LAST UNNAMED

Sebelum upload yang terakhir, aku cuma mau ngucapin terimakasih buat yang udah baca,komen,kritik,saran sampe akhinya kelar juga novela pertama aku :’)

Oh, ya novela ini aselinya aku kasih nama “Love Stase” dan aku kirim buat lomba di gramediana.com, doakan smoga menang yaaa ❤

 

-Raizel POV-

            “Udah, lo nggak usah buang air mata lo cuma buat orang PHP macam residen ababil itu,”

“Lo nggak ngerti gimana rasanya jadi gue,”

“Justru karena gue sangat mengerti diri lo, gue nggak mau lo terhanyut. Just move on, babe! Life must go on,”

I wish i could be together with him,”

” Kadang nggak semua keinginan kita bisa terwujud. Lo yakin aja bahwa ada seseorang di luar sana yang menunggu lo dan orang itu bukan Reggie.”

Tria mengangsurkan tisunya padaku. Ya, dia memang benar. Hidup harus terus berjalan . Setidaknya aku tahu dari awal kalau dia memang tidak menyukaiku. Ya, aku harus bersikap realistis. Mungkin jalan kami memang ditakdirkan untuk tidak bersimpangan.

Sejenak, semua mahasiswa menutup mulut mereka rapat. Mungkin, dosen sudah masuk. Aku menolehkan kepalaku ke arah pintu utama dan mendapati seseorang yang tidak ingin kilihat wajahnya sekarang Apa aku bermimpi? Tidak, aku rasa tidak. Tapi, bukankah blok obgin sudah berlalu dan itu artinya dia tidak ada urusan disini?

“Kok dia bisa ada disini?”

Aku mengintipnya dari ujung mataku. Dia tak melirik sedikitpun kepadaku. Oke, mungkin sekarang dia sudah belajar melupakanku dan aku juga harus berusaha melupakannya.

Begitu tiba di depan meja komputer, ia segera membuka file dan menyiapkan presentasi. Lalu, dia mengambil kertas absen dan mulai mengabsen mahasiswa satu persatu— hal yang tak pernah ia lakukan sebelumnya. Aku sendiri tak mau ambil pusing.

            “Albert Alviano…”

            “Devita Angelia…”

            “Diego Marcellino..”

            “Hesti Fitria…”

            “Keano Bramadista..”

            “Raizel Anindita,” Aku mengangkat tangan dengan lesu. Sejujurnya, aku tidak bisa membohongi gejolak yang membuncah, karena entah kenapa jantungku terasa berdetak lebih cepat saat dia memanggilku. Tapi, ego yang terlalu menguasai hati membuatku menahan perasaan, mencegahnya keluar, agar Reggie tak tahu kerinduanku yang dalam padanya.

            Setelah ia memanggil satu persatu mahasiswa, lima menit kemudian dokter Rudi datang. Perkuliahan berlangsung singkat, karena dokter Rudi harus mengerjakan operasi pemisahan bayi Friska-Florent, sepasang kembar siam. Seperti kebanyakan dosen, dokter Rudi menyuruh Reggie menandatangani logcard kami. Tak seperti biasa, ia tidak menampakkan wajah masamnya. Ia tampak tersenyum dan tak mengeluh. Aneh.

            Saat dia menandatangani kartu hijau itu, aku seperti dipaksa merangsek masuk ke masa lalu, saat dia memintaku membantunya menandatangani sebagian kartu hijau itu. Kenangan itu mengitari otakku, seperti kaset rusak yang memutar bagian yang sama berulang-ulang. Aku ingin sekali kembali pada masa itu.

            Setelah selesai menandatangani logcard, ia melenggang keluar, seolah tak mengenaliku. Apa dia tidak menganggapku lagi? Aku tahu bahwa aku kemarin terlalu emosi sehingga meninggalkannya begitu saja. Tapi siapa yang tidak emosi melihat orang yang sudah lama kau cintai hanya mempermainkanmu.

