UNNAMED-10

-Richie PoV-

Aku barusaja menyelesaikan operasi apendektomi begitu hujan menghampiri waktu istirahatku. Aku suka menghabiskan waktu bersama rimbunnya hujan. Menikmati bau tanah yang mencium rintik hujan dan segelas kopi hitam menurutku adalah perpaduan sempurna. Teman-temanku sebagian pulang, sedangkan aku dan beberapa residen lain masih harus menjalani tugas jaga.

“Gue duluan,ya.” ujar Kevin, teman baikku. Aku hanya tersenyum singkat lalu melambai pelan ke arahnya.

Entah apa yang ada di pikiranku, hingga segera saja aku melenggang ke sebuah kafe tak jauh dari rumah sakit tempatku menjalani masa residen. Tak apalah, lagipula tugas jagaku masih sekitar dua jam lagi dimulai. Tak ada salahnya jika aku membiarkan otot dan otakku istirahat sejenak,sekedar memulihkan. Di depan halte, kulihat mobil Reggie terparkir. Tak jauh dari situ, Reggie bersama seorang wanita sedang berbicara. Aku tak bisa melihat wajahnya lebih jelas karena rambut pendek wanita itu menutupi wajahnya.

Apa aku perlu menghampiri mereka? Aku menggeleng. Tidak, sepertinya itu bukan urusanku. Mungkin nanti aku tanyakan saja pada Reggie secara langsung.

Begitu tiba di kafe. Aku melihata Freya sedang duduk menyendiri di sudut kiri kafe. Aku segera menyambar kursi di sebelahnya dan menghempaskan bokongku. Dia tampak terkejut, namun sejurus kemudian dia malah melemparkan senyum.

“Hai, kak!” sapanya. Dia memaksa tersenyum, padahal aku tahu dia sedang ada masalah. Matanya tampak kosong.

“Lo nggak lagi berantem sama Reggie, kan?”

Dia tampaknya terkejut dengan pertanyaanku. Namun, ia kemudian menjawab  dengan gelengan kepala.

“Lo nggak usah bohong sama gue,” lagi-lagi dia menunjukkan ekspresi terkejutnya kepadaku. Freya, perasaanmu terlalu mudah dibaca.

Swear, kak!” Ucapnya, berusaha meyakinkanku.

“Kalo lo nggak mau cerita gak apa-apa, dan gue harap lo mau cerita ke gue kalo Reggie nyakitin lo.”

Dia mengangguk sekali.

Dan, hujan hari ini, kunikmati bersama Freya, wanita yang mencintai adikku.

-Reggie POV-

Sorry, aku tadi pulang duluan.” Gue mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang. Sebelah tangan gue sibuk memasangkan earphone ke telinga, sedang sebelah lagi memegang kemudi. Sungguh, gue nggak benar-benar ingin melakukannya tadi―meninggalkannya begitu saja di saat gue tahu Raizel menguping pembicaraan kami. Gue tahu ini nggak logis, tapi entah apa yang ada di pikiran gue saat itu sehingga gue dengan ringannya melangkah pergi, berusaha mengejar langkah kecil Raizel.

Di seberang sana, Freya terdengar menghembuskan napas panjang.Gue nggak terlalu berharap dia akan memaafkan gue, tapi mengetahui kekecewaan hatinya membuat dada gue nyeri.

“Kamu boleh marah sama aku, tapi kamu mesti tahu bahwa yang ada disini, di hatiku, sepenuhnya cuma kamu, nggak ada yang lain,” Ucap gue tulus. Serius, gue bukan dalam edisi menggombal kali ini. Gue cuma pengen dia tahu perasaan gue sebenarnya. Sesederhana itu.

“Gue nggak perlu marah dan nggak ada yang perlu lo lurusin,” Begitu yang meluncur dari bibirnya. Gue tahu, dia terlalu lelah untuk marah-marah dan pernyataannya tadi semakin membuat gue yakin dia kecewa. Dia memutuskan hubungan telepon dan gue benar-benar yakin dia kecewa. Sungguh, gue nggak ngerti akan perubahan sikap Freya. Sebelum kami pacaran, setidaknya dia nggak pernah seperti ini, cemburu overdosis. Dia selalu bisa mengerti apapun kondisi gue dan dia selalu percaya kata-kata gue. Sekarang, dia sepertinya sulit menyimpan kepercayaan itu. Apa semua wanita begitu? Apa seluruh sel otak wanita dipenuhi cemburu, hingga dengan mudahnya merasakan itu? Gue benar-benar nggak ngerti.

