UNNAMED 5

-Raizel POV-
Setelah pensi, kami tidak pernah bertemu lagi. Tiap kali aku mengunjungi kafe, aku tidak pernah sekalipun menemukan batang hidungnya. Jika aku menemuinya di bagian kebidanan, dia pasti mengira kalau aku merindukannya. Ya, aku memang merindukannya. Sepertinya sepi juga tanpa omelan, sikap sok dewasanya, dan senyumnya. Mungkin kali ini aku sudah benar-benar mencandu kehadirannya.
Aku ingin sekali menghubunginya. Tapi, dengan apa aku memulai pembicaraan? Tak mungkin tahu-tahu aku mengaku menghubunginya hanya untuk melepas rindu yang menumpuk di sudut hati. Bisa besar kepala dia! Kuliah dr. Ahmad pun ternyata digantikan oleh dokter yang lain karena dr.Ahmad sedang mengikuti seminar di Jogja, jadi tak ada alasan buatku untuk meminta slide padanya. Atau aku pakai saja taktik minta diajari OSCE? Tapi, OSCE kan masih seminggu lagi dan aku sudah tak bisa menanggung rindu selama itu. Bagaimana caranya, Tuhan? I miss him so bad.
-Reggie POV-
Gue bener-bener sibuk minggu ini. Entah kenapa ada aja pasien yang datang, entah itu beneran mau melahirkan atau sekedar kontraksi Braxton-Hicks semata. Mungkin gara-gara seminggu ini Freya udah masuk lagi. Freya terkenal sebagai residen pemanggil pasien. Pas gue jaga sama Gio, waktu cuma terbuang sia-sia, karena bener-bener gak ada pasien. Tapi pas Freya masuk, gue bisa pastiin kalo setiap hari gak akan absen kedatangan pasien. Bukanya gue nggak suka, tapi kalo banyak begini, gimana gue mau istirahat? Gimana gue mau hangout diem-diem? Gimana gue mau ketemu Raizel? Eh ngomong-ngomong soal Raizel, gue nggak pernah lagi ngeliat dia sejak pensi. Dia juga nggak nelpon gue untuk minta slide.
“Eh, you-know-who gak pernah keliatan lagi ya?”
“Jelas. Dia kan lagi seminar,”
“Loh bukannya dia mesti ngajar di kampus?”
“Lo itu kudet banget ya? Dia kemaren digantiin sama dr. Yusuf,” Freya menjelaskan. Sekarang dia udah senyum-senyum sendiri kayak orang gila.
“ Udah ! Jangan lo pikirin dr. Yusuf. Entar lo malah erotomania lagi!”
“Reggie!!!!” Dia menyerbuku dengan cubitan pedasnya. Gila! Badannya doang yang kecil, tapi cubitannya dahsyat!
“Awas lo, ya!” Gue lalu mengejar Freya yang udah jauh ninggalin gue.
Hap! “Lo nggak bisa lari lagi!” kata Gue saat berhasil memegang tangannya. Dia meronta, namun karena tenaga gue lebih besar, gue bisa dengan mudah menggelitikinya. Tapi dia nggak nyerah, dia balik mencubiti gue bertubi-tubi. Dia nggak bisa berkutik lagi saat gue memiting lehernya. Masih berani ngelawan gue? Reggie dilawan! Hehehe..
“Gue nggak akan kemana-mana,” gumamnya.
Perkataan itu sederhana, tapi pas Freya yang ngucapin kok jadi dalem banget,ya?
-Freya POV-
Gue sebenernya cuma mau liat ekspresi Reggie aja pas gue nyebutin nama dokter ganteng itu. Gue tahu Reggie itu paling males kalo denger tentang dokter itu. Entah apa alasannya, gue sendiripun sampe sekarang nggak ngerti.
Dari Gio gue tahu kalo beberapa hari ini Reggie lagi deket sama mahasiswi itu. Mahasiswi yang waktu itu datang menemuinya. Gue pernah ngeliat sekilas. Gadis berpotongan rambut sebahu dengan poni menjuntai menutupi dahinya. Cukup good-looking menurut gue. Dia hanya perlu polesan sedikit dan, Tada! Semua orang akan sadar kalo dia cantik banget. Semoga Reggie nggak akan sadar akan hal itu. Gue sebel aja ngeliat Reggie deket sama orang lain.
Gue dan Reggie udah kenal lama. Kami berdua kayak kembar dempet. Kemana-mana berdua. Orang yang tidak kenal kami lebih dekat pasti mengira kalo kami pacaran. Gue selalu klarifikasi kalo kami cuma sahabat. Gak lebih. Awalnya gue nggak terlalu peduli dengan itu. Gue cuma nggak mau Reggie mikir macem-macem tentang gue dan itu berhasil. Dia selalu datar kalo ada yang membicarakan kami berdua. Mungkin dia udah terbiasa bersama gue, mendengar gosip-gosip itu dan nggak mau ambil pusing.
Gara-gara kami nggak pernah pisah, gue nggak pernah merasa nyaman kalo ada pria lain yang mencoba masuk ke hati gue. Gue bukannya gak peduli. Gue tahu Michael bela-belain nyiapin semuanya buat gue, buat nembak gue. Tapi gue bukan tipikal orang yang bisa basa-basi. Kalo gue nggak suka, gue pasti bilang nggak. Mungkin karena itu gue nggak pernah bisa membina hubungan spesial dengan lawan jenis. Jadilah gue kemana-mana bersama Reggie, yang membuat semua orang yakin kami lebih dari sekedar sahabat.
Reggie itu orangnya easy going. Semua masalah dianggapnya sepele. Di rumah sakit ia dipanggil tukang telat, raja pelupa, atau pembolos kronis. Gue tahu semua tentang dia. Dia yang suka diam-diam ke kafe, memesan secangkir kopi dan menyesapnya lamat-lamat. Tentang betapa suka dia menghabiskan berjam-jam waktunya di depan laptop, tentang cokelat hangat, tentang mimpinya membuka rumah sakit sendiri, semuanya, kecuali tentang apa yang ada di balik hatinya.Gue nggak bisa bener-bener tahu apa yang ada disana.
Tapi tadi dia menatap gue lama dan gue tau itu bukan tatapan yang biasa dia tunjukkan ke gue. Entah setelah ini apa gue boleh berharap lebih atau nggak.