            Sepertinya ada yang berbeda pada dirinya hari ini. Ya, kumis tipis yang setia bertengger di wajah macho-nya kini menghilang. Mungkin kemarin dia bercukur dan efek aftershave-nya membuat wajahnya terlihat lebih segar dan muda. Tapi sejujurnya aku lebih menyukai penampilannya dulu. Hmm, tapi bukan itu saja yang berubah. Ada sesuatu yang hilang darinya. Biasanya dia akan bersikap sok ganteng dan membuatku salah tingkah. Hari ini dia cenderung diam, seperti memikirkan sesuatu. Mungkin dia sedang ada masalah dengan Freya.

            Jujur, aku masih mencintainya. Perasaan yang kupupuk bertahun-tahun tak bisa kuhilangkan begitu saja. Mungkin aku sudah terlalu mencintainya, hingga sulit sekali melupakannya.

 

-Richie POV-

            Saat matahari mulai menampilkan rona merahnya, aku dan Reggie sedang duduk di balkon. Hari ini Reggie telah dilantik menjadi dokter spesialis. Aku tak menyangka hari ini akan datang juga. Di balkon, tampak beberapa bungkus keripik kentang, dua kaleng minuman ringan dan gitar kesayangan Reggie. Ia memetik gitarnya perlahan, menyanyikan lagu This Love. Entah kenangan apa yang ada di lagu itu sehingga ia memainkan lagu itu berkali-kali.

            “ Senja disini paling indah,” ujarnya kemudian dengan suara mendesah.

            “Iya.” Balasku, tak kalah pelan. Aku menyodorkan kaleng minuman padanya, lalu ia meneguk pelan isinya.

            “Gue nggak nyangka gue udah jadi dokter spesialis,”

            “Ya, dan sekarang gue mesti manggil lo dengan sebutan dr.Reggie Harmoko,Sp.OG.”

            Dia menoyor pelan pundakku. “ Dan lo kapan nyusul gue?” sindirnya.

            “Secepatnya.”

            Lalu dia kembali memainkan gitarnya. “ Lo sendiri kapan mau melamar Freya?”

            Ia berhenti memetik gitar dan menoleh kearahku. Sedikit terperangah mendengar apa yang baru saja keluar dari bibirku. “ Gue belom kepikiran,”

            “Lo mesti segera memutuskan. Lo tau? Kodrat wanita itu menunggu. Lo mau Freya nikah dengan orang lain cuma karena gak tahan nunggu kepastian dari lo?”

            “Itu berarti gue dan dia belum jodoh.” Jawabnya enteng.

            “Jodoh atau nggak itu tergantung dari sikap kita. Kalo lo emang nggak niat, lo pasti berpikir kalo semua ini emang ditakdirkan Tuhan.”

            “Ya. Sejauh ini gue belom berpikiran sampe kesana. Gue masih ragu.”

            “Hati lo masih nyangkut di Raizel?”

            “Nggak.”

            “Artinya lo udah bener-bener ngelupain Raizel?”

            Dia terdiam. Aku sendiri tidak tahu apa yang menggelayuti pikirannya saat ini. “Gie, lo mesti sadar kalo Raizel cuma masa lalu. Lo mesti menatap masa depan. Kecuali kalo lo emang nggak mau masa depan lo adalah Freya.”

            “Lo nggak paham,”

            “Gue paham. Sangat paham. Mungkin ini saatnya buat lo memutuskan apakah lo mesti melupakan Raizel dan mulai mencintai Freya seutuhnya atau malah lo berhenti berpura-pura mencintai Freya dan mengejar cinta Raizel.”

            “Gue nggak berpura-pura mencintai Freya.”

            “Terserah lo. Gue nggak butuh bantahan dari lo. Gue cuma mau lo jujur sama diri lo sendiri,”

            “Tolong lo jaga Raizel, buat gue.” Dia menyentuh pundakku dan beranjak pergi.

