BITTERSWEET

Aku pernah mengikuti bintang jatuh. Berharap saat aku menutup mataku, mengucap lirih untai doa dalam hati, Tuhan akan mengizinkan salah satu doaku terpenuhi. Kulakukan itu tiap kali memandangi langit. Tapi, kali ini aku mengganti doaku. Aku hanya mengucapkan satu kata.Kata yang sampai sekarang masih belum bisa menjadi milikku. Dia.
***
“Lo nggak usah mimpi!”
Aku masih memberengut, memindahkan mataku dari wajah cantik Audreya ke buku tahunan kampusku. Aku berharap bisa menyumpal mulutnya dengan kamus Dorland yang ada di dekat kakiku. Kalau saja aku tidak ingat sedang berada dimana, aku yakin aku sudah melakukan itu dua jam sebelumnya, sebelum dia mengatakan bahwa mengejar Steven itu adalah mimpi. Ya, aku sedang berada di kamarnya dan menyumpal mulutnya dengan kamus “saku” itu bisa saja termasuk tindakan kriminal dan aku tak mau dipenjara hanya karena melakukan hal konyol seperti itu.
“Apa menurut lo mencintai Rezky diam-diam itu nggak termasuk agenda mimpi lo?” Haha! Dia tak bisa berkutik lagi.  Wajahnya memerah dan aku tahu dia sedang menyiapkan strategi untuk membalas perkataanku.
“Menurut lo? Udah ah nggak usah dibahas!”
“Lo sendiri yang bahas duluan!” Gerutuku. Sumpah, meski dia termasuk sahabatku, aku paling kesal dengan mulutnya. Kalau saja  melumuri mulutnya dengan jalapeno tidak termasuk tindak kekerasan, itu akan kulakukan sekarang!
“ Please, deh. Kita ini sama-sama secret admirer dan sesama secret admirer dilarang saling mengejek!” ujarnya sembari memeletkan lidah.
So, siapa yang sebenarnya yang memulai pertengkaran bodoh ini? Dasar cewek aneh!
“Eits, lo tau gak? Gebetan lo itu baru putus! Gue baru mantengin instagram-nya dan gak ada satupun foto gebetan lo ada instagram mantannya!” seru Audreya sembari mengacungkan ipad-nya. Aku lalu memburu benda persegi panjang itu dan mulai memeriksa kebenaran ucapannya. Ah! Ternyata dia benar! Is it a dream? Aku menepuk pipiku dan merasakan sakit tersisa disana.
“Lo nggak mimpi!” ujar Audreya seolah tahu pikiranku. Aku kembali menekuni akun instagram tersebut. Mungkin saja ada satu foto terselip atau ada comment yang mengindikasikan  kalau hubungan mereka benar-benar berakhir. Gotcha! Tidak ada satupun foto! Tapi aku tidak bisa bersenang hati dulu karena tidak ada satupun comment  yang menunjukkan berakhirnya hubungan mereka dan ini berarti belum tentu mereka putus! Bisa saja sang kekasih cuma menghapus semua foto lama karena ia menyadari ke-alay-annya dan berniat mengganti foto itu dengan foto mereka yang lebih mesra lagi. Memikirkan itu malah membuatku mual.
“Lo nggak perlu cemas. Gue yakin dia nggak bakal segitu niatnya buat ngehapus semua foto dan menggantinya dengan foto yang lebih hot.” Gumam Audreya, lagi-lagi membaca pikiranku. Apa di keningku ini terlihat isi pikiranku?
“By the way, congrats! One step closer!” tambahnya. Aku hanya mengedikkan bahu, padahal dalam hati aku sudah berjingkrak-jingkrak dan berharap mentari pagi lebih cepat muncul. I’ll meet you soon, my love!
“Eh, besok kita kuliah sampe sore loh, gue baru dapet jarkom nih dari line.Damn!” Seketika gejolak hati hancur. Ah, kenapa kurikulum esok hari menunda pertemuan kami berdua. Sial!
“Yah, gue nggak bisa ketemu gebetan dong!” ucapku tanpa sadar.
“Yaelah, lo mau ketemu sekarang aja bisa!”  Mataku membulat. Apa Audreya sedang bercanda?
“Lo nggak lagi bercanda, kan?”
“Gue bukan wayang OVJ kali,” Dia lalu tertawa.
“So?” sergahku geram.
“ Wani piro?? Sushi So dan gue anggap impas!”
“Dasar pemeras! Yaudah, jelasin dulu. Kalo rencana lo terbukti ampuh, gue bakal traktir sampe perut lo meledak!”
“Jadi gini, lo pura-pura aja sakit, gue bawa ke rumah sakit, dia ketemu lo, lo bisa puasin deh temu kangen. Gue yakin itu berhasil!” Jelasnya panjang lebar. Gila! Mungkin FTV telah sebegitu besar meracuni otaknya sehingga yang ia bisa pikirkan hanyalah skenario sinetron picisan!
“Dia nggak sebodoh itu nerima pengakuan gue. Yang ada dia malah tau gue cuma cari alasan doang dan itu memperkecil kemungkinan gue bakal jadian sama dia!”
“Lo kan anak teater. Masa acting sakit aja nggak bisa sih!”
“Gue nggak bisa bohong kalo di depan doi, Drey!”
“Anggap aja doi itu gue. Beres kan? Lo kan paling mudah ngibulin gue!”
“Betul juga!”  Aku menganggukkan kepala. Ya, orang yang paling mudah kubohongi cuma Audreya seorang. Ternyata, ini bisa dijadikan siasat perang! Haha!
“Eh, lo mesti pegang janji lo!”
“ Janji apa?”
“ Baru dua menit lo bilang, itu… janji mau traktir gue!”