UNNAMED-4

-Reggie POV-
Gue melangkah mantap ke kampus. Begitu masuk lapangan, gue langsung disambut suasana khas pensi. Ternyata tema pensi kali ini adalah negara. Disana gue bisa menemukan miniatur Cina, Meksiko, Korea, Jepang, Belanda, dan Arab. Gue bisa rasakan dengan jelas atmosfer yang berbeda tiap gue berpindah dari satu stan ke stan lain.
Begitu tiba di stan Belanda , gue ngeliat Raizel lagi sibuk menerima orderan delivery kembang. Bajunya lucu banget. Baju lengan pendek, rok motif kotak-kotak, celemek panjang motif bunga-bunga plus topi segitiga yang setia nangkring di atas kepalanya. Di lengan kirinya tergantung keranjang bunga. Sekarang dia malah mirip noni Belanda. Yaiks, nasibnya ternyata nggak jauh-jauh dari gue enam tahun lalu. Dari jarak segini, gue bisa ngeliat bulir-bulir keringatnya. Kesian, dia mesti bermandi keringat. Gue lalu punya ide cemerlang !
“Gue mau beli satu,” gumam gue sembari menoel pundaknya.
Dia keliatan terkejut tapi gue yakin dia seneng gue ada disini.
“Bunga apa?”
Gue sebenernya gak tau dia suka bunga apa, jadi gue tanya langsung aja ke dia. Ternyata dia suka mawar, sama kayak namanya. Gue lalu memutuskan membeli sembilan. Dia memberi gue selembar kertas, untuk nulis pesan katanya. Jadi gue tulis..
Bunga mawar pasti cocok buat tukang ngambek.
Dia sempat terdiam, gue nggak tahu apa yang dia pikirkan, tapi dari sorot matanya gue tahu dia seneng banget. Gue tiba-tiba aja teringat Freya. Kasihan dia. Sampe sekarang dia belom bisa masuk karena masih sakit. Gue berencana jenguk dia abis ini.
“Lo jual bitterballen, kan?”
-Raizel POV-
“Lo jual bitterballen, kan?”
Aku mengangguk cepat. “Lo suka?”
Dia tampak berpikir “Nggak. Lo tau kan sih Freya, residen cewek yang lo temuin waktu itu?”
Aku tahu siapa yang dia maksud. Aku hanya mengangguk sekadarnya.
“Nah, Dia lagi kena flu dan dia itu suka banget bitterballen . Gue mau jenguk dia abis ini,”
Aku ber-ooh ria. “Yuk, kita beli!” Dia lalu menarik lenganku. Spontan, aku melepaskan tangannya. Dia tersenyum maklum.
Di stan bitterballen, dia ternyata membeli dua puluh biji bitterballen. Aku semakin kesal karena yang dia pikirkan sekarang adalah Freya, bukan aku.
“Nih, buat lo!” Dia lalu menyodorkan kotak sterofoam itu padaku. Ternyata dia membelikan untukku juga. Aku lalu menikmati setiap gigitan bitterballen itu lamat-lamat. Dia mencomot beberapa bitterballen dari punyaku dan melahapnya cepat. Cara dia makan lucu sekali. Rongga mulutnya menggembung, terisi penuh oleh bitterballen. Dengan mulut masih melumat bitterballen, aku berbicara.
“Kita ke stan ramalan yuk,”
“Ogah!”
“Plis!!!” Aku menatapnya penuh harap. Dia mulai luluh.
“Oke deh. Tapi jangan lama-lama!”
Aku melingkarkan ibu jari dan telunjuk.Oke.
Kamipun bergegas menuju sudut stan Fortune Teller.
Seseorang berbaju serba hitam duduk di sudut ruang kecil dengan ukuran tak lebih dari 3×3 meter yang semua ornamen beruansa hitam, tak lupa bola kristal di atas meja. Aku tidak bisa melihatnya wajahnya dengan jelas karena pencahayaan disana amat minim.
“Siapa yang ingin diramal?” Aku dengan cepat mengacungkan tangan.
Peramal itu lalu mengocok kartu, menyusunnya menjadi satu baris dan menyuruhku memilih tiga diantaranya. Ia lalu mulai menafsirkan makna kartu yang kupilih.
“Nona manis, pangeran berkuda itu sebenarnya tahu kemana ia harus melangkah, tapi kabut tebal membuatnya ragu hendak kemana ia menuju,” Aku tidak tahu apa maksudnya. Mendengar kata pangeran berkuda saja sudah membuatku berpikir kalo orang itu adalah Reggie. Tapi, apa tadi katanya? Kabut tebal? Nah ini yang belum ia mengerti apa maksudnya.
“Tapi kau tak usah khawatir. Dia akan segera tiba ke tujuan begitu kabut itu menghilang,”
Dia masih membiarkanku tenggelam dalam kebingungan begitu tahu tahu tangannya sudah mengocok kartu dan menyuruh Reggie memilih beberapa.
“Untukmu, kurasa ini saatnya kuda putih itu harus memilih. Jika ia maju, ia akan diterkam serigala lapar dan jika ia mundur ia akan masuk jurang. Semuanya serba sulit, tapi jika semakin menunda , keadaan akan semakin memburuk,”
-Reggie POV-
“Udah. Gak usah dimasukin hati. Semua itu cuma permainan kartu,” Gue meyakinkan, lebih untuk gue sendiri.
Dia hanya mengangguk lesu. “ Coba lo bayangin. Gue disamain ama kuda. Lagian gak mungkin kan ada serigala lapar di rumah sakit?”
Dia tertawa. “ Kalo konsulen lapar sih banyak!” Tawanya lagi-lagi meledak.
Gue lalu teringat. Jangan-jangan maksud dari kartu itu adalah kalo gue bakal dapet penguji galak minggu depan. Kenapa tadi gue nggak kepikiran ya? Arrgghh.
“Lo kenapa?”
“”Nggak apa-apa. Yuk kita merapat ke pinggir stage,” Dia mengekori gue. Posisi seperti ini, posisi dia disamping gue, tersenyum ke arah gue, membuat gue merasa nyaman. Ada desir-desir bahagia yang menguar dari senyumnya, membuat gue takikardi. Apa gue udah…
“Yuk!”
Dia membuyarkan lamunan gue, maju ke depan dan mulai menikmati suasana mini concert di depannya. Sejenak gue merasa cuma dia yang mengisi dunia gue. Gue selalu suka saat dia ada di samping gue entah kenapa. Saat dia menatap gue lekat, gue merasa kayak detak jantung gue berhenti.Gue mungkin udah gila karena gue sekarang berharap waktu bisa berhenti sebentar aja.
-Raizel POV-
Dia mengajakku ke pinggir panggung. Dari jauh sudah terlihat kalau barisan paling depan sudah memadat. Untung aku bersamanya, karena dengan postur menjulang seperti yang ia miliki, dia dapat dengan mudah menyeruak dari kerumunan. Coba saja kalau aku berjalan sendiri, mungkin aku sudah terinjak-injak oleh penonton yang lain. Hiks!
Kami lalu memilih berdiri di sayap kiri panggung. Ternyata sekarang giliran kelasku yang menyanyi. Di atas panggung sudah berdiri Diego, Revan, Steve, Aji, dan Reza. Mereka membawakan lagu This Love-nya Maroon Five. Lagu lama memang, tapi dari antusias penonton, aku tahu kalau lagu ini benar-benar membuat suasana hidup.
“Lagu ini khusus buat seseorang yang ada di depan gue,” Ujar Diego seraya menatapku. Diego pun selalu menunjukku di beberapa bagian lagu dan itu membuatku tersanjung. Baru kali ini ada laki-laki yang menyanyikan lagu buatku. Ditambah lagi lagu dari band favoritku. Aaaaa..
Today is perfect day!
-Reggie POV-
Bener kan dugaan gue selama ini kalo si playboy kelas teri itu lagi pedekate sama Raizel! Pake acara bilang kalo lagu itu buat Raizel pula! Norak banget sih! Kayak gak ada cara lain aja! Yang jadi objek malah senyam-senyum gak jelas pula. Panas! Argggh
“Diego tadi manis juga ya!” Dia menggumam.
“Apaan?”
“Eh, Gie, menurut lo maksud si Diego nyanyi buat gue apaan ya?” Dia bertanya dengan polosnya. Glek! Nih anak seumur-umur belum pernah dimodusin kali ya? Masa gitu aja gak ngerti.
“Dia itu norak! Udah ah kenapa sih bahas-bahas dia terus?”
“Soalnya dia orang yang pertama nyanyi buat gue. Romantis banget tau!”
“Yang kayak gitu dibilang romantis? Itu mah norak, kampungan ! Dasar ABG sekarang tingkahnya pada norak semua,”
“Loh kok jadi sewot sih,”
“Elo sih yang mulai duluan,”
Dia lalu diam. Gue juga ikutan diam. Gue memutar mp3 player berharap suasana bisa mencair.
“By the way, suara Diego mirip juga ya sama Adam Levine!”
Dia membahas itu (lagi) ! Arrggghhh….

UNNAMED-3

-Raizel POV-
“ Untuk apa saya marah sama dokter?” Aku berpura-pura seolah tidak terjadi apa-apa.
“Lo patut marah ama gue,” Bagus. Dia sadar aku memang seharusnya marah.
“Memang dokter salah apa sama saya? Saya tidak sedang marah sama siapapun. Permisi.” Aku meninggalkannya begitu saja. Mungkin dia terkejut dengan perubahanku yang lagi-lagi memanggilnya dengan sebutan “dokter” bukannya “lo” seperti biasa. Ah, aku tidak peduli lagi tentangnya. Terserah dia mau apa dan bersama siapa!
Aku lalu mencoba menghubungi Pak Min. Hari ini sudah terlalu sore dan aku malas pulang sendirian. Kucoba berulang kali namun yang terdengar hanya suara operator. Tiba-tiba ada suara klakson di belakangku. Aneh, padahal aku sudah ada di trotoar, namun suara klakson itu terus menguntitku. Aku menoleh ke belakang dan mendapati Diego tersenyum manis kepadaku.
“Zel, lo nggak dijemput?”
Aku menggeleng. Diego lalu menepikan motornya.
“Gue anter aja deh? Itung-itung ucapan terima kasih karena lo udah sabar ngajarin gue tadi,”
“Nggak usah, gue bisa naik taksi kok!” Aku menolak. Bukan karena aku tidak mau, tapi lebih kepada tidak mau berurusan dengan omelan Papa. Dia tidak suka aku diantar-jemput laki-laki, itulah mengapa ia menyiapkanku supir pribadi yang siap mengantarkanku kemana saja. Tapi sekarang aku sendiri tidak tahu dimana batang hidung Pak Min!
“Ayo deh. Gue sekalian mau minta tolong sama lo,”
Pantas saja dia sedari tadi memaksaku. Ternyata ada udang di balik batu!
“Lo mau minta tolong apa?”
Dia menjelaskan. “ Gue disuruh Vano beli IUD buat labskill besok. Gue gak tau mesti beli dimana,”
“Lo beli aja di apotek,”
“Gue udah kesana. Tapi nggak ada,”
“Lo bisa minta ke bidan,”
“Bidan di deket rumah gue jutek abis. Gue nggak berani,”
“Ya ampun, lo kan cowok. Masa’ takut sama ibu bidan sih?”
“Gue bukan takut, cuma males aja. Temenin gue ya??” Dia memohon.
“Oke ,deh,” ucapku, akhirnya.
Dia lalu memberiku helm, “ Lo selalu bawa helm dua?”
Dia tersenyum. “ Tadi gue nganterin adek gue ke kampus,”
Aku lalu naik ke atas motornya.
“Pegangan, ya!”
Kami berdua tidak sadar ada sepasang mata yang menatap kesal ke arah kami.
-Reggie POV-
Gue baru aja keluar dari parkiran begitu melihat Raizel sedang menunggu di depan. Apa gue anterin aja, ya? Pikiran itu terus berkecamuk dalam otak gue.
Gue lalu memutuskan menemuinya. Tapi gue terlambat. Si playboy kelas teri itu udah ada bersama Raizel. Gue nggak tau cowok itu ngomong apa sampe Raizel nurut naik ke motor bututnya kayak kerbau dicucuk hidungnya.
Cowok itu pinter banget cari kesempatan. Pasti Raizel lagi nggak dijemput, dan dia tahu itu. Melihat Raizel merangkul cowok itu dari belakang, membuat gue semakin panas. Sialan! Gue melempar kaleng minuman di depan gue.
Kenapa gue kalah cepet? Gue memaki dalam hati.

