Teh dan Kopi

22 Juni 2014

Hujan baru saja turun. Aromanya yang mencium butiran tanah terasa sangat khas dan aku menyukainya. Aku berlari kecil, masuk ke dalam sebuah kafe yang akhir-akhir ini menjadi tempat hangout terbaik sepanjang masa bagiku. Ya, tentu Adrian adalah alasan utamanya. Aku lalu memesan kopi seperti biasa. Nathan hanya melambaikan tangan sekilas sebelum akhirnya mengembalikan pandangan pada pelanggannya. Kuteguk kopiku lamat-lamat. Biasanya tepat pukul sembilan malam akan ada bunyi gemerincing bel ― tanda seseorang masuk ke kafe ini. Aku hampir beralih pada cangkir kedua dan aku belum menemukannya duduk di sudut kanan kafe. Alunan jazz yang sedari tadi menemani tidak mampu membuatku duduk diam. Padahal biasanya aku betah berjam-jam duduk disini, tentunya sembari menguntit pria itu. Aku benar-benar gelisah. Ah, apa aku perlu menanyakan keberadaannya? Tidak, kurasa aku perlu menahan diri. Jangan sampai Nathan mengetahui kalau aku selama ini mengamati Adrian― sepupunya yang rupawan itu.

“Apa kau mau menambah pesanan?” Sapa Nathan begitu aku ingin beranjak dari kursiku. Aku tersenyum samar lalu menggelengkan kepala. Aku lalu kembali menghempaskan bokongku ke kursi karena pria ini akhirnya duduk di sebelahku.

“Ah, kurasa kafein tak cukup baik buatmu. Kupikir kau perlu menggantinya dengan secangkir teh. Kau mau?” Aku lagi-lagi menjawabnya dengan satu gelengan.

“Tenang saja. Anggap ini bonus karena kau telah menjadi pelanggan tetap kami.”

“Aku tidak minum teh, kawan.” Aku menolaknya dengan sopan.

“Kalau dia tidak mau, biar aku yang mencoba tehmu.” Ujar sebuah suara bernada rendah yang amat kukenal. Adrian?

Oh dear. Aku pikir moment seperti ini tidak akan pernah menyentuh dunia nyataku. How lucky i am today.

“Kau tidak suka teh?” Tanya Adrian sembari menggeser kursi ke arahku.

Aku mengangguk, berusaha menetralkan degup jantung. Kutarik cangkir kopi, dan menyesap isinya pelan―berharap kafein akan menenangkanku. Padahal aku persis tahu bahwa takikardi akan bertambah hebat jika aku menghabiskan kopi sialan ini. Nathan benar, seharusnya aku memesan teh.

“Adrian.” Ujarnya hangat, lalu mengulurkan tangannya. Aku menyambut tangan itu.

“ Helena.” Aku menyebut namaku dan menarik ujung bibirku sekilas.

“Ah, nama yang bagus.” Dia tersenyum, menunjukkan kedua lesung di pipinya. Ah, senyum semanis madu.

“Apa kita sebelumnya pernah bertemu?”

“Tidak. Kurasa tidak.” Sergahku cepat.

“Tapi aku merasa telah mengenalmu begitu lama.”

“Mungkin karena kau sering melihatku mondar-mandir di kafe ini.” Dia mengernyitkan dahi, berusaha mencerna alibiku. For God’s sake, jangan sampai dia ingat kejadian memalukan itu. Kalau sampai itu terjadi, aku lebih baik pura-pura lupa ingatan.

“Ah, mungkin. Tapi entah kenapa garis wajahmu tak asing lagi.”

“Banyak orang yang bilang begitu. Tapi tenang saja, kita belum pernah bertemu sebelumnya.”

***

When we met first time….

Seperti biasa, aku akan selalu memesan iced lemon tea dan beberapa donat lapis cokelat di tempat ini. Kali ini aku ditemani Stella dan tentu saja aku harus menambah milk tea dan beberapa finger food dalam daftar pesananku untuk mengisi perut mungilnya itu.

Aku mengumbar senyum singkat kepada waiter lalu mengembalikan pandangan ke meja begitu pesanan kami tiba. Dimana iced lemon tea-ku?