Terdengar Adam Levine menggemakan lagunya di telinga gue, buru-buru gue angkat panggilan itu. “Lo bisa beliin gue keripik kentang di minimarket?”

Gue mengangguk. Sadar bahwa anggukan gue nggak bisa diliat olehnya, gue buru-buru mengiyakan. Gue lalu memarkir mobil gue di depan minimarket yang nggak jauh dari rumah sakit. Begitu melewati freezer es krim, gue langsung mencomot beberapa es krim kacang merah, berharap Freya menyukainya.

Seusai membayar belanjaan, gue langsung memutar arah ke rumah Freya. Gue mengetuk pintu rumahnya tiga kali dan meninggalkan kantong es krim beserta selembar kertas. Forgive me.

Gue lalu kembali ke rumah sakit untuk mengantarkan keripik kentang pesanan Richie. Kasihan dia mesti jaga beberapa hari ini full tanpa istirahat. Gue tahu bahwa keripik kentang adalah angin surga buatnya.

“Nih,” Gue mengangsurkan kantong keripik kentang kepadanya.

“Lo nggak ada masalah sama Freya kan?” Kok dia bisa tahu,sih?

“Nggak,” ujar gue ringan, berharap bisa menyamarkan kebohongan.

“Gue harap ada atau nggak masalah diantara kalian berdua, ini samasekali nggak ada hubungannya sama cewek yang ada bersama lo di halte sore tadi.”

Gue tercekat. Nih orang punya cctv apa cenayang sih? Kok bisa tahu kalo gue sama Raizel sore tadi? Bener-bener mati kutu gue!

“Lo tau darimana?”

“Gue tadi ngeliat lo,”

Gue lalu menceritakan semuanya. Tentang Raizel dan pertemuan kami. Tentang pena.Tentang kedekatan kami. Tentang rasa absurd yang menggerogoti sebagian hati gue.

“Jadi, cewek itu ngerasa pernah ketemu sama lo tiga tahun lalu?”

Gue mengangguk. “Gue heran, padahal lo tau sendiri kalo gue nggak pernah ketinggalan pena, jarum atau sebagainya. Barang gue selalu lengkap dan gue nggak pernah pinjam punya orang lain. Apa lo pernah ngerasa pinjam pena ke seseorang?”

Dia tampak menerawang. “Pernah, tapi gue lupa persisnya kapan,”

“Apa menurut lo dia salah mengenali kita?”

Dia mengedikkan bahu. “Lo pernah cerita kalo lo punya saudara kembar?”

“Nggak. Menurut gue itu nggak penting. Lagipula gue tahu kalo lo nggak suka sama anak kecil,”

“Siapa bilang? Oh gue tahu! Lo takut dia suka sama gue?”

“Nggak ada cewek yang suka sama cowok dingin dan kaku kayak lo, jadi gue nggak ada alasan buat takut tersaingi sama lo,”

“Kita liat aja nanti,”

-Richie POV-

Aku akhirnya mengerti masalah yang terjadi diantara Reggie dan Freya. Reggie terlalu gengsi untuk mengatakan yang sebenarnya. Atau mungkin, hal yang lebih parah adalah bahwa dia mencintai dua wanita itu sekaligus.

Aku sendiri merasakan adanya koneksi antara aku dan Raizel. Tapi aku juga masih ragu apakah Raizel adalah gadis itu? Kecelakaan di suatu tempat, di waktu yang sama, mungkin saja dialami oleh lebih dari satu orang. Lagipula aku tidak tahu asal usul gadis itu dan tidak tahu pasti apakah dia masih ada di daerah ini atau sudah merantau ke daerah atau bahkan belahan dunia lain. Aku penasaran seperti apa rupa Raizel hingga membuat Reggie jatuh cinta.