 

-Raizel POV-

            Delapan bulan kemudian…

 

            Ketika masa lalu memaksamu mengingat

            Semua memori yang berpendar kebiruan

            Aku tahu ini bukan saatnya berlari

            Karena mentari mengingatkanku untuk membiarkanku kembali

            Agar masa lalu mengukirkan takdir baru

           

            “Gue nggak nyangka kita udah koas aja,”

            Ya. Delapan bulan berlalu dan kami sekarang sudah berganti status, menjadi seorang koas. Layaknya bunga yang baru mekar, masa awal koas adalah masa yang indah. Mengenakan baju putih, baju kebanggaan para koas, adalah impianku sejak awal masuk kuliah.Terbayang olehku suasana riuh di rumah sakit, sibuknya aku dan koas lain, dan seabrek tugas yang dulunya tak pernah kami pikirkan sebelumnya. Ya, itu bukan masalah. Aku lalu teringat peribahasa “ Semakin tinggi pohon, semakin kencang angin menerpa”. Semakin tinggi tingkat pendidikan, tentu semakin banyak masalah yang dihadapi.

            “Lo dapet stase apa?”

            “Obgin.” Sahutnya ringan. Mendengar kata obgin mengingatkanku akan sosok Reggie. Bagaimana kabarnya? Aku sendiri tidak tahu pasti. Sejak dia datang ke kampus waktu itu, aku tak pernah bertemu dengannya lagi. Ah, aku naif bila aku mengatakan bahwa aku tidak merindukannya.

            “Kalo lo ?”

            “Bedah.” Balasku.

            “Gue baru dapat kabar kalo Reggie udah jadi dokter spesialis.” Aku ber-ooh ria. Bahkan ketika dia sudah menjadi dokter spesialis pun, dia tak sedikitpun mengabariku. Mungkin aku bukan siapa-siapa lagi baginya.

 

-Richie POV-

            Jam beker di kamarku memecah kesunyian. Aku bangun dengan malas. Kadang aku menyesal kenapa aku lebih memilih PTT dulu dibandingkan meneruskan kuliah spesialis. Kuliah spesialis yang cukup terlambat ini memaksaku menyiapkan tenaga ekstra. Ditambah lagi, Departemen Bedah di rumah sakit tempatku bernaung selalu padat. Kami sebagai residen kadang kewalahan melayani mereka. Untunglah ada beberapa koas yang meski belum terampil, mereka cukup cekatan dalam membantu pekerjaan kami.

            Aku segera menuju kamar mandi, menghidupkan keran air hangat. Butir- butir air hangat yang keluar dari shower membuatku rileks. Setelah mandi, aku mengambil baju snelli bersih di lemari, mengambil nametag di baju lamaku dan notes kecil di dalam laci.

            Setelah semua siap, aku bergegas menuju rumah sakit. Sepuluh menit berlalu dan segera saja aku telah tiba di departemen bedah. Koridor rumah sakit masih sepi. Aku menuju ruang tempatku menaruh barang-barangku. Disana ada seorang koas wanita yang tengah sibuk membaca buku. Raut wajahnya tak tampak karena ia menghadap ke samping. Tapi potongan rambut itu membuatku tersadar kalau itu adalah Raizel.

            “Raizel?” Dan gadis itu lalu menatapku dengan mata membulat.

            “Lo? Bukannya lo udah tamat?” tanyanya.

            “Saya belum tamat.” Jawabku pelan.

            “Kok bisa lo ada dua departemen dalam waktu yang berbeda?” Ia masih bingung. Ya, wajar saja ia bingung. Bagaimana mungkin satu orang yang sama ada di dua tempat yang berbeda.

            “Saya bukan Reggie.”

-Raizel POV-

            “Saya bukan Reggie.”

            “Lo nggak usah sok formal deh. Gak asik tau!”

            “Kamu yang mestinya sopan. Saya ini lebih tua dari kamu.”

            “Biasanya lo nggak masalah dengan panggilan gue.”

            “Karena saya bukan Reggie, tolong jangan perlakukan saya seperti kamu memperlakukan Reggie.”

            “Kalo lo bukan Reggie, lo siapa? Kembarannya?”

            Dia mengangguk pasti. Tapi, bagaimana bisa? Selama ini Reggie tak pernah menceritakan masalah ini padaku. Jadi, kalo bukan Reggie yang menemuiku tiga tahun lalu, itu berarti pria ini yang kutemui? Oh, dear. Aku mencintai orang yang salah selama ini.

            “Jadi nama kakak siapa?” ujarnya, melunak.

            “Richie. Richie Harmoko.”

            “Kalo kakak adalah kembaran Reggie, kok kalian nggak tamat bareng?”

