya sendiri hampir melewati bagian-bagian itu.

Sebelum kita masuk ke inti, saya ingin pendapat kalian tentang kata ‘sukses’. Apa yang terpikir di benak kalian saat mendengar kata itu? Mapan? Tua? S2 S3 dst? Ya, sebagian besar dari kita menganggap kesuksesan itu dapat diraih saat usia mencapai kepala empat. Padahal, kesuksesan itu sendiri justru bisa diraih saat usia 20-an atau malah lebih dini lagi. Kenapa? Karena kesuksesan itu tentang kerja keras dan motivasi baja, bukan karena age-oriented. Jadi, saya juga sekalian ingin membuka mata kalian lebar-lebar bahwa sukses itu nggak selalu di usia tua.

So, ada beberapa hal yang pengen saya bahas di review kali ini. Pertama, tentang cara mbak Maya menceritakan bahwa dengan kesuksesan yang ia raih saat ini, nggak ada jalan pintas. There is no shortcut to success. Dia menceritakan pengalamannya secara lugas bahwa dia juga mengalami masa-masa sulit dan keadaan itu menempa dia untuk bekerja keras demi meraih kesuksesan. Terus, pas mau S2 dia mesti kerja sampingan sekaligus kuliah. Kalau saya sih belum tentu bisa. Dan, sekarang dia masih belum merasa puas karena loyalitasnya bukan pada posisinya sekarang di perusahaan tapi pada profesi dan keinginan untuk berdistribusi. That’s really good, i think. Kebanyakan orang merasa nyaman dengan loyalitas serta comfort zone mereka hingga tenggelam dalam keinginan untuk lebih baik lagi.

Then, dia juga dengan blak-blakan menceritakan kegagalannya meraih jurusan lewat jalur PMDK. Saya pribadi merasakan pukulan telak yang mbak Maya Arvini rasakan. Sekedar info, saya juga gagal dari PMDK dan sama seperti mbak Maya, saya mengikuti tes untuk masuk ke fakultas idaman saya dan voila, Tuhan mengulurkan tangan-Nya pada orang-orang yang mau berusaha. Jadi, nggak ada alasan bagi kita buat berusaha semaksimal mungkin karena kegagalan itu hanya cara Tuhan menyadarkan kita tentang usaha kita yang beluim cukup kuat untuk memenangkan tantangan.

So far, saya nggak menemukan hambatan berarti dalam buku ini atau malah saya terkesan tak menemukan kesalahan di dalamnya. Dan, harapan saya, semoga suatu hari nanti saya bisa seperti Mbak Maya, entah itu di usia 25,27 atau 28 tahun seperti Mbak Maya, yang jelas buku ini benar-benar memotivasi hidup saya untuk berusaha mengembangkan potensi yang sudah dikaruniakan Tuhan. Well, ini bukan menjadi semacam review karena isinya pujian semua. Tak apalah, karena saya memang menyukai buku ini dari awal hingga akhir dan bener-bener nggak kecewa.

