UNNAMED-7

-Raizel POV-

“Bisa gak lo cuma liat ke gue, bukan yang lain?” Reggie mengucapkannya mantap sembari menatap ke dalam kedua mataku. Mataku sendiri mengerjap-ngerjap, otakku berhenti bekerja dan jantungku berhenti memompakan darah. Apa telingaku salah menangkap gelombang suaranya? Tidak, aku rasa tidak. Aku barusaja memeriksakan diriku ke dokter THT lantaran telingaku kemasukan air dan ia bilang bahwa pendengaranku dalam kondisi prima. Tuhan, bisa Kau putar lagi waktu? Agar aku bisa merekam kata-kata itu di otakku sekali lagi. Agar aku bisa meyakinkan diriku bahwa yang kudengar itu tak salah.

Dia lantas mengembalikan pandangannya ke balik kemudi. Suasana disitu terasa serba canggung. Aku sendiri tidak tahu mesti berbuat apa. Aku akui bahwa sebuah tanya itu adalah pernyataannya secara tak langsung akan perasaannya selama ini. Pantas saja dia selalu tak menyukai ada laki-laki yang mendekatiku. Dia cemburu, dan sebagian besar survey membuktikan bahwa cemburu itu tanda cinta. Cinta!!

Aku tidak sanggup lagi memikirkan kenyataan indah apa yang nantinya akan muncul di hidupku. Aku menatapnya dari ujung mataku dan menangkap kegelisahan dari gerak-geriknya. Mungkinkah akan ada sebuah pernyataan lagi ?

“Gie,”

“Hmm,”

“Lo nggak apa-apa?” Ia mengangguk dalam diam. Ia melajukan kendaraan hingga tak terasa telah tiba di depan rumahku.

“Gie,” Aku kembali memanggilnya.

“Untuk pertanyaan lo, gue rasa lo tahu jawabannya,” Aku tersenyum sekilas dan membiarkan mobilnya melaju pergi, meninggalkan hatiku yang masih bersemu merah.

-Reggie POV-

“Untuk pertanyaan lo, gue rasa lo tahu jawabannya,” ujarnya. Gue sendiri gak tahu gue mesti seneng atau malah sedih. Dari sorot matanya gue tahu dia sudah mulai menaruh hati ke gue. Gue sendiri gak terlalu peduli. Dia masih terlalu kecil buat gue. She’s too young for me.

Tapi, kenapa tadi gue malah ngomong asal? Dia pasti menduga kalo gue juga punya rasa ke dia. Akhir-akhir ini otak gue selalu gak sinkron ama mulut. Ada aja yang membuat orang menyalahartikan ucapan gue.Oke, kita anggap apa yang gue udah bilang tadi ngawur, tapi masalahnya adalah kenapa gue malah suka saat dia menunjukkan perasaannya ke gue. Ada sesuatu yang membuat gue selalu nyaman bersamanya. Apa mungkin gue udah mulai suka juga sama Raizel? Gue menggeleng keras.

She’s too young for me.

Gue lalu menekan angka delapan. “Fre, gue tunggu di tempat biasa.”

-Freya POV-

“Fre, gue tunggu di tempat biasa.” Ia langsung menutup telepon dan belum membiarkan gue menjawab. Gue sendiri agak cemas mendengar suaranya tadi. Nggak biasanya dia mengeluarkan suara seperti itu. Dia bukan tipikal orang yang dengan mudah menunjukkan apa yang dia rasa sebenarnya. Dari nada bicaranya, gue yakin kalo dia ada masalah dan gue adalah satu-satunya hati yang mau menjadi tong sampah segala gundahnya.

Gue lalu bergegas menuju tempat yang ia maksud. Sepuluh menit berlalu dan gue akhirnya tiba disana dan mendapati kegelisahan hatinya. Gue nggak langsung menegurnya, gue malah membuat secangkir cokelat hangat, satu-satunya hal yang membuat hatinya membaik.

Setelah selesai, gue keluar dari dapur dan mengangsurkan cangkir cokelat hangat itu padanya. Dia menyesapnya sekali, lalu mulai mengeluarkan ekspresi gue-selalu-suka-buatan-lo ke arah gue. Ya, cokelat hangat buatan gue adalah ternikmat nomor dua setelah buatan nyokapnya.

Gue lalu merapatkan kursi dan mulai menginterogasinya.

“Lo kenapa? Lo tau? Gue mesti berlarian sepanjang koridor, memastikan apa lo baik-baik aja dan setelah menyesap cokelat hangat buatan gue, lo malah senyum-senyum! Lo kemasukan jin galau ya?”

Dia tersenyum lagi. Ah, gue lega mendapati senyum itu di wajahnya. Gue merasa beban di pundak gue sedikit terangkat. “Hei, kenapa senyum-senyum lagi?”

“Lo nggak kesurupan hantu patah hati kan, Gie?” Gue menempelkan tangan ke keningnya. Normal.

Dia menarik tangan gue lalu menggumam. “ Gue suka sama lo,” Lalu memeluk tubuh mungil gue erat.Gue masih belum bisa menyaring apa yang keluar dari mulutnya tadi dan anehnya gue malah membiarkanya mendekap tubuh gue. Gue juga suka sama lo.

-Reggie POV-

Freya datang setelah sepuluh menit lalu gue menghubunginya. Tuhan, entah bagaimana gue menjelaskan perasaan ini sekarang. Freya yang selalu membuat gue nyaman, menawarkan kehangatan dari setiap senyum manisnya, selalu tahu cara membuat gue bahagia. Mungkin karena kami sudah bersahabat sejak lama, sehingga dia tahu gue sampe hal paling kecil sekalipun. Dia yang selalu mengkhawatirkan gue. Dia yang selalu tahu apa yang gue rasa.

Seperti saat ini, begitu tiba ia langsung masuk ke dapur dan gue yakin dia sedang membuat cokelat hangat kesukaan gue. Kenapa gue dengan begitu bodohnya, sepersekian detik yang lalu berpikir bahwa gue menyukai Raizel? Gue salah.Gue tahu gue salah.

Gue menarik tangannya dari kening gue lantas mendekap tubuhnya, merapat ke gue. “ Gue suka sama lo,”

Entah kenapa gue rasa dia juga menyukai gue, karena ia gak melepaskan pelukan gue. Gue merasa gak perlu apa-apa lagi, selain keberadaan dan hatinya. Cukup itu dan gue tahu diapun mengiyakan dalam hati.

Sekarang gue baru ngerti maksud ramalan itu.Gue sudah memilih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s