UNNAMED 6

-Raizel POV-

Satu setengah jam di depan tumpukan modul membuatku mual. Ternyata banyak juga yang sudah kami pelajari. Pemeriksaan obstetri dan ginekologi, pemasangan IUD, pemeriksaan IVA dan pap smear, kuretase, serta resusitasi neonatus. Saat Reggie dan residen lain menerangkan, mereka hanya menerangkan poin-poinnya saja. Saat melongok ke modul, barulah aku sadar bahwa semuanya mesti dimasukkan kepala dan aku bukan tipikal orang yang dengan mudah menghapal dalam kurun waktu singkat. Aku pernah bertanya pada kakak tingkat dan mendapati kemuraman di wajahnya. Baiklah, sekarang aku mulai bergidik ngeri membayangkan apa yang terjadi besok.

Tria sedang sakit jadi ia tak mengikuti ujian blok ini. Biasanya kami akan belajar bersama, saling bertukar informasi dan menghapal sampai larut malam. Kami punya kebiasaan, yaitu begitu besok ujian OSCE berlangsung, salah satu dari kami akan menginap di rumah yang lain, sehingga kami punya waktu lebih untuk belajar. Sekarang, teman belajarku sedang absen dan itu artinya aku harus merelakan diriku begadang sendirian.

Lo telpon aja Reggie. Sekali mendayung, dua-tiga pulau terlampaui.

Begitu pesan singkat yang terkirim ke ponselku. Aku tahu ini saatnya aku bertemu dengannya, belajar sekaligus melepas rindu. Tapi aku terlalu takut untuk memulai. Berkali-kali aku mengetik message untuknya, tapi akhirnya message itu selalu mendarat di draft, bukan sent item.

Dia kayaknya tau bocoran soal besok.

Aku akhirnya menghubungi Reggie, berharap ia benar-benar tahu soal apa yang keluar esok hari. Setelah terdengar nada tunggu tiga kali, barulah kumerasakan gendang telingaku disentuh lembut oleh suara beratnya di ujung sana. Aku tersenyum, baru tersadar kalau aku sudah tidak mendengar suaranya seminggu terakhir. Rasanya seperti sudah lama sekali.

“ Halo? Ada apa, Zel?”

“Lo sibuk gak hari ini? Gue mau minta ajari buat OSCE besok”

“Hmm, lumayan sih,”

Percakapan itu menggantung sesaat, sampai akhirnya kudengar dia sudah bicara lagi “ Kita ketemuan di tempat biasa jam lima sore,”

Aku tidak langsung menjawab iya karena aku masih trauma kejadian waktu itu. Dia sepertinya mengetahui itu.

“Gue nggak akan lupa,” Dia menambahkan dan aku tahu kali ini ia benar-benar serius.

-Reggie POV-

Begitu Raizel menelpon, gue baru sadar kalau besok adalah ujian OSCE. Pantas saja dokter-dokter konsulen tadi mengadakan rapat tertutup. Ah, ya! Gio tadi ikut rapat juga dan itu berarti dia tahu soal yang bakal keluar.

Gio, soal OSCE besok apaan?

Lo mau ikut ujian juga?

            Gue perlu. Dan untuk pertanyaan lo, jawabannya pasti nggak! Zzz..

            Perlu buat apa? Jangan-jangan buat cewek yang kemaren? Lo udah tau pin-nya? Kok gak kasih tau gue??

            Lo kepo banget. Pokoknya gue ada perlu!

            Awas ya! Kalo lo udah tau pin cewek itu, lo mesti share ke gue!

            Ok guue bagi ntar, kirimin soal cepetan!

            Hap. Akhirnya gue berhasil dapetin soal buat besok! Boong dikit gak apa-apa, apalagi boong ke tukang modus macam Gio. Just like ‘a little white lie’ hehehe…

-Raizel POV-

Aku tiba di kafe tepat pukul setengah lima. Disana belum ada tanda-tanda kemunculan residen ababil itu. Apa dia lupa lagi? Demi Tuhan, kalau saja dia melakukan itu lagi, aku tidak segan-segan melemparkan cokelat hangat ini di wajahnya!

“Hai,”

Aku menoleh ke belakang dan mendapati Reggie bersama sebuah tas besar.

“Lo baru pulang mudik?”

Dia tersenyum masam dan tak menjawab pertanyaanku. Ia malah membuka tas besar itu dan mengeluarkan isinya.