“Maaf kurasa itu milik Saya.” Ujarku sembari menunjuk gelas yang digenggam pria di sebelahku. Dia agak ragu, menahan gelas yang ada di genggamannya walau sejurus kemudian dia memberikannya padaku. Aku lalu dengan santai menyesapnya.

“Maaf, Nona. Kami salah mengirim pesanan Anda. Iced lemon tea itu memang milik tuan itu.” Pelayan itu menunjuk pria yang minumannya kuambil. Aku tersedak, memuntahkan isi perutku dan seketika mukaku berubah merah padam. Sialan.

“Maaf.” Ujarku. Dia mengumbar senyum tipis yang kuartikan sebagai senyum maklum. Aku berharap semoga Tuhan tak mempertemukan kami kembali.

***

Entah kenapa sejak kejadian itu aku malah menyukainya. Menyukai segaris senyum di wajahnya. Menikmati tatapan teduh miliknya. Merindukan suaranya. Ah, aku sudah gila. Aku benar-benar sudah gila. Seharusnya aku tidak menyukainya seperti ini. Tapi entah kenapa Tuhan malah menunjukkan jalan-Nya. Aku kembali bertemu dengannya saat Nathan meresmikan kafe barunya. Demi Tuhan, aku saat itu ingin meminta Nathan mengenalkannya padaku kalau tidak ada tangan yang bergelayut manja di lengan kokohnya itu. He’s taken.

Aku lalu hanya menikmati perasaanku sendiri. Membiarkan khayalan liar memenuhi benak. Merelakan luka yang terbentuk tiap kali melihat kemesraan mereka. Sial, aku tidak mau meringkuk dalam rasa cinta diam-diam ini. Aku harus berubah. Setidaknya, dia perlu tahu keberadaanku. Setidaknya dia mengetahui rasaku. Tapi, apa aku berani menghancurkan hubungan mereka? Aku masih punya nurani dan semua itu menahan rencana gila yang telah kususun sedemikian rupa.

Beberapa bulan berlalu dan entah Tuhan mengabulkan doaku, kini aku malah mendapatinya berjalan sendiri― tanpa nenek sihir berwajah malaikat di sampingnya. Apa mantera cinta wanita itu telah habis masa berlakunya?

“Ah, pria patah hati. Sini, kubuatkan kau kopi hitam. Atau kau mau latte?”

Adrian tersenyum. “Kau tentu tahu aku menyukai frappucino.”

Sejak saat itu aku mulai memasukkan frappucino dalam daftar minuman favoritku.

***

22:00 WIB.

Aku masih meringkuk dalam kubikel. Seharusnya laporan ini telah kuberikan pada atasanku sore tadi. Sialnya, flashdisk yang memuat data pekerjaanku berisi virus dan aku tidak punya backup data lagi. Alhasil aku harus mengetik ulang dan itu membuatku harus kerja lembur. Awas saja kalau aku sudah tiba di apartemen nanti. Akan kuberi pelajaran adikku itu. Ini pasti ulahnya!

Aku melenggang keluar kubikel dan menuju mesin fotokopi. Ah, akhirnya selesai. Setidaknya aku tidak perlu menumpuk pekerjaanku. Aku paling sebal jika mesti menumpuk pekerjaanku dan pada akhirnya aku mendapat omelan dari atasanku yang supercerewet itu. No! Jangan sampai aku bertemu dengan ceramah panjangnya itu. Selain membuat kuping merah, ocehannya itu akan membuat sakit hati.

Aku lalu bergerak kembali ke kubikel, mengambil tasku dan mematikan komputer kemudian berjalan menuju lift. Kantor sudah sepi, menyisakan dua orang office boy yang masih sibuk membereskan beberapa piring dan cangkir kotor di pantry. Butuh setidaknya tujuh menit untuk tiba di tempat parkir. Untung saja aku bisa menyetir dan karenanya aku tidak perlu khawatir pulang malam sendirian. Aku lalu meng-starter mobilku dan mulai menyusuri jalanan ibukota.