            “Bukan urusan kamu!” Sergahnya. Dia berlalu, pergi meninggalkanku.

            “Kok nih orang ngeselin banget sih!” gumamku.

 

-Richie POV-

            Semenjak aku menjelaskan bahwa aku dan Reggie kembar, aku semakin dekat dengan Raizel. Memang, kadang ada pertengkaran kecil diantara kami berdua. Tapi aku maklum. Aku kadang terlalu kaku terhadapnya, sedang dia menganggapku layaknya Reggie yang easy going. Seperti saat ini, saat aku dan dia sibuk memilih tempat makan siang.

            “Di Java Freeze aja, kak!” Aku membayangkan kami berdua duduk berhadapan. Raizel tersenyum malu-malu. Ah, itu bukan tempat yang pas! Terlalu romantis bagi orang kaku sepertiku. Lucu pasti. Lagipula, tempat itu cukup jauh dari rumah sakit. Bagaimana kalau ada pasien gawat darurat sedangkan kami baru melahap sesendok makanan? Aku buru-buru memikirkan tempat yang dekat saja dari rumah sakit.

            “Pizza Hut!” Mendengar ide itu, ia memberengut.

            “Kalo tau kita makan di Pizza Hut, nggak usah naik mobil juga bisa!” Ujarnya sembari mengerucutkan bibir. Tapi begitulah dia, tak sampai lima menit, mood-nya langsung berubah, apalagi kalau sudah melihat menu makanan. Segera saja dia memesan dua pan pizza.

            “Pelan-pelan makannya, entar kamu tersedak.”

            “Uhuuk…”

            “Nah kan, apa aku bilang.” Aku lalu menyodorkan gelas padanya. Dia meminumnya cepat.

            “Eh, aku mau tanya, kenapa kamu nggak pernah manggil dia dengan sebutan ‘kakak’ seperti panggilanmu ke aku?”

            “Karena dia itu kayak ababil. Jadi belom pantes dipanggil kakak.”

            Aku tertawa. Memang, tingkah Reggie masih saja seperti ABG labil. Tapi, memang seperti itulah dia.

            “Ya, setidaknya kamu panggil dia kakak.”

            “Terserah aku dong, Kak!” ujarnya sembari memeletkan lidah.

            “Eh, operasi tadi itu gimana kak?”

            “Oh, operasi laparotomi tadi? Sukses kok. Untung usus yang nekrosis nggak terlalu panjang, jadi ligasi-nya nggak terlalu sulit.”

            “Entar jelasin ya kak. Soalnya operasi tadi katanya mau masuk ujian.”

            “Oke. Ngomong-ngomong kamu nggak kangen sama Reggie?”

            Dia terdiam. “Apa perlu aku kangen sama dia? Dia kan udah punya pacar, Kak.”

            “Nggak ada salahnya rindu sama seseorang, apalagi seseorang yang pernah berarti buat kita.”

            “Jadi kakak pengen aku kangen sama Reggie?”

            “Ya, nggak gitu juga sih. Aku maunya kamu jujur sama perasaanmu sendiri. Jangan sampai orang lain lebih memahamimu ketimbang dirimu sendiri.”

            “Jadi kakak merasa lebih mengenalku?”

            “Mungkin. Kamu itu terlalu mudah dibaca.”

            “Jadi apa yang kakak baca sekarang dari wajahku?” Dia menunjuk wajahnya. Aku terkekeh geli.

            “Kenapa ketawa? Emang wajahku kayak topeng monyet?”

            “Iya.”

            “Ih.. kakak ini ngeselin banget sih!”

            “Kamu sih..”

 

-Raizel POV-

            Aku maunya kamu jujur sama perasaanmu sendiri. Jangan sampai orang lain lebih memahamimu ketimbang dirimu sendiri.

            Kata-kata kak Richie tadi menggaung terus di telingaku. Aku sendiri sebenarnya masih mengharapkannya kembali. Tapi, aku tahu bahwa mengharapkan kekasih orang lain adalah sebuah kesalahan besar. Aku tidak mau seperti itu. Itulah kenapa selama ini aku mengubur dalam-dalam rasa itu. Membiarkannya gersang, hilang perlahan, dan sampai akhirnya habis tak bersisa. Tapi, aku tak bisa. Semakin aku berusaha melupakannya, semakin kuat dia bercokol di kepalaku.