5/5 stars

Dongeng Boneka Pukul Tujuh dan Pria Pemilik Jam Saku

Tik..Tok..Tik..Tok
“Ah, akhirnya aku bangun dari tidur panjang,” ujar Annabelle, bergerak menggeliat seperti kucing yang baru bangun tidur. Ia melirik ke kiri-kanan, mencari sosok Oscar, pria pemilik jam saku ―jam yang bisa merubahnya menjadi manusia.
Disana, di toko mainan Oscar― yang merangkap rumah baginya, dia tak menemukan batang hidung pria itu. “Mungkin dia sedang ke luar,” gumamnya. Benar saja, saat dia bergerak ke arah dapur, dia melihat sebuah note tertempel di lemari es.
Tunggu aku, aku punya kejutan untukmu.    
“Kau benar-benar membuatku jatuh cinta, Oscar,”
Annabelle lalu terpikir untuk memasak red velvet cake, kue favorit Oscar. Dia tak mau menggunakan jentikan jemari seperti biasa karena ia tahu bahwa kue akan terasa lebih nikmat jika ia hasilkan dari jemarinya sendiri.
Setelah kira-kira satu setengah jam berkutat dengan adonan dan segala hal berbau bahan kue, ia akhirnya menyelesaikan masakan itu.
“Voila. Aku rasa kau akan jatuh cinta padaku seketika, Oscar,”
Ia pun bergegas membersihkan sisa masakan. Setelahnya, dia bergerak ke arah jam besar di ruang tengah. “Apa ada sesuatu yang menghalanginya?”
“Ah, lebih baik aku berdandan dan mengganti pakaianku,” ujarnya sembari melihat ke arah gaun cokelat yang seminggu ini tak pernah ia ganti. Maklum, sebagai sebuah boneka, dia takkan menghasilkan keringat layaknya manusia dan mandi adalah salah satu hal yang tentu tak perlu ia lakukan, bukan?
Dia lalu berlenggak-lenggok di depan cermin, menjentikkan jemarinya tiap kali gaun yang ia pilih tak ia sukai. Lalu, setelah setengah jam bergonta-ganti gaun, akhirnya ia menjatuhkan pilihan pada sebuah gaun biru pastel berpotongan A-line, lengkap dengan renda yang menghiasi lengan, dada dan bagian bawah gaun sebagai sentuhan akhir. Dia juga melengkapi penampilannya dengan memilih stilleto berwarna senada. Perfect!
Dia kemudian menata meja kecil di ruang tengah, menghidupkan dua buah lilin panjang, menuangkan sampanye dan memotong cake menjadi dua irisan besar. Tak lupa, ia meletakkan vas bunga berisi mawar merah segar yang ia baru petik di kebun belakang.
“Ah, Aku harap dia bisa menyegerakan langkahnya ke rumah,”
***
“Apa kau merasa baik-baik saja?”
    “Hmm, akhir-akhir ini kepalaku berdenyut lebih keras dan obat yang kau berikan tak memberikan efek apapun padaku,”
    “Apa kau mau mempertimbangkan saranku sebelumnya?”
    “Aku tidak mau di operasi,”
    “Tapi, sel kanker itu telah menembus otak kananmu. Kau akan kehilangan sebagian ingatanmu dan itu akan membuatmu lebih menderita.”
    “Aku ingin menikmati penyakitku,”
    “Kau sudah bilang padanya?”
    “Bilang? Padanya?”
    “Iya. Wanita yang selalu membuat matamu berbinar.”
    “Kurasa ia tak perlu tahu. Aku tak ingin dia terluka bersamaku. Biarlah dia terluka karena tahu aku bukan yang terbaik untuknya,”
    “Apa kau mencintainya?”
    “Tentu. Selama ini hanya dia mengisi hatiku.”
    “Aku akan meresepkan obat pereda rasa nyeri. Kau mungkin bisa menggunakan morphine jika obat ini tak sanggup meredam sakitmu. Aku punya beberapa jika kau mau. Dan menurutku, kurasa kau perlu membicarakan hal ini padanya,”