Ibukota belum menunjukkan raut lelah. Ia masih saja hidup dengan gemerlapnya, memandakan kehidupan malam yang semakin larut malah semakin menggeliat. Hari ini aku hanya butuh kasur dan selimut hangat serta segelas wine pemberian paman yang mungkin akan membuat perasaanku membaik. Sekitar sepuluh meter di depanku, terdapat kerumunan abnormal. Aku meyipitkan mataku lalu melemparkan pandangan ke sebelah kanan jalan dan mendapati seseorang. Adrian?

“Adrian?”

“Kau mengenalku?” Ah, bau alkohol memenuhi hidungku. Pria ini mabuk.

“Lebih baik kau ikut denganku.” Aku lalu membopong tubuh besarnya, membawanya menuju mobilku. Aku merogoh saku celananya dan tidak mendapati dompetnya. Sial, mungkin dia telah dijarah oleh orang-orang sebelum aku menemukannya dan aku tidak punya pilihan lain selain membawanya pulang ke apartemenku.

***

“Dia pacar kakak?” suara Riki memecah kesunyian. Aku hanya diam, membaringkan Adrian di sofa.

“Kak?”

“Ada apa?”

“Kakak belum jawab pertanyaanku. Apa dia pacar Kakak?”

“Kalau iya memangnya kenapa? Kau ada masalah?”

“Tidak. Aku suka kok. Pria tampan. Semoga dia tidak secerewet Kak Helena.”

“Dasar anak kecil!” Aku lalu mencubiti pipinya yang gembul itu.

“Aww, sakit Kak!” Ujarnya sembari meronta.

“Hei, Kakak baru ingat. Kau gunakan untuk apa flashdisk Kakak kemarin?”

Flashdisk? Ah, iya. Kemarin Dino mau memberikanku games yang baru di download-nya jadi aku langsung ke kamar kakak dan memberinya flashdisk itu.” Jelasnya lugu. Pantas saja benda itu bervirus. Sial!

“Gara-gara kamu Kakak mesti lembur begini. Lain kali bilang ya kalau mau meminjam sesuatu.”

“Maafin Riki ya, Kak. Riki janji nggak akan ganggu barang kakak lagi.” Ujarnya sembari mengaitkan kelingkingnya ke kelingking milikku. Aku lalu memeluknya erat.

“Kamu tidur lagi, ya. Mau Kakak bacakan dongeng?”

***

Setelah berhasil menidurkan Riki, aku bergerak menuju kamar, merenggangkan otot-otot yang sedari tadi kaku. Aku mengurungkan niatku untuk menyesap wine. Kepalaku berdenyut sesekali. Aku benar-benar lelah.

Terdengar suara Brian McKnight dalam lantunan Marry your daughter-nya menggema di kamar. Aku segera meraih ponselku.

“Halo?”

“Ya.”

“Ini aku Nathan. Apa Adrian bersamamu?”

“Eh? Bagaimana kau mengetahuinya?”

“Seseorang memberitahuku. Wanita tinggi dengan mata cokelat. Siapa lagi kalau bukan kau.”

“Hei. Ada ribuan wanita bermata cokelat dan bagaimana kau bisa menyimpulkannya sesederhana itu?”

“Sudah lupakan saja detail bagaimana aku tahu kau yang membawa Adrian pulang. Ngomong-ngomong Adrian tidak mengusikmu, kan?”

“Dia sedang tertidur.”

“Tolong jaga dia untuk malam ini.”

“Memang kau tidak bisa menjemputnya? Apa dia tidak punya keluarga yang mengkhawatirkannya?”

“Kedua orang tuanya sedang di luar negeri, mengurus beberapa perusahan keluarga disana. Dan tentangku, kau tentu tahu betapa sibuknya aku.”

“Oke. Tapi dia harus membayarku jika ingin minta ini-itu.”

“Tenang saja. Dia tak perlu apa-apa kecuali segelas frappucino dan iced lemon tea.”

“Kalau itu saja, aku tidak masalah. Ngomong-ngomong apa dia punya masalah besar? Aku baru kali ini menemukannya mabuk.”

“Aku tidak tahu. Aku juga heran kenapa dia bisa mambuk seperti itu. Terima kasih sebelumnya.”