“ Oh, Dear! Lo nggak percaya amat sama gue, ya gue traktir asal rencana ini berhasil.  Buruan kita ke rumah sakit! Gue udah kena malarindu berat nih!”
“ Dasar yang lagi falling in love, segitunya..”
***
“ Aduh…” Aku pura-pura mengerang kesakitan. Audreya mengguncang-guncangkan tubuhku. Boleh juga acting-nya. Haha!
“Lo kenapa, Ki? Sabar ya, bentar lagi kita ketemu dokter!” Dalam hati, aku tersenyum melihat raut wajah Audreya yang terlihat begitu mengkhawatirkanku. Beberapa orang koas di ruang IGD buru-buru menemuiku, menanyakan keadaanku kepada Audreya. Kemana  Steven? Apa dia sedang tidak jaga?
“Temenmu kenapa?” tanya salah satu koas pada Audreya.
“Nggak tau kak, tiba-tiba aja perutnya kram.” Jelas Audreya singkat.
“Oh, kalo begitu kami periksa dulu, kamu silahkan keluar.”Perintah salah satu koas yang mungkin koas senior di IGD hari ini. Aku hanya menatap Audreya sekilas lalu dia pergi meninggalkanku bersama gerombolan koas yang mulai melucutiku. Satu dari mereka memeriksa tekanan darahku sembari meraba nadi, satunya lagi mendengar denyut jantungku, sedang sisanya hanya mengamatiku seperti cadaver baru yang patut diamati setiap sentimeternya. Dari sekian banyak koas itu, tak ada satupun dari mereka itu Steven. Lima menit kemudian, mereka menyelesaikan pemeriksaan mereka. Koas senior yang memimpin hanya tersenyum melihatku.
“Kamu nggak lagi pura-pura kan?” Ujarnya saat para koas lain sedang keluar.
“Maksud kakak?” tanyaku sembari memegang perutku.
“Ya, menurut pemeriksaan tadi, kamu nggak ada apa-apa.” Jelasnya.
“Oh, tapi kenapa perut saya mendadak kram?” tanyaku lagi.
“Kamu itu mungkin lagi stres. Mikirin seseorang?” tanyanya balik. Pria ini sepertinya memiliki kemampuan yang sama dengan Audreya! Apa begitu mudahnya isi otakku terbaca oleh semua orang?
“Hmm, mungkin.”  Ujarku. Aku lalu bangkit dari ranjang IGD tapi dia menahanku, membiarkan tubuhku terbaring disana.
“Kamu istirahat dulu.” Perintahnya, lalu kemudian menarik ujung bibirnya sebelum meninggalkanku. Ah, pria yang manis dengan senyum manis pula.
“Ciee yang nggak ada rotan akarpun jadi!” seru Audreya persis saat aku masih terhipnotis senyum manisnya . Ia mengedipkan mata sekali mirip pasien cacingan kronis.
“Apaan sih lo?” Aku mencubit lengannya kuat.
“Ya, gue tau lo nggak dapet Steven hari ini. Tapi cowok itu lumayan juga.” Ujarnya sembari menebarkan senyum penuh arti. Aku mengedikkan bahu, pura-pura tak peduli.
“As your information, gue nggak bakal traktir lo!”
“Kok lo gitu sih?” Audreya memberengut. Aku pura-pura menutup mata.
“Ya, karena kita gagal ketemu sasaran, seperti yang lo bilang,”
“Tapi kan…..”
“Udah ah,yuk kita cabut, gue nggak betah lama-lama di rumah sakit!”
“Gue masih mau ketemu kakak koas ganteng tadi!”
“Terserah, gue nggak doyan cowok kayak dia.” Aku beranjak dari bibir ranjang, mengenakan sepatu lantas pergi meninggalkan ruang itu.
“Berarti kakak itu buat gue ya!” teriaknya. Aku hanya mengangkat bahuku. Padahal Audreya itu penggemar berat Rezky dan sekarang saat dia menemukan orang lain yang sama kece-nya, dia malah mengejar orang itu. Dasar cewek tak berpendirian!
Aku lalu menyusuri koridor rumah sakit, berharap bisa menemukan pria yang belum lama ini mengisi setiap sel otakku. Pertemuan dengannya membuatkan jatuh cinta pada sekali pandang.  Waktu itu aku sedang tidak dijemput Pak Kirman, supir pribadiku. Aku menunggu taksi, tapi setelah setengah putaran arloji, belum ada satupun taksi lewat. Di saat kebingungan itu, aku melihat motornya melintasi halte. Karena aku tahu dia adalah salah satu kakak tingkat di fakultas kedokteran, aku langsung saja memanggilnya.
“Hei!” Teriakku, berharap ia mendengarnya. Keajaiban pun terjadi, dia menghentikan laju motornya dan menoleh ke arahku.
“Ada apa?” ujarnya seraya membuka helm. Aku terperangah, tak bisa berkata apa-apa. Dia lalu menjentikkan jemarinya di hadapanku.
“Ada apa?” ulangnya lagi. Aku yakin wajahku saat itu seperti orang bodoh.
“Saya boleh nebeng nggak?”  Dia mengangguk lalu mengangsurkan helm. Orang ini pura-pura baik atau lagi in the mood ya? Aku tak  benar-benar peduli kali itu. Yang kupikirkan hanyalah pulang dengan selamat.
“Gue suka ngebut. Kalo lo mau aman, lo nggak usah duduk kayak emak-emak!” Aku lalu membenarkan posisiku, duduk tak menyamping.
“Kalo lo nggak mau peluk gue, lo bisa pegang jaket gue.” Aku menurut. Dengan posisi seperti ini, aku bisa mencium aroma maskulin tubuhnya. Sepanjang perjalanan kami habiskan dalam diam karena aku tak tahu apa yang mesti kukatakan dan itulah adalah kali terakhir aku menemuinya. Pertemuan yang cuma bisa ku museum-kan dalam sel otak.

