UNNAMED-3

-Raizel POV-
“ Untuk apa saya marah sama dokter?” Aku berpura-pura seolah tidak terjadi apa-apa.
“Lo patut marah ama gue,” Bagus. Dia sadar aku memang seharusnya marah.
“Memang dokter salah apa sama saya? Saya tidak sedang marah sama siapapun. Permisi.” Aku meninggalkannya begitu saja. Mungkin dia terkejut dengan perubahanku yang lagi-lagi memanggilnya dengan sebutan “dokter” bukannya “lo” seperti biasa. Ah, aku tidak peduli lagi tentangnya. Terserah dia mau apa dan bersama siapa!
Aku lalu mencoba menghubungi Pak Min. Hari ini sudah terlalu sore dan aku malas pulang sendirian. Kucoba berulang kali namun yang terdengar hanya suara operator. Tiba-tiba ada suara klakson di belakangku. Aneh, padahal aku sudah ada di trotoar, namun suara klakson itu terus menguntitku. Aku menoleh ke belakang dan mendapati Diego tersenyum manis kepadaku.
“Zel, lo nggak dijemput?”
Aku menggeleng. Diego lalu menepikan motornya.
“Gue anter aja deh? Itung-itung ucapan terima kasih karena lo udah sabar ngajarin gue tadi,”
“Nggak usah, gue bisa naik taksi kok!” Aku menolak. Bukan karena aku tidak mau, tapi lebih kepada tidak mau berurusan dengan omelan Papa. Dia tidak suka aku diantar-jemput laki-laki, itulah mengapa ia menyiapkanku supir pribadi yang siap mengantarkanku kemana saja. Tapi sekarang aku sendiri tidak tahu dimana batang hidung Pak Min!
“Ayo deh. Gue sekalian mau minta tolong sama lo,”
Pantas saja dia sedari tadi memaksaku. Ternyata ada udang di balik batu!
“Lo mau minta tolong apa?”
Dia menjelaskan. “ Gue disuruh Vano beli IUD buat labskill besok. Gue gak tau mesti beli dimana,”
“Lo beli aja di apotek,”
“Gue udah kesana. Tapi nggak ada,”
“Lo bisa minta ke bidan,”
“Bidan di deket rumah gue jutek abis. Gue nggak berani,”
“Ya ampun, lo kan cowok. Masa’ takut sama ibu bidan sih?”
“Gue bukan takut, cuma males aja. Temenin gue ya??” Dia memohon.
“Oke ,deh,” ucapku, akhirnya.
Dia lalu memberiku helm, “ Lo selalu bawa helm dua?”
Dia tersenyum. “ Tadi gue nganterin adek gue ke kampus,”
Aku lalu naik ke atas motornya.
“Pegangan, ya!”
Kami berdua tidak sadar ada sepasang mata yang menatap kesal ke arah kami.
-Reggie POV-
Gue baru aja keluar dari parkiran begitu melihat Raizel sedang menunggu di depan. Apa gue anterin aja, ya? Pikiran itu terus berkecamuk dalam otak gue.
Gue lalu memutuskan menemuinya. Tapi gue terlambat. Si playboy kelas teri itu udah ada bersama Raizel. Gue nggak tau cowok itu ngomong apa sampe Raizel nurut naik ke motor bututnya kayak kerbau dicucuk hidungnya.
Cowok itu pinter banget cari kesempatan. Pasti Raizel lagi nggak dijemput, dan dia tahu itu. Melihat Raizel merangkul cowok itu dari belakang, membuat gue semakin panas. Sialan! Gue melempar kaleng minuman di depan gue.
Kenapa gue kalah cepet? Gue memaki dalam hati.

-Raizel POV-
Kalau mata Reggie menghasilkan energi panas, mungkin aku sudah jadi abu. Bagaimana tidak ? Dia melotot ke arahku sepanjang labskill. Seperti saat aku dipanggil oleh salah satu residen untuk membantunya memperagakan pemasangan IUD di depan aula, ekor mataku menangkap senyum masam bertengger di wajahnya.
Saat kami sudah terbagi dalam kelompokpun, dia masih melotot galak ke arahku. Aku gerah diperhatikan seperti itu terus. Meski aku memunggunginya, aku merasa tatapannya itu seperti menembus dari punggungku, membuatku semakin tak nyaman.
Kalaupun dia mau marah, atas dasar apa? Karena yang seharusnya marah itu aku, bukan dia. Titelnya saja yang residen, tapi tingkah seperti ababil. Dasar residen ababil!
Diapun sepertinya tidak memiliki etiket baik kepadaku. Buktinya, ia tak berusaha mengakui kesalahannya, menjelaskan kepadaku alasan kenapa dia ingkar janji kemarin. Dia malah pergi begitu saja, bahkan sebelum labskill usai.
Mungkin dia mau jalan sama bodyguard-nya. Memikirkan itu membuat dadaku nyeri. Arggh!!
-Reggie POV-
Hari ini Gio yang presentasi. Gue nggak kepikiran kalo dia bakal manggil Raizel untuk jadi asisten sementara. Dasar tukang modus!