“Kau tidak perlu sungkan.” Nathan lalu memutuskan hubungan telepon.

Pikiranku lalu melayang pada kejadian tadi. Apa yang membuat Adrian mabuk? Apa ada masalah besar hingga dia membiarkan dirinya tenggelam dalam bergelas-gelas minuman itu? Hanya ada dua alasan pria memilih menenggak minuman itu. Pertama karena patah hati dan kedua karena ada masalah besar. Ribuan kemungkinan berebut meyakinkanku tapi aku sendiri tidak tahu mana yang tepat. Apa ini semua ada kaitannya dengan wanita itu? Ah, terlalu dini jika kubilang kalau ini semua karena wanita itu. Tapi bisa saja, kan? Pria patah hati lebih sembrono dibanding wanita patah hati.

Semua ini membuatku tak bisa tidur. Aku lalu memutuskan ke dapur, mengambil persedian wine terakhirku. Barangkali seteguk dua teguk mampu membuatku tertidur pulas. Kemudian aku bergerak ke ruang tengah, menghidupkan televisi. Disana, pria itu masih tenggelam dalam mimpi. Kuamati garis-garis wajahnya. Ah, wajah malaikat. Ada apa dengan Adrian? Andai aku bisa meredam semua kegundahan hatinya, mengukir senyum di wajahnya. Tapi semua itu rasanya sulit bagiku. Entah kenapa aku merasakan jarak yang terbentang begitu luas diantara kami.

Aku lalu meraih gelas dan menuangkan wine itu kedalamnya.

***

Frappucino. Minuman dingin khas sebuah kedai kopi franchise. Nathan belajar membuatnya setahun yang lalu dan kemudian membagikan resepnya padaku. Jadi, jika pria itu benar-benar menginginkan frappucino, aku dengan senang hati membuatkannya. Aku pernah membaca sebuah artikel yang mengatakan bahwa seorang penggemar frappucino adalah orang yang suka mencoba hal-hal yang baru dan memiliki sikap sembrono dalam bertindak. Entah benar atau tidak, tapi yang jelas kedua hal itu dimiliki oleh Adrian.

Dari ekor mataku, aku mendapati Adrian bangun dari sofa, melirik ke sekeliling. Mungkin dia bingung karena tahu-tahu tertidur di rumah orang lain. Aku hanya tersenyum melihat tingkahnya itu.

“Kau mau frappucino?” Aku menegurnya. Dia lalu menoleh dan menatap mataku lekat.

“Helena?”

“Ya?”
“Kenapa kau ada disini?”

“Seharusnya aku yang bilang seperti itu. Ini apartemenku.”

“Apa yang terjadi?” ujarnya sembari menghampiriku.

“Kau mabuk.”

“Oh. Dan ya, aku mau frappucino-mu.” Dia kemudian tersenyum.

Aku lalu tersenyum, mengambil sirup cokelat, chocochip, double-strength coffee yang sebelumnya telah kuseduh, es batu dan whipped cream. Kemudian aku mem-blender es batu, memasukkan chocochip dan kopi serta menambahkan whipped cream beserta sirup cokelat sebagai hiasan. Tidak sampai lima menit, frappucino buatanku telah berpindah tangan ke Adrian.

Dia lalu menyesapnya pelan. “Enak.”

“Tentu saja.” Dia kemudian menghabiskan minuman itu dalam sekejap.

“Kau mau lagi?”

“Tidak. Aku hanya perlu tidur dan itupun jika kau tidak keberatan.”

“Silahkan. Aku mau siap-siap ke kantor dulu.”

“Oke.” Dia lalu kembali ke sofa dan merebahkan tubuhnya.

Aku lalu melenggang ke kamar, mengganti pakaianku dengan rok model pensil , kemeja polos yang dilapisi blazer lengkap dengan sepasang stilleto berwarna senada. Tak lupa, aku memoleskan bedak, menggoreskan eyeliner dan maskara, menyapukan samar blush on di kedua apple’s cheek, dan melengkapi penampilanku dengan lipstick warna matte. Perfecto!

