UNNAMED-2

\

-Raizel POV-
“Raizel, lo tunggu aja gue di depan kampus,”
Aku bersorak dalam hati. Yey! Ingin rasanya memekik sekeras mungkin, tapi aku tahu itu hanya akan membuatnya berpikir kalau aku adalah gadis aneh. Jadi kompensasi dari semua itu adalah..
Aku mengangguk. Entah dia sadar atau tidak, yang jelas aku tidak mau dia tahu perasaanku sebenarnya.
Tria menyambutku dengan tatapan haus darah.
“Lo diapain aja ama Reggie?” dia menyipitkan matanya, menatapku seolah aku pencuri pakaian dalam yang tertangkap basah.
Aku lalu menceritakan semuanya. Tidak kurang dan tidak lebih. Seperti yang kuperkirakan sebelumnya, ia menodongku dengan menyebutkan beberapa tempat makan yang bisa membuatku sesak napas. Pembicaraan tentang Reggie akhirnya menguap begitu saja saat dosen selanjutnya tahu-tahu sudah mengucapkan salam.
Aku tidak fokus mendengarkan dosen menjelaskan. Pikiranku berkelana kemana-mana. Dosen di depanku tak ubahnya seperti ikan koi kehabisan napas. Bercuap-cuap tanpa bisa menembus otakku. Aku benar-benar sudah tidak waras.
Tepat pukul setengah tiga, ia mengakhiri kuliah. Aku segera keluar kelas, sedangkan Tria hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Aku menunggu di depan kampus, menyuruh Pak Min pulang duluan dan membiarkan cacing-cacing di perutku yang sudah orasi ini bersabar.
Sabar.
Satu jam.
Aku melirik ke arah jam tanganku tiap lima menit. Apa dia lupa?
Dua jam.
Aku sudah mulai tak sabar. Akhirnya aku menuju kafe, berharap dengan segelas gellato aku bisa melepaskan semuanya.
Sepuluh menit kemudian aku sudah berdiri di depan kafe. Begitu kubuka pintu, darahku seakan tersedot, masuk ke ubun-ubun. Persetan dengan gellato!
-Reggie POV-
Gue capek banget. Selepas dari kampus, gue langsung diberondong tugas. Kunjungan pasien. Kalo satu atau dua, gue nggak masalah. Ini tujuh! Tujuh pasien harus gue follow up sendiri. Kalo tau begini, gue nyesel bilang “iya” ke Gina tadi.
“Reggie..” Gina menatap centil.
“Ada apa?”
“ Lo bisa gantiin gue visite pasien? Nenek dari sepupu keponakan bibi gue lagi sakit. Gue nggak bisa ngebiarin dia sendiri,” Matanya pun berubah muram.
“Tapi gue…yaudah deh boleh,”
“Makasih!”
Kalo teringat itu, gue rasanya mau nge-rewind semua. Gue baru sadar kalo Gina itu nggak punya nenek lagi setelah gue ingat kalo dia pernah bolos gara-gara neneknya meninggal. Gue tertipu. Damn!
Sekarang gue ada di ruang tunggu. Melemaskan otot-otot yang sedari tadi gue paksa kerja rodi. Gue menyandarkan kepala di bangku panjang. Nyaman. Mata gue perlahan menutup.
Entah udah berapa lama gue dalam posisi seperti itu, sampai gue merasa ada seseorang yang mengguncang-guncangkan tubuh gue.
Gue membuka mata perlahan dan disana gue melihat Freya.
“Udah jam setengah lima nih, cacing gue laper!” Dia menunjuk perut mungilnya―hasil diet ketat selama empat bulan.
Gue lalu menurut. Meng-starter Big Black dan pergi ke kafe.
Seperti biasa, gue dan Freya langsung memilih tempat keramat itu. di samping kiri , dekat jendela besar, tempat favoritnya.
“Lo mau makan apa?” ujarnya sambil membolak-balik menu. Gue mengedikkan bahu.
“Kami pesan dua steik, yang well-done sama thai ice tea ,”
“Gie, entar kita mampir dulu ke minimarket, ya. Gue lagi ngidam es krim nih!”
Gue tersentak saat Freya mengatakan es krim. Ada sesuatu yang terlupa. Sesuatu tentang es krim. Gue benar-benar gak ingat.