Path to your heart

“Jangan pernah berusaha keras menyakiti dirimu sendiri.”

“Maksudmu?”

“Kau tidak usah pura-pura bodoh. Aku cukup tahu dirimu dan bagiku kau tak ubahnya seperti landak yang mencabuti durinya satu persatu.”

“Kau tidak benar-benar mengenalku.”

“Justru aku sungguh mengenalmu, Na.”

“Kamu sok tahu!”

Aku bergegas meninggalkannya. Aku paling malas berurusan dengan pria sok tahu macam Gerrald.Dia pasti sudah memasang senyum lebar, merasa semua yang dikatakannya tadi benar. Huh, dasar kastil es berwajah malaikat! Wait, aku tidak perlu memujinya berlebihan. Hmm, kuakui wajah tampannya itu selalu gagal disembunyikan walau hanya dengan balutan pakaian sederhana. Tapi, sifat gue-tau-semua-hal yang bersarang di tubuh atletisnya itu membuatku ingin menyumpal mulutnya dengan sandwich isi kalkun yang baru kubeli tadi.

 

AMNESIA

            Biarkanlah kisah ini tetap menggantung, menanti akhir yang diimpikan sang penulis skenario. Tak mengapa, meski sang pungguk harus merindu bulannya lebih lama lagi, asalkan semuanya sesuai yang diharapkan. Asal kau ingat, bahwa semuanya harus berakhir indah. Tanpa ada derai air mata berlebihan, kisah ini harus menjadi kisah manis yang menyimpan kenangan indah bagiku dan dirinya.

***

            “Udah, nggak usah manyun lagi.”

             “Terserah aku dong.”

            “Kamu nggak bisa begini terus.” Ujar Jingga geram. Meski matanya terpaku pada jalan di hadapannya, ia masih bisa mengintip raut wajah Lintang. Gadis berparas ayu itu memasang wajah cemberut jika ia sedang kesal dan itu biasanya akan membuat Jingga melunak.

            “Jadi, kamu maunya apa?”

            “Jauhi cewek itu! Aku nggak suka!”

            “Sayang, aku kan udah bilang, kalau dia itu cuma temen, nggak lebih.”

            “Tapi kan, bisa aja dia menganggap kamu lebih.”

            “Kamu nggak perlu negative thinking ke orang lain, nggak baik.”

            “Tuh kan! Kamu belain dia! Udah turunin aja aku disini!” ujar Lintang sembari mengguncang-guncangkan tubuh Jingga.

             “Oke.”

            Jingga lalu menepikan mobilnya, membiarkan Lintang pergi. Lintang sendiri sebenarnya tidak benar-benar ingin Jingga pergi. Ia hanya ingin Jingga menurutinya karena itulah yang biasa pria itu lakukan padanya. Tapi kali ini, pria yang dicintainya itu benar-benar menurunkannya dan ini membuatnya benar-benar kesal. Jangan-jangan Jingga memang ada apa-apa dengan perempuan itu?  Ia menggeleng keras dan berharap ia bisa mematahkan hidung mancung perempuan itu kalau saja ia berani merebut Jingga darinya.

            “God, gue lupa bawa tas pula!” Ia menepuk jidatnya, tersadar kalau tasnya tertinggal di dalam mobil Jingga. Bagus, sekarang selain tak punya uang untuk pulang, ia juga tak punya ponsel untuk menghubungi Pak Asep, sopir pribadinya.