“Kau cantik.” Gumam Adrian. Dia lalu berjalan mendekat ke arahku dan kemudian merangkulku dengan gerakan tiba-tiba. Aku terhenyak, campuran antara kaget dan senang.

“Terima kasih.” Bisiknya.

“Hmm?”

“Tidak apa-apa. Lebih baik kau cepat pergi daripada kau terlambat.” Ujarnya sembari menggaruk kepalanya yang kuyakin tidak gatal itu.

“Oh, oke. Nanti kau kunci saja apartemenku dan berikan kuncinya pada Nathan.” Adrian lalu mengangguk dan setelahnya menebarkan senyum manisnya itu.

***

“Apa kau menyukai Adrian?” Stella lalu keluar dari kubikelnya, berjalan ke arahku.

“Menurutmu?”

“Ya. Dari semua yang kau ceritakan padaku, hanya itu yang bisa aku simpulkan sementara. Is it true?” Aku lalu mengangguk cepat.

“Dan tentang Nathan. Apa kau juga menyukainya?”

“Hei, kenapa bawa-bawa nama sepupunya dalam masalah ini?”

“Karena menurutku kau juga menyukainya. Coba kau jelaskan padaku kenapa kau dengan mudahnya menerima ajakan menjadi kekasih palsunya Nathan selain karena kau juga menyukainya? Dia tidak mengiming-iminginmu sesuatu, kan?” Stella menyesap pelan cappucino dalam gelasnya. Kopi dengan sedikit kafein itu sangat pas dengan kepribadiannya yang terlalu sensitif dan perfeksionis.

“Tidak. Itu hanya karena aku sudah menganggapnya teman. Ayolah, he’s not my type.”

“Oke, aku percaya padamu. Tapi bagaimana hubungan pura-pura kalian? Apa kau masih akan meneruskannya? Dan, hei pria tampan seperti Nathan bukan tipemu? Kau sudah tidak waras?”

“Ya. Itu hanya tinggal sebulan lagi dan setelahnya aku bisa kembali menjadi Helena yang dulu lagi. Dan, ya. Nathan benar-benar bukan tipeku. Dia pria baik dan kau tahu good girl lebih menyukai bad boy.”

Stella tertawa renyah. “ Memangnya penguntit sepertimu bisa dikategorikan good girl?” Aku hanya tersenyum masam mendengar sindirannya itu. Sialan.

“Apapun itu aku hanya ingin kau tahu bahwa kebersamaan bisa menumbuhkan perasaan cinta. Kau harus mengingatnya.” Aku hanya mengedikkan bahu dan kembali menatap layar komputer begitu Stella kembali melenggang ke kubikelnya.

Namun, perkataan Stella barusan membuat perasaanku tidak tenang. Aku lalu meraih ponselku dan menekan angka delapan.

“Nathan, kita bisa bertemu?”

“Aku ada di kafe. Kau datang saja kemari.”

“Oke.”

“Helena?”

“Hmm?”

“Ah, tidak apa-apa.”

“Apa ada yang ingin kau katakan padaku?”

“Tidak. Kau teruskan saja pekerjaanmu.”

“Oke. Bye.” Aku lalu memutuskan sambungan telepon. Hari ini aku hanya perlu menyelesaikan satu laporan saja dan setelahnya aku bisa segera menemui Nathan.

Tepat pukul sebelas pekerjaanku selesai. Aku lalu menyambar tas dan ponsel di atas meja kerjaku.

“Aku duluan, ya.” Stella mengangguk sekilas sebelum akhirnya tenggelam dalam lautan laporan yang tak kunjung diselesaikannya itu. Butuh lima belas menit― jika kendaraan tidak mengular liar― untuk tiba di kafe Nathan.

Begitu tiba di depan pintu, aku langsung disambut aroma arabika yang amat kusukai, walau sebenarnya aku sendiri bukan penikmat kopi kelas berat. Aku lalu mengedarkan pandanganku ke sekeliling, mencari sosok pria itu. Nathan. Ah, dia sedang melayani seorang tamu wanita yang sepertinya complain dengan pesanannya. Senyum Nathan yang bersahabat itu membuat kemarahan wanita itu mereda. Ia berulang kali membungkukkan badannya dan menyelipkan permintaan maaf diantaranya.