Sudahlah, daripada sibuk memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang malah membuat kepalaku bertambah nyeri, lebih baik aku menghabiskan keripik kentang yang telah Reggie berikan padaku.

Barusaja aku mencomot keripik kentang, konsulen bedah memanggilku.

“Besok, tolong kamu persiapkan kuliah di kampus.” Aku mengangguk. Apa ini murni kebetulan? Aku tidak tahu persis. Lalu, kenapa aku malah berteriak kegirangan dalam hati saat aku tahu besok aku mungkin bertemu Raizel? Mungkin otakku sudah tidak waras karena dipaksa bekerja seharian penuh. Ya, pasti itu.

Berhubung aku tak membawa baju snelli bersih lebih, aku segera mengirim bbm ke Reggie untuk membawakan bajuku.

Gie, tlg bawain snelli gw yg ad di dlm lmari. Mksh.

Sent.

Sekarang yang perlu kulakukan hanya membiarkan tubuhku beristirahat selagi belum ada pasien gawat di IGD. Residen jaga di IGD hari ini adalah aku, Helena, Ulil dan Vino. Mereka bisa diandalkan untuk sementara waktu.

***

07.30 WIB

“Chie, Lo nggak ke kampus?”

Aku membuka mataku tipis dan mendapati bayangan Reggie disana. Apa aku sudah ada di rumah? Aku lalu mengusap kedua mataku. Aku masih berada di bangku koridor rumah sakit. Gosh! Aku telat!

“Lo kenapa gak ngebagunin gue sih,”

“Gue baru sampe,”

“Gue mesti ke kampus sekarang,” Aku lalu bergegas menuju kamar mandi. “Lo nggak perlu ini?” Teriak Reggie. Aku membalikkan badan dan segera menangkap snelli yang Reggie lempar ke arahku.

Thanks,” Dia mengangguk singkat. Aku harap air dingin mampu mengusir kantuk yang masih menderaku.

***

Koridor kampus ini masih sama. Bahkan dengan mudah aku bisa mengenali goresan tanganku di dinding laboratorium mikrobiologi. Semuanya tidak berubah. Begitu tiba di depan pintu, aku segera disambut tatapan ingin tahu dari ratusan mahasiswa disana.

Aku mengambil posisi di depan kelas, menghempaskan bokong ke kursi depan komputer dan segera membuka file bahan kuliah untuk hari ini. Setelah semua siap, aku laluu mengabsen satu persatu mahasiswa.

“Albert Alviano…” Seorang mahasiswa berkulit hitam menunjuk tangan.

“Devita Angelia…”

“Diego Marcellino..”

“Hesti Fitria…”

“Keano Bramadista..”

Begitu seterusnya hingga tiba nama Raizel.

“Raizel Anindita,” Seorang mahasiswi penghuni barisan depan, dengan potongan rambut sebahu menunjuk tangan dengan lesu. Dia tak berusaha menatapku. Apa sebegitu bencinya ia pada Reggie hingga ia memalingkan wajahnya dariku? Apa aku perlu mengakui kalau aku dan Reggie adalah orang yang berbeda? Buru-buru kutepis pikiran itu jauh-jauh.Untuk sementara waktu, biarlah kututup rapat rahasia itu.

UNNAMED-9

-Reggie POV-

Gue menoleh sekilas saat seseorang di belakang gue menghempaskan cangkir secara kasar. Mungkin lagi patah hati, gue membatin.

“Raizel!” Teriak teman si-cewek-pelempar-cangkir kepadanya. God! Ternyata dia Raizel. Bagus, dia pasti sudah mendengar percakapanku dengan Freya. Sekarang, mungkin dia sudah tak mau lagi melihat muka gue dan itu menyakitkan.

Gue lalu meng-SMS Raizel.

Gue tunggu di halte.

-Raizel POV-

Gue tunggu di halte.

            Untuk apa aku mesti menurutinya? Toh, hatinya juga tidak akan pernah dia berikan untukku. Seharusnya aku menyadari itu dari awal. Mana mungkin residen sesempurna dia tidak memiliki kekasih dan aku dengan begitu mudahnya hanyut dalam perasaan itu. Aku benar-benar bodoh.

