UNNAMED 5

-Raizel POV-
Setelah pensi, kami tidak pernah bertemu lagi. Tiap kali aku mengunjungi kafe, aku tidak pernah sekalipun menemukan batang hidungnya. Jika aku menemuinya di bagian kebidanan, dia pasti mengira kalau aku merindukannya. Ya, aku memang merindukannya. Sepertinya sepi juga tanpa omelan, sikap sok dewasanya, dan senyumnya. Mungkin kali ini aku sudah benar-benar mencandu kehadirannya.
Aku ingin sekali menghubunginya. Tapi, dengan apa aku memulai pembicaraan? Tak mungkin tahu-tahu aku mengaku menghubunginya hanya untuk melepas rindu yang menumpuk di sudut hati. Bisa besar kepala dia! Kuliah dr. Ahmad pun ternyata digantikan oleh dokter yang lain karena dr.Ahmad sedang mengikuti seminar di Jogja, jadi tak ada alasan buatku untuk meminta slide padanya. Atau aku pakai saja taktik minta diajari OSCE? Tapi, OSCE kan masih seminggu lagi dan aku sudah tak bisa menanggung rindu selama itu. Bagaimana caranya, Tuhan? I miss him so bad.
-Reggie POV-
Gue bener-bener sibuk minggu ini. Entah kenapa ada aja pasien yang datang, entah itu beneran mau melahirkan atau sekedar kontraksi Braxton-Hicks semata. Mungkin gara-gara seminggu ini Freya udah masuk lagi. Freya terkenal sebagai residen pemanggil pasien. Pas gue jaga sama Gio, waktu cuma terbuang sia-sia, karena bener-bener gak ada pasien. Tapi pas Freya masuk, gue bisa pastiin kalo setiap hari gak akan absen kedatangan pasien. Bukanya gue nggak suka, tapi kalo banyak begini, gimana gue mau istirahat? Gimana gue mau hangout diem-diem? Gimana gue mau ketemu Raizel? Eh ngomong-ngomong soal Raizel, gue nggak pernah lagi ngeliat dia sejak pensi. Dia juga nggak nelpon gue untuk minta slide.
“Eh, you-know-who gak pernah keliatan lagi ya?”
“Jelas. Dia kan lagi seminar,”
“Loh bukannya dia mesti ngajar di kampus?”
“Lo itu kudet banget ya? Dia kemaren digantiin sama dr. Yusuf,” Freya menjelaskan. Sekarang dia udah senyum-senyum sendiri kayak orang gila.
“ Udah ! Jangan lo pikirin dr. Yusuf. Entar lo malah erotomania lagi!”
“Reggie!!!!” Dia menyerbuku dengan cubitan pedasnya. Gila! Badannya doang yang kecil, tapi cubitannya dahsyat!
“Awas lo, ya!” Gue lalu mengejar Freya yang udah jauh ninggalin gue.
Hap! “Lo nggak bisa lari lagi!” kata Gue saat berhasil memegang tangannya. Dia meronta, namun karena tenaga gue lebih besar, gue bisa dengan mudah menggelitikinya. Tapi dia nggak nyerah, dia balik mencubiti gue bertubi-tubi. Dia nggak bisa berkutik lagi saat gue memiting lehernya. Masih berani ngelawan gue? Reggie dilawan! Hehehe..
“Gue nggak akan kemana-mana,” gumamnya.
Perkataan itu sederhana, tapi pas Freya yang ngucapin kok jadi dalem banget,ya?
-Freya POV-
Gue sebenernya cuma mau liat ekspresi Reggie aja pas gue nyebutin nama dokter ganteng itu. Gue tahu Reggie itu paling males kalo denger tentang dokter itu. Entah apa alasannya, gue sendiripun sampe sekarang nggak ngerti.
Dari Gio gue tahu kalo beberapa hari ini Reggie lagi deket sama mahasiswi itu. Mahasiswi yang waktu itu datang menemuinya. Gue pernah ngeliat sekilas. Gadis berpotongan rambut sebahu dengan poni menjuntai menutupi dahinya. Cukup good-looking menurut gue. Dia hanya perlu polesan sedikit dan, Tada! Semua orang akan sadar kalo dia cantik banget. Semoga Reggie nggak akan sadar akan hal itu. Gue sebel aja ngeliat Reggie deket sama orang lain.
Gue dan Reggie udah kenal lama. Kami berdua kayak kembar dempet. Kemana-mana berdua. Orang yang tidak kenal kami lebih dekat pasti mengira kalo kami pacaran. Gue selalu klarifikasi kalo kami cuma sahabat. Gak lebih. Awalnya gue nggak terlalu peduli dengan itu. Gue cuma nggak mau Reggie mikir macem-macem tentang gue dan itu berhasil. Dia selalu datar kalo ada yang membicarakan kami berdua. Mungkin dia udah terbiasa bersama gue, mendengar gosip-gosip itu dan nggak mau ambil pusing.
Gara-gara kami nggak pernah pisah, gue nggak pernah merasa nyaman kalo ada pria lain yang mencoba masuk ke hati gue. Gue bukannya gak peduli. Gue tahu Michael bela-belain nyiapin semuanya buat gue, buat nembak gue. Tapi gue bukan tipikal orang yang bisa basa-basi. Kalo gue nggak suka, gue pasti bilang nggak. Mungkin karena itu gue nggak pernah bisa membina hubungan spesial dengan lawan jenis. Jadilah gue kemana-mana bersama Reggie, yang membuat semua orang yakin kami lebih dari sekedar sahabat.
Reggie itu orangnya easy going. Semua masalah dianggapnya sepele. Di rumah sakit ia dipanggil tukang telat, raja pelupa, atau pembolos kronis. Gue tahu semua tentang dia. Dia yang suka diam-diam ke kafe, memesan secangkir kopi dan menyesapnya lamat-lamat. Tentang betapa suka dia menghabiskan berjam-jam waktunya di depan laptop, tentang cokelat hangat, tentang mimpinya membuka rumah sakit sendiri, semuanya, kecuali tentang apa yang ada di balik hatinya.Gue nggak bisa bener-bener tahu apa yang ada disana.
Tapi tadi dia menatap gue lama dan gue tau itu bukan tatapan yang biasa dia tunjukkan ke gue. Entah setelah ini apa gue boleh berharap lebih atau nggak.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s