Hi, good boy!” Sapaku begitu tiba di depannya.

Hi. Duduklah, kubuatkan kau kopi dulu. Atau kau mau mencoba cha latte-ku?”

Cha latte kedengarannya enak.” Dia tersenyum lalu meninggalkanku sendiri di meja. Aku membolak-balik daftar menu dan memutuskan memesan croissant.

Setelah sekitar lima belas menit, Nathan kembali bersama secangkir minuman itu. Aroma rempah menyentuh hidungku. Ah, sepertinya pria ini menawariku jamu-jamuan.

“Kau bilang latte? Kenapa seperti bau jamu pegal linu?”

“Haha. Ini resep terbaru. Aku telah menyesuaikan rasanya. Rempahnya tidak terlalu kuat namun cukup membuat badanmu hangat.” Ujarnya sembari mengangsurkan cangkir berisi cha latte itu padaku.

Aku mengamati minuman itu dari permukaannya. Buih diatas minuman itu menunjukkan krim yang ditambahkan di dalamnya.

“Ada teh hijau, gula, susu, krim, kayu manis, jahe, cengkeh dan kapulaga. Semoga kau menyukainya.”

Aku hanya tersenyum mendengar rincian resep cha latte itu. Pertama kali aku menyesapnya, entah kenapa aku langsung menyukai minuman ini. Nathan benar, rasanya lembut dan aroma rempahnya tidak begitu kuat. Aku akan menambahkannya dalam daftar minuman yang mesti aku coba kalau aku kesini lagi.

“Kau suka sekali mencoba resep baru.”

“Ya. Aku harus begitu kalau tidak mau pelanggan setiaku pindah haluan hanya karena bosan dengan minuman dan makanan yang kami sediakan.”

Aku lalu mengangguk pelan sembari meneguk cha latte. Sesekali aku mencomot croissant yang tadi kupesan dan memasukkanya ke dalam mulut.

“Ngomong-ngomong ada yang ingin kau sampaikan padaku?”

“Oh, ya. Aku sampai lupa tujuanku kesini. Bagaimana nasib hubungan pura-pura kita?”

“Orang tuaku masih belum percaya kalau kau adalah kekasihku. Mereka masih saja berusaha menjodohkanku dengan anak perempuan kolega mereka. Damn it!”

“Apa yang mesti kita lakukan?”

“Kau mau datang ke acara ulang tahun pernikahan orang tuaku?”

***

“Kau mau datang ke acara ulang tahun pernikahan orang tuaku?” Pertanyaan sialan itu terus saja mengitari otakku. Dan dengan mudahnya aku menjawab iya sebelum aku memikirkan pakaian apa yang nantinya akan ku kenakan. Aku bukan tipikal wanita yang gemar mengoleksi barang-barang branded dan hal ini malah menyusahkanku sekarang. Badan Stella terlalu mungil dan karena itu aku tidak bisa meminjam gaun-gaun hebatnya. Argghh!

*ting*

Bel apartemenku berbunyi. Aku menyentak kasar pintu kayu itu dan mendapati seorang kurir dengan box besar di kedua tangannya.

“Maaf, apa anda Helena?”

“Ya. Saya sendiri. Ada apa ya, Mas?”

“Saya cuma mau mengantarkan barang untuk Anda. Tolong tanda tangan disini.” Ujarnya sembari mengangsurkan kertas padaku. Aku lalu membubuhkan tanda tanganku disana.

“Terima kasih.” Ucapku.

Aku lalu membuka kotak berpita ungu keperakan itu. Ternyata kotak itu berisi gaun pastel lengkap dengan aksesoris rambut, anting, cincin, gelang, dan kalung serta sepasang sepatu bertali. Ah, they are so gorgeous!

Belum sempat aku menyentuh mereka satu persatu, ponselku sudah berdering.

Hi, Helena. Kau sudah menerima paketku?”

“Jadi ini semua darimu?” ujarku sembari mengambil sepasang sepatu itu dan memasangkannya di kedua kakiku. Pas.

“Anggap saja ini imbalan karena kau mau datang ke pesta orang tuaku.”

