[Review] Career First- Maya Arvini

Judul : Career First
Penulis: Maya Arvini
Ukuran: 14 x 21 cm
Tebal: 220 hlm
Penerbit: GagasMedia
ISBN: 979-780-723-1
Career First

Description

There is no shortcut to success.

Karier gemilang bisa dicapai jika kita berhasil melampaui berbagai tantangan sejak di tangga pertama. Sayangnya, banyak di antara kita yang baru memulai karier pertama, tidak punya petunjuk atau kisi-kisi tentang dunia profesional. Padahal banyak tahapan yang harus ditaklukkan karena tidak ada jalan pintas untuk meraihnya.

Career First hadir sebagai panduan untuk pendaki karier pertama maupun yang telah bertahun-tahun menjajaki dunia kerja. Ditulis berdasarkan pengalaman dan kiat dari peraih Young Women Future Business Leader, Maya Arvini, buku ini akan membantu kamu melalui berbagai tantangan dalam dunia profesional untuk melesatkan karier.

Berbagai hal yang akan kita temui dalam proses perjalanan karier, dibahas secara lengkap dalam buku ini, seperti bagaimana memiliki mentor, berkompetisi di lingkungan kerja, membangun aliansi, menyikapi kegagalan, hingga mengupas tentang office politics.

So, prepare yourself first, and get ready for success in your career!  

***

Pertama, terima kasih buat gagas yang bersedia menerima saya menjadi salah satu reviewer dalam one book one day kali ini. Selain itu juga, ucapan terima kasih buat mbak Maya Arvini yang sudah membuat buku yang membuka mata saya lebar-lebar tentang dunia profesional.

Jujur, saya masih terlalu hijau dalam dunia pekerjaan, meski usia saya sudah lewat 20 tahun (read: 21 tahun). Saya sendiri merasa ‘iri’ dengan mbak Maya Arvini tentang segala kesuksesan yang ia tuangkan di setiap lembar buku ini. Untuk itu, saya akan berbagi sedikit tentang buku ini dan semoga ini semua bermanfaat bagi saya dan kalian yang membaca review (pertama) saya ini.

Well, pertama kali liat buku ini rasanya eye catching banget. Warna merah, biru dan kuning gading yang mendominasi sampul terkesan simpel tapi buat penasaran. Pas buka halaman per halaman, baru kerasa atmosfer yang beda. Iya, seperti sampulnya, bagian dalam buku ini juga didominasi warna merah. Saya sendiri menyukai pemilihan warna dalam buku ini karna menurut saya warna merah membuat pembaca merasa bersemangat, sama seperti yang saya rasakan saat kali pertama membuka lembarnya. Terus ada beberapa ilustrasi gambar-gambar yang mendeskripsikan fokus bahasan per bab. Lucu sih, karena kadang sebagian orang lebih mendapatkan fokus saat melihat gambar-gambar yang dianggap menarik dan sejauh ini gambar-gambar itu cukup membantu saya memahami tujuan bahasan per babnya.

Di setiap bab nya, diselipkan kata-kata motivasi yang menurut saya cukup tepat letak, ukuran dan pemilihan warnanya dan saya begitu menikmati pilihan quotes yang dimasukkan mbak Maya Arvini  di dalam bukunya, seperti :

“No matter how far you walk, how hard you work, or how bad it hurts, you’ll always get to where you need to be.” -unknown

S

Ini kalimat pembuka yang ada di halaman lima dan sebagai kalimat pembuka ini cukup menggelitik rasa penasaran saya selaku pembaca untuk membuka halamn buku lebih jauh. Belum lagi quotes lain yang tidak mungkin saya sebutkan semua dalam review ini.

Dan, dari segi isi, nggak ada yang perlu saya komentari karena so far saya nyaman dengan gaya penulisannya yang ringan namun tetap berisi, meski saya menemukan beberapa typo, tapi sejauh ini itu nggak menjadi masalah besar karena saya sendiri hampir melewati bagian-bagian itu.

Sebelum kita masuk ke inti, saya ingin pendapat kalian tentang kata ‘sukses’. Apa yang terpikir di benak kalian saat mendengar kata itu? Mapan? Tua? S2 S3 dst? Ya, sebagian besar dari kita menganggap kesuksesan itu dapat diraih saat usia mencapai kepala empat. Padahal, kesuksesan itu sendiri justru bisa diraih saat usia 20-an atau malah lebih dini lagi. Kenapa? Karena kesuksesan itu tentang kerja keras dan motivasi baja, bukan karena age-oriented. Jadi, saya juga sekalian ingin membuka mata kalian lebar-lebar bahwa sukses itu nggak selalu di usia tua.