             Hari sudah beranjak malam dan ia tahu daerah ini tidak aman. Sialnya, setelah menunggu setengah putaran jam, ia masih belum menemukan taksi kosong. Kekesalannya semakin menumpuk dan siap untuk diledakkan kapanpun juga. Ia buru-buru melangkah, menyeberang ke sisi lain, berharap ada ojek atau apapun yang bisa membawanya pulang.

            Begitu ia ingin menyeberang, ia tak memperhatikan lagi keadaan dan yang ia tahu hanyalah pandangannya berubah gelap.

***

            Lintang membuka matanya. Kepalanya masih berdenyut. Ia meraba keningnya dan mendapatkan perban disana. Ia memandang ke sekeliling. Ruangan putih dengan aroma antiseptik yang menyengat itu pasti sebuah ruang  klinik atau ruamh sakit. Ia menoleh ke lengan kiri dan mendapati infus menempel erat. Ia tak ingat apa yang terjadi sebelumnya. Meski ia berusaha mengingat, menggali informasi tentang keberadaan dirinya, ia tak tahu.   

            “Kamu sudah sadar?” ujar seorang wanita paruh baya yang sama sekali tak dikenalnya.

            “Anda siapa?”

            “Saya yang menolong kamu. Kamu mengalami kecelakaan dan hanya keajaiban yang membuatmu bisa bertahan.”

            “Saya? Kecelakaan?”

            “Iya. Sekarang, kamu bisa beritahu saya dimana kamu tinggal?  Mungkin orangtuamu khawatir. Namamu siapa?”

            “Nama?” Kepalanya makin berdenyut saat ia berusaha mengingat semua itu.

            “Iya, nama kamu.”

            “Saya tidak tahu.” Wanita itu menampakkan raut wajah terkejut.

            “Kamu tidak ingat?”

            Lintang menggeleng. Ia memukul-mukul kepalanya, berusaha mengingat semuanya. Nihil, isi kepalanya seperti diformat habis, tak bersisa sedikitpun.

***

            “Saya bersedia merawatnya.” Ujar Edgar lantang, meski ia belum sepenuhnya yakin dengan apa yang diucapkannya barusan.

            “Apa kamu yakin? Bisa saja dia pura-pura lupa ingatan dan sengaja membuat kita kasihan padanya.” Ujar seorang ibu yang membantunya membawa wanita itu ke klinik ini.

            “Ya, tapi bisa saja sebaliknya. Ia benar-benar lupa ingatan dan perlu bantuan.”

            “Baiklah, itu terserah padamu saja. Yang jelas, aku sudah memperingatkanmu.”

            Ia meninggalkan wanita paruh baya itu lalu memberanikan diri memasuki ruangan itu. Wanita itu tampak sedang tertidur. Dipandanginya raut wajah wanita itu. Garis-garis wajahnya persis seperti wanita yang ia temui dua tahun lalu, saat ia dirawat di rumah sakit TNI. Wanita itu menjadi salah satu dokter yang memeriksa kondisi tentara-tentara yang barusaja mendarat dari Kongo dalam misi perdamaian. Wanita yang berani menyimpan kenangan dalam otaknya, yang membuatnya jatuh cinta pada sekali pandang.

            Apa ini murni kebetulan? Ia menemui wanita itu dan sekarang ia dalam keadaan lupa ingatan. Ia bisa saja mengaku kalau wanita itu adalah istrinya dan ia berani bertaruh wanita itu tak akan mencurigainya. Tapi ia tahu itu terlalu egois dan ia ingin wanita itu menyukainya tanpa ada keterpaksaan dan kebohongan.

            Ia membelai rambut wanita itu dan mendapati wajah berbentuk hati itu tiba-tiba  terkesiap. Ia terbangun. Buru-buru ia menarik jemarinya dari wanita itu.

            “Kamu siapa?”

            “Edgar.”

            “Edgar?”

            “Ya. Sahabatmu.”

            “Bisa kau beritahu apa yang terjadi padaku?” Edgar lalu menarik napas panjang dan mulai merekayasa semuanya.

            “Jadi namaku Arana dan aku yatim piatu?”

            Edgar mengangguk. Berhasil. Wanita dihadapannya ini benar-benar mempercayainya dan setidaknya ia bisa bernapas lega untuk sementara waktu.

           

           

 

LAST UNNAMED

Sebelum upload yang terakhir, aku cuma mau ngucapin terimakasih buat yang udah baca,komen,kritik,saran sampe akhinya kelar juga novela pertama aku :’)

Oh, ya novela ini aselinya aku kasih nama “Love Stase” dan aku kirim buat lomba di gramediana.com, doakan smoga menang yaaa ❤

 

-Raizel POV-

            “Udah, lo nggak usah buang air mata lo cuma buat orang PHP macam residen ababil itu,”

“Lo nggak ngerti gimana rasanya jadi gue,”

“Justru karena gue sangat mengerti diri lo, gue nggak mau lo terhanyut. Just move on, babe! Life must go on,”

I wish i could be together with him,”

” Kadang nggak semua keinginan kita bisa terwujud. Lo yakin aja bahwa ada seseorang di luar sana yang menunggu lo dan orang itu bukan Reggie.”