“Punya lo?” Aku menunjuk manequin panggul wanita lengkap beserta alat reproduksi di dalamnya, persis seperti yang kugunakan dalam labskill, bahkan coretan nama Diego di sisi kiri panggul manequin itu pun sama! Aku berharap ini bukan…

“ Punya rumah sakit. Secara de jure, gue ambil diam-diam,”

“Kita pulangin aja deh!”

“ Gue susah ngambilnya, masa mau dibalikin gitu aja. Kita cuma punya waktu sejam dan setelahnya gue mesti ngembaliin ini. Jadi kita mesti mulai sekarang,”

Aku mengangguk. Aku tidak menyangka dia melakukan semua ini untukku. Hanya untukku. Padahal sepersekian menit lalu, aku mencurigai janjinya. Oh, dear.

“Jadi kita cuma belajar IUD, Pap Smear, pemeriksaan obstetri sama resusitasi aja,”

“Tapi kan masih ada yang lain? Lo yakin?”

“Intuisi gue selalu benar. Lo percaya aja ama gue!” Dia menepuk-nepuk dadanya.

Sepanjang sore kami habiskan dalam urutan pemasangan IUD, pemeriksaan Pap Smear, sampai resusitasi neonatus. Berhubung kami tak punya manequin bayi, kami hanya saling tanya jawab kasus kegawatdaruratan pada bayi baru lahir. Terkadang diselingi tawa Reggie saat aku salah menyebutkan satu kata saja dalam checklist.

“Kita mesti pulang,”

Aku pun mengekorinya dan terbesit suatu harap, agar hari ini tidak berlalu begitu cepat.

-Reggie POV-

“Gie,”

“Hmm?”

“Makasih. Gue nggak tau apa jadinya gue tanpa lo dan manequin itu,”

“Lo nggak perlu sungkan,”

“Untuk semua yang lo lakukan hari ini, makasih,”

Gue nggak langsung menatapnya, hanya melihat sekilas dari balik kaca mobil. Meski mata gue minus parah, gue tahu ada titik air di sudut matanya. Mungkin ia terharu dengan apa yang udah gue lakuin buatnya hari ini. Buru-buru gue mengangsurkan tisu yang ada di atas dashboard. Ia menerimanya. Di saat itulah tatapan kami beradu dan entah sejak kapan gue merasa deg-degan kalo liat Raizel. Seperti saat ini. Saat gue menatap lekat mata hitamnya yang menenggelamkan, membuat gue terperosok dalam candu yang memabukkan.

Entah dorongan darimana yang membuat tubuh gue bergerak merapat mendekati tubuhnya. Semakin dekat, dekat, dan dekat hingga gue bisa mencium aroma vanilla yang menguar dari helai rambutnya.

Begitu jarak kami tak sampai 30 sentimeter lagi, suara ponsel Raizel menyentakku ke alam sadar. Kami lalu sama-sama menjauuhkan diri.

Sorry,” Ujarnya. Dia lalu berbicara dengan orang yang menelponnya tersebut.

“Halo?” ujarnya. Aku memberi isyarat padanya, bertanya siapa yang menelepon. Dia menjawab sekilas dengan gerakan bibir tanpa suara. Temen. Begitu yang samar-samar kuartikan dari gerakan bibir itu.

“Kamu mau minta aku temenin kamu buat dateng ke birthday party-nya Angel?”

Tampaknya seseorang di seberang sana menjawab iya, hingga buru-buru Raizel menambahkan.

“Aku bisa selama acaranya gak tabrakan sama acaraku dan Bunda. Kuusahain ya, Go.”

Go? Mungkinkah itu Diego? Bocah sok playboy yang akhir-akhir ini gencar mendekati Raizel. Gue merasa cowok itu nggak pantes buat Raizel. For God’s sake, kenapa tiap kali gue tahu ada yang berusaha deketin Raizel, gue selalu nggak suka? Gue selalu merasa nggak ada yang pantas buat Raizel. Jadi siapa yang pantas ? Gue? Gue menggeleng keras. Gue udah gila.

“Bisa gak lo cuma liat ke gue, bukan yang lain?” Ucap bibir gue yang nggak sinkron ama kendali otak gue. Mata Raizel langsung membulat.

Gosh! Gue bener-bener udah gila.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s