-Raizel POV-
Kalau mata Reggie menghasilkan energi panas, mungkin aku sudah jadi abu. Bagaimana tidak ? Dia melotot ke arahku sepanjang labskill. Seperti saat aku dipanggil oleh salah satu residen untuk membantunya memperagakan pemasangan IUD di depan aula, ekor mataku menangkap senyum masam bertengger di wajahnya.
Saat kami sudah terbagi dalam kelompokpun, dia masih melotot galak ke arahku. Aku gerah diperhatikan seperti itu terus. Meski aku memunggunginya, aku merasa tatapannya itu seperti menembus dari punggungku, membuatku semakin tak nyaman.
Kalaupun dia mau marah, atas dasar apa? Karena yang seharusnya marah itu aku, bukan dia. Titelnya saja yang residen, tapi tingkah seperti ababil. Dasar residen ababil!
Diapun sepertinya tidak memiliki etiket baik kepadaku. Buktinya, ia tak berusaha mengakui kesalahannya, menjelaskan kepadaku alasan kenapa dia ingkar janji kemarin. Dia malah pergi begitu saja, bahkan sebelum labskill usai.
Mungkin dia mau jalan sama bodyguard-nya. Memikirkan itu membuat dadaku nyeri. Arggh!!
-Reggie POV-
Hari ini Gio yang presentasi. Gue nggak kepikiran kalo dia bakal manggil Raizel untuk jadi asisten sementara. Dasar tukang modus!
“Gie, lo ada pin BB cewek itu nggak?” Suara Gio menyadarkan gue.
“Cewek mana?”
“Itu.. arah jam sepuluh,” Gue lalu memiringkan kepala gue ke arah yang dimaksud. Ternyata Raizel. Sialan!
“Nggak ada,”
“Eh ngomong-ngomong dia udah punya pacar belum,ya?”
“Nggak ada. Memangnya kenapa? Lo suka?”
“ Kalo iya emang kenapa? Lo juga suka?”
“Nggak,” jawab gue cepat.
“Bagus, deh,”
Saat hati gue lagi panas-panasnya, Freya mengirim bbm.
Gue nitip es krim ya.
Gue buru-buru keluar. Hari ini Freya gak masuk. Tubuhnya drop karena dipaksa jaga malem dua hari berturut-turut, dan es krim kacang merah adalah obat mujarab baginya. Entah apa yang terkandung dalam es krim itu, karena setelah dia melahap habis dua bungkus, sakitnya langsung mereda. Mungkin gue perlu membuat penelitian tentang itu.
Gue meluncur ke minimarket terdekat. Begitu gue memutar arah, gue melihat Raizel (lagi). Kali ini batang hidung cowok itu belum muncul. Yes! Gue belom telat!
Spontan, gue mendekatinya. Dia terlihat bengong saat dia tahu yang menurunkan kaca mobil itu gue. Dia bergerak mundur.
“Masuk, gih!” Tawar gue.
Dia menggeleng.
“Gue nggak mau ngeliat lo nunggu lama-lama. Kata orang, daerah sini banyak pemalak. Tapi kalo lo nggak mau, terserah,” Gue lalu menutup kaca mobil. Dari balik kaca mobil, gue bisa melihat dia cemas dengan apa yang gue bilang barusan.
Dia lalu membuka pintu mobil, merelakan dirinya dianter gue! Misi berhasil!
Sepanjang jalan, kami hanya terdiam, tenggelam dalam pikiran masing-masing. Mungkin dia nyesel nebeng gue. Gue lalu memutar lagu-lagu manis, karena sepertinya cewek manis seperti dia lebih suka lagu-lagu macam Back to December, Royals, atau mungkin A Thousand Years .
Tapi dia mencekal tangan gue. “Gue suka Maroon Five,”
“Bagus deh. Soalnya stok lagu gue kebanyakan penyanyi cowok,”
“ Rumah lo masih jauh?”
“Tinggal belok kiri sekali,”
Gue menurut. Dia lalu menyuruh berhenti. Rumah bergaya minimalis. Gue ingat itu dalam hati.
Dia lalu membuka pintu. “Makasih,” gumamnya.
Gue mengangguk. “Eh, tunggu sebentar!” teriak gue.
Dia kemudian berbalik dan menyodorkan gue tatapan seribu tanya.
Gue lalu merogoh jok belakang. “Gue nggak tau lo suka rasa apa, tapi gue harap lo suka,”
Dia melongok ke dalam kantong putih yang sekarang udah berpindah pemilik.
“Maaf,”
“ Gue kemaren mesti follow up pasien dan gue lupa ada janji sama lo,”
Samar-samar gue lihat wajahnya tersenyum. “Gue udah maafin, kok!”
“Eh, bisa gue pinjem hape lo?” Dia menatap gue bingung, tapi akhirnya menyerahkan benda putih itu kepadaku. Aku lalu mengetik beberapa digit angka lalu mengembalikan ponselnya.
“Lo nggak perlu ke bagian kalo mau minta slide. Cukup hubungi gue. Cukup sekali aja gue mesti merelakan kuping gue merah karena ocehan you-know-who,”
“Oke.”
“Hei,”
Dia kemudian berbalik (lagi).
“Misscall, dong! Gue nanti gak tau kalo yang nelpon gue itu elo. Lo tau sendiri kan kalo gue banyak fans,”
Dia tertawa ringan dan gue tau masalah selesai!
-Raizel POV-
Ini mimpi! Aku mencoba mencubiti kedua pipiku , namun yang kudapat hanyalah rasa sakit. Oh,dear. It’s real.
Aku tidak tahu bisikan malaikat apa yang merasuki tubuh Reggie hingga ia bersikap semanis ini padaku. Aku awalnya kesal karena dia tadi buru-buru pergi. Tapi ternyata, dia menyiapkan semuanya! Es krim, mengajakku pulang bersamanya, dan permintaan maaf! Jujur, ini diluar ekspektasiku, tapi aku senang.
Dan tentang es krim, bagaimana dia tahu kalau aku suka es krim kacang merah? Dari sekian banyak rasa es krim, kenapa dia memilih es krim kacang merah? Mungkinkah itu pertanda kalo kami berjodoh? Aku tidak berani berharap terlalu jauh.
Lagi-lagi dia menghadiahiku kejutan. Dia meminta nomor ponselku dengan alasan agar aku lebih mudah menghubunginya. Tidak perlu mengetahui apa maksudnya, yang jelas bukan aku duluan yang meminta nomor ponsel. Yes!
Dengan begitu, aku ada alasan untuk menghubunginya. Dengan begitu aku bisa meluapkan rinduku kapan saja. Bagus. One step closer.
Do you ever think when you’re all alone, all that we could be?
Suara David Archuletta menggema di kamarku. Ada SMS masuk.
Jangan tidur terlalu malem. Gue nggak mau ngeliat lo telat besok.