Tria mengangsurkan tisunya padaku. Ya, dia memang benar. Hidup harus terus berjalan . Setidaknya aku tahu dari awal kalau dia memang tidak menyukaiku. Ya, aku harus bersikap realistis. Mungkin jalan kami memang ditakdirkan untuk tidak bersimpangan.

Sejenak, semua mahasiswa menutup mulut mereka rapat. Mungkin, dosen sudah masuk. Aku menolehkan kepalaku ke arah pintu utama dan mendapati seseorang yang tidak ingin kilihat wajahnya sekarang Apa aku bermimpi? Tidak, aku rasa tidak. Tapi, bukankah blok obgin sudah berlalu dan itu artinya dia tidak ada urusan disini?

“Kok dia bisa ada disini?”

Aku mengintipnya dari ujung mataku. Dia tak melirik sedikitpun kepadaku. Oke, mungkin sekarang dia sudah belajar melupakanku dan aku juga harus berusaha melupakannya.

Begitu tiba di depan meja komputer, ia segera membuka file dan menyiapkan presentasi. Lalu, dia mengambil kertas absen dan mulai mengabsen mahasiswa satu persatu— hal yang tak pernah ia lakukan sebelumnya. Aku sendiri tak mau ambil pusing.

            “Albert Alviano…”

            “Devita Angelia…”

            “Diego Marcellino..”

            “Hesti Fitria…”

            “Keano Bramadista..”

            “Raizel Anindita,” Aku mengangkat tangan dengan lesu. Sejujurnya, aku tidak bisa membohongi gejolak yang membuncah, karena entah kenapa jantungku terasa berdetak lebih cepat saat dia memanggilku. Tapi, ego yang terlalu menguasai hati membuatku menahan perasaan, mencegahnya keluar, agar Reggie tak tahu kerinduanku yang dalam padanya.

            Setelah ia memanggil satu persatu mahasiswa, lima menit kemudian dokter Rudi datang. Perkuliahan berlangsung singkat, karena dokter Rudi harus mengerjakan operasi pemisahan bayi Friska-Florent, sepasang kembar siam. Seperti kebanyakan dosen, dokter Rudi menyuruh Reggie menandatangani logcard kami. Tak seperti biasa, ia tidak menampakkan wajah masamnya. Ia tampak tersenyum dan tak mengeluh. Aneh.

            Saat dia menandatangani kartu hijau itu, aku seperti dipaksa merangsek masuk ke masa lalu, saat dia memintaku membantunya menandatangani sebagian kartu hijau itu. Kenangan itu mengitari otakku, seperti kaset rusak yang memutar bagian yang sama berulang-ulang. Aku ingin sekali kembali pada masa itu.

            Setelah selesai menandatangani logcard, ia melenggang keluar, seolah tak mengenaliku. Apa dia tidak menganggapku lagi? Aku tahu bahwa aku kemarin terlalu emosi sehingga meninggalkannya begitu saja. Tapi siapa yang tidak emosi melihat orang yang sudah lama kau cintai hanya mempermainkanmu.

            Sepertinya ada yang berbeda pada dirinya hari ini. Ya, kumis tipis yang setia bertengger di wajah macho-nya kini menghilang. Mungkin kemarin dia bercukur dan efek aftershave-nya membuat wajahnya terlihat lebih segar dan muda. Tapi sejujurnya aku lebih menyukai penampilannya dulu. Hmm, tapi bukan itu saja yang berubah. Ada sesuatu yang hilang darinya. Biasanya dia akan bersikap sok ganteng dan membuatku salah tingkah. Hari ini dia cenderung diam, seperti memikirkan sesuatu. Mungkin dia sedang ada masalah dengan Freya.

            Jujur, aku masih mencintainya. Perasaan yang kupupuk bertahun-tahun tak bisa kuhilangkan begitu saja. Mungkin aku sudah terlalu mencintainya, hingga sulit sekali melupakannya.

 

-Richie POV-

            Saat matahari mulai menampilkan rona merahnya, aku dan Reggie sedang duduk di balkon. Hari ini Reggie telah dilantik menjadi dokter spesialis. Aku tak menyangka hari ini akan datang juga. Di balkon, tampak beberapa bungkus keripik kentang, dua kaleng minuman ringan dan gitar kesayangan Reggie. Ia memetik gitarnya perlahan, menyanyikan lagu This Love. Entah kenangan apa yang ada di lagu itu sehingga ia memainkan lagu itu berkali-kali.

            “ Senja disini paling indah,” ujarnya kemudian dengan suara mendesah.

            “Iya.” Balasku, tak kalah pelan. Aku menyodorkan kaleng minuman padanya, lalu ia meneguk pelan isinya.

            “Gue nggak nyangka gue udah jadi dokter spesialis,”

            “Ya, dan sekarang gue mesti manggil lo dengan sebutan dr.Reggie Harmoko,Sp.OG.”