So, ada beberapa hal yang pengen saya bahas di review kali ini. Pertama, tentang cara mbak Maya menceritakan bahwa dengan kesuksesan yang ia raih saat ini, nggak ada jalan pintas. There is no shortcut to success. Dia menceritakan pengalamannya secara lugas bahwa dia juga mengalami masa-masa sulit dan keadaan itu menempa dia untuk bekerja keras demi meraih kesuksesan. Terus, pas mau S2 dia mesti kerja sampingan sekaligus kuliah. Kalau saya sih belum tentu bisa. Dan, sekarang dia masih belum merasa puas karena loyalitasnya bukan pada posisinya sekarang di perusahaan tapi pada profesi dan keinginan untuk berdistribusi. That’s really good, i think. Kebanyakan orang merasa nyaman dengan loyalitas serta comfort zone mereka hingga tenggelam dalam keinginan untuk lebih baik lagi.

Then, dia juga dengan blak-blakan menceritakan kegagalannya meraih jurusan lewat jalur PMDK. Saya pribadi merasakan pukulan telak yang mbak Maya Arvini rasakan. Sekedar info, saya juga gagal dari PMDK dan sama seperti mbak Maya, saya mengikuti tes untuk masuk ke fakultas idaman saya dan voila, Tuhan mengulurkan tangan-Nya pada orang-orang yang mau berusaha. Jadi, nggak ada alasan bagi kita buat berusaha semaksimal mungkin karena kegagalan itu hanya cara Tuhan menyadarkan kita tentang usaha kita yang beluim cukup kuat untuk memenangkan tantangan.

So far, saya nggak menemukan hambatan berarti dalam buku ini atau malah saya terkesan tak menemukan kesalahan di dalamnya. Dan, harapan saya, semoga suatu hari nanti saya bisa seperti Mbak Maya, entah itu di usia 25,27 atau 28 tahun seperti Mbak Maya, yang jelas buku ini benar-benar memotivasi hidup saya untuk berusaha mengembangkan potensi yang sudah dikaruniakan Tuhan. Well, ini bukan menjadi semacam review karena isinya pujian semua. Tak apalah, karena saya memang menyukai buku ini dari awal hingga akhir dan bener-bener nggak kecewa.