            Aku sendiri tidak tahu harus bagaimana. Apa aku harus mencari penggantinya? Tapi itu berarti aku terlalu egois. Aku menjadikan seseorang sebagai pelarian. Itu akan menambah masalah baru nantinya. Tapi, aku sudah terlalu lelah didera rasa ini. Aku ingin keluar, tapi sebagian hatiku memaksaku bertahan.

            Dan, tentang kak Richie, seseorang yang perlahan memasuki kehidupanku. Aku tahu dia hanya ingin aku jujur pada perasaanku. Aku yakin dia adalah orang yang selama ini aku cari. Tapi aku sadar, orang yang kucintai adalah Reggie. Richie hanyalah alasan yang membawaku mencintai Reggie.

 

-Raizel POV-

            “Kamu mau makan dimana? Ayo aku traktir hari ini.” Ujar Kak Richie. Tidak biasanya dia yang duluan mengajakku.

            “Terserah kakak aja deh.”

            Dia lalu membawaku ke suatu kafe yang baru beberapa hari dibuka. Aku barusaja mendengarkan Tria bercerita tentang tempat ini. Suasana disini lumayan menyenangkan. Interior bangunan disusun sedemikian rupa sehingga kita seolah berada di pesawat. Pelayannya pun mengenakan baju ala pramugari dan pilot. Aku akan menandai tempat ini sebagai tujuan hangout berikutnya.      

            “Kamu udah pernah kesini sebelumnya?” Aku menggeleng.

            “Berarti aku adalah orang yang pertama mengajakmu?”

            “Iya. Ngomong-ngomong baru dapet proyek ya? Kok tiba-tiba mau traktir aku?”

            “Kamu nggak perlu tau sekarang.” Ujarnya sembari menebarkan senyum penuh arti.

            “Mbak dan mas mau pesan apa?” tegur pelayan itu ramah.

            “Kamu mau apa, Zel?”

            “Terserah kakak deh.”

            “Oke, keluarin makanan yang paling spesial disini ya, Mbak!”

            “Oke, Mas. Silahkan ditunggu pesanannya.”

            Tak sampai sepuluh menit pesanan kami keluar. Pelayan itu membawa kereta dorong berisi nampan besar. “Kak, uang kakak cukup, kan?” ujarku sembari menelan ludah. Aku tak membawa uang sepeser pun dan dengan makanan sebesar itu aku bisa memperkirakan betapa mahalnya hidangan yang tersembunyi di dalamnya.

            “Kamu tenang saja.”

            Begitu pesanan itu diletakkan di mejaku, aku membuka penutupnya dan mendapati dua puluh satu cupcake mini berhiaskan miniatur animasi dokter. Lucu sekali. Rasanya sayang untuk melahapnya.

            “Happy birthday. Semoga kamu bisa mendapatkan apa yang kamu inginkan.” Dia mengacak-ngacak rambutku lalu tersenyum. Senyum yang mengingatkanku akan sosoknya tiga tahun lalu. Senyum yang dulu membuatku jatuh cinta.

“Makasih, Kak!”

“Nah, ini buat kamu.” Ujarnya seraya menyodorkan sebuah kotak ungu berlapis pita keperakan. Saat ingin meraihnya, tiba-tiba ponselku berbunyi.

“Liat aja dulu. Siapa tahu penting.”

Aku lalu membuka ponsel dan mendapati notifikasi dari LINE. Ada dua pesan dari Reggie. Satu berisi foto dirinya bersama selembar kertas bertuliskan “Happy birthday Raizel. Love you.”

            Masih dalam keadaan setengah sadar, aku membuka satu file lainnya berisi rekaman suaranya.

            Selamat ulang tahun tukang ngambek! Jangan ganjen sama cowok lain, ya! Love you.

            “Siapa?”

            “Reggie.” Desahku pelan. Dia sepertinya mengerti maksud desahan itu.

I love you too,Gie..

            Kurasa stase selanjutnya yang mesti kulewati adalah stase cinta. Love stase.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s