Bolehkah aku berharap lebih sekarang?
-Reggie POV-
Gue seneng banget dia udah gak marah lagi. Rasanya sebagian beban di pundak gue terangkat. Lega. Ditambah dia tadi memberi gue senyuman. Senyuman yang beberapa hari ini gue rindukan.
Selepas mengantar Raizel pulang, gue buru-buru memutar arah, menuju rumah Freya. Sesampai disana gue disambut suara bindeng Freya. Common cold.
“Lo udah baikan?” Gue menempelkan punggung tangan gue ke keningnya. Agak sedikit panas.
“Agak mendingan,” Dia melihat tangan gue. “Mana pesenan gue?”
God! Gue kasih ke Raizel pula tadi! Gue terlalu senang sampe gue nggak sadar kalo es krim itu buat Freya. Dan sekarang Freya menatap gue penuh harap.
“Hmm, gue lupa,” Entah kenapa gue nggak bisa jujur. Gue lihat gurat kecewa di matanya.
“Apa perlu gue balik?”
Dia menahan lengan gue. “Jangan pergi,”
Jangan pergi
Gue terpaku.
-Raizel POV-
Hari ini kuliah selesai lebih cepat karena salah satu dosen berhalangan hadir. Vano lalu mengambil alih kelas. Dia mengumumkan hari ini akan diadakan rapat angkatan. Semua protes.
Aku bersikap netral, begitu juga dengan Tria. “Rapat apa sih?”
“Rapat pensi,”
“Emang kita dapet tema apa?”
“Belanda,”
“Kenapa gak Korea aja sih?”
“Yey, namanya juga diundi. Kita kan gak tau kita bakal dapet apa,”
“Iya juga sih,”
Rapat itu sendiri berjalan tak lebih dari sejam. Karena aku tak bisa acting, bermain alat musik , menyanyi ataupun memasak, jadi kurelakan diriku berperan sebagai kurir bunga.
Aku coba meng-SMS Reggie.
Dateng pensi yuk!
Kutunggu balasan darinya, tapi entah berapa lama aku menunggu, suara David Archuletta tak muncul-muncul. Mungkin dia lagi sibuk.
-Reggie POV-
Gue baru aja selesai visite pasien saat gue lihat ada SMS masuk.
Dateng pensi yuk!
Pas gue mau ngebales, taunya pulsa gue abis. Gue buru-buru ke konter, tapi konter dekat rumah sakit udah pada tutup. Hmm, atau nggak usah bales aja, tapi tau-tau dateng kesana? Pasti dia seneng banget.
Gue lalu merapat kearah Gio. “Lo bisa gantiin gue jaga besok gak? Gue mau jenguk Freya,”
Dia mengangguk. Yey!
Udah lama gue nggak dateng ke pensi kayak gini. Terakhir kali gue dateng, gue jadi tukang anter kembang. Itu adalah tugas paling nggak manusiawi. Menyaksikan kemesraan orang lain sementara gue cuma dapet bau asem gara-gara baju gue keringetan, keliling kampus buat nganterin kembang.
Gue nggak sabar ngeliat matahari besok!
-Raizel POV-
Menjadi kurir bunga ternyata cukup menyenangkan. Apalagi melihat pasangan-pasangan baru bermunculan. Ya, bunga adalah salah satu cara mengungkapkan perasaan. Lagipula siapa sih yang tidak suka jika ada seseorang yang memberi bunga, apalagi oleh orang yang kita suka? Aku kadang bermimpi seseorang memberiku bunga, berlutut di hadapanku dan mengucapkan “will you be mine?” seperti yang sering ku tonton di drama korea. Pasti romantis.
Masih dalam lamunan, aku merasa ada seseorang menyentuh pundakku. Reggie. Dia mengenakan sweater warna beige dan jeans warna senada. Ini masih dalam bagian lamunan?
“Gue mau beli satu,” Dia lalu mengeluarkan selembar seratus ribuan.
“Bunga apa?”
“ Menurut lo yang paling bagus yang mana?”
“Mawar!” jawabku spontan.
Dia mengerucutkan bibirnya. “Itu pasti karena nama lo Raizel, jadi lo anggep paling bagus,”
“Itu salah satu alasan. Mawar itu lambang perasaan. Gue yakin siapapun yang dikasih mawar, apalagi mawar merah, bakal seneng banget,”
Dia mengambil sembilan tangkai. “Kenapa lo ngambil sembilan?”
“Karena sembilan itu sempurna,”
Aku lalu memberikan selembar kertas.
“Buat nulis pesen,”
Dia mengangguk kemudian tak sampai lima menit mengembalikan lagi kertas itu kepadaku.
“Buat siapa?” Aku berharap bukan untuk bodyguard-nya.
“Buka aja sendiri,”
Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi.

UNNAMED-2

\

-Raizel POV-
“Raizel, lo tunggu aja gue di depan kampus,”
Aku bersorak dalam hati. Yey! Ingin rasanya memekik sekeras mungkin, tapi aku tahu itu hanya akan membuatnya berpikir kalau aku adalah gadis aneh. Jadi kompensasi dari semua itu adalah..
Aku mengangguk. Entah dia sadar atau tidak, yang jelas aku tidak mau dia tahu perasaanku sebenarnya.
Tria menyambutku dengan tatapan haus darah.
“Lo diapain aja ama Reggie?” dia menyipitkan matanya, menatapku seolah aku pencuri pakaian dalam yang tertangkap basah.
Aku lalu menceritakan semuanya. Tidak kurang dan tidak lebih. Seperti yang kuperkirakan sebelumnya, ia menodongku dengan menyebutkan beberapa tempat makan yang bisa membuatku sesak napas. Pembicaraan tentang Reggie akhirnya menguap begitu saja saat dosen selanjutnya tahu-tahu sudah mengucapkan salam.
Aku tidak fokus mendengarkan dosen menjelaskan. Pikiranku berkelana kemana-mana. Dosen di depanku tak ubahnya seperti ikan koi kehabisan napas. Bercuap-cuap tanpa bisa menembus otakku. Aku benar-benar sudah tidak waras.
Tepat pukul setengah tiga, ia mengakhiri kuliah. Aku segera keluar kelas, sedangkan Tria hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Aku menunggu di depan kampus, menyuruh Pak Min pulang duluan dan membiarkan cacing-cacing di perutku yang sudah orasi ini bersabar.
Sabar.
Satu jam.
Aku melirik ke arah jam tanganku tiap lima menit. Apa dia lupa?
Dua jam.
Aku sudah mulai tak sabar. Akhirnya aku menuju kafe, berharap dengan segelas gellato aku bisa melepaskan semuanya.
Sepuluh menit kemudian aku sudah berdiri di depan kafe. Begitu kubuka pintu, darahku seakan tersedot, masuk ke ubun-ubun. Persetan dengan gellato!
-Reggie POV-
Gue capek banget. Selepas dari kampus, gue langsung diberondong tugas. Kunjungan pasien. Kalo satu atau dua, gue nggak masalah. Ini tujuh! Tujuh pasien harus gue follow up sendiri. Kalo tau begini, gue nyesel bilang “iya” ke Gina tadi.
“Reggie..” Gina menatap centil.
“Ada apa?”
“ Lo bisa gantiin gue visite pasien? Nenek dari sepupu keponakan bibi gue lagi sakit. Gue nggak bisa ngebiarin dia sendiri,” Matanya pun berubah muram.
“Tapi gue…yaudah deh boleh,”
“Makasih!”
Kalo teringat itu, gue rasanya mau nge-rewind semua. Gue baru sadar kalo Gina itu nggak punya nenek lagi setelah gue ingat kalo dia pernah bolos gara-gara neneknya meninggal. Gue tertipu. Damn!
Sekarang gue ada di ruang tunggu. Melemaskan otot-otot yang sedari tadi gue paksa kerja rodi. Gue menyandarkan kepala di bangku panjang. Nyaman. Mata gue perlahan menutup.
Entah udah berapa lama gue dalam posisi seperti itu, sampai gue merasa ada seseorang yang mengguncang-guncangkan tubuh gue.
Gue membuka mata perlahan dan disana gue melihat Freya.
“Udah jam setengah lima nih, cacing gue laper!” Dia menunjuk perut mungilnya―hasil diet ketat selama empat bulan.
Gue lalu menurut. Meng-starter Big Black dan pergi ke kafe.
Seperti biasa, gue dan Freya langsung memilih tempat keramat itu. di samping kiri , dekat jendela besar, tempat favoritnya.
“Lo mau makan apa?” ujarnya sambil membolak-balik menu. Gue mengedikkan bahu.
“Kami pesan dua steik, yang well-done sama thai ice tea ,”
“Gie, entar kita mampir dulu ke minimarket, ya. Gue lagi ngidam es krim nih!”
Gue tersentak saat Freya mengatakan es krim. Ada sesuatu yang terlupa. Sesuatu tentang es krim. Gue benar-benar gak ingat.
Tepat saat gue menoleh ke arah pintu, gue melihat Raizel! Berdiri di depan pintu kafe dan menatap gue! Entah sejak kapan gue selalu suka saat dia menatap gue. Tapi tunggu dulu, kenapa dia langsung pergi?
-Raizel POV-
Sabar Raizel, aku mengulang-ngulang kalimat itu dalam hati. Mungkin dia lupa. Mungkin dia tidak mengingat janjinya tadi. Mungkin dia anggap itu hanya lelucon layaknya April Mop. Lelucon? Dia pikir dia siapa?
Aku memang menyukainya.Tapi kalau tahu dia hanya memberi harapan palsu, aku tidak akan sudi menunggunya. Mungkin aku hanya dianggap anak kecil yang bisa dijanjikan sesuatu dan tidak sampai lima menit akan lupa. Dia salah!
Aku lalu menumpahkan kekesalanku pada Benny, boneka beruang yang cukup lumayan bila dijadikan samsak.
Ping!
Ada bbm masuk. Ternyata dari Vano, pak ketua angkatan.
Zel, lo yang kemaren dipanggil residen, kan?
Dengan cepat jemariku menari diatas touchscreen.
Iya, kenapa emangnya?
Tidak sampai dua menit Vano membalas.
Gue tadi ditelpon dokter Ahmad. Katanya kalo mau minta slide yang kemaren sama residen yang nemenin dia aja. Kata Tria, lo deket ama dia.
For god sake, Tria!!!!
Mood-ku semakin tak menentu. Mana mungkin aku menemuinya, berpura-pura tak marah, dan dengan santai berkata “ Boleh gue minta slide yang kemaren?” Itu sama saja melempar harga diriku ke laut dan membiarkan hiu menelannya mentah-mentah!
Lagi-lagi Vano membombardir personal chat.
Plis, nasib angkatan ada di tangan lo,
Vano mengatasnamakan angkatan pula! Damn!

