BITTERSWEET

Aku pernah mengikuti bintang jatuh. Berharap saat aku menutup mataku, mengucap lirih untai doa dalam hati, Tuhan akan mengizinkan salah satu doaku terpenuhi. Kulakukan itu tiap kali memandangi langit. Tapi, kali ini aku mengganti doaku. Aku hanya mengucapkan satu kata.Kata yang sampai sekarang masih belum bisa menjadi milikku. Dia.
***
“Lo nggak usah mimpi!”
Aku masih memberengut, memindahkan mataku dari wajah cantik Audreya ke buku tahunan kampusku. Aku berharap bisa menyumpal mulutnya dengan kamus Dorland yang ada di dekat kakiku. Kalau saja aku tidak ingat sedang berada dimana, aku yakin aku sudah melakukan itu dua jam sebelumnya, sebelum dia mengatakan bahwa mengejar Steven itu adalah mimpi. Ya, aku sedang berada di kamarnya dan menyumpal mulutnya dengan kamus “saku” itu bisa saja termasuk tindakan kriminal dan aku tak mau dipenjara hanya karena melakukan hal konyol seperti itu.
“Apa menurut lo mencintai Rezky diam-diam itu nggak termasuk agenda mimpi lo?” Haha! Dia tak bisa berkutik lagi.  Wajahnya memerah dan aku tahu dia sedang menyiapkan strategi untuk membalas perkataanku.
“Menurut lo? Udah ah nggak usah dibahas!”
“Lo sendiri yang bahas duluan!” Gerutuku. Sumpah, meski dia termasuk sahabatku, aku paling kesal dengan mulutnya. Kalau saja  melumuri mulutnya dengan jalapeno tidak termasuk tindak kekerasan, itu akan kulakukan sekarang!
“ Please, deh. Kita ini sama-sama secret admirer dan sesama secret admirer dilarang saling mengejek!” ujarnya sembari memeletkan lidah.
So, siapa yang sebenarnya yang memulai pertengkaran bodoh ini? Dasar cewek aneh!
“Eits, lo tau gak? Gebetan lo itu baru putus! Gue baru mantengin instagram-nya dan gak ada satupun foto gebetan lo ada instagram mantannya!” seru Audreya sembari mengacungkan ipad-nya. Aku lalu memburu benda persegi panjang itu dan mulai memeriksa kebenaran ucapannya. Ah! Ternyata dia benar! Is it a dream? Aku menepuk pipiku dan merasakan sakit tersisa disana.
“Lo nggak mimpi!” ujar Audreya seolah tahu pikiranku. Aku kembali menekuni akun instagram tersebut. Mungkin saja ada satu foto terselip atau ada comment yang mengindikasikan  kalau hubungan mereka benar-benar berakhir. Gotcha! Tidak ada satupun foto! Tapi aku tidak bisa bersenang hati dulu karena tidak ada satupun comment  yang menunjukkan berakhirnya hubungan mereka dan ini berarti belum tentu mereka putus! Bisa saja sang kekasih cuma menghapus semua foto lama karena ia menyadari ke-alay-annya dan berniat mengganti foto itu dengan foto mereka yang lebih mesra lagi. Memikirkan itu malah membuatku mual.
“Lo nggak perlu cemas. Gue yakin dia nggak bakal segitu niatnya buat ngehapus semua foto dan menggantinya dengan foto yang lebih hot.” Gumam Audreya, lagi-lagi membaca pikiranku. Apa di keningku ini terlihat isi pikiranku?
“By the way, congrats! One step closer!” tambahnya. Aku hanya mengedikkan bahu, padahal dalam hati aku sudah berjingkrak-jingkrak dan berharap mentari pagi lebih cepat muncul. I’ll meet you soon, my love!
“Eh, besok kita kuliah sampe sore loh, gue baru dapet jarkom nih dari line.Damn!” Seketika gejolak hati hancur. Ah, kenapa kurikulum esok hari menunda pertemuan kami berdua. Sial!