5/5 stars

Advertisements

Dongeng Boneka Pukul Tujuh dan Pria Pemilik Jam Saku

Tik..Tok..Tik..Tok
“Ah, akhirnya aku bangun dari tidur panjang,” ujar Annabelle, bergerak menggeliat seperti kucing yang baru bangun tidur. Ia melirik ke kiri-kanan, mencari sosok Oscar, pria pemilik jam saku ―jam yang bisa merubahnya menjadi manusia.
Disana, di toko mainan Oscar― yang merangkap rumah baginya, dia tak menemukan batang hidung pria itu. “Mungkin dia sedang ke luar,” gumamnya. Benar saja, saat dia bergerak ke arah dapur, dia melihat sebuah note tertempel di lemari es.
Tunggu aku, aku punya kejutan untukmu.    
“Kau benar-benar membuatku jatuh cinta, Oscar,”
Annabelle lalu terpikir untuk memasak red velvet cake, kue favorit Oscar. Dia tak mau menggunakan jentikan jemari seperti biasa karena ia tahu bahwa kue akan terasa lebih nikmat jika ia hasilkan dari jemarinya sendiri.
Setelah kira-kira satu setengah jam berkutat dengan adonan dan segala hal berbau bahan kue, ia akhirnya menyelesaikan masakan itu.
“Voila. Aku rasa kau akan jatuh cinta padaku seketika, Oscar,”
Ia pun bergegas membersihkan sisa masakan. Setelahnya, dia bergerak ke arah jam besar di ruang tengah. “Apa ada sesuatu yang menghalanginya?”
“Ah, lebih baik aku berdandan dan mengganti pakaianku,” ujarnya sembari melihat ke arah gaun cokelat yang seminggu ini tak pernah ia ganti. Maklum, sebagai sebuah boneka, dia takkan menghasilkan keringat layaknya manusia dan mandi adalah salah satu hal yang tentu tak perlu ia lakukan, bukan?
Dia lalu berlenggak-lenggok di depan cermin, menjentikkan jemarinya tiap kali gaun yang ia pilih tak ia sukai. Lalu, setelah setengah jam bergonta-ganti gaun, akhirnya ia menjatuhkan pilihan pada sebuah gaun biru pastel berpotongan A-line, lengkap dengan renda yang menghiasi lengan, dada dan bagian bawah gaun sebagai sentuhan akhir. Dia juga melengkapi penampilannya dengan memilih stilleto berwarna senada. Perfect!
Dia kemudian menata meja kecil di ruang tengah, menghidupkan dua buah lilin panjang, menuangkan sampanye dan memotong cake menjadi dua irisan besar. Tak lupa, ia meletakkan vas bunga berisi mawar merah segar yang ia baru petik di kebun belakang.
“Ah, Aku harap dia bisa menyegerakan langkahnya ke rumah,”
***
“Apa kau merasa baik-baik saja?”
    “Hmm, akhir-akhir ini kepalaku berdenyut lebih keras dan obat yang kau berikan tak memberikan efek apapun padaku,”
    “Apa kau mau mempertimbangkan saranku sebelumnya?”
    “Aku tidak mau di operasi,”
    “Tapi, sel kanker itu telah menembus otak kananmu. Kau akan kehilangan sebagian ingatanmu dan itu akan membuatmu lebih menderita.”
    “Aku ingin menikmati penyakitku,”
    “Kau sudah bilang padanya?”
    “Bilang? Padanya?”
    “Iya. Wanita yang selalu membuat matamu berbinar.”
    “Kurasa ia tak perlu tahu. Aku tak ingin dia terluka bersamaku. Biarlah dia terluka karena tahu aku bukan yang terbaik untuknya,”
    “Apa kau mencintainya?”
    “Tentu. Selama ini hanya dia mengisi hatiku.”
    “Aku akan meresepkan obat pereda rasa nyeri. Kau mungkin bisa menggunakan morphine jika obat ini tak sanggup meredam sakitmu. Aku punya beberapa jika kau mau. Dan menurutku, kurasa kau perlu membicarakan hal ini padanya,”
***
    Dia menunggu pria itu hingga denting jam besar di ruang tengah menunjukkan tengah malam dan ia tahu waktunya tak lama lagi. Lilin di atas meja sudah tinggal separuh dan itu artinya dia harus siap-siap menggantinya dengan yang baru.
    “Kau dimana, Oscar?” ujarnya, bertanya-tanya dalam hati. Pria  itu tak pernah pulang lebih dari jam sepuluh dan hal ini membuatnya sedikit cemas. Apa ada masalah? Dia menggeleng keras dan berharap pikiran buruknya tadi tak benar-benar terjadi.
    Tepat pukul dua pagi, pintu kayu itu bergerak. Pria itu pulang. Annabelle menggerakkan kepalanya dan mendapati wajah lelah pria itu.
    “Ah, akhirnya kau pulang juga,” Ia lalu menarik lengan pria itu, membawanya ke ruang tengah. Ia melepaskan mantel pria itu dan mengangsurkan secangkir cokelat hangat.
    “Kau tahu? Aku bisa kena serangan jantung jika kau belum pulang lima menit lagi,”
    “Kau tahu kau takkan merasakan itu, bukan?”
     “Baiklah, kau benar. Tapi, apa yang menghalangimu?” ujar Annabelle seraya memeriksa setiap lekuk tubuh pria itu, memastikan apakah pria yang dicintainya itu baik-baik saja.
    “Aku menemui seseorang,”
    “Lalu?”
    “Aku jatuh cinta padanya, Annabelle.” Langkah Annabelle terhenti. Dia menoleh ke arah pria itu dengan tatapan penuh selidik.
    “Kau baru menemuinya sekali dan kau mengatakan kalau kau jatuh cinta? Semudah itu?”
    “Ya, mungkin inilah cinta pada pandangan pertama. Love at first sight. Jika kau menjadi manusia, kau akan merasakannya,” ujarnya sembari tersenyum simpul. Annabelle tersenyum pahit. Aku sudah merasakannya, Oscar, batinnya.
    “Kau mau tahu wanita seperti apa dia?”
    “Tentu.” Annabelle lalu duduk di kursi, berhadapan dengan Oscar. Menatap nanar pria yang selama ini dicintainya itu.
    “Dia adalah wanita manis pemilik toko bunga di seberang jalan. Aku baru kali pertama melihatnya dan kau tahu? Jantungku berdegup kencang saat tatapan kami bertemu. Sepertinya aku jatuh cinta!”
    “Kau yakin?”
    “Tentu. Aku belum pernah merasakan ini sebelumnya. Rasanya, seperti ribuan kupu-kupu memutari perutku.”
    Annabelle lagi-lagi tersenyum pahit. Padahal, dia berharap pria itu menikahinya, melingkarkan cincin permata ke jari manisnya, membisikkan sumpah sehidup semati di telinganya, mengatakan akan mencintainya seumur hidup. Tapi, itu semua hanya khayalan. Pria itu hanyalah pemilik jam saku yang membuatnya tetap hidup, yang membuatnya jatuh cinta. Dan sekarang, pria itu telah memberikan hatinya pada seorang wanita, yang benar-benar manusia, bukan boneka yang hanya akan berubah menjadi manusia pada dentingan jam tujuh malam lalu kembali saat fajar tiba.
    “Aku bahagia jika kau bahagia,” ucapnya tulus.  Pria itu tersenyum.
    “Kau memang sahabatku yang paling baik,” ujar Oscar sembari merengkuh Annabelle dalam pelukan. Biarkan waktu berhenti sebentar saja.
    Annabelle pun terhanyut dalam pelukan hangat itu. Tak terasa, bulir air matanya menetes. Ah, dia sudah melanggar sumpah itu. Sumpah yang mengatakan kalau dia menangis, dia tidak akan kembali menjadi manusia.
    Tiba-tiba tubuhnya mengeras, perlahan dari ujung kaki, semakin merambat ke atas dan akhirnya sampai di ujung lidahnya.
    “Oscar…” bisiknya pada telinga pria itu.
    “Hmm…”
    “Aku mencintaimu,”
    Floop….
    Tubuh Annabelle kembali menjadi boneka. Pria itu lalu menangis.
    “Maafkan aku, Annabelle. Aku juga menyukaimu,”
***FIN***