Kalo Benny hidup, mungkin dia akan merintih kesakitan karena dia lagi-lagi jadi samsak daruratku.
-Reggie POV-
Gue tiba di rumah sekitar jam tujuh malam. Ini termasuk rekor karena selama gue jadi residen, paling cepet gue balik ke rumah pukul sepuluh, terus pukul lima mesti siap-siap lagi. Capek memang, tapi gue seneng ngejalaninya. Mungkin karena dengan ini, gue bisa nge-bahagiain nyokap. Ya, nyokap gue pengin banget gue jadi dokter kandungan. Beliau pernah cerita kalo gue masih kecil bandel banget. Jadi kalo gue lagi kumat, nyokap sering manggil gue, memangku gue dan mendongengkan saat gue lahir dulu. Karena dulu gue termasuk giant baby, nyokap mesti lewati sectio caesaria demi ngelahirin gue. Setelah gue lahir, tiba-tiba rahimnya gak mau kontraksi dan itu membuat nyokap perdarahan. Nyokap hampir di ambang kritis namun Tuhan masih pengen beliau di sisi gue.
Ping!
Gue membuka ponsel.
Makasih buat makan siang yang bener-bener telat 😛
Dia kemudian kembali mengirim bbm.
Nb: Jangan lupa dimakan ya es krim-nya. Itu tanda kalo gue udah nepatin janji.

Es krim, janji….
Gosh! Gue ingat! Pasti Raizel marah banget begitu tau gue nggak dateng, tapi malah jalan sama Freya. Tapi apa mungkin dia betah nunggu selama.. hmm kurang lebih dua jam? Kalo dia bener-bener nunggu, gue bener-bener gak punya otak!
Tapi tenang! Gue kan punya jurus senyum maut pemikat hati. Dijamin, setelah gue menebarkan jurus itu, Raizel nggak bakal marah lagi sama gue. Gue yakin seribu persen!
-Raizel POV-
Aku melangkah ragu. Kata ners yang tadi kutanyai di koridor, aku hanya perlu mengikuti koridor, lalu sampai di pertigaan, aku pilih kanan. Oke.
Itu dia. Ruang kebidanan. Ada lambang sistem reproduksi wanita disana. Aku ragu. Masuk. Tidak. Masuk. Tidak.
Akhirnya aku memutuskan untuk masuk. Bau antiseptik menyerbu hidungku. “Mau cari siapa?”
“Dokter Reggie,”
“Oh residen ganteng itu. Kamu pacarnya?” Aku menggeleng keras.
“Dia ada di lantai dua. Coba kamu susul kesana,” Aku lalu menuju lantai dua dan disana ternyata ada dua koridor. Aku lagi-lagi bingung. Kiri atau kanan?
Aku lalu memilih kanan. Kulihat kiri-kanan, tampak beberapa ruang tertutup. Di sebelah kiri, ruang ketiga dari pintu masuk, terbuka. Samar-samar kudengar suaranya. Aku lalu mengetuk pintu.
“Ada apa, ya?” Bodyguard Reggie muncul, membuat hatiku tambah panas.
“Dokter Reggie ada?”
“Kamu pacarnya?” Aku (lagi-lagi) menggeleng keras.
“Saya mahasiswi yang kemarin kuliah sama dokter Ahmad,”
“Ooh..” Ia pun lalu masuk dan tahu-tahu Reggie menghambur keluar.
“Lo?” Dia menatapku bingung.
“Kangen ama gue?” Dia bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa!
“Maaf, saya cuma mau minta slide yang dokter Ahmad kuliahkan kemarin,” ujarku datar, sangat datar malah.
Dia tersenyum kikuk, lalu masuk kembali dan membawa flashdisk bersamanya.
“Terima kasih,”
Aku berbalik. Belum tiga langkah, dia sudah memanggilku.
“Lo mau es krim?”
Masih dalam posisi memunggunginya, aku menggeleng dan menangis.
-Reggie POV-
Gue masih terima dia ketus ke gue. Gue masih terima dia marah ke gue. Tapi gue nggak terima dia bersikap manis dengan teman lelakinya itu!
Kami hari ini labskill. Sayangnya, gue nggak sekelompok sama Raizel. Sepanjang labskill , gue melirik ke kelompok Raizel melulu. Entah kenapa gue nggak suka ngeliatin cowok itu deket sama Raizel. Keliatan banget tuh cowok cuma caper ama Raizel.
“Zel, gimana ya cara periksa Leopold yang bener?”
“Gini…” Raizelpun mengarahkan tangan cowok itu ke kanan-kiri. Yang bener aja! Kan gue tadi udah memperagakan cara periksa Leopold yang bener! Cuma orang ketiduran yang nggak akan ngerti penjelasan gue tadi. Tuh, kan! Dia cuma pura-pura gak ngerti, biar bisa deket ama Raizel. Modus!
Lagi-lagi gue mendengar mereka bicara.
“Zel, lo itu pinter banget sih! Gue suka banget sama cewek pinter!” Puji cowok itu. Dasar, rayuan cuma kelas teri. Gue mau muntah dengernya. Tapi nggak dengan Raizel. Dia malah tersipu malu. Zel, lo itu cuma di-modus-in aja sama tuh cowok! Gue geram banget. Kalo gue tetep di deket mereka berdua, bisa-bisa kuping gue meleleh! Panas banget!
Hei, kenapa gue jadi senewen gini? Emang gue siapanya Raizel? Abangnya enggak, sahabat bukan, pacar apalagi. Gue aja baru kenal dia seminggu. Tapi entah kenapa gue nggak suka ada cowok yang deketin Raizel. Ada sesuatu dalam diri gue yang marah kalo Raizel bersikap manis kepada cowok selain gue. Gue mungkin udah gila.
Sehabis labskil, saat ruang sudah agak sepi, gue bergerak mendekatinya. “Hai, Zel!” Gue bersikap ramah. Terlalu ramah mungkin.
Ia cuma mengangguk kayak ayam sakit. “Gue traktir es krim, ya!”
Dia hanya diam, mengunci mulutnya rapat-rapat. “Zel, lo denger gue, kan?”
Lagi-lagi ia diam sembari merapikan buku-bukunya. “Zel, gue tahu gue salah,” Gue mengaku, akhirnya. “Lo masih marah ama gue?” Bodoh. Itu pertanyaan paling retoris sepanjang 2014.
“ Untuk apa saya marah sama dokter?” ujarnya datar.
“Lo patut marah ama gue,”
“Memang dokter salah apa sama saya. Saya tidak sedang marah sama siapapun. Permisi.” Dia lalu meninggalkan gue. Apa lo sebegitu bencinya ama gue?

UNNAMED

-Raizel POV-

*PROLOG*

It’s Monday! Aku hampir memekik sangking girangnya. Hari senin, deru kendaraan beroda saling memacu, beradu kelincahan di sepanjang jalan protokol, bau hujan yang mencium tanah semalam dan kampus baru! Perfect! Ya, hari ini aku merubah statusku. Mahasiswi. Koreksi, mahasiswi kedokteran. Can you believe it? Aku, sekitar 5 tahun lagi mengenakan snelli, melangkah tergesa-gesa sembari menginstruksikan tindakan pada ners dan melihat senyum bahagia pasien saat pengobatannya berhasil.

By the way, hari ini hari pertama aku kuliah di kampus baru. Kampusku hanya berjarak tiga setengah kilometer dari rumah dan itu berarti aku hanya membutuhkan waktu 15 menit untuk tiba disana. Mahasiswa baru tidak boleh membawa kendaraan sendiri dan itu membuatku merelakan Pak Min hanya mengantarkanku sampai di depan jalan. Selepas Honda City itu melaju menjauh, aku membiarkan kakiku bekerja sejauh empat ratus meter. Cukup melelahkan memang, tapi tak mengapa. Semangat hari baru membuatku tak memikirkan apa yang akan terjadi pada otot betisku.