“Gie, lo ada pin BB cewek itu nggak?” Suara Gio menyadarkan gue.
“Cewek mana?”
“Itu.. arah jam sepuluh,” Gue lalu memiringkan kepala gue ke arah yang dimaksud. Ternyata Raizel. Sialan!
“Nggak ada,”
“Eh ngomong-ngomong dia udah punya pacar belum,ya?”
“Nggak ada. Memangnya kenapa? Lo suka?”
“ Kalo iya emang kenapa? Lo juga suka?”
“Nggak,” jawab gue cepat.
“Bagus, deh,”
Saat hati gue lagi panas-panasnya, Freya mengirim bbm.
Gue nitip es krim ya.
Gue buru-buru keluar. Hari ini Freya gak masuk. Tubuhnya drop karena dipaksa jaga malem dua hari berturut-turut, dan es krim kacang merah adalah obat mujarab baginya. Entah apa yang terkandung dalam es krim itu, karena setelah dia melahap habis dua bungkus, sakitnya langsung mereda. Mungkin gue perlu membuat penelitian tentang itu.
Gue meluncur ke minimarket terdekat. Begitu gue memutar arah, gue melihat Raizel (lagi). Kali ini batang hidung cowok itu belum muncul. Yes! Gue belom telat!
Spontan, gue mendekatinya. Dia terlihat bengong saat dia tahu yang menurunkan kaca mobil itu gue. Dia bergerak mundur.
“Masuk, gih!” Tawar gue.
Dia menggeleng.
“Gue nggak mau ngeliat lo nunggu lama-lama. Kata orang, daerah sini banyak pemalak. Tapi kalo lo nggak mau, terserah,” Gue lalu menutup kaca mobil. Dari balik kaca mobil, gue bisa melihat dia cemas dengan apa yang gue bilang barusan.
Dia lalu membuka pintu mobil, merelakan dirinya dianter gue! Misi berhasil!
Sepanjang jalan, kami hanya terdiam, tenggelam dalam pikiran masing-masing. Mungkin dia nyesel nebeng gue. Gue lalu memutar lagu-lagu manis, karena sepertinya cewek manis seperti dia lebih suka lagu-lagu macam Back to December, Royals, atau mungkin A Thousand Years .
Tapi dia mencekal tangan gue. “Gue suka Maroon Five,”
“Bagus deh. Soalnya stok lagu gue kebanyakan penyanyi cowok,”
“ Rumah lo masih jauh?”
“Tinggal belok kiri sekali,”
Gue menurut. Dia lalu menyuruh berhenti. Rumah bergaya minimalis. Gue ingat itu dalam hati.
Dia lalu membuka pintu. “Makasih,” gumamnya.
Gue mengangguk. “Eh, tunggu sebentar!” teriak gue.
Dia kemudian berbalik dan menyodorkan gue tatapan seribu tanya.
Gue lalu merogoh jok belakang. “Gue nggak tau lo suka rasa apa, tapi gue harap lo suka,”
Dia melongok ke dalam kantong putih yang sekarang udah berpindah pemilik.
“Maaf,”
“ Gue kemaren mesti follow up pasien dan gue lupa ada janji sama lo,”
Samar-samar gue lihat wajahnya tersenyum. “Gue udah maafin, kok!”
“Eh, bisa gue pinjem hape lo?” Dia menatap gue bingung, tapi akhirnya menyerahkan benda putih itu kepadaku. Aku lalu mengetik beberapa digit angka lalu mengembalikan ponselnya.
“Lo nggak perlu ke bagian kalo mau minta slide. Cukup hubungi gue. Cukup sekali aja gue mesti merelakan kuping gue merah karena ocehan you-know-who,”
“Oke.”
“Hei,”
Dia kemudian berbalik (lagi).
“Misscall, dong! Gue nanti gak tau kalo yang nelpon gue itu elo. Lo tau sendiri kan kalo gue banyak fans,”
Dia tertawa ringan dan gue tau masalah selesai!
-Raizel POV-
Ini mimpi! Aku mencoba mencubiti kedua pipiku , namun yang kudapat hanyalah rasa sakit. Oh,dear. It’s real.
Aku tidak tahu bisikan malaikat apa yang merasuki tubuh Reggie hingga ia bersikap semanis ini padaku. Aku awalnya kesal karena dia tadi buru-buru pergi. Tapi ternyata, dia menyiapkan semuanya! Es krim, mengajakku pulang bersamanya, dan permintaan maaf! Jujur, ini diluar ekspektasiku, tapi aku senang.
Dan tentang es krim, bagaimana dia tahu kalau aku suka es krim kacang merah? Dari sekian banyak rasa es krim, kenapa dia memilih es krim kacang merah? Mungkinkah itu pertanda kalo kami berjodoh? Aku tidak berani berharap terlalu jauh.
Lagi-lagi dia menghadiahiku kejutan. Dia meminta nomor ponselku dengan alasan agar aku lebih mudah menghubunginya. Tidak perlu mengetahui apa maksudnya, yang jelas bukan aku duluan yang meminta nomor ponsel. Yes!
