AMNESIA

            Biarkanlah kisah ini tetap menggantung, menanti akhir yang diimpikan sang penulis skenario. Tak mengapa, meski sang pungguk harus merindu bulannya lebih lama lagi, asalkan semuanya sesuai yang diharapkan. Asal kau ingat, bahwa semuanya harus berakhir indah. Tanpa ada derai air mata berlebihan, kisah ini harus menjadi kisah manis yang menyimpan kenangan indah bagiku dan dirinya.

***

            “Udah, nggak usah manyun lagi.”

             “Terserah aku dong.”

            “Kamu nggak bisa begini terus.” Ujar Jingga geram. Meski matanya terpaku pada jalan di hadapannya, ia masih bisa mengintip raut wajah Lintang. Gadis berparas ayu itu memasang wajah cemberut jika ia sedang kesal dan itu biasanya akan membuat Jingga melunak.

            “Jadi, kamu maunya apa?”

            “Jauhi cewek itu! Aku nggak suka!”

            “Sayang, aku kan udah bilang, kalau dia itu cuma temen, nggak lebih.”

            “Tapi kan, bisa aja dia menganggap kamu lebih.”

            “Kamu nggak perlu negative thinking ke orang lain, nggak baik.”

            “Tuh kan! Kamu belain dia! Udah turunin aja aku disini!” ujar Lintang sembari mengguncang-guncangkan tubuh Jingga.

             “Oke.”

            Jingga lalu menepikan mobilnya, membiarkan Lintang pergi. Lintang sendiri sebenarnya tidak benar-benar ingin Jingga pergi. Ia hanya ingin Jingga menurutinya karena itulah yang biasa pria itu lakukan padanya. Tapi kali ini, pria yang dicintainya itu benar-benar menurunkannya dan ini membuatnya benar-benar kesal. Jangan-jangan Jingga memang ada apa-apa dengan perempuan itu?  Ia menggeleng keras dan berharap ia bisa mematahkan hidung mancung perempuan itu kalau saja ia berani merebut Jingga darinya.

            “God, gue lupa bawa tas pula!” Ia menepuk jidatnya, tersadar kalau tasnya tertinggal di dalam mobil Jingga. Bagus, sekarang selain tak punya uang untuk pulang, ia juga tak punya ponsel untuk menghubungi Pak Asep, sopir pribadinya.

             Hari sudah beranjak malam dan ia tahu daerah ini tidak aman. Sialnya, setelah menunggu setengah putaran jam, ia masih belum menemukan taksi kosong. Kekesalannya semakin menumpuk dan siap untuk diledakkan kapanpun juga. Ia buru-buru melangkah, menyeberang ke sisi lain, berharap ada ojek atau apapun yang bisa membawanya pulang.

            Begitu ia ingin menyeberang, ia tak memperhatikan lagi keadaan dan yang ia tahu hanyalah pandangannya berubah gelap.

***

            Lintang membuka matanya. Kepalanya masih berdenyut. Ia meraba keningnya dan mendapatkan perban disana. Ia memandang ke sekeliling. Ruangan putih dengan aroma antiseptik yang menyengat itu pasti sebuah ruang  klinik atau ruamh sakit. Ia menoleh ke lengan kiri dan mendapati infus menempel erat. Ia tak ingat apa yang terjadi sebelumnya. Meski ia berusaha mengingat, menggali informasi tentang keberadaan dirinya, ia tak tahu.   

            “Kamu sudah sadar?” ujar seorang wanita paruh baya yang sama sekali tak dikenalnya.

            “Anda siapa?”

            “Saya yang menolong kamu. Kamu mengalami kecelakaan dan hanya keajaiban yang membuatmu bisa bertahan.”

            “Saya? Kecelakaan?”

            “Iya. Sekarang, kamu bisa beritahu saya dimana kamu tinggal?  Mungkin orangtuamu khawatir. Namamu siapa?”

            “Nama?” Kepalanya makin berdenyut saat ia berusaha mengingat semua itu.

            “Iya, nama kamu.”

            “Saya tidak tahu.” Wanita itu menampakkan raut wajah terkejut.

            “Kamu tidak ingat?”

            Lintang menggeleng. Ia memukul-mukul kepalanya, berusaha mengingat semuanya. Nihil, isi kepalanya seperti diformat habis, tak bersisa sedikitpun.

***

            “Saya bersedia merawatnya.” Ujar Edgar lantang, meski ia belum sepenuhnya yakin dengan apa yang diucapkannya barusan.

            “Apa kamu yakin? Bisa saja dia pura-pura lupa ingatan dan sengaja membuat kita kasihan padanya.” Ujar seorang ibu yang membantunya membawa wanita itu ke klinik ini.

            “Ya, tapi bisa saja sebaliknya. Ia benar-benar lupa ingatan dan perlu bantuan.”

            “Baiklah, itu terserah padamu saja. Yang jelas, aku sudah memperingatkanmu.”

            Ia meninggalkan wanita paruh baya itu lalu memberanikan diri memasuki ruangan itu. Wanita itu tampak sedang tertidur. Dipandanginya raut wajah wanita itu. Garis-garis wajahnya persis seperti wanita yang ia temui dua tahun lalu, saat ia dirawat di rumah sakit TNI. Wanita itu menjadi salah satu dokter yang memeriksa kondisi tentara-tentara yang barusaja mendarat dari Kongo dalam misi perdamaian. Wanita yang berani menyimpan kenangan dalam otaknya, yang membuatnya jatuh cinta pada sekali pandang.

            Apa ini murni kebetulan? Ia menemui wanita itu dan sekarang ia dalam keadaan lupa ingatan. Ia bisa saja mengaku kalau wanita itu adalah istrinya dan ia berani bertaruh wanita itu tak akan mencurigainya. Tapi ia tahu itu terlalu egois dan ia ingin wanita itu menyukainya tanpa ada keterpaksaan dan kebohongan.

            Ia membelai rambut wanita itu dan mendapati wajah berbentuk hati itu tiba-tiba  terkesiap. Ia terbangun. Buru-buru ia menarik jemarinya dari wanita itu.

            “Kamu siapa?”

            “Edgar.”

            “Edgar?”

            “Ya. Sahabatmu.”

            “Bisa kau beritahu apa yang terjadi padaku?” Edgar lalu menarik napas panjang dan mulai merekayasa semuanya.

            “Jadi namaku Arana dan aku yatim piatu?”

            Edgar mengangguk. Berhasil. Wanita dihadapannya ini benar-benar mempercayainya dan setidaknya ia bisa bernapas lega untuk sementara waktu.

           

           

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s