Thanks. Aku akan mengganti semuanya nanti.” Aku lalu melirik ke arah semua aksesoris itu. Ah, aku benar-benar tak sabar ingin memasang mereka semuanya.

No problem. Kau tidak perlu menggantinya. Ini kan semua karenaku. Aku ingin kau tampil cantik malam ini. Aku akan menjemputmu jam delapan malam.”

I wait for you.”

***

Hi, pretty!” sapanya. Ia lalu meraih kedua pipiku dan menciumnya sekilas.

Ready to go?” Aku mengangguk pelan. Dia lalu membuka pintu mobil, membiarkanku masuk ke dalamnya.

“Apa aku tidak mempermalukanmu?”

“Tidak. Tentu saja tidak. You look so beautiful. Malah aku nanti yang harus menahan perasaanku karena semua orang memperhatikanmu.”

“Kau berlebihan.”

No. Adrian mungkin akan terkejut melihatmu.”

“Adrian? Dia datang?”

“Tentu saja. Apa kau lupa kalau dia adalah sepupuku yang artinya keponakan dari keluarga Daniel Sandjaja?”

“Oh, ya. I forgot that. Sorry.”

“Tak apa. Nanti saat kita tiba, kau hanya perlu menebarkan senyum, biarkan aku yang mengambil alih percakapan.” Aku hanya mengangguk mendengar instruksinya. Mudah. Ini bahkan lebih mudah daripada menentukan calon presiden mana yang harus kupilih dalam pemilu tahun ini.

***

“Apa dia kekasihmu?” pertanyaan itu langsung dijawab oleh Nathan dengan anggukan.

“Dia cantik sekali. Kau beruntung, Nathan.” Nathan hanya tersipu mendengar ucapan salah seorang tantenya itu. Aku hanya menebar senyum kikuk. Aku benar-benar kikuk.

“Kami mau mengambil minuman dulu tante. Permisi..” ujarnya seraya meraih jemariku posesif, menarikku menjauh dari kerabatnya.

Tepat saat itulah aku melihatnya, mengenakan tuksedo hitam, barusaja tiba dalam pesta. Aku buru-buru menarik genggaman tangan Nathan. Namun terlambat, Adrian telah melihat genggaman itu sebelum aku benar-benar melepaskannya. Entah kenapa, guratan kekesalan tiba-tiba saja muncul di wajahnya saat itu. Aku sendiri bingung mendefinisikannya.

Hi.” Ujar Nathan, berjalan mendekat ke arah Adrian. Adrian sendiri hanya tersenyum singkat, sambil terus memberikan tatapan penuh tanya padaku.

“Kau mengenali gadisku ini?”

“Tentu saja. Helena?” tebak Adrian. Nathan tertawa karena Adrian masih bisa mengenaliku.

“Ah, kupikir karena dia sudah berdandan seperti ini kau pasti tidak mengenalinya. Nyatanya aku salah besar.” Ucapnya, sembari meraih lenganku, menggandengnya posesif. Aku kikuk melihat sikapnya itu.

“Kau mesti siap-siap menerima kehadirannya. Kami berencana akan bertunangan.”

Aku bisa melihat keterkejutan Adrian. Aku sendiri masih belum bisa mencerna apa yang dikatakan pria itu barusan. Tunangan? Come on, tak ada kata “pertunangan” dalam perjanjian. Apa aku harus melangkah sejauh itu?

“Apa tidak terlalu cepat?”

“Tentu saja tidak. Apa kau keberatan?”

***

“Apa maksudmu dengan mengatakan kalau kita akan bertunangan?” Pertanyaan itu segera saja meluncur dari bibirku begitu aku masuk ke dalam mobil Adrian. Dia hanya terdiam, namun tak berapa lama kemudian dia membuka suara.

“Aku hanya ingin menggertak saja. Apa kau juga keberatan?”

“Bukan. Aku tidak keberatan jika itu bagian dari rencanamu. Tapi bukannya kau mesti menggertak kedua orang tuamu, bukan Adrian yang notabene nya hanya sepupu bagimu?” Aku menolehkan kepala, melihat matanya lekat.