Tepat saat gue menoleh ke arah pintu, gue melihat Raizel! Berdiri di depan pintu kafe dan menatap gue! Entah sejak kapan gue selalu suka saat dia menatap gue. Tapi tunggu dulu, kenapa dia langsung pergi?
-Raizel POV-
Sabar Raizel, aku mengulang-ngulang kalimat itu dalam hati. Mungkin dia lupa. Mungkin dia tidak mengingat janjinya tadi. Mungkin dia anggap itu hanya lelucon layaknya April Mop. Lelucon? Dia pikir dia siapa?
Aku memang menyukainya.Tapi kalau tahu dia hanya memberi harapan palsu, aku tidak akan sudi menunggunya. Mungkin aku hanya dianggap anak kecil yang bisa dijanjikan sesuatu dan tidak sampai lima menit akan lupa. Dia salah!
Aku lalu menumpahkan kekesalanku pada Benny, boneka beruang yang cukup lumayan bila dijadikan samsak.
Ping!
Ada bbm masuk. Ternyata dari Vano, pak ketua angkatan.
Zel, lo yang kemaren dipanggil residen, kan?
Dengan cepat jemariku menari diatas touchscreen.
Iya, kenapa emangnya?
Tidak sampai dua menit Vano membalas.
Gue tadi ditelpon dokter Ahmad. Katanya kalo mau minta slide yang kemaren sama residen yang nemenin dia aja. Kata Tria, lo deket ama dia.
For god sake, Tria!!!!
Mood-ku semakin tak menentu. Mana mungkin aku menemuinya, berpura-pura tak marah, dan dengan santai berkata “ Boleh gue minta slide yang kemaren?” Itu sama saja melempar harga diriku ke laut dan membiarkan hiu menelannya mentah-mentah!
Lagi-lagi Vano membombardir personal chat.
Plis, nasib angkatan ada di tangan lo,
Vano mengatasnamakan angkatan pula! Damn!

Kalo Benny hidup, mungkin dia akan merintih kesakitan karena dia lagi-lagi jadi samsak daruratku.
-Reggie POV-
Gue tiba di rumah sekitar jam tujuh malam. Ini termasuk rekor karena selama gue jadi residen, paling cepet gue balik ke rumah pukul sepuluh, terus pukul lima mesti siap-siap lagi. Capek memang, tapi gue seneng ngejalaninya. Mungkin karena dengan ini, gue bisa nge-bahagiain nyokap. Ya, nyokap gue pengin banget gue jadi dokter kandungan. Beliau pernah cerita kalo gue masih kecil bandel banget. Jadi kalo gue lagi kumat, nyokap sering manggil gue, memangku gue dan mendongengkan saat gue lahir dulu. Karena dulu gue termasuk giant baby, nyokap mesti lewati sectio caesaria demi ngelahirin gue. Setelah gue lahir, tiba-tiba rahimnya gak mau kontraksi dan itu membuat nyokap perdarahan. Nyokap hampir di ambang kritis namun Tuhan masih pengen beliau di sisi gue.
Ping!
Gue membuka ponsel.
Makasih buat makan siang yang bener-bener telat 😛
Dia kemudian kembali mengirim bbm.
Nb: Jangan lupa dimakan ya es krim-nya. Itu tanda kalo gue udah nepatin janji.

Es krim, janji….
Gosh! Gue ingat! Pasti Raizel marah banget begitu tau gue nggak dateng, tapi malah jalan sama Freya. Tapi apa mungkin dia betah nunggu selama.. hmm kurang lebih dua jam? Kalo dia bener-bener nunggu, gue bener-bener gak punya otak!
Tapi tenang! Gue kan punya jurus senyum maut pemikat hati. Dijamin, setelah gue menebarkan jurus itu, Raizel nggak bakal marah lagi sama gue. Gue yakin seribu persen!
-Raizel POV-
Aku melangkah ragu. Kata ners yang tadi kutanyai di koridor, aku hanya perlu mengikuti koridor, lalu sampai di pertigaan, aku pilih kanan. Oke.
Itu dia. Ruang kebidanan. Ada lambang sistem reproduksi wanita disana. Aku ragu. Masuk. Tidak. Masuk. Tidak.
Akhirnya aku memutuskan untuk masuk. Bau antiseptik menyerbu hidungku. “Mau cari siapa?”
