UNNAMED-4

-Reggie POV-
Gue melangkah mantap ke kampus. Begitu masuk lapangan, gue langsung disambut suasana khas pensi. Ternyata tema pensi kali ini adalah negara. Disana gue bisa menemukan miniatur Cina, Meksiko, Korea, Jepang, Belanda, dan Arab. Gue bisa rasakan dengan jelas atmosfer yang berbeda tiap gue berpindah dari satu stan ke stan lain.
Begitu tiba di stan Belanda , gue ngeliat Raizel lagi sibuk menerima orderan delivery kembang. Bajunya lucu banget. Baju lengan pendek, rok motif kotak-kotak, celemek panjang motif bunga-bunga plus topi segitiga yang setia nangkring di atas kepalanya. Di lengan kirinya tergantung keranjang bunga. Sekarang dia malah mirip noni Belanda. Yaiks, nasibnya ternyata nggak jauh-jauh dari gue enam tahun lalu. Dari jarak segini, gue bisa ngeliat bulir-bulir keringatnya. Kesian, dia mesti bermandi keringat. Gue lalu punya ide cemerlang !
“Gue mau beli satu,” gumam gue sembari menoel pundaknya.
Dia keliatan terkejut tapi gue yakin dia seneng gue ada disini.
“Bunga apa?”
Gue sebenernya gak tau dia suka bunga apa, jadi gue tanya langsung aja ke dia. Ternyata dia suka mawar, sama kayak namanya. Gue lalu memutuskan membeli sembilan. Dia memberi gue selembar kertas, untuk nulis pesan katanya. Jadi gue tulis..
Bunga mawar pasti cocok buat tukang ngambek.
Dia sempat terdiam, gue nggak tahu apa yang dia pikirkan, tapi dari sorot matanya gue tahu dia seneng banget. Gue tiba-tiba aja teringat Freya. Kasihan dia. Sampe sekarang dia belom bisa masuk karena masih sakit. Gue berencana jenguk dia abis ini.
“Lo jual bitterballen, kan?”
-Raizel POV-
“Lo jual bitterballen, kan?”
Aku mengangguk cepat. “Lo suka?”
Dia tampak berpikir “Nggak. Lo tau kan sih Freya, residen cewek yang lo temuin waktu itu?”
Aku tahu siapa yang dia maksud. Aku hanya mengangguk sekadarnya.
“Nah, Dia lagi kena flu dan dia itu suka banget bitterballen . Gue mau jenguk dia abis ini,”
Aku ber-ooh ria. “Yuk, kita beli!” Dia lalu menarik lenganku. Spontan, aku melepaskan tangannya. Dia tersenyum maklum.
Di stan bitterballen, dia ternyata membeli dua puluh biji bitterballen. Aku semakin kesal karena yang dia pikirkan sekarang adalah Freya, bukan aku.
“Nih, buat lo!” Dia lalu menyodorkan kotak sterofoam itu padaku. Ternyata dia membelikan untukku juga. Aku lalu menikmati setiap gigitan bitterballen itu lamat-lamat. Dia mencomot beberapa bitterballen dari punyaku dan melahapnya cepat. Cara dia makan lucu sekali. Rongga mulutnya menggembung, terisi penuh oleh bitterballen. Dengan mulut masih melumat bitterballen, aku berbicara.
“Kita ke stan ramalan yuk,”
“Ogah!”
“Plis!!!” Aku menatapnya penuh harap. Dia mulai luluh.
“Oke deh. Tapi jangan lama-lama!”
Aku melingkarkan ibu jari dan telunjuk.Oke.
Kamipun bergegas menuju sudut stan Fortune Teller.
Seseorang berbaju serba hitam duduk di sudut ruang kecil dengan ukuran tak lebih dari 3×3 meter yang semua ornamen beruansa hitam, tak lupa bola kristal di atas meja. Aku tidak bisa melihatnya wajahnya dengan jelas karena pencahayaan disana amat minim.
“Siapa yang ingin diramal?” Aku dengan cepat mengacungkan tangan.
Peramal itu lalu mengocok kartu, menyusunnya menjadi satu baris dan menyuruhku memilih tiga diantaranya. Ia lalu mulai menafsirkan makna kartu yang kupilih.
“Nona manis, pangeran berkuda itu sebenarnya tahu kemana ia harus melangkah, tapi kabut tebal membuatnya ragu hendak kemana ia menuju,” Aku tidak tahu apa maksudnya. Mendengar kata pangeran berkuda saja sudah membuatku berpikir kalo orang itu adalah Reggie. Tapi, apa tadi katanya? Kabut tebal? Nah ini yang belum ia mengerti apa maksudnya.
“Tapi kau tak usah khawatir. Dia akan segera tiba ke tujuan begitu kabut itu menghilang,”
Dia masih membiarkanku tenggelam dalam kebingungan begitu tahu tahu tangannya sudah mengocok kartu dan menyuruh Reggie memilih beberapa.
“Untukmu, kurasa ini saatnya kuda putih itu harus memilih. Jika ia maju, ia akan diterkam serigala lapar dan jika ia mundur ia akan masuk jurang. Semuanya serba sulit, tapi jika semakin menunda , keadaan akan semakin memburuk,”
-Reggie POV-
“Udah. Gak usah dimasukin hati. Semua itu cuma permainan kartu,” Gue meyakinkan, lebih untuk gue sendiri.
Dia hanya mengangguk lesu. “ Coba lo bayangin. Gue disamain ama kuda. Lagian gak mungkin kan ada serigala lapar di rumah sakit?”
Dia tertawa. “ Kalo konsulen lapar sih banyak!” Tawanya lagi-lagi meledak.
Gue lalu teringat. Jangan-jangan maksud dari kartu itu adalah kalo gue bakal dapet penguji galak minggu depan. Kenapa tadi gue nggak kepikiran ya? Arrgghh.
“Lo kenapa?”
“”Nggak apa-apa. Yuk kita merapat ke pinggir stage,” Dia mengekori gue. Posisi seperti ini, posisi dia disamping gue, tersenyum ke arah gue, membuat gue merasa nyaman. Ada desir-desir bahagia yang menguar dari senyumnya, membuat gue takikardi. Apa gue udah…
“Yuk!”
Dia membuyarkan lamunan gue, maju ke depan dan mulai menikmati suasana mini concert di depannya. Sejenak gue merasa cuma dia yang mengisi dunia gue. Gue selalu suka saat dia ada di samping gue entah kenapa. Saat dia menatap gue lekat, gue merasa kayak detak jantung gue berhenti.Gue mungkin udah gila karena gue sekarang berharap waktu bisa berhenti sebentar aja.
-Raizel POV-
Dia mengajakku ke pinggir panggung. Dari jauh sudah terlihat kalau barisan paling depan sudah memadat. Untung aku bersamanya, karena dengan postur menjulang seperti yang ia miliki, dia dapat dengan mudah menyeruak dari kerumunan. Coba saja kalau aku berjalan sendiri, mungkin aku sudah terinjak-injak oleh penonton yang lain. Hiks!
Kami lalu memilih berdiri di sayap kiri panggung. Ternyata sekarang giliran kelasku yang menyanyi. Di atas panggung sudah berdiri Diego, Revan, Steve, Aji, dan Reza. Mereka membawakan lagu This Love-nya Maroon Five. Lagu lama memang, tapi dari antusias penonton, aku tahu kalau lagu ini benar-benar membuat suasana hidup.
“Lagu ini khusus buat seseorang yang ada di depan gue,” Ujar Diego seraya menatapku. Diego pun selalu menunjukku di beberapa bagian lagu dan itu membuatku tersanjung. Baru kali ini ada laki-laki yang menyanyikan lagu buatku. Ditambah lagi lagu dari band favoritku. Aaaaa..
Today is perfect day!
-Reggie POV-
Bener kan dugaan gue selama ini kalo si playboy kelas teri itu lagi pedekate sama Raizel! Pake acara bilang kalo lagu itu buat Raizel pula! Norak banget sih! Kayak gak ada cara lain aja! Yang jadi objek malah senyam-senyum gak jelas pula. Panas! Argggh
“Diego tadi manis juga ya!” Dia menggumam.
“Apaan?”
“Eh, Gie, menurut lo maksud si Diego nyanyi buat gue apaan ya?” Dia bertanya dengan polosnya. Glek! Nih anak seumur-umur belum pernah dimodusin kali ya? Masa gitu aja gak ngerti.
“Dia itu norak! Udah ah kenapa sih bahas-bahas dia terus?”
“Soalnya dia orang yang pertama nyanyi buat gue. Romantis banget tau!”
“Yang kayak gitu dibilang romantis? Itu mah norak, kampungan ! Dasar ABG sekarang tingkahnya pada norak semua,”
“Loh kok jadi sewot sih,”
“Elo sih yang mulai duluan,”
Dia lalu diam. Gue juga ikutan diam. Gue memutar mp3 player berharap suasana bisa mencair.
“By the way, suara Diego mirip juga ya sama Adam Levine!”
Dia membahas itu (lagi) ! Arrggghhh….

Advertisements

4 thoughts on “UNNAMED-4

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s