“Yah, gue nggak bisa ketemu gebetan dong!” ucapku tanpa sadar.
“Yaelah, lo mau ketemu sekarang aja bisa!”  Mataku membulat. Apa Audreya sedang bercanda?
“Lo nggak lagi bercanda, kan?”
“Gue bukan wayang OVJ kali,” Dia lalu tertawa.
“So?” sergahku geram.
“ Wani piro?? Sushi So dan gue anggap impas!”
“Dasar pemeras! Yaudah, jelasin dulu. Kalo rencana lo terbukti ampuh, gue bakal traktir sampe perut lo meledak!”
“Jadi gini, lo pura-pura aja sakit, gue bawa ke rumah sakit, dia ketemu lo, lo bisa puasin deh temu kangen. Gue yakin itu berhasil!” Jelasnya panjang lebar. Gila! Mungkin FTV telah sebegitu besar meracuni otaknya sehingga yang ia bisa pikirkan hanyalah skenario sinetron picisan!
“Dia nggak sebodoh itu nerima pengakuan gue. Yang ada dia malah tau gue cuma cari alasan doang dan itu memperkecil kemungkinan gue bakal jadian sama dia!”
“Lo kan anak teater. Masa acting sakit aja nggak bisa sih!”
“Gue nggak bisa bohong kalo di depan doi, Drey!”
“Anggap aja doi itu gue. Beres kan? Lo kan paling mudah ngibulin gue!”
“Betul juga!”  Aku menganggukkan kepala. Ya, orang yang paling mudah kubohongi cuma Audreya seorang. Ternyata, ini bisa dijadikan siasat perang! Haha!
“Eh, lo mesti pegang janji lo!”
“ Janji apa?”
“ Baru dua menit lo bilang, itu… janji mau traktir gue!”
“ Oh, Dear! Lo nggak percaya amat sama gue, ya gue traktir asal rencana ini berhasil.  Buruan kita ke rumah sakit! Gue udah kena malarindu berat nih!”
“ Dasar yang lagi falling in love, segitunya..”
***
“ Aduh…” Aku pura-pura mengerang kesakitan. Audreya mengguncang-guncangkan tubuhku. Boleh juga acting-nya. Haha!
“Lo kenapa, Ki? Sabar ya, bentar lagi kita ketemu dokter!” Dalam hati, aku tersenyum melihat raut wajah Audreya yang terlihat begitu mengkhawatirkanku. Beberapa orang koas di ruang IGD buru-buru menemuiku, menanyakan keadaanku kepada Audreya. Kemana  Steven? Apa dia sedang tidak jaga?
“Temenmu kenapa?” tanya salah satu koas pada Audreya.
“Nggak tau kak, tiba-tiba aja perutnya kram.” Jelas Audreya singkat.
“Oh, kalo begitu kami periksa dulu, kamu silahkan keluar.”Perintah salah satu koas yang mungkin koas senior di IGD hari ini. Aku hanya menatap Audreya sekilas lalu dia pergi meninggalkanku bersama gerombolan koas yang mulai melucutiku. Satu dari mereka memeriksa tekanan darahku sembari meraba nadi, satunya lagi mendengar denyut jantungku, sedang sisanya hanya mengamatiku seperti cadaver baru yang patut diamati setiap sentimeternya. Dari sekian banyak koas itu, tak ada satupun dari mereka itu Steven. Lima menit kemudian, mereka menyelesaikan pemeriksaan mereka. Koas senior yang memimpin hanya tersenyum melihatku.
“Kamu nggak lagi pura-pura kan?” Ujarnya saat para koas lain sedang keluar.
“Maksud kakak?” tanyaku sembari memegang perutku.
“Ya, menurut pemeriksaan tadi, kamu nggak ada apa-apa.” Jelasnya.
“Oh, tapi kenapa perut saya mendadak kram?” tanyaku lagi.