            Dia menoyor pelan pundakku. “ Dan lo kapan nyusul gue?” sindirnya.

            “Secepatnya.”

            Lalu dia kembali memainkan gitarnya. “ Lo sendiri kapan mau melamar Freya?”

            Ia berhenti memetik gitar dan menoleh kearahku. Sedikit terperangah mendengar apa yang baru saja keluar dari bibirku. “ Gue belom kepikiran,”

            “Lo mesti segera memutuskan. Lo tau? Kodrat wanita itu menunggu. Lo mau Freya nikah dengan orang lain cuma karena gak tahan nunggu kepastian dari lo?”

            “Itu berarti gue dan dia belum jodoh.” Jawabnya enteng.

            “Jodoh atau nggak itu tergantung dari sikap kita. Kalo lo emang nggak niat, lo pasti berpikir kalo semua ini emang ditakdirkan Tuhan.”

            “Ya. Sejauh ini gue belom berpikiran sampe kesana. Gue masih ragu.”

            “Hati lo masih nyangkut di Raizel?”

            “Nggak.”

            “Artinya lo udah bener-bener ngelupain Raizel?”

            Dia terdiam. Aku sendiri tidak tahu apa yang menggelayuti pikirannya saat ini. “Gie, lo mesti sadar kalo Raizel cuma masa lalu. Lo mesti menatap masa depan. Kecuali kalo lo emang nggak mau masa depan lo adalah Freya.”

            “Lo nggak paham,”

            “Gue paham. Sangat paham. Mungkin ini saatnya buat lo memutuskan apakah lo mesti melupakan Raizel dan mulai mencintai Freya seutuhnya atau malah lo berhenti berpura-pura mencintai Freya dan mengejar cinta Raizel.”

            “Gue nggak berpura-pura mencintai Freya.”

            “Terserah lo. Gue nggak butuh bantahan dari lo. Gue cuma mau lo jujur sama diri lo sendiri,”

            “Tolong lo jaga Raizel, buat gue.” Dia menyentuh pundakku dan beranjak pergi.

 

-Raizel POV-

            Delapan bulan kemudian…

 

            Ketika masa lalu memaksamu mengingat

            Semua memori yang berpendar kebiruan

            Aku tahu ini bukan saatnya berlari

            Karena mentari mengingatkanku untuk membiarkanku kembali

            Agar masa lalu mengukirkan takdir baru

           

            “Gue nggak nyangka kita udah koas aja,”

            Ya. Delapan bulan berlalu dan kami sekarang sudah berganti status, menjadi seorang koas. Layaknya bunga yang baru mekar, masa awal koas adalah masa yang indah. Mengenakan baju putih, baju kebanggaan para koas, adalah impianku sejak awal masuk kuliah.Terbayang olehku suasana riuh di rumah sakit, sibuknya aku dan koas lain, dan seabrek tugas yang dulunya tak pernah kami pikirkan sebelumnya. Ya, itu bukan masalah. Aku lalu teringat peribahasa “ Semakin tinggi pohon, semakin kencang angin menerpa”. Semakin tinggi tingkat pendidikan, tentu semakin banyak masalah yang dihadapi.

            “Lo dapet stase apa?”

            “Obgin.” Sahutnya ringan. Mendengar kata obgin mengingatkanku akan sosok Reggie. Bagaimana kabarnya? Aku sendiri tidak tahu pasti. Sejak dia datang ke kampus waktu itu, aku tak pernah bertemu dengannya lagi. Ah, aku naif bila aku mengatakan bahwa aku tidak merindukannya.

            “Kalo lo ?”

            “Bedah.” Balasku.

            “Gue baru dapat kabar kalo Reggie udah jadi dokter spesialis.” Aku ber-ooh ria. Bahkan ketika dia sudah menjadi dokter spesialis pun, dia tak sedikitpun mengabariku. Mungkin aku bukan siapa-siapa lagi baginya.

 

-Richie POV-

            Jam beker di kamarku memecah kesunyian. Aku bangun dengan malas. Kadang aku menyesal kenapa aku lebih memilih PTT dulu dibandingkan meneruskan kuliah spesialis. Kuliah spesialis yang cukup terlambat ini memaksaku menyiapkan tenaga ekstra. Ditambah lagi, Departemen Bedah di rumah sakit tempatku bernaung selalu padat. Kami sebagai residen kadang kewalahan melayani mereka. Untunglah ada beberapa koas yang meski belum terampil, mereka cukup cekatan dalam membantu pekerjaan kami.

            Aku segera menuju kamar mandi, menghidupkan keran air hangat. Butir- butir air hangat yang keluar dari shower membuatku rileks. Setelah mandi, aku mengambil baju snelli bersih di lemari, mengambil nametag di baju lamaku dan notes kecil di dalam laci.