Baru dua ratus meter, aku melihat kerumunan abnormal di sisi kiri jalan. Aku bergerak mendekat, penasaran dengan apa yang terjadi.

“Nafasnya megap-megap, ” ujar salah seorang dari kerumunan itu.

“Sepertinya tulang rusuknya patah,” sambung seorang lainnya. Semua orang disana hanya mengomentari tanpa benar-benar membantu. Jalan itupun memadat, macet karena beberapa orang sengaja berhenti untuk sekedar  melihat , mengomentari, atau justru mengambil foto.

Nuraniku pun terketuk untuk menyelamatkan keadaan. Aku lalu menginstruksikan beberapa orang laki-laki paruh baya mengangkat bapak itu ke pinggir jalan, agar macet di jalan itu tidak bertambah parah.

Kuperhatikan korban kecelakaan itu dari ujung rambut sampai ujung kaki. Aku melihat ada patahan tulang di dada kirinya, dadanya tidak mengembang bersamaan, dan nafasnya megap-megap. Tiba-tiba tanganku gemetar, tak tahu harus berbuat apa. Aku berusaha fokus, mencari tahu apakah ada sesuatu yang bisa kulakukan. Nihil.

Tepat saat itulah dia datang. Menyeruak dari balik kerumunan dan segera melakukan pertolongan pertama. Jemarinya yang panjang dengan terampil meraba denyut nadi di pergelangan tangan. Ia lalu mengeluarkan stetoskop dan meletakkannya di kedua sisi dada. Ia tampak berpikir sejenak lalu kemudian merogoh tasnya, mencari sesuatu namun dari sorot matanya aku tahu dia tak menemukan apa yang ia cari. Lantas ia menatapku.

“Kamu punya jarum ?”

Aku menggeleng lemah. “Apapun yang tajam, asal cukup bersih,” lanjutnya.

Aku lalu mengeluarkan pena tinta yang baru kubeli tiga hari yang lalu. Dia segera menancapkan ujung pena itu ke dada kiri korban. Kemudian, ia menyuruh seorang warga agar memanggil ambulans.

Ia tersenyum lega. Itu adalah senyum pertama yang kulihat darinya. Aku balas tersenyum. Aku mengamati jas putih yang kini sedikit kotor terkena tanah dan mendapati nametag-nya.

dr.Reggie

Kusimpan rapat-rapat nama itu dalam hati.

Tiga tahun kemudian…..

-Raizel POV-

Aku tidak benar-benar mengenal diriku. Maksudku, lihatlah aku sekarang, duduk manis dengan kedua mata awas, menunggu sesosok pria jangkung yang langkahnya persis dengan debaran jantungku. Padahal kemarin aku baru saja memutuskan untuk berhenti menguntitnya. Aku pasti sudah gila.

“1…2…3…” Tepat saat aku menjentikkan jemari, pria itu masuk ke kafe dan langsung memilih duduk di samping kiri , dekat jendela besar, tempat favoritnya.

“Lo benar-benar udah gila,” ujar Tria mencibirku. Aku mengedikkan bahu, lalu mengalihkan kembali mataku ke pria itu.

dr. Reggie.

Begitulah tulisan yang tercantum di nametag-nya. Untuk ukuran seorang dokter, penampilannya jauh dari kata nerd. Ia cukup tahu bagaimana cara menonjolkan kelebihan yang ada pada dirinya. Garis rahangnya tegas, sorot mata yang tajam dengan iris berpigmen kecoklatan berpadu sempurna dengan tubuhnya yang atletis dan senyum yang memesona. Satu lagi, kacamata ber-frame hitam yang membuat wajahnya terkesan smart tapi tak menutupi maskulinitasnya.

“Awas mata lo bisa meleleh kalau lo cuma ngeliatin doi aja,” lagi-lagi Tria mencibirku.

Then, what should i do?”

Try to get his attention! For god sake, untuk ukuran mahasiswi kedokteran peraih IPK tertinggi, gue rasa lo benar-benar payah!” ocehnya gemas.

By the way, today is perfect day,” Tria lalu menunjuk kearah pria itu dengan dagunya.

See, he hasn’t bodyguard today. Do it now or never!”

Aku mendengus kesal. Jika Tria sudah mengomel begini, yang kulakukan hanya menuruti perintahnya agar teriakannya tak membuat waiters di kafe ini mengusir kami keluar. Tapi Tria memang benar, wanita itu – dengan istilah bodyguard menurut Tria – tidak bersamanya hari ini. Apakah mereka sedang ada masalah? Jika iya, artinya Tria lagi-lagi benar, dan itu berarti ini waktu yang tepat untuk memulainya.

Aku lalu memberanikan diri menuju mejanya. Ia tampaknya tak menyadari keberadaanku karena saat aku ada di balik punggungnya pun , ia tak sedikitpun menoleh, masih setia menekuni Obstetri Williams.

May i?” Ujarku sembari menunjuk kursi yang ada disampingnya. Ia lalu mengangkat kepalanya dan membawa tatapannya persis di kedua mataku.

Oh, dear. Aku rasa otot kakiku sudah berubah menjadi agar-agar.

 

-Reggie POV-

Hari ini hujan dan gue tahu ini waktu yang tepat untuk secangkir cokelat hangat. Gue lalu memutuskan untuk menghabiskan jam makan siang di kafe seberang rumah sakit. Dari pagi tadi, gue sudah menerima setidaknya dua orang ibu yang ingin melahirkan. Otot-otot di seluruh badan gue  meronta, memaksa gue untuk istirahat. Secangkir cokelat hangat gue rasa pantas untuk membayar kepenatan hari ini.

Tepat saat gue keluar dari OK, gue berpapasan dengan Freya. Ia benar-benar terlihat lelah dengan muka yang sedikit memucat.

“Lo nggak apa-apa, Fre?” ujar gue memastikan.

Ia tersenyum sekaligus mengangguk sekali untuk menjawab pertanyaan gue.

“Lo mau kemana?”

“Mencari sedikit kehangatan,” celetuk gue asal.

Ia lagi-lagi tersenyum. Ah, senyumnya manis sekali.

“Lo mau ikut?”

“Gue mesti ngecek keadaan pasien di bangsal dulu,” Raut mukanya berubah saat ia mengecek jam mungil di pergelangan tangan kirinya.

Oh dear, mungkin gue harus berlari di sepanjang koridor supaya gue nggak keduluan rubah galak itu..”

“Gue duluan ya…”

Ia lalu beranjak pergi, meninggalkan gue yang terpaku karena masih terbius sisa-sisa senyumnya. Mungkin sedikit cokelat hangat mampu membuatnya senang. Gue lalu melangkah mantap menuju parkiran.

Kafe ini tak jauh dari rumah sakit. Gue hanya perlu waktu sepuluh menit untuk tiba disini. Tepat saat gue membuka pintu kafe, aroma kopi arabika berebut masuk ke hidung, membuat gue tergoda untuk memesan secangkir saja.

Gue lalu menjejalkan bokong gue di kursi di samping kiri kafe , dekat jendela besar, tempat favorit gue dan Freya menghabiskan waktu disini.

Sepuluh menit berlalu dan pesanan gue akhirnya datang. Gue mengangguk sekilas lalu kembali menekuni lembaran Obstetri Williams. Tepat setelah lembar ketiga, suara serak itu menggetarkan gendang telinga gue.

May i?”

Sedikit terkejut, gue mendapati sosok gadis berkacamata dengan potongan rambut sebahu , tersenyum ke arah gue, meminta izin untuk duduk di meja yang sama. Gue spontan tersenyum –bukan karena gue kecentilan- lalu menyilahkannya duduk.

Namun dia tetap bergeming dengan ekspresi terkejut yang serupa dengan gue tadi. Gue lalu menjentikkan jemari di wajahnya, berharap dia sedang tidak kemasukan roh halus.

Ia lalu “sadar” dan rona-rona merah di kedua pipinya mengindikasikan kalau dia sedang berada dalam fase gue-ketauan-terpesona-oleh-si-doi. Gue segera memperbaiki suasana disana dengan kembali mengucapkan “With pleasure,”

Matanya lagi-lagi membulat. Apa perkataan gue salah?

 

-Raizel POV-

With pleasure,” tepat seperti itulah kata yang tersaring, masuk kedalam otakku. Namun aku masih tak percaya dengan apa yang kudengar. Aku masih terpaku di tempatku berdiri, saat dia menjentikkan jemarinya. Bodoh. Aku pasti terlihat sangat bodoh di hadapannya. Kau benar-benar payah Raizel, aku membatin.

With pleasure,” ulangnya. Aku lalu menghempaskan bokongku di sebelahnya dan mendapati secangkir cokelat hangat menemaninya. Ah, dia tak memesan secangkir kopi seperti biasa.

“Kenapa tak memesan kopi seperti biasa?” Pertanyaan itu menyerbu ujung lidahku. Ia terkejut mendengar perkataanku.

“Seperti biasa? Maksudnya?” Bodoh. Dia pasti segera tahu kalau aku sudah lama menguntitnya.

“Maksud saya tidak seperti yang biasa pengunjung pria pesan disini,” ujarku terbata. Semoga dia tidak curiga dengan apa yang kukatakan barusan.

Ia ber-ooh ria. “ Tidak untuk hari ini,”

“Dokter harus mencobanya,” ujarku seraya menyeruput kopi hitam di cangkirku.

Dia mengangguk. “Bagaimana denganmu?” Ia lalu melirik cangkirku dan tersenyum geli.“Sepertinya tidak hanya pria yang menikmati kopi di kafe ini,”

“Seseorang membuat saya menyukainya,” Aku tersenyum penuh arti.

“Cinta pertama?” selidiknya.

“ Bagaimana dokter bisa tahu?”

“Dari kedua matamu. Eyes never lie.  Jelas sekali tergambar. Apa kamu benar-benar tidak pernah menyadarinya?”

Aku berdehem palsu. “ Saya rasa dokter lebih cocok jadi psikiater dibanding dokter kandungan,”

Dia tertawa. “ Bagaimana kamu bisa menyimpulkan? Dan, tunggu sebentar,  bagaimana kamu tahu saya dokter kandungan, hmm maksud saya residen di spesialis kebidanan?” Dia mengoreksi.

“Dari kata-kata dokter yang cukup logis,”

Aku melanjutkan “ Dan untuk pertanyaan kedua..” Aku lalu menunjuk Obstetri Williams di seberang cangkirnya. “Saya juga punya satu,”

Dia menoleh ke arah buku itu. “ Kamu residen juga? Kok saya tidak pernah lihat?”

Aku menggeleng “ Saya mahasiswi kedokteran,”

“Oh, ternyata adik tingkat.  Berarti kamu sudah masuk semester..hmm enam?” ujarnya memastikan.

“Yap,”

“Dan namamu?”

“Raizel. Nama saya Raizel,”

 

-Reggie POV-

“Raizel. Nama saya Raizel,”

“Gue Reggie,” Gue lalu balas menjabat tangannya yang sepersekian detik menggantung di udara. Ia menggenggam tangan gue lembut.

“Lo nggak usah panggil gue pake titel. Cukup Reggie, atau kalo lo ngerasa kurang nyaman, lo bisa panggil gue kakak,” Gue menambahkan. Ia mengangguk paham.

“Raizel, sepertinya gue pernah dengar…” Gue mencoba menerawang. Mencari nama itu di sel-sel otak gue.

“Bunga mawar.”

Ah, iya. “Bahasa Ibrani?”

Ia mengangguk.

“Lo orang yang pertama tau tentang itu,”

Entah angin apa yang membuat gue senang mendengarnya. “ Gue pernah baca di mbah google,”

“Dan Reggie… bahasa Jerman?” Keningnya berkerut samar, seperti memikirkan sesuatu. “Ya, gue baru ingat, artinya penasehat raja?”

Gue tersenyum. Ia balik tersenyum sumringah, seperti peserta SuperDeal yang baru mendapat mobil dari tirai yang dipilihnya. Lucu sekali.

“Lo tau? Lo juga orang yang pertama tau tentang nama gue,”

Ia tersipu malu dan gue yakin gue nggak salah liat.

“Lo nggak balik ke rumah sakit?” ujarnya mengalihkan pembicaraan. Gue melirik ke arah Alexander Christie di pergelangan tangan kiri gue. Gosh!

It’s time to back,” Gue lalu meletakkan selembar seratus ribuan. Dia menatap gue bingung.

“Sekalian buat lo,” Gue melengkungkan senyum singkat. “Nice to talk with you,”

Gue melambaikan tangan sekilas sebelum benar-benar pergi dari kafe ini. Gue segera memacu Big Black , berusaha tiba di rumah sakit secepat mungkin.

“Lo dateng tepat waktu,” teriakan Freya menyambut kehadiran gue. Gue bernafas lega.

“Lo kok lama banget ke kafe? Cari part time job?”

“Entar gue ceritain,” Gue lalu mendorongnya ke OK.

 

-Raizel POV-

“Dan Reggie… bahasa Jerman?” Aku berusaha terlihat memikirkan arti namanya, padahal  sudah sejak lama aku tahu artinya. “Ya, gue baru ingat, artinya penasehat raja?”

Dia tersenyum. “Lo tau? Lo juga orang yang pertama tau tentang nama gue,”

Ah, mendengarnya berbicara seperti itu membuat aliran darah segera memenuhi pipiku, membuat kedua pipiku menghangat. Aku yakin seratus persen dia pasti memperhatikan perubahan drastis ini. Gosh!

Aku lalu mengalihkan pembicaraan, menanyakan kenapa dia tidak segera ke rumah sakit, padahal aku tahu sekarang ia harus sudah berada di OK.

It’s time to back,” ujarnya buru-buru, lalu melemparkan selembar seratus ribuan dan meninggalkanku di kafe ini.

Nice to talk with you,” Ia menambahkan.

Mataku masih mengekori sosoknya saat Tria tahu-tahu sudah duduk di kursi Reggie.

“Duh, yang lagi falling in love, sampe segitunya,” Guraunya, menyentakku ke dunia nyata.

“Apaan sih lo,” Kucubiti pipi gembulnya sampai dia mengaduh.

“Aww, sakit tau! Awas ya, kalo gue dapet pin BB Reggie, lo nggak bakal gue kasih,” Ancamnya.

Aku lalu memesan spaghetti carbonara dan lemon tea untuk “menyuapnya” dan itu berarti aku harus berhemat agar kantongku bulan ini tidak kempes.

“Jadwal kita besok apaan sih?”

“Kuliah pagi sama dokter Ahmad,”

“Gue harap dokter itu besok nggak ngebagiin Valerianae radix,”

“Emang dia punya toko herbal juga?”

For god sake, otak lo udah dicuci ama Reggie ya? Maksud gue, kalo dokter itu ngasih kuliah cuma bikin ngantuk,” jelasnya panjang lebar.

“Ooo…”

“Sudah yuk kita cabut aja. Gue belom ngerjain tugas gara-gara nemenin lo,” gerutunya.

Aku lalu menggamit lengannya erat. “ Oke sayang,”

“Idih.. sono panggil sayang ama Reggie aja. Gue mah ogah. Gini-gini gue masih suka sama cowok,”

Aku memberengut namun sejurus kemudian kami tertawa dan melenggang keluar kafe.

 

-Reggie POV-

“Reggie, bisa ke ruang kerja saya sebentar,”

Gue  mengangguk lalu mengekori konsulen ke ruang kerjanya.

“Saya besok mau mengajar di kampus. Kamu bisa meng-handle sebelum saya tiba ? Soalnya saya ada urusan jadi agak terlambat sedikit,”

“Bisa, Dok. Jam berapa mulai kuliah?”

“Jam 8 pagi. Kamu harus tiba sebelum pukul setengah 8,”

Gue mengangguk mantap padahal dalam hati gue udah ngedumel.

“Oke, silakan keluar,” Gue lalu permisi.

“Ada apa?”Freya menoel pundak gue.

“Kebagian jadi asdos buat kuliah besok,” Jelas gue.

“Dia nggak salah pilih,” Freya memeletkan lidah.

Sialan. “Seharusnya kan lo yang nemenin. Lo kan tau gue suka telat,”

“Karena itulah gue bilang kalo dia nggak salah pilih,” Freya beralibi.

“Lo terima aja dulu. Mana tahu setelah besok lo malah keranjingan ke kampus,” Dia mengedipkan satu matanya. Gue nggak ngerti.

“Adik tingkat kita kece-kece loh. Bisa jadi lo dapet satu,” Freya mengikik geli.

Gue lagi-lagi mengumpat dalam hati. Mana bisa gue ngelirik yang lain, Fre. Gue maunya elo.

 

-Raizel POV-

I hate Friday. Kalau ada yang bilang hari jumat itu hari surga –karena besoknya sudah terhitung weekend– menurutku hari itu adalah hari neraka. Why? Karena hari jumat akan mengawali hari-hari sepiku di rumah. Senin sampai jumat jadwalku penuh dengan rentetan kuliah. Sabtu dan minggu hanya kuisi dengan menonton drama korea terbaru, running man sambil sesekali melongok ke rak novel untuk membaca beberapa buku yang memang sudah kubeli sebelumnya.

“Lo ngapain besok?”

“Seperti biasa, meratapi keadaan,” ujarku sarkastik.

“Dih, dapet tugas nulis cerita satir dari dosen?”  Dia lalu tertawa.

“Lo kayak baru kenal gue sehari dua hari,”

“Ya, gue tahu,” Dia lalu mengambil notes biru miliknya kemudian berbicara lantang.

“Agenda dokter Raizel besok. Pertama, nonton. Kedua, nonton. Ketiga, nonton. Kee…..” Aku membekap mulutnya. Kalau dia dibiarkan terus mengoceh, dia akan membeberkan semua agendaku.

Dia memberontak. Aku yang tidak sadar akan perlawanannya itu limbung, hilang keseimbangan.

“Aww..” Gluteus maksimus-ku mendarat tak sempurna diatas lantai. Aku masih sibuk menepuk-nepuk rok yang kukenakan saat ekor mataku menangkap objek asing di hadapanku. Aku mendongak dan setelahnya hanya Tuhan yang tahu apa yang terjadi.

 

-Reggie POV-

Gue bangun dengan malas dan melirik ponsel sekilas, sedikit berharap ada sms dari sang konsulen untuk menggantikan gue dengan residen lain. Nihil. Gue tersenyum masam.

Denting bel memaksa gue bangun. Freya masuk dengan membawa beberapa canape bersamanya. Belum sampai ke ruang tengah, dia sudah bergidik ngeri.

“Ya, ampun! Apa perlu gue sewa pembokat untuk ngerapiin kamar lo?”

Sebelum gue sempat menjawab, dia sudah sibuk mengumpulkan baju-baju kotor, meletakkannya dalam keranjang, merapikan buku-buku di atas meja. Gue cuma bisa terperangah.

“Kenapa lo malah bengong? Ayo siap-siap!!”

Entah kenapa pemandangan seperti ini membuat gue merasa kalo Freya ada rasa ke gue. Gue tahu selama ini dia nggak pernah menceritakan seorang pria pun sama gue. Padahal gue yakin seratus persen kalo Michael udah nembak dia seminggu yang lalu. Apa dia belum membuka hatinya ?

Gue rasa ada sesuatu yang dia simpan rapat-rapat. Sesuatu yang nggak mau dia bagi ke gue. Sesuatu tentang rasa hatinya. Gue yakin itu pasti ada hubungannya dengan gue.

-Reggie POV-

Gue menuju UPK , menanyakan ruangan mana yang akan gue  masuki. Lurus, sampai di pertigaan pilih kiri. Yap. Gue tiba disini pukul 07.25 dan itu berarti gue nggak telat. Gue masuk dengan santai dengan puluhan pasang mata tertuju ke gue. Dari sudut mata, gue menangkap beberapa mahasiswi berbisik-bisik, mungkin menebak gue dosen atau bukan, karena mengingat panjangnya titel you-know-who membuat semua orang berpikir kalo titelnya itu setara dengan perubahan pigmen rambutnya. Dan itu benar.

Dua orang mahasiswi penunggu bangku depan tampaknya belum menyadari kehadiran gue. Mereka dengan cueknya bercanda padahal beberapa murid tampak menutup mulutnya rapat-rapat. Sampai salah satu dari mereka terjatuh. Gue menyipitkan mata, lalu tersentak. Gue kenal dia , gadis yang jatuh itu.

Dia sibuk membersihkan rok merah jambunya, membiarkan tangan gue menggantung di udara. Sejurus kemudian ia mendongak dan menatap gue dengan mata membulat. Gue memperpendek jarak, membuat tangan gue lebih mudah dijangkau olehnya.

Thanks,” ucapnya tulus, dengan volume yang nyaris tak terdengar.

Gue tersenyum simpul, lalu menuju meja depan untuk mempersiapkan materi kuliah. Sejak itu gue nggak berhenti menatapnya. Entah kenapa.

-Raizel POV-

Aku malu! Rasanya ingin sekali melempar muka merah ini jauh-jauh. Inilah beberapa alasan mengapa aku pantas malu:

  1. Jatuh tak indah di hadapan Reggie.
  2. Dia sekarang menatapku seperti  caraku selalu menatapnya.

Tria menyikut sikuku, melemparkan kertas tak beraturan di depan mejaku.

Lo mesti berterima kasih sama gue.

Aku mengernyitkan dahi.

Maksud lo? Terima kasih karena lo udah bikin gue tengsin setengah mampus ?

Tria mengerucutkan bibir.

Yey ni anak! Lo mesti berterima kasih karena kalo tanpa gue lo nggak bisa megang tangan Reggie untuk kedua kalinya.

Kalau dipikir-pikir benar juga. Tapi aku tidak boleh berterus terang padanya. Bisa terbang dia!

So..

Dia menulis jawabannya.

Lo harus traktir gue ke sushi tei dan gue anggap impas.

Aku melotot kearahnya.

Lo mau bolongin kantong gue! Gila!!

Dia terkikik geli.

Gue yakin tujuh turunan, lo nggak bakal cuci tangan abis ini.Gue punya firasat kalo lo bakal me-museum-kan tangan lo.

Lagi-lagi dia terkikik geli. Sialan.

Percakapan kertas itu terhenti saat semua mahasiswa terdiam. You-know-who masuk.

 

-Reggie POV-

Setengah jam lewat pukul delapan, you-know-who baru sampe. Gue mengumpat dalam hati. Gini ya kalo gue jadi konsulen nanti, bisa datang sesuka hati tanpa perlu merasa bersalah!

Gue menunjukkan senyum terbaik yang gue miliki meski hati udah pengen jerit. Untung ada Raizel yang bisa gue pelototin. Gue baru kenal dia sehari dua hari, tapi nggak tahu kenapa gue merasa seolah gue udah kenal dia lama. Mungkin karena dasarnya Raizel itu orangnya supel, jadi semua orang yang ada di sampingnya pasti ngerasa nyaman. Gue mengiyakan dalam hati. Tapi ada sesuatu dalam diri Raizel yang membuat gue yakin gue pernah ketemu jauh sebelumnya. Gue nggak ngerti.

Gue tadi nggak sengaja ngeliatin dia ama temen sebelahnya saling melempar kertas kusut. Gue nggak tahu apa yang mereka bicarakan tapi gue yakin ada nama gue disana.

Seratus menit berlalu dan you-know-who segera menyelesaikan kuliahnya. Gue yakin seribu persen kalo rerata mahasiswa sudah menguap minimal 5 kali permenit selama kuliah berlangsung. Slide-nya pun masih tersisa lima puluh lagi. Gila! Gue berjanji dalam hati kalo gue seandainya jadi dosen, gue cuma  akan buat slide gak lebih dari dua puluh lima.

Dia pun berbisik ke gue. “Reggie, tolong kamu tandatangani kartu mahasiswa ya, saya ada urusan,” Tanpa menunggu jawaban dari gue, dia segera berlalu, meninggalkan gue bersama tumpukan kartu hijau itu. Damn!

Timbul ide iseng. Gue mengambil microphone dan  memanggil “ Kamu yang pakai baju merah marun itu?”

Yang dipanggil malah bengong. Gue yakin lagi-lagi mata hitamnya akan membulat dua kali lipat. “Iya, kamu! Kemari sebentar!”

Dia lalu bergerak maju, menghampiri gue. “Ada apa?”

“Bisa bantu gue sebentar?”

-Raizel POV-

“Kamu yang pakai baju merah marun itu?” Suara beratnya terdengar lantang membuat saraf simpatisku bekerja ekstra. Tria hanya bersuit ria.

Aku menyeret langkahku, memaksa untuk bersikap datar. “Ada apa?”

“Bisa bantu gue sebentar?”

Dia menunjukkan tanda tangan you-know-who. “Lo bisa kan tiru tanda tangan ini?”

“Iya. Terus?”

“Bantuin gue. Gue bisa kejang kalo gue kerjain semua sendiri,” ujarnya mengiba.

“Es krim dan gue anggap impas?” Aku mengajaknya bersalaman.

Dia menyambut tanganku cepat. “Oke,”

Aku lalu merapatkan kursi, mengambil pena dan  mulai meniru tanda tangan dosen itu. Aku sesekali melirik ke arahnya. Dari jarak kurang dari semeter seperti ini aku bisa mencium parfumnya. Aku suka sekali aroma ini  dan  semua ini mengingatkanku kejadian tiga tahun lalu. Tiga tahun mampu membuatnya lebih macho. Dia memotong rambutnya, menumbuhkan sedikit jambang dan kumis tipis yang bertengger manis di atas bibirnya. Sekarang dia terkesan lebih seksi dan aku menyukainya.

Saat aku mencoba kembali mengintip dari balik mataku, ia menatapku lurus-lurus, membuatku terperanjat.

“Berapa menurut lo?”

“Maksudnya?”

“Penilaian lo terhadap gue,” Ia merapatkan jaraknya, membuat udara disekitarku menipis. Oh My God!

Aku menatapnya bingung. “ Gue tahu lo dari tadi ngeliatin gue,”

Oh, dear. Aku rasa darahku berhenti mengalir.

-Reggie POV-

Lo tau rasanya menangkap basah seseorang yang diam-diam memperhatikan lo? Gue belom tau dan maka dari itu gue mencobanya.

“Berapa menurut lo?” Gue menatapnya lekat. Strategi pertama.

Bola matanya berputar ