Dongeng Boneka Pukul Tujuh dan Pria Pemilik Jam Saku

Tik..Tok..Tik..Tok
“Ah, akhirnya aku bangun dari tidur panjang,” ujar Annabelle, bergerak menggeliat seperti kucing yang baru bangun tidur. Ia melirik ke kiri-kanan, mencari sosok Oscar, pria pemilik jam saku ―jam yang bisa merubahnya menjadi manusia.
Disana, di toko mainan Oscar― yang merangkap rumah baginya, dia tak menemukan batang hidung pria itu. “Mungkin dia sedang ke luar,” gumamnya. Benar saja, saat dia bergerak ke arah dapur, dia melihat sebuah note tertempel di lemari es.
Tunggu aku, aku punya kejutan untukmu.    
“Kau benar-benar membuatku jatuh cinta, Oscar,”
Annabelle lalu terpikir untuk memasak red velvet cake, kue favorit Oscar. Dia tak mau menggunakan jentikan jemari seperti biasa karena ia tahu bahwa kue akan terasa lebih nikmat jika ia hasilkan dari jemarinya sendiri.
Setelah kira-kira satu setengah jam berkutat dengan adonan dan segala hal berbau bahan kue, ia akhirnya menyelesaikan masakan itu.
“Voila. Aku rasa kau akan jatuh cinta padaku seketika, Oscar,”
Ia pun bergegas membersihkan sisa masakan. Setelahnya, dia bergerak ke arah jam besar di ruang tengah. “Apa ada sesuatu yang menghalanginya?”
“Ah, lebih baik aku berdandan dan mengganti pakaianku,” ujarnya sembari melihat ke arah gaun cokelat yang seminggu ini tak pernah ia ganti. Maklum, sebagai sebuah boneka, dia takkan menghasilkan keringat layaknya manusia dan mandi adalah salah satu hal yang tentu tak perlu ia lakukan, bukan?
Dia lalu berlenggak-lenggok di depan cermin, menjentikkan jemarinya tiap kali gaun yang ia pilih tak ia sukai. Lalu, setelah setengah jam bergonta-ganti gaun, akhirnya ia menjatuhkan pilihan pada sebuah gaun biru pastel berpotongan A-line, lengkap dengan renda yang menghiasi lengan, dada dan bagian bawah gaun sebagai sentuhan akhir. Dia juga melengkapi penampilannya dengan memilih stilleto berwarna senada. Perfect!
Dia kemudian menata meja kecil di ruang tengah, menghidupkan dua buah lilin panjang, menuangkan sampanye dan memotong cake menjadi dua irisan besar. Tak lupa, ia meletakkan vas bunga berisi mawar merah segar yang ia baru petik di kebun belakang.
“Ah, Aku harap dia bisa menyegerakan langkahnya ke rumah,”
***
“Apa kau merasa baik-baik saja?”
    “Hmm, akhir-akhir ini kepalaku berdenyut lebih keras dan obat yang kau berikan tak memberikan efek apapun padaku,”
    “Apa kau mau mempertimbangkan saranku sebelumnya?”
    “Aku tidak mau di operasi,”
    “Tapi, sel kanker itu telah menembus otak kananmu. Kau akan kehilangan sebagian ingatanmu dan itu akan membuatmu lebih menderita.”
    “Aku ingin menikmati penyakitku,”
    “Kau sudah bilang padanya?”
    “Bilang? Padanya?”
    “Iya. Wanita yang selalu membuat matamu berbinar.”
    “Kurasa ia tak perlu tahu. Aku tak ingin dia terluka bersamaku. Biarlah dia terluka karena tahu aku bukan yang terbaik untuknya,”
    “Apa kau mencintainya?”
    “Tentu. Selama ini hanya dia mengisi hatiku.”
    “Aku akan meresepkan obat pereda rasa nyeri. Kau mungkin bisa menggunakan morphine jika obat ini tak sanggup meredam sakitmu. Aku punya beberapa jika kau mau. Dan menurutku, kurasa kau perlu membicarakan hal ini padanya,”
***
    Dia menunggu pria itu hingga denting jam besar di ruang tengah menunjukkan tengah malam dan ia tahu waktunya tak lama lagi. Lilin di atas meja sudah tinggal separuh dan itu artinya dia harus siap-siap menggantinya dengan yang baru.