            Setelah semua siap, aku bergegas menuju rumah sakit. Sepuluh menit berlalu dan segera saja aku telah tiba di departemen bedah. Koridor rumah sakit masih sepi. Aku menuju ruang tempatku menaruh barang-barangku. Disana ada seorang koas wanita yang tengah sibuk membaca buku. Raut wajahnya tak tampak karena ia menghadap ke samping. Tapi potongan rambut itu membuatku tersadar kalau itu adalah Raizel.

            “Raizel?” Dan gadis itu lalu menatapku dengan mata membulat.

            “Lo? Bukannya lo udah tamat?” tanyanya.

            “Saya belum tamat.” Jawabku pelan.

            “Kok bisa lo ada dua departemen dalam waktu yang berbeda?” Ia masih bingung. Ya, wajar saja ia bingung. Bagaimana mungkin satu orang yang sama ada di dua tempat yang berbeda.

            “Saya bukan Reggie.”

-Raizel POV-

            “Saya bukan Reggie.”

            “Lo nggak usah sok formal deh. Gak asik tau!”

            “Kamu yang mestinya sopan. Saya ini lebih tua dari kamu.”

            “Biasanya lo nggak masalah dengan panggilan gue.”

            “Karena saya bukan Reggie, tolong jangan perlakukan saya seperti kamu memperlakukan Reggie.”

            “Kalo lo bukan Reggie, lo siapa? Kembarannya?”

            Dia mengangguk pasti. Tapi, bagaimana bisa? Selama ini Reggie tak pernah menceritakan masalah ini padaku. Jadi, kalo bukan Reggie yang menemuiku tiga tahun lalu, itu berarti pria ini yang kutemui? Oh, dear. Aku mencintai orang yang salah selama ini.

            “Jadi nama kakak siapa?” ujarnya, melunak.

            “Richie. Richie Harmoko.”

            “Kalo kakak adalah kembaran Reggie, kok kalian nggak tamat bareng?”

            “Bukan urusan kamu!” Sergahnya. Dia berlalu, pergi meninggalkanku.

            “Kok nih orang ngeselin banget sih!” gumamku.

 

-Richie POV-

            Semenjak aku menjelaskan bahwa aku dan Reggie kembar, aku semakin dekat dengan Raizel. Memang, kadang ada pertengkaran kecil diantara kami berdua. Tapi aku maklum. Aku kadang terlalu kaku terhadapnya, sedang dia menganggapku layaknya Reggie yang easy going. Seperti saat ini, saat aku dan dia sibuk memilih tempat makan siang.

            “Di Java Freeze aja, kak!” Aku membayangkan kami berdua duduk berhadapan. Raizel tersenyum malu-malu. Ah, itu bukan tempat yang pas! Terlalu romantis bagi orang kaku sepertiku. Lucu pasti. Lagipula, tempat itu cukup jauh dari rumah sakit. Bagaimana kalau ada pasien gawat darurat sedangkan kami baru melahap sesendok makanan? Aku buru-buru memikirkan tempat yang dekat saja dari rumah sakit.

            “Pizza Hut!” Mendengar ide itu, ia memberengut.

            “Kalo tau kita makan di Pizza Hut, nggak usah naik mobil juga bisa!” Ujarnya sembari mengerucutkan bibir. Tapi begitulah dia, tak sampai lima menit, mood-nya langsung berubah, apalagi kalau sudah melihat menu makanan. Segera saja dia memesan dua pan pizza.

            “Pelan-pelan makannya, entar kamu tersedak.”

            “Uhuuk…”

            “Nah kan, apa aku bilang.” Aku lalu menyodorkan gelas padanya. Dia meminumnya cepat.

            “Eh, aku mau tanya, kenapa kamu nggak pernah manggil dia dengan sebutan ‘kakak’ seperti panggilanmu ke aku?”

            “Karena dia itu kayak ababil. Jadi belom pantes dipanggil kakak.”

            Aku tertawa. Memang, tingkah Reggie masih saja seperti ABG labil. Tapi, memang seperti itulah dia.

            “Ya, setidaknya kamu panggil dia kakak.”

            “Terserah aku dong, Kak!” ujarnya sembari memeletkan lidah.

            “Eh, operasi tadi itu gimana kak?”

            “Oh, operasi laparotomi tadi? Sukses kok. Untung usus yang nekrosis nggak terlalu panjang, jadi ligasi-nya nggak terlalu sulit.”

            “Entar jelasin ya kak. Soalnya operasi tadi katanya mau masuk ujian.”

            “Oke. Ngomong-ngomong kamu nggak kangen sama Reggie?”

            Dia terdiam. “Apa perlu aku kangen sama dia? Dia kan udah punya pacar, Kak.”

            “Nggak ada salahnya rindu sama seseorang, apalagi seseorang yang pernah berarti buat kita.”

            “Jadi kakak pengen aku kangen sama Reggie?”

            “Ya, nggak gitu juga sih. Aku maunya kamu jujur sama perasaanmu sendiri. Jangan sampai orang lain lebih memahamimu ketimbang dirimu sendiri.”

            “Jadi kakak merasa lebih mengenalku?”

            “Mungkin. Kamu itu terlalu mudah dibaca.”

