Novemberain (Hujan dan Kamu)

Aku benci bulan November. Entahlah. Harusnya Tuhan menghapuskan bulan sialan ini atau membuang sebagian hari didalamnya, agar aku tidak terjebak da lam siklus cuacanya. Ya, aku benci bulan November karena siklus hujan yang dimilikinya. Dan sekarang aku harus menerima kenyataan bahwa aku terjebak dalam hujan yang kuperkirakan akan reda sekitar tiga jam lagi. Tiga jam? Memikirkan hal itu malah membuatku semakin mengutuk kesialanku hari ini.
Aku bergerak cepat ke halte, merutuki hujan yang tak kunjung mereda. Kulihat sekilas bangku halte dan mendapati seorang gadis berambut sebahu sedang duduk diam dan tersenyum. Tersenyum? Come on. Apa dia sudah gila? Peduli setan. Aku lalu menghempaskan bokong bersisian dengan gadis itu. Gadis itu menoleh sekilas sebelum akhirnya memberikanku seulas senyum. Aku membalasnya dengan kikuk.
“Udah lama?” Dia hanya mengangguk pelan. Bagus, sekarang aku malah terlihat seperti berbicara dengan ayam sakit. Aku sendiri bingung hendak bicara apa lagi dan akhirnya semua ini menuntunku agar berhenti basa-basi dengannya.
“Kamu nggak suka hujan?” Tanyanya setelah sekitar setengah jam kami terkurung dalam diam. Aku mengangguk cepat.
“Apa enaknya hujan? Lihat. Semua urusanku terbengkalai dan sekarang aku harus menunggunya sedikit berbaik hati padaku agar aku bisa pulang lebih cepat.”
“Kamu lucu.” Ujarnya setelah mendengar luapan kekesalanku.
“Aku suka hujan.” Tambah gadis itu kemudian sembari menatap lekat kedua mataku. Oh Tuhan, matanya. Matanya adalah samudera paling biru yang pernah aku dapati. Aku jatuh cinta! Entahlah. Tiba-tiba saja jantungku berdegup lebih kencang.
“Fid?” suara Digo menyentakku dari lamunan.
“Lo ngelamun? Pasti ngelamun jorok ya???” tuduhnya tanpa ampun. Aku hanya menggeleng keras. Sialan.
“Lo nggak usah bangunin macan tidur, Go. Lo kayak nggak pernah liat Fidel ngamuk aja.” Aku lalu tertawa.
“Sialan lo berdua. Udah, pulang sana! Gue masih mau disini.”
“Masih mau nunggu cewek itu? Udah setahun bro lo nunggu dia dan mana hasilnya? Nol besar! Udahlah. Anggep aja dia nggak pernah hadir dalam hidup lo.”
“Ini nggak ada kaitannya dengan dia. Lo berdua pulang aja daripada nanti gebetan lo pada kabur gara-gara capek nungguin jemputan.”
“Ah, ya. Cynthia pasti ngamuk nih. Gue cabut dulu ya!” Aku mengangguk sekilas.
“Gue juga deh.” Ujar Sandy akhirnya.
***
“Kenapa kamu suka hujan?” tanyaku balik.
“Hmm… entahlah. Aku suka aja.”
“Masa’ nggak ada alasan sih? Aku benci sama hujan aja ada alasannya.”
“Nggak perlu ada alasan untuk suka ataupun cinta sama sesuatu.” Dia lagi-lagi tersenyum dan kali ini lesung di kedua pipinya menyempurnakan lengkung itu.
Senyum itu. Entahlah. Walau sudah hampir setahun berlalu, aku masih bisa mengingatnya dengan jelas. Rambut sebahu. Kedua mata itu. Senyumnya. Semuanya. Kecuali nama. Ah, kenapa aku dengan bodohnya tidak menanyakan nama gadis itu. Sekarang aku seperti orang buta yang berusaha mencari jalan keluar.
Sudah hampir jam lima dan aku kali ini belum berhasil menemuinya. Baru saja aku hendak melangkah, tiba-tiba saja aku menangkap siluet tak asing yang selama ini aku cari dari ekor mataku. Gadis berambut sebahu itu. Segera, aku melayangkan pandang ke arahnya dan seketika itu juga padangan kami beradu. Refleks, aku memberikan senyum terbaik yang kumiliki.
“Kita sebelumnya pernah bertemu.” Ujarku dengan terbata.
Dia mengangguk. “Ya. Dan kau Tuan Pembenci Hujan itu kan?”
Ada rasa bahagia yang menyelusup cepat sampai ke seluruh tubuh saat kudapati dia masih mengingatku dengan jelas walau dengan sebutan yang aneh. Tuan Pembenci Hujan katanya? Tidak mengapa.Setidaknya ada bagian dari diriku yang masih disimpannya rapat-rapat.
“Aku suka hujan dan aku nggak ada alasan di belakangnya.” Dia lalu tersenyum.
Kali ini. Hari ini. Aku pastikan namanya akan ada dalam benakku. Segera.

Advertisements