***
    Dia menunggu pria itu hingga denting jam besar di ruang tengah menunjukkan tengah malam dan ia tahu waktunya tak lama lagi. Lilin di atas meja sudah tinggal separuh dan itu artinya dia harus siap-siap menggantinya dengan yang baru.
    “Kau dimana, Oscar?” ujarnya, bertanya-tanya dalam hati. Pria  itu tak pernah pulang lebih dari jam sepuluh dan hal ini membuatnya sedikit cemas. Apa ada masalah? Dia menggeleng keras dan berharap pikiran buruknya tadi tak benar-benar terjadi.
    Tepat pukul dua pagi, pintu kayu itu bergerak. Pria itu pulang. Annabelle menggerakkan kepalanya dan mendapati wajah lelah pria itu.
    “Ah, akhirnya kau pulang juga,” Ia lalu menarik lengan pria itu, membawanya ke ruang tengah. Ia melepaskan mantel pria itu dan mengangsurkan secangkir cokelat hangat.
    “Kau tahu? Aku bisa kena serangan jantung jika kau belum pulang lima menit lagi,”
    “Kau tahu kau takkan merasakan itu, bukan?”
     “Baiklah, kau benar. Tapi, apa yang menghalangimu?” ujar Annabelle seraya memeriksa setiap lekuk tubuh pria itu, memastikan apakah pria yang dicintainya itu baik-baik saja.
    “Aku menemui seseorang,”
    “Lalu?”
    “Aku jatuh cinta padanya, Annabelle.” Langkah Annabelle terhenti. Dia menoleh ke arah pria itu dengan tatapan penuh selidik.
    “Kau baru menemuinya sekali dan kau mengatakan kalau kau jatuh cinta? Semudah itu?”
    “Ya, mungkin inilah cinta pada pandangan pertama. Love at first sight. Jika kau menjadi manusia, kau akan merasakannya,” ujarnya sembari tersenyum simpul. Annabelle tersenyum pahit. Aku sudah merasakannya, Oscar, batinnya.
    “Kau mau tahu wanita seperti apa dia?”
    “Tentu.” Annabelle lalu duduk di kursi, berhadapan dengan Oscar. Menatap nanar pria yang selama ini dicintainya itu.
    “Dia adalah wanita manis pemilik toko bunga di seberang jalan. Aku baru kali pertama melihatnya dan kau tahu? Jantungku berdegup kencang saat tatapan kami bertemu. Sepertinya aku jatuh cinta!”
    “Kau yakin?”
    “Tentu. Aku belum pernah merasakan ini sebelumnya. Rasanya, seperti ribuan kupu-kupu memutari perutku.”
    Annabelle lagi-lagi tersenyum pahit. Padahal, dia berharap pria itu menikahinya, melingkarkan cincin permata ke jari manisnya, membisikkan sumpah sehidup semati di telinganya, mengatakan akan mencintainya seumur hidup. Tapi, itu semua hanya khayalan. Pria itu hanyalah pemilik jam saku yang membuatnya tetap hidup, yang membuatnya jatuh cinta. Dan sekarang, pria itu telah memberikan hatinya pada seorang wanita, yang benar-benar manusia, bukan boneka yang hanya akan berubah menjadi manusia pada dentingan jam tujuh malam lalu kembali saat fajar tiba.
    “Aku bahagia jika kau bahagia,” ucapnya tulus.  Pria itu tersenyum.
    “Kau memang sahabatku yang paling baik,” ujar Oscar sembari merengkuh Annabelle dalam pelukan. Biarkan waktu berhenti sebentar saja.
    Annabelle pun terhanyut dalam pelukan hangat itu. Tak terasa, bulir air matanya menetes. Ah, dia sudah melanggar sumpah itu. Sumpah yang mengatakan kalau dia menangis, dia tidak akan kembali menjadi manusia.
    Tiba-tiba tubuhnya mengeras, perlahan dari ujung kaki, semakin merambat ke atas dan akhirnya sampai di ujung lidahnya.
    “Oscar…” bisiknya pada telinga pria itu.
    “Hmm…”
    “Aku mencintaimu,”
    Floop….
    Tubuh Annabelle kembali menjadi boneka. Pria itu lalu menangis.
    “Maafkan aku, Annabelle. Aku juga menyukaimu,”
***FIN***
    