Dengan begitu, aku ada alasan untuk menghubunginya. Dengan begitu aku bisa meluapkan rinduku kapan saja. Bagus. One step closer.
Do you ever think when you’re all alone, all that we could be?
Suara David Archuletta menggema di kamarku. Ada SMS masuk.
Jangan tidur terlalu malem. Gue nggak mau ngeliat lo telat besok.

Bolehkah aku berharap lebih sekarang?
-Reggie POV-
Gue seneng banget dia udah gak marah lagi. Rasanya sebagian beban di pundak gue terangkat. Lega. Ditambah dia tadi memberi gue senyuman. Senyuman yang beberapa hari ini gue rindukan.
Selepas mengantar Raizel pulang, gue buru-buru memutar arah, menuju rumah Freya. Sesampai disana gue disambut suara bindeng Freya. Common cold.
“Lo udah baikan?” Gue menempelkan punggung tangan gue ke keningnya. Agak sedikit panas.
“Agak mendingan,” Dia melihat tangan gue. “Mana pesenan gue?”
God! Gue kasih ke Raizel pula tadi! Gue terlalu senang sampe gue nggak sadar kalo es krim itu buat Freya. Dan sekarang Freya menatap gue penuh harap.
“Hmm, gue lupa,” Entah kenapa gue nggak bisa jujur. Gue lihat gurat kecewa di matanya.
“Apa perlu gue balik?”
Dia menahan lengan gue. “Jangan pergi,”
Jangan pergi
Gue terpaku.
-Raizel POV-
Hari ini kuliah selesai lebih cepat karena salah satu dosen berhalangan hadir. Vano lalu mengambil alih kelas. Dia mengumumkan hari ini akan diadakan rapat angkatan. Semua protes.
Aku bersikap netral, begitu juga dengan Tria. “Rapat apa sih?”
“Rapat pensi,”
“Emang kita dapet tema apa?”
“Belanda,”
“Kenapa gak Korea aja sih?”
“Yey, namanya juga diundi. Kita kan gak tau kita bakal dapet apa,”
“Iya juga sih,”
Rapat itu sendiri berjalan tak lebih dari sejam. Karena aku tak bisa acting, bermain alat musik , menyanyi ataupun memasak, jadi kurelakan diriku berperan sebagai kurir bunga.
Aku coba meng-SMS Reggie.
Dateng pensi yuk!
Kutunggu balasan darinya, tapi entah berapa lama aku menunggu, suara David Archuletta tak muncul-muncul. Mungkin dia lagi sibuk.
-Reggie POV-
Gue baru aja selesai visite pasien saat gue lihat ada SMS masuk.
Dateng pensi yuk!
Pas gue mau ngebales, taunya pulsa gue abis. Gue buru-buru ke konter, tapi konter dekat rumah sakit udah pada tutup. Hmm, atau nggak usah bales aja, tapi tau-tau dateng kesana? Pasti dia seneng banget.
Gue lalu merapat kearah Gio. “Lo bisa gantiin gue jaga besok gak? Gue mau jenguk Freya,”
Dia mengangguk. Yey!
Udah lama gue nggak dateng ke pensi kayak gini. Terakhir kali gue dateng, gue jadi tukang anter kembang. Itu adalah tugas paling nggak manusiawi. Menyaksikan kemesraan orang lain sementara gue cuma dapet bau asem gara-gara baju gue keringetan, keliling kampus buat nganterin kembang.
Gue nggak sabar ngeliat matahari besok!
-Raizel POV-
Menjadi kurir bunga ternyata cukup menyenangkan. Apalagi melihat pasangan-pasangan baru bermunculan. Ya, bunga adalah salah satu cara mengungkapkan perasaan. Lagipula siapa sih yang tidak suka jika ada seseorang yang memberi bunga, apalagi oleh orang yang kita suka? Aku kadang bermimpi seseorang memberiku bunga, berlutut di hadapanku dan mengucapkan “will you be mine?” seperti yang sering ku tonton di drama korea. Pasti romantis.
Masih dalam lamunan, aku merasa ada seseorang menyentuh pundakku. Reggie. Dia mengenakan sweater warna beige dan jeans warna senada. Ini masih dalam bagian lamunan?
“Gue mau beli satu,” Dia lalu mengeluarkan selembar seratus ribuan.
“Bunga apa?”
“ Menurut lo yang paling bagus yang mana?”
“Mawar!” jawabku spontan.
Dia mengerucutkan bibirnya. “Itu pasti karena nama lo Raizel, jadi lo anggep paling bagus,”
“Itu salah satu alasan. Mawar itu lambang perasaan. Gue yakin siapapun yang dikasih mawar, apalagi mawar merah, bakal seneng banget,”
Dia mengambil sembilan tangkai. “Kenapa lo ngambil sembilan?”
“Karena sembilan itu sempurna,”
Aku lalu memberikan selembar kertas.
“Buat nulis pesen,”
Dia mengangguk kemudian tak sampai lima menit mengembalikan lagi kertas itu kepadaku.
“Buat siapa?” Aku berharap bukan untuk bodyguard-nya.
“Buka aja sendiri,”
Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s