            “Jadi apa yang kakak baca sekarang dari wajahku?” Dia menunjuk wajahnya. Aku terkekeh geli.

            “Kenapa ketawa? Emang wajahku kayak topeng monyet?”

            “Iya.”

            “Ih.. kakak ini ngeselin banget sih!”

            “Kamu sih..”

 

-Raizel POV-

            Aku maunya kamu jujur sama perasaanmu sendiri. Jangan sampai orang lain lebih memahamimu ketimbang dirimu sendiri.

            Kata-kata kak Richie tadi menggaung terus di telingaku. Aku sendiri sebenarnya masih mengharapkannya kembali. Tapi, aku tahu bahwa mengharapkan kekasih orang lain adalah sebuah kesalahan besar. Aku tidak mau seperti itu. Itulah kenapa selama ini aku mengubur dalam-dalam rasa itu. Membiarkannya gersang, hilang perlahan, dan sampai akhirnya habis tak bersisa. Tapi, aku tak bisa. Semakin aku berusaha melupakannya, semakin kuat dia bercokol di kepalaku.

            Aku sendiri tidak tahu harus bagaimana. Apa aku harus mencari penggantinya? Tapi itu berarti aku terlalu egois. Aku menjadikan seseorang sebagai pelarian. Itu akan menambah masalah baru nantinya. Tapi, aku sudah terlalu lelah didera rasa ini. Aku ingin keluar, tapi sebagian hatiku memaksaku bertahan.

            Dan, tentang kak Richie, seseorang yang perlahan memasuki kehidupanku. Aku tahu dia hanya ingin aku jujur pada perasaanku. Aku yakin dia adalah orang yang selama ini aku cari. Tapi aku sadar, orang yang kucintai adalah Reggie. Richie hanyalah alasan yang membawaku mencintai Reggie.

 

-Raizel POV-

            “Kamu mau makan dimana? Ayo aku traktir hari ini.” Ujar Kak Richie. Tidak biasanya dia yang duluan mengajakku.

            “Terserah kakak aja deh.”

            Dia lalu membawaku ke suatu kafe yang baru beberapa hari dibuka. Aku barusaja mendengarkan Tria bercerita tentang tempat ini. Suasana disini lumayan menyenangkan. Interior bangunan disusun sedemikian rupa sehingga kita seolah berada di pesawat. Pelayannya pun mengenakan baju ala pramugari dan pilot. Aku akan menandai tempat ini sebagai tujuan hangout berikutnya.      

            “Kamu udah pernah kesini sebelumnya?” Aku menggeleng.

            “Berarti aku adalah orang yang pertama mengajakmu?”

            “Iya. Ngomong-ngomong baru dapet proyek ya? Kok tiba-tiba mau traktir aku?”

            “Kamu nggak perlu tau sekarang.” Ujarnya sembari menebarkan senyum penuh arti.

            “Mbak dan mas mau pesan apa?” tegur pelayan itu ramah.

            “Kamu mau apa, Zel?”

            “Terserah kakak deh.”

            “Oke, keluarin makanan yang paling spesial disini ya, Mbak!”

            “Oke, Mas. Silahkan ditunggu pesanannya.”

            Tak sampai sepuluh menit pesanan kami keluar. Pelayan itu membawa kereta dorong berisi nampan besar. “Kak, uang kakak cukup, kan?” ujarku sembari menelan ludah. Aku tak membawa uang sepeser pun dan dengan makanan sebesar itu aku bisa memperkirakan betapa mahalnya hidangan yang tersembunyi di dalamnya.

            “Kamu tenang saja.”

            Begitu pesanan itu diletakkan di mejaku, aku membuka penutupnya dan mendapati dua puluh satu cupcake mini berhiaskan miniatur animasi dokter. Lucu sekali. Rasanya sayang untuk melahapnya.

            “Happy birthday. Semoga kamu bisa mendapatkan apa yang kamu inginkan.” Dia mengacak-ngacak rambutku lalu tersenyum. Senyum yang mengingatkanku akan sosoknya tiga tahun lalu. Senyum yang dulu membuatku jatuh cinta.

“Makasih, Kak!”

“Nah, ini buat kamu.” Ujarnya seraya menyodorkan sebuah kotak ungu berlapis pita keperakan. Saat ingin meraihnya, tiba-tiba ponselku berbunyi.

“Liat aja dulu. Siapa tahu penting.”

Aku lalu membuka ponsel dan mendapati notifikasi dari LINE. Ada dua pesan dari Reggie. Satu berisi foto dirinya bersama selembar kertas bertuliskan “Happy birthday Raizel. Love you.”

            Masih dalam keadaan setengah sadar, aku membuka satu file lainnya berisi rekaman suaranya.

            Selamat ulang tahun tukang ngambek! Jangan ganjen sama cowok lain, ya! Love you.

            “Siapa?”

            “Reggie.” Desahku pelan. Dia sepertinya mengerti maksud desahan itu.

I love you too,Gie..

            Kurasa stase selanjutnya yang mesti kulewati adalah stase cinta. Love stase.