Hei, dimana taksi? Aku sudah bolak-balik melihat arloji di tanganku dan tak menemukan taksi kosong sekalipun.

“Zel?” Suara itu memanggilku. Diego lalu membuka helm-nya dan menepikan motor. “Nggak dijemput lagi?” Aku mengangguk.

“Ya udah. Gue anterin.” Dia menggamit lenganku refleks dan aku tidak melepaskan genggaman tangan itu.

“Zel!” Teriak suara berat itu ke arahku. Aku buru-buru melepaskan tanganku dari Diego. “Gue perlu bicara sama lo,”

“Menurut Saya tidak ada lagi yang perlu dibicarakan. Permisi.” Aku membungkukkan badan sedikit dan meninggalkannya. Dia buru-buru menarik lenganku. Aku berusaha melepaskan tarikan itu.

“Zel, dengerin gue!” Pintanya.

“Apa lagi yang perlu saya dengar?’ ujarku sarkastik.

Sorry, gue harap lo nggak berpikir kalau gue bener-bener suka sama lo. You’re too young for me. Lo ngerti?’ Dia memegang kedua bahuku, membawaku persis ke kedua matanya. Tuhan, mengapa tak Kau biarkan dia menjadi milikku?

“Tapi kenapa lo bertingkah seolah-olah lo suka ke gue? Lo cuma mau nyakitin gue?” Tak terasa cairan bening keluar dari pelupuk mataku.

“ Gue cuma..”

“Cuma apa? Cuma mau mempermainkan gue? Gue nyesel gue membiarkan rasa itu tumbuh selama ini. Gue nyesel ketemu lo tiga tahun lalu. Gue berharap nggak pernah ketemu lo,” Aku menghapus air mata yang mulai mengering.

“Tiga tahun lalu?”

“Ya, tiga tahun lalu. Saat lo berusaha menyelamatkan bapak tua yang kecelakaan di deket kampus,”

“Gue nggak pernah nyelametin bapak tua?’

“Lo nggak usah bohong. Gue masih ingat nametag itu dan gue harap lo nggak lupa bahwa lo pernah pinjem pena gue buat nolong bapak itu,” Aku menunjuk nametag yang menempel di snelli-nya.

“Tapi gue bener-bener…”

“Udahlah, gue nggak peduli lagi,” Aku menggamit lengan Diego dan pergi meninggalkannya. Benar-benar meninggalkannya.

UNNAMED-8

-Raizel POV-

            Seminggu kemudian…

            “Nggak terasa ya udah kelar aja blok obgin. Padahal kalo diitung-itung udah sembilan minggu lewat.” Ujarku sembari menyeruput kopi hitam di hadapanku.

            Iya. Sembilan minggu lamanya aku bisa dengan leluasa lebih dekat bersama Reggie. Menikmati waktu-waktu yang tak sengaja hadir diantara kami berdua. Sudah seminggu lamanya, sejak pertemuan terakhir kami, kami tak bertemu. Bagaimana kabarnya? Aku sendiri tak tahu.

            “Zel! Lo mesti liat yang ada di belakang lo!”

            Aku menurut. Kutolehkan kepalaku ke belakang dan mendapati hal buruk di hadapanku. Si bodyguard menggandeng mesra Reggie!

            Jantungku seperti terhempas, jatuh masuk ke sela-sela perut. Entah apa yang terjadi pada otot-otot oromotor-ku sehingga aku tak mampu berkata-kata lagi. Bagaimana bisa dia bermesraan dengan wanita lain sementara dia memintaku menjaga hati?

            Bagus. Sekarang dia malah memilih duduk tepat memunggungiku sehingga aku dengan leluasa mendengarkan percakapan mereka.

            “Kamu mau makan apa, Sayang?” suara berat itu menyentuh telingaku samar. Oke, sekarang mereka sudah memanggil dengan sebutan aku-kamu.

            “Terserah deh,”

            “Eh, pulang nanti aku anter ya?”