    

BITTERSWEET

Aku pernah mengikuti bintang jatuh. Berharap saat aku menutup mataku, mengucap lirih untai doa dalam hati, Tuhan akan mengizinkan salah satu doaku terpenuhi. Kulakukan itu tiap kali memandangi langit. Tapi, kali ini aku mengganti doaku. Aku hanya mengucapkan satu kata.Kata yang sampai sekarang masih belum bisa menjadi milikku. Dia.
***
“Lo nggak usah mimpi!”
Aku masih memberengut, memindahkan mataku dari wajah cantik Audreya ke buku tahunan kampusku. Aku berharap bisa menyumpal mulutnya dengan kamus Dorland yang ada di dekat kakiku. Kalau saja aku tidak ingat sedang berada dimana, aku yakin aku sudah melakukan itu dua jam sebelumnya, sebelum dia mengatakan bahwa mengejar Steven itu adalah mimpi. Ya, aku sedang berada di kamarnya dan menyumpal mulutnya dengan kamus “saku” itu bisa saja termasuk tindakan kriminal dan aku tak mau dipenjara hanya karena melakukan hal konyol seperti itu.
“Apa menurut lo mencintai Rezky diam-diam itu nggak termasuk agenda mimpi lo?” Haha! Dia tak bisa berkutik lagi.  Wajahnya memerah dan aku tahu dia sedang menyiapkan strategi untuk membalas perkataanku.
“Menurut lo? Udah ah nggak usah dibahas!”
“Lo sendiri yang bahas duluan!” Gerutuku. Sumpah, meski dia termasuk sahabatku, aku paling kesal dengan mulutnya. Kalau saja  melumuri mulutnya dengan jalapeno tidak termasuk tindak kekerasan, itu akan kulakukan sekarang!
“ Please, deh. Kita ini sama-sama secret admirer dan sesama secret admirer dilarang saling mengejek!” ujarnya sembari memeletkan lidah.
So, siapa yang sebenarnya yang memulai pertengkaran bodoh ini? Dasar cewek aneh!
“Eits, lo tau gak? Gebetan lo itu baru putus! Gue baru mantengin instagram-nya dan gak ada satupun foto gebetan lo ada instagram mantannya!” seru Audreya sembari mengacungkan ipad-nya. Aku lalu memburu benda persegi panjang itu dan mulai memeriksa kebenaran ucapannya. Ah! Ternyata dia benar! Is it a dream? Aku menepuk pipiku dan merasakan sakit tersisa disana.
“Lo nggak mimpi!” ujar Audreya seolah tahu pikiranku. Aku kembali menekuni akun instagram tersebut. Mungkin saja ada satu foto terselip atau ada comment yang mengindikasikan  kalau hubungan mereka benar-benar berakhir. Gotcha! Tidak ada satupun foto! Tapi aku tidak bisa bersenang hati dulu karena tidak ada satupun comment  yang menunjukkan berakhirnya hubungan mereka dan ini berarti belum tentu mereka putus! Bisa saja sang kekasih cuma menghapus semua foto lama karena ia menyadari ke-alay-annya dan berniat mengganti foto itu dengan foto mereka yang lebih mesra lagi. Memikirkan itu malah membuatku mual.
“Lo nggak perlu cemas. Gue yakin dia nggak bakal segitu niatnya buat ngehapus semua foto dan menggantinya dengan foto yang lebih hot.” Gumam Audreya, lagi-lagi membaca pikiranku. Apa di keningku ini terlihat isi pikiranku?
“By the way, congrats! One step closer!” tambahnya. Aku hanya mengedikkan bahu, padahal dalam hati aku sudah berjingkrak-jingkrak dan berharap mentari pagi lebih cepat muncul. I’ll meet you soon, my love!
“Eh, besok kita kuliah sampe sore loh, gue baru dapet jarkom nih dari line.Damn!” Seketika gejolak hati hancur. Ah, kenapa kurikulum esok hari menunda pertemuan kami berdua. Sial!
“Yah, gue nggak bisa ketemu gebetan dong!” ucapku tanpa sadar.
“Yaelah, lo mau ketemu sekarang aja bisa!”  Mataku membulat. Apa Audreya sedang bercanda?
“Lo nggak lagi bercanda, kan?”
“Gue bukan wayang OVJ kali,” Dia lalu tertawa.
“So?” sergahku geram.
“ Wani piro?? Sushi So dan gue anggap impas!”
“Dasar pemeras! Yaudah, jelasin dulu. Kalo rencana lo terbukti ampuh, gue bakal traktir sampe perut lo meledak!”
“Jadi gini, lo pura-pura aja sakit, gue bawa ke rumah sakit, dia ketemu lo, lo bisa puasin deh temu kangen. Gue yakin itu berhasil!” Jelasnya panjang lebar. Gila! Mungkin FTV telah sebegitu besar meracuni otaknya sehingga yang ia bisa pikirkan hanyalah skenario sinetron picisan!
“Dia nggak sebodoh itu nerima pengakuan gue. Yang ada dia malah tau gue cuma cari alasan doang dan itu memperkecil kemungkinan gue bakal jadian sama dia!”
“Lo kan anak teater. Masa acting sakit aja nggak bisa sih!”
“Gue nggak bisa bohong kalo di depan doi, Drey!”
“Anggap aja doi itu gue. Beres kan? Lo kan paling mudah ngibulin gue!”
“Betul juga!”  Aku menganggukkan kepala. Ya, orang yang paling mudah kubohongi cuma Audreya seorang. Ternyata, ini bisa dijadikan siasat perang! Haha!
“Eh, lo mesti pegang janji lo!”
“ Janji apa?”
“ Baru dua menit lo bilang, itu… janji mau traktir gue!”
“ Oh, Dear! Lo nggak percaya amat sama gue, ya gue traktir asal rencana ini berhasil.  Buruan kita ke rumah sakit! Gue udah kena malarindu berat nih!”
“ Dasar yang lagi falling in love, segitunya..”
***
“ Aduh…” Aku pura-pura mengerang kesakitan. Audreya mengguncang-guncangkan tubuhku. Boleh juga acting-nya. Haha!
“Lo kenapa, Ki? Sabar ya, bentar lagi kita ketemu dokter!” Dalam hati, aku tersenyum melihat raut wajah Audreya yang terlihat begitu mengkhawatirkanku. Beberapa orang koas di ruang IGD buru-buru menemuiku, menanyakan keadaanku kepada Audreya. Kemana  Steven? Apa dia sedang tidak jaga?
“Temenmu kenapa?” tanya salah satu koas pada Audreya.
“Nggak tau kak, tiba-tiba aja perutnya kram.” Jelas Audreya singkat.
“Oh, kalo begitu kami periksa dulu, kamu silahkan keluar.”Perintah salah satu koas yang mungkin koas senior di IGD hari ini. Aku hanya menatap Audreya sekilas lalu dia pergi meninggalkanku bersama gerombolan koas yang mulai melucutiku. Satu dari mereka memeriksa tekanan darahku sembari meraba nadi, satunya lagi mendengar denyut jantungku, sedang sisanya hanya mengamatiku seperti cadaver baru yang patut diamati setiap sentimeternya. Dari sekian banyak koas itu, tak ada satupun dari mereka itu Steven. Lima menit kemudian, mereka menyelesaikan pemeriksaan mereka. Koas senior yang memimpin hanya tersenyum melihatku.
“Kamu nggak lagi pura-pura kan?” Ujarnya saat para koas lain sedang keluar.
“Maksud kakak?” tanyaku sembari memegang perutku.
“Ya, menurut pemeriksaan tadi, kamu nggak ada apa-apa.” Jelasnya.
“Oh, tapi kenapa perut saya mendadak kram?” tanyaku lagi.
“Kamu itu mungkin lagi stres. Mikirin seseorang?” tanyanya balik. Pria ini sepertinya memiliki kemampuan yang sama dengan Audreya! Apa begitu mudahnya isi otakku terbaca oleh semua orang?
“Hmm, mungkin.”  Ujarku. Aku lalu bangkit dari ranjang IGD tapi dia menahanku, membiarkan tubuhku terbaring disana.
“Kamu istirahat dulu.” Perintahnya, lalu kemudian menarik ujung bibirnya sebelum meninggalkanku. Ah, pria yang manis dengan senyum manis pula.
“Ciee yang nggak ada rotan akarpun jadi!” seru Audreya persis saat aku masih terhipnotis senyum manisnya . Ia mengedipkan mata sekali mirip pasien cacingan kronis.
“Apaan sih lo?” Aku mencubit lengannya kuat.
“Ya, gue tau lo nggak dapet Steven hari ini. Tapi cowok itu lumayan juga.” Ujarnya sembari menebarkan senyum penuh arti. Aku mengedikkan bahu, pura-pura tak peduli.
“As your information, gue nggak bakal traktir lo!”
“Kok lo gitu sih?” Audreya memberengut. Aku pura-pura menutup mata.
“Ya, karena kita gagal ketemu sasaran, seperti yang lo bilang,”
“Tapi kan…..”
“Udah ah,yuk kita cabut, gue nggak betah lama-lama di rumah sakit!”
“Gue masih mau ketemu kakak koas ganteng tadi!”
“Terserah, gue nggak doyan cowok kayak dia.” Aku beranjak dari bibir ranjang, mengenakan sepatu lantas pergi meninggalkan ruang itu.
“Berarti kakak itu buat gue ya!” teriaknya. Aku hanya mengangkat bahuku. Padahal Audreya itu penggemar berat Rezky dan sekarang saat dia menemukan orang lain yang sama kece-nya, dia malah mengejar orang itu. Dasar cewek tak berpendirian!
Aku lalu menyusuri koridor rumah sakit, berharap bisa menemukan pria yang belum lama ini mengisi setiap sel otakku. Pertemuan dengannya membuatkan jatuh cinta pada sekali pandang.  Waktu itu aku sedang tidak dijemput Pak Kirman, supir pribadiku. Aku menunggu taksi, tapi setelah setengah putaran arloji, belum ada satupun taksi lewat. Di saat kebingungan itu, aku melihat motornya melintasi halte. Karena aku tahu dia adalah salah satu kakak tingkat di fakultas kedokteran, aku langsung saja memanggilnya.
“Hei!” Teriakku, berharap ia mendengarnya. Keajaiban pun terjadi, dia menghentikan laju motornya dan menoleh ke arahku.
“Ada apa?” ujarnya seraya membuka helm. Aku terperangah, tak bisa berkata apa-apa. Dia lalu menjentikkan jemarinya di hadapanku.
“Ada apa?” ulangnya lagi. Aku yakin wajahku saat itu seperti orang bodoh.
“Saya boleh nebeng nggak?”  Dia mengangguk lalu mengangsurkan helm. Orang ini pura-pura baik atau lagi in the mood ya? Aku tak  benar-benar peduli kali itu. Yang kupikirkan hanyalah pulang dengan selamat.
“Gue suka ngebut. Kalo lo mau aman, lo nggak usah duduk kayak emak-emak!” Aku lalu membenarkan posisiku, duduk tak menyamping.
“Kalo lo nggak mau peluk gue, lo bisa pegang jaket gue.” Aku menurut. Dengan posisi seperti ini, aku bisa mencium aroma maskulin tubuhnya. Sepanjang perjalanan kami habiskan dalam diam karena aku tak tahu apa yang mesti kukatakan dan itulah adalah kali terakhir aku menemuinya. Pertemuan yang cuma bisa ku museum-kan dalam sel otak.

Path to your heart

“Jangan pernah berusaha keras menyakiti dirimu sendiri.”

“Maksudmu?”

“Kau tidak usah pura-pura bodoh. Aku cukup tahu dirimu dan bagiku kau tak ubahnya seperti landak yang mencabuti durinya satu persatu.”

“Kau tidak benar-benar mengenalku.”

“Justru aku sungguh mengenalmu, Na.”

“Kamu sok tahu!”

Aku bergegas meninggalkannya. Aku paling malas berurusan dengan pria sok tahu macam Gerrald.Dia pasti sudah memasang senyum lebar, merasa semua yang dikatakannya tadi benar. Huh, dasar kastil es berwajah malaikat! Wait, aku tidak perlu memujinya berlebihan. Hmm, kuakui wajah tampannya itu selalu gagal disembunyikan walau hanya dengan balutan pakaian sederhana. Tapi, sifat gue-tau-semua-hal yang bersarang di tubuh atletisnya itu membuatku ingin menyumpal mulutnya dengan sandwich isi kalkun yang baru kubeli tadi.