“Dokter Reggie,”
“Oh residen ganteng itu. Kamu pacarnya?” Aku menggeleng keras.
“Dia ada di lantai dua. Coba kamu susul kesana,” Aku lalu menuju lantai dua dan disana ternyata ada dua koridor. Aku lagi-lagi bingung. Kiri atau kanan?
Aku lalu memilih kanan. Kulihat kiri-kanan, tampak beberapa ruang tertutup. Di sebelah kiri, ruang ketiga dari pintu masuk, terbuka. Samar-samar kudengar suaranya. Aku lalu mengetuk pintu.
“Ada apa, ya?” Bodyguard Reggie muncul, membuat hatiku tambah panas.
“Dokter Reggie ada?”
“Kamu pacarnya?” Aku (lagi-lagi) menggeleng keras.
“Saya mahasiswi yang kemarin kuliah sama dokter Ahmad,”
“Ooh..” Ia pun lalu masuk dan tahu-tahu Reggie menghambur keluar.
“Lo?” Dia menatapku bingung.
“Kangen ama gue?” Dia bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa!
“Maaf, saya cuma mau minta slide yang dokter Ahmad kuliahkan kemarin,” ujarku datar, sangat datar malah.
Dia tersenyum kikuk, lalu masuk kembali dan membawa flashdisk bersamanya.
“Terima kasih,”
Aku berbalik. Belum tiga langkah, dia sudah memanggilku.
“Lo mau es krim?”
Masih dalam posisi memunggunginya, aku menggeleng dan menangis.
-Reggie POV-
Gue masih terima dia ketus ke gue. Gue masih terima dia marah ke gue. Tapi gue nggak terima dia bersikap manis dengan teman lelakinya itu!
Kami hari ini labskill. Sayangnya, gue nggak sekelompok sama Raizel. Sepanjang labskill , gue melirik ke kelompok Raizel melulu. Entah kenapa gue nggak suka ngeliatin cowok itu deket sama Raizel. Keliatan banget tuh cowok cuma caper ama Raizel.
“Zel, gimana ya cara periksa Leopold yang bener?”
“Gini…” Raizelpun mengarahkan tangan cowok itu ke kanan-kiri. Yang bener aja! Kan gue tadi udah memperagakan cara periksa Leopold yang bener! Cuma orang ketiduran yang nggak akan ngerti penjelasan gue tadi. Tuh, kan! Dia cuma pura-pura gak ngerti, biar bisa deket ama Raizel. Modus!
Lagi-lagi gue mendengar mereka bicara.
“Zel, lo itu pinter banget sih! Gue suka banget sama cewek pinter!” Puji cowok itu. Dasar, rayuan cuma kelas teri. Gue mau muntah dengernya. Tapi nggak dengan Raizel. Dia malah tersipu malu. Zel, lo itu cuma di-modus-in aja sama tuh cowok! Gue geram banget. Kalo gue tetep di deket mereka berdua, bisa-bisa kuping gue meleleh! Panas banget!
Hei, kenapa gue jadi senewen gini? Emang gue siapanya Raizel? Abangnya enggak, sahabat bukan, pacar apalagi. Gue aja baru kenal dia seminggu. Tapi entah kenapa gue nggak suka ada cowok yang deketin Raizel. Ada sesuatu dalam diri gue yang marah kalo Raizel bersikap manis kepada cowok selain gue. Gue mungkin udah gila.
Sehabis labskil, saat ruang sudah agak sepi, gue bergerak mendekatinya. “Hai, Zel!” Gue bersikap ramah. Terlalu ramah mungkin.
Ia cuma mengangguk kayak ayam sakit. “Gue traktir es krim, ya!”
Dia hanya diam, mengunci mulutnya rapat-rapat. “Zel, lo denger gue, kan?”
Lagi-lagi ia diam sembari merapikan buku-bukunya. “Zel, gue tahu gue salah,” Gue mengaku, akhirnya. “Lo masih marah ama gue?” Bodoh. Itu pertanyaan paling retoris sepanjang 2014.
“ Untuk apa saya marah sama dokter?” ujarnya datar.
“Lo patut marah ama gue,”
“Memang dokter salah apa sama saya. Saya tidak sedang marah sama siapapun. Permisi.” Dia lalu meninggalkan gue. Apa lo sebegitu bencinya ama gue?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s