Nathan lalu menatap lurus kedua mata cokelatku―membuatku kesulitan bernapas. Matanya adalah samudera paling biru yang pernah aku selami. “Apa aku salah? Kau menyukainya?” Pertanyaan itu telak menamparku.

How could you say that?”

From your eyes. Dan beritahu aku, apa tebakanku salah?”

“Kau gila! Mana mungkin aku menyukainya.”

“Kau tidak usah berpura-pura lagi. Aku tahu kau menyukainya jauh sebelum ini. Aku tahu kau mengamatinya tiap kali dia mengunjungi kafe. Aku tahu semuanya. Aku tahu cinta diam-diam yang kau jalani selama ini, Na.”

Dan, hal yang hanya bisa kulakukan hanya mengaku. Aku menganggukkan kepalaku pelan dan menangis.

“Tolong, jangan kau beritahu Adrian.” Pintaku. Dia lalu menarikku dalam peluknya.

“Apapun yang kau minta.”

“Maafkan aku, Nath.”

***

Tiga bulan kemudian….

Nathan tetap menjadi sahabatku dan Adrian akhirnya tahu perasaanku karena Nathan dengan sengaja menceritakan semuanya, selengkap-lengkapnya dan itu membuat Adrian langsung mencecarku dengan pertanyaan-pertanyaannya. Dan, setelahnya Adrian malah memintaku menjadi kekasihnya. Aku tak tahu hidup begitu indah saat semuanya sudah jelas dan aku tak perlu diam-diam lagi mencintainya. Nathan masih seperti yang dulu, selalu menawariku resep barunya untuk kucoba dan meminta pendapatku tentang itu. Aku senang dengan sikap hangatnya itu.

Aku beruntung memiliki Nathan, dengan semua kehangatan yang ada dalam dirinya, aku sangat beruntung ada di sampingnya. Dan, Adrian. Aku sangat bersyukur karena Tuhan mau mengabulkan rengekanku untuk bersama pria itu. Aku bahagia. Hidup tak pernah semudah ini sebelum aku mengenal Nathan. Nathan dan Adrian, dua pria yang sampai akhir nanti akan selalu membuatku tersenyum dengan cara yang berbeda. Nathan yang hangat seperti teh dan Adrian yang manis seperti kopi. Teh dan kopi.

*Epilog*

Nathan hanya tersenyum melihat undangan pesta pertunangan yang didominasi warna ungu dan perak yang kini digenggamnya. Ah, andai dia dulu mau berusaha lebih, dia tidak akan sakit seperti ini. Andai ia bisa mengatakan semuanya, jujur pada dirinya dan Helena, bahwa dia selama ini menyukai wanita itu. Tapi entah kenapa semuanya hanya tertahan di langit-langit mulutnya, ia tak ingin wanita itu mengetahui sedikitpun tentang rasa yang disimpannya sejak lama.

Ia akui kalau dirinya memang pecundang besar yang hanya berani mencintai Helena diam-diam. Entah, yang jelas ia cukup bahagia dengan apa yang dimilikinya sekarang. Persahabatan. Dia hanya ingin melihat senyum Helena terukir di wajahnya. Karena dia yakin, suatu saat nanti dia akan menemukan cinta sejatinya tanpa perlu mencintai diam-diam seperti yang dilakukannya dan Helena. Dan, dia yakin, tidak semua cinta yang bersemi harus diutarakan, karena cinta yang sejati tidak perlu diumbar, ia hanya perlu dirasa.

“Nath, apa menurutmu aku lebih baik minum teh atau kopi?”

“Teh dan kopi. Kau cocok untuk keduanya.”

*FIN*

Advertisements

L.O.V.E

Sel otak tak sinkron dengan reaksi tubuh
Mulut terkatup berlidah kelu terdiam
Bak gemuruh di siang hari, degup liar jantung mendominasi
Harusnya ada kupu-kupu mengitari rongga perut
Ada merah padam di kedua tonjolan pipi
Muncul rasa bahagia yang menelusup perlahan
Tapi entah, mungkin semua membeku
Seakan waktu berhenti berputar
Terpaku akan keindahan nirwana dunia
Terpesona dengan setiap lengkung di wajah
Kamu.