            “Gak usah, Sayang. Kamu kan residen jaga buat malem ini. Udah biar aku pulang naik taksi aja,”

            “Aku nggak mau ngeliat kamu nunggu lama-lama. Kata orang, daerah sini banyak pemalak.” Persis seperti yang pernah dia ucapkan padaku waktu itu.

            Aku tak tahan lagi. Ku hempaskan cangkir yang sedari tadi kugenggam, memberi mereka senyum singkat lantas berlalu pergi. “Raizel!” Tria memanggilku. Peduli setan. Aku sudah tak tahan lagi mendengar percakapan mereka lebih jauh. 

Drew looks at me, I fake a smile so he won’t see

That I want and I’m needing everything that we should be

I’ll bet she’s beautiful, that girl he talks about,

And she’s got everything that I have to live without.

 

Drew talks to me, I laugh ’cause it’s so damn funny

And I can’t even see anyone when he’s with me

He says he’s so in love, he’s finally got it right,

I wonder if he knows he’s all I think about at night

 

He’s the reason for the teardrops on my guitar

The only thing that keeps me wishing on a wishing star

He’s the song in the car I keep singing, don’t know why I do

 

Drew walks by me, can he tell that I can’t breathe?

And there he goes, so perfectly,

The kind of flawless I wish I could be

She better hold him tight, give him all her love

Look in those beautiful eyes and know she’s lucky ’cause

UNNAMED-7

-Raizel POV-

“Bisa gak lo cuma liat ke gue, bukan yang lain?” Reggie mengucapkannya mantap sembari menatap ke dalam kedua mataku. Mataku sendiri mengerjap-ngerjap, otakku berhenti bekerja dan jantungku berhenti memompakan darah. Apa telingaku salah menangkap gelombang suaranya? Tidak, aku rasa tidak. Aku barusaja memeriksakan diriku ke dokter THT lantaran telingaku kemasukan air dan ia bilang bahwa pendengaranku dalam kondisi prima. Tuhan, bisa Kau putar lagi waktu? Agar aku bisa merekam kata-kata itu di otakku sekali lagi. Agar aku bisa meyakinkan diriku bahwa yang kudengar itu tak salah.

Dia lantas mengembalikan pandangannya ke balik kemudi. Suasana disitu terasa serba canggung. Aku sendiri tidak tahu mesti berbuat apa. Aku akui bahwa sebuah tanya itu adalah pernyataannya secara tak langsung akan perasaannya selama ini. Pantas saja dia selalu tak menyukai ada laki-laki yang mendekatiku. Dia cemburu, dan sebagian besar survey membuktikan bahwa cemburu itu tanda cinta. Cinta!!

Aku tidak sanggup lagi memikirkan kenyataan indah apa yang nantinya akan muncul di hidupku. Aku menatapnya dari ujung mataku dan menangkap kegelisahan dari gerak-geriknya. Mungkinkah akan ada sebuah pernyataan lagi ?

“Gie,”

“Hmm,”

“Lo nggak apa-apa?” Ia mengangguk dalam diam. Ia melajukan kendaraan hingga tak terasa telah tiba di depan rumahku.

“Gie,” Aku kembali memanggilnya.

“Untuk pertanyaan lo, gue rasa lo tahu jawabannya,” Aku tersenyum sekilas dan membiarkan mobilnya melaju pergi, meninggalkan hatiku yang masih bersemu merah.

-Reggie POV-

“Untuk pertanyaan lo, gue rasa lo tahu jawabannya,” ujarnya. Gue sendiri gak tahu gue mesti seneng atau malah sedih. Dari sorot matanya gue tahu dia sudah mulai menaruh hati ke gue. Gue sendiri gak terlalu peduli. Dia masih terlalu kecil buat gue. She’s too young for me.

Tapi, kenapa tadi gue malah ngomong asal? Dia pasti menduga kalo gue juga punya rasa ke dia. Akhir-akhir ini otak gue selalu gak sinkron ama mulut. Ada aja yang membuat orang menyalahartikan ucapan gue.Oke, kita anggap apa yang gue udah bilang tadi ngawur, tapi masalahnya adalah kenapa gue malah suka saat dia menunjukkan perasaannya ke gue. Ada sesuatu yang membuat gue selalu nyaman bersamanya. Apa mungkin gue udah mulai suka juga sama Raizel? Gue menggeleng keras.