    “Kau dimana, Oscar?” ujarnya, bertanya-tanya dalam hati. Pria  itu tak pernah pulang lebih dari jam sepuluh dan hal ini membuatnya sedikit cemas. Apa ada masalah? Dia menggeleng keras dan berharap pikiran buruknya tadi tak benar-benar terjadi.
    Tepat pukul dua pagi, pintu kayu itu bergerak. Pria itu pulang. Annabelle menggerakkan kepalanya dan mendapati wajah lelah pria itu.
    “Ah, akhirnya kau pulang juga,” Ia lalu menarik lengan pria itu, membawanya ke ruang tengah. Ia melepaskan mantel pria itu dan mengangsurkan secangkir cokelat hangat.
    “Kau tahu? Aku bisa kena serangan jantung jika kau belum pulang lima menit lagi,”
    “Kau tahu kau takkan merasakan itu, bukan?”
     “Baiklah, kau benar. Tapi, apa yang menghalangimu?” ujar Annabelle seraya memeriksa setiap lekuk tubuh pria itu, memastikan apakah pria yang dicintainya itu baik-baik saja.
    “Aku menemui seseorang,”
    “Lalu?”
    “Aku jatuh cinta padanya, Annabelle.” Langkah Annabelle terhenti. Dia menoleh ke arah pria itu dengan tatapan penuh selidik.
    “Kau baru menemuinya sekali dan kau mengatakan kalau kau jatuh cinta? Semudah itu?”
    “Ya, mungkin inilah cinta pada pandangan pertama. Love at first sight. Jika kau menjadi manusia, kau akan merasakannya,” ujarnya sembari tersenyum simpul. Annabelle tersenyum pahit. Aku sudah merasakannya, Oscar, batinnya.
    “Kau mau tahu wanita seperti apa dia?”
    “Tentu.” Annabelle lalu duduk di kursi, berhadapan dengan Oscar. Menatap nanar pria yang selama ini dicintainya itu.
    “Dia adalah wanita manis pemilik toko bunga di seberang jalan. Aku baru kali pertama melihatnya dan kau tahu? Jantungku berdegup kencang saat tatapan kami bertemu. Sepertinya aku jatuh cinta!”
    “Kau yakin?”
    “Tentu. Aku belum pernah merasakan ini sebelumnya. Rasanya, seperti ribuan kupu-kupu memutari perutku.”
    Annabelle lagi-lagi tersenyum pahit. Padahal, dia berharap pria itu menikahinya, melingkarkan cincin permata ke jari manisnya, membisikkan sumpah sehidup semati di telinganya, mengatakan akan mencintainya seumur hidup. Tapi, itu semua hanya khayalan. Pria itu hanyalah pemilik jam saku yang membuatnya tetap hidup, yang membuatnya jatuh cinta. Dan sekarang, pria itu telah memberikan hatinya pada seorang wanita, yang benar-benar manusia, bukan boneka yang hanya akan berubah menjadi manusia pada dentingan jam tujuh malam lalu kembali saat fajar tiba.
    “Aku bahagia jika kau bahagia,” ucapnya tulus.  Pria itu tersenyum.
    “Kau memang sahabatku yang paling baik,” ujar Oscar sembari merengkuh Annabelle dalam pelukan. Biarkan waktu berhenti sebentar saja.
    Annabelle pun terhanyut dalam pelukan hangat itu. Tak terasa, bulir air matanya menetes. Ah, dia sudah melanggar sumpah itu. Sumpah yang mengatakan kalau dia menangis, dia tidak akan kembali menjadi manusia.
    Tiba-tiba tubuhnya mengeras, perlahan dari ujung kaki, semakin merambat ke atas dan akhirnya sampai di ujung lidahnya.
    “Oscar…” bisiknya pada telinga pria itu.
    “Hmm…”
    “Aku mencintaimu,”
    Floop….
    Tubuh Annabelle kembali menjadi boneka. Pria itu lalu menangis.
    “Maafkan aku, Annabelle. Aku juga menyukaimu,”
***FIN***
    

    

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s