“Kamu itu mungkin lagi stres. Mikirin seseorang?” tanyanya balik. Pria ini sepertinya memiliki kemampuan yang sama dengan Audreya! Apa begitu mudahnya isi otakku terbaca oleh semua orang?
“Hmm, mungkin.”  Ujarku. Aku lalu bangkit dari ranjang IGD tapi dia menahanku, membiarkan tubuhku terbaring disana.
“Kamu istirahat dulu.” Perintahnya, lalu kemudian menarik ujung bibirnya sebelum meninggalkanku. Ah, pria yang manis dengan senyum manis pula.
“Ciee yang nggak ada rotan akarpun jadi!” seru Audreya persis saat aku masih terhipnotis senyum manisnya . Ia mengedipkan mata sekali mirip pasien cacingan kronis.
“Apaan sih lo?” Aku mencubit lengannya kuat.
“Ya, gue tau lo nggak dapet Steven hari ini. Tapi cowok itu lumayan juga.” Ujarnya sembari menebarkan senyum penuh arti. Aku mengedikkan bahu, pura-pura tak peduli.
“As your information, gue nggak bakal traktir lo!”
“Kok lo gitu sih?” Audreya memberengut. Aku pura-pura menutup mata.
“Ya, karena kita gagal ketemu sasaran, seperti yang lo bilang,”
“Tapi kan…..”
“Udah ah,yuk kita cabut, gue nggak betah lama-lama di rumah sakit!”
“Gue masih mau ketemu kakak koas ganteng tadi!”
“Terserah, gue nggak doyan cowok kayak dia.” Aku beranjak dari bibir ranjang, mengenakan sepatu lantas pergi meninggalkan ruang itu.
“Berarti kakak itu buat gue ya!” teriaknya. Aku hanya mengangkat bahuku. Padahal Audreya itu penggemar berat Rezky dan sekarang saat dia menemukan orang lain yang sama kece-nya, dia malah mengejar orang itu. Dasar cewek tak berpendirian!
Aku lalu menyusuri koridor rumah sakit, berharap bisa menemukan pria yang belum lama ini mengisi setiap sel otakku. Pertemuan dengannya membuatkan jatuh cinta pada sekali pandang.  Waktu itu aku sedang tidak dijemput Pak Kirman, supir pribadiku. Aku menunggu taksi, tapi setelah setengah putaran arloji, belum ada satupun taksi lewat. Di saat kebingungan itu, aku melihat motornya melintasi halte. Karena aku tahu dia adalah salah satu kakak tingkat di fakultas kedokteran, aku langsung saja memanggilnya.
“Hei!” Teriakku, berharap ia mendengarnya. Keajaiban pun terjadi, dia menghentikan laju motornya dan menoleh ke arahku.
“Ada apa?” ujarnya seraya membuka helm. Aku terperangah, tak bisa berkata apa-apa. Dia lalu menjentikkan jemarinya di hadapanku.
“Ada apa?” ulangnya lagi. Aku yakin wajahku saat itu seperti orang bodoh.
“Saya boleh nebeng nggak?”  Dia mengangguk lalu mengangsurkan helm. Orang ini pura-pura baik atau lagi in the mood ya? Aku tak  benar-benar peduli kali itu. Yang kupikirkan hanyalah pulang dengan selamat.
“Gue suka ngebut. Kalo lo mau aman, lo nggak usah duduk kayak emak-emak!” Aku lalu membenarkan posisiku, duduk tak menyamping.
“Kalo lo nggak mau peluk gue, lo bisa pegang jaket gue.” Aku menurut. Dengan posisi seperti ini, aku bisa mencium aroma maskulin tubuhnya. Sepanjang perjalanan kami habiskan dalam diam karena aku tak tahu apa yang mesti kukatakan dan itulah adalah kali terakhir aku menemuinya. Pertemuan yang cuma bisa ku museum-kan dalam sel otak.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s