She’s too young for me.

Gue lalu menekan angka delapan. “Fre, gue tunggu di tempat biasa.”

-Freya POV-

“Fre, gue tunggu di tempat biasa.” Ia langsung menutup telepon dan belum membiarkan gue menjawab. Gue sendiri agak cemas mendengar suaranya tadi. Nggak biasanya dia mengeluarkan suara seperti itu. Dia bukan tipikal orang yang dengan mudah menunjukkan apa yang dia rasa sebenarnya. Dari nada bicaranya, gue yakin kalo dia ada masalah dan gue adalah satu-satunya hati yang mau menjadi tong sampah segala gundahnya.

Gue lalu bergegas menuju tempat yang ia maksud. Sepuluh menit berlalu dan gue akhirnya tiba disana dan mendapati kegelisahan hatinya. Gue nggak langsung menegurnya, gue malah membuat secangkir cokelat hangat, satu-satunya hal yang membuat hatinya membaik.

Setelah selesai, gue keluar dari dapur dan mengangsurkan cangkir cokelat hangat itu padanya. Dia menyesapnya sekali, lalu mulai mengeluarkan ekspresi gue-selalu-suka-buatan-lo ke arah gue. Ya, cokelat hangat buatan gue adalah ternikmat nomor dua setelah buatan nyokapnya.

Gue lalu merapatkan kursi dan mulai menginterogasinya.

“Lo kenapa? Lo tau? Gue mesti berlarian sepanjang koridor, memastikan apa lo baik-baik aja dan setelah menyesap cokelat hangat buatan gue, lo malah senyum-senyum! Lo kemasukan jin galau ya?”

Dia tersenyum lagi. Ah, gue lega mendapati senyum itu di wajahnya. Gue merasa beban di pundak gue sedikit terangkat. “Hei, kenapa senyum-senyum lagi?”

“Lo nggak kesurupan hantu patah hati kan, Gie?” Gue menempelkan tangan ke keningnya. Normal.

Dia menarik tangan gue lalu menggumam. “ Gue suka sama lo,” Lalu memeluk tubuh mungil gue erat.Gue masih belum bisa menyaring apa yang keluar dari mulutnya tadi dan anehnya gue malah membiarkanya mendekap tubuh gue. Gue juga suka sama lo.

-Reggie POV-

Freya datang setelah sepuluh menit lalu gue menghubunginya. Tuhan, entah bagaimana gue menjelaskan perasaan ini sekarang. Freya yang selalu membuat gue nyaman, menawarkan kehangatan dari setiap senyum manisnya, selalu tahu cara membuat gue bahagia. Mungkin karena kami sudah bersahabat sejak lama, sehingga dia tahu gue sampe hal paling kecil sekalipun. Dia yang selalu mengkhawatirkan gue. Dia yang selalu tahu apa yang gue rasa.

Seperti saat ini, begitu tiba ia langsung masuk ke dapur dan gue yakin dia sedang membuat cokelat hangat kesukaan gue. Kenapa gue dengan begitu bodohnya, sepersekian detik yang lalu berpikir bahwa gue menyukai Raizel? Gue salah.Gue tahu gue salah.

Gue menarik tangannya dari kening gue lantas mendekap tubuhnya, merapat ke gue. “ Gue suka sama lo,”

Entah kenapa gue rasa dia juga menyukai gue, karena ia gak melepaskan pelukan gue. Gue merasa gak perlu apa-apa lagi, selain keberadaan dan hatinya. Cukup itu dan gue tahu diapun mengiyakan dalam hati.

Sekarang gue baru ngerti maksud ramalan itu.Gue sudah memilih.

UNNAMED 6

-Raizel POV-

Satu setengah jam di depan tumpukan modul membuatku mual. Ternyata banyak juga yang sudah kami pelajari. Pemeriksaan obstetri dan ginekologi, pemasangan IUD, pemeriksaan IVA dan pap smear, kuretase, serta resusitasi neonatus. Saat Reggie dan residen lain menerangkan, mereka hanya menerangkan poin-poinnya saja. Saat melongok ke modul, barulah aku sadar bahwa semuanya mesti dimasukkan kepala dan aku bukan tipikal orang yang dengan mudah menghapal dalam kurun waktu singkat. Aku pernah bertanya pada kakak tingkat dan mendapati kemuraman di wajahnya. Baiklah, sekarang aku mulai bergidik ngeri membayangkan apa yang terjadi besok.

Tria sedang sakit jadi ia tak mengikuti ujian blok ini. Biasanya kami akan belajar bersama, saling bertukar informasi dan menghapal sampai larut malam. Kami punya kebiasaan, yaitu begitu besok ujian OSCE berlangsung, salah satu dari kami akan menginap di rumah yang lain, sehingga kami punya waktu lebih untuk belajar. Sekarang, teman belajarku sedang absen dan itu artinya aku harus merelakan diriku begadang sendirian.

Lo telpon aja Reggie. Sekali mendayung, dua-tiga pulau terlampaui.

Begitu pesan singkat yang terkirim ke ponselku. Aku tahu ini saatnya aku bertemu dengannya, belajar sekaligus melepas rindu. Tapi aku terlalu takut untuk memulai. Berkali-kali aku mengetik message untuknya, tapi akhirnya message itu selalu mendarat di draft, bukan sent item.

Dia kayaknya tau bocoran soal besok.

Aku akhirnya menghubungi Reggie, berharap ia benar-benar tahu soal apa yang keluar esok hari. Setelah terdengar nada tunggu tiga kali, barulah kumerasakan gendang telingaku disentuh lembut oleh suara beratnya di ujung sana. Aku tersenyum, baru tersadar kalau aku sudah tidak mendengar suaranya seminggu terakhir. Rasanya seperti sudah lama sekali.

“ Halo? Ada apa, Zel?”

“Lo sibuk gak hari ini? Gue mau minta ajari buat OSCE besok”

“Hmm, lumayan sih,”

Percakapan itu menggantung sesaat, sampai akhirnya kudengar dia sudah bicara lagi “ Kita ketemuan di tempat biasa jam lima sore,”

Aku tidak langsung menjawab iya karena aku masih trauma kejadian waktu itu. Dia sepertinya mengetahui itu.

“Gue nggak akan lupa,” Dia menambahkan dan aku tahu kali ini ia benar-benar serius.

-Reggie POV-

Begitu Raizel menelpon, gue baru sadar kalau besok adalah ujian OSCE. Pantas saja dokter-dokter konsulen tadi mengadakan rapat tertutup. Ah, ya! Gio tadi ikut rapat juga dan itu berarti dia tahu soal yang bakal keluar.

Gio, soal OSCE besok apaan?

Lo mau ikut ujian juga?

            Gue perlu. Dan untuk pertanyaan lo, jawabannya pasti nggak! Zzz..

            Perlu buat apa? Jangan-jangan buat cewek yang kemaren? Lo udah tau pin-nya? Kok gak kasih tau gue??

            Lo kepo banget. Pokoknya gue ada perlu!

            Awas ya! Kalo lo udah tau pin cewek itu, lo mesti share ke gue!

            Ok guue bagi ntar, kirimin soal cepetan!

            Hap. Akhirnya gue berhasil dapetin soal buat besok! Boong dikit gak apa-apa, apalagi boong ke tukang modus macam Gio. Just like ‘a little white lie’ hehehe…

-Raizel POV-

Aku tiba di kafe tepat pukul setengah lima. Disana belum ada tanda-tanda kemunculan residen ababil itu. Apa dia lupa lagi? Demi Tuhan, kalau saja dia melakukan itu lagi, aku tidak segan-segan melemparkan cokelat hangat ini di wajahnya!

“Hai,”

Aku menoleh ke belakang dan mendapati Reggie bersama sebuah tas besar.

“Lo baru pulang mudik?”

Dia tersenyum masam dan tak menjawab pertanyaanku. Ia malah membuka tas besar itu dan mengeluarkan isinya.

“Punya lo?” Aku menunjuk manequin panggul wanita lengkap beserta alat reproduksi di dalamnya, persis seperti yang kugunakan dalam labskill, bahkan coretan nama Diego di sisi kiri panggul manequin itu pun sama! Aku berharap ini bukan…

“ Punya rumah sakit. Secara de jure, gue ambil diam-diam,”

“Kita pulangin aja deh!”

“ Gue susah ngambilnya, masa mau dibalikin gitu aja. Kita cuma punya waktu sejam dan setelahnya gue mesti ngembaliin ini. Jadi kita mesti mulai sekarang,”

Aku mengangguk. Aku tidak menyangka dia melakukan semua ini untukku. Hanya untukku. Padahal sepersekian menit lalu, aku mencurigai janjinya. Oh, dear.

“Jadi kita cuma belajar IUD, Pap Smear, pemeriksaan obstetri sama resusitasi aja,”

“Tapi kan masih ada yang lain? Lo yakin?”

“Intuisi gue selalu benar. Lo percaya aja ama gue!” Dia menepuk-nepuk dadanya.

Sepanjang sore kami habiskan dalam urutan pemasangan IUD, pemeriksaan Pap Smear, sampai resusitasi neonatus. Berhubung kami tak punya manequin bayi, kami hanya saling tanya jawab kasus kegawatdaruratan pada bayi baru lahir. Terkadang diselingi tawa Reggie saat aku salah menyebutkan satu kata saja dalam checklist.

“Kita mesti pulang,”

Aku pun mengekorinya dan terbesit suatu harap, agar hari ini tidak berlalu begitu cepat.

-Reggie POV-

“Gie,”

“Hmm?”

“Makasih. Gue nggak tau apa jadinya gue tanpa lo dan manequin itu,”

“Lo nggak perlu sungkan,”

“Untuk semua yang lo lakukan hari ini, makasih,”

Gue nggak langsung menatapnya, hanya melihat sekilas dari balik kaca mobil. Meski mata gue minus parah, gue tahu ada titik air di sudut matanya. Mungkin ia terharu dengan apa yang udah gue lakuin buatnya hari ini. Buru-buru gue mengangsurkan tisu yang ada di atas dashboard. Ia menerimanya. Di saat itulah tatapan kami beradu dan entah sejak kapan gue merasa deg-degan kalo liat Raizel. Seperti saat ini. Saat gue menatap lekat mata hitamnya yang menenggelamkan, membuat gue terperosok dalam candu yang memabukkan.

Entah dorongan darimana yang membuat tubuh gue bergerak merapat mendekati tubuhnya. Semakin dekat, dekat, dan dekat hingga gue bisa mencium aroma vanilla yang menguar dari helai rambutnya.

Begitu jarak kami tak sampai 30 sentimeter lagi, suara ponsel Raizel menyentakku ke alam sadar. Kami lalu sama-sama menjauuhkan diri.

Sorry,” Ujarnya. Dia lalu berbicara dengan orang yang menelponnya tersebut.

“Halo?” ujarnya. Aku memberi isyarat padanya, bertanya siapa yang menelepon. Dia menjawab sekilas dengan gerakan bibir tanpa suara. Temen. Begitu yang samar-samar kuartikan dari gerakan bibir itu.

“Kamu mau minta aku temenin kamu buat dateng ke birthday party-nya Angel?”

Tampaknya seseorang di seberang sana menjawab iya, hingga buru-buru Raizel menambahkan.

“Aku bisa selama acaranya gak tabrakan sama acaraku dan Bunda. Kuusahain ya, Go.”

Go? Mungkinkah itu Diego? Bocah sok playboy yang akhir-akhir ini gencar mendekati Raizel. Gue merasa cowok itu nggak pantes buat Raizel. For God’s sake, kenapa tiap kali gue tahu ada yang berusaha deketin Raizel, gue selalu nggak suka? Gue selalu merasa nggak ada yang pantas buat Raizel. Jadi siapa yang pantas ? Gue? Gue menggeleng keras. Gue udah gila.

“Bisa gak lo cuma liat ke gue, bukan yang lain?” Ucap bibir gue yang nggak sinkron ama kendali otak gue. Mata Raizel langsung membulat.

Gosh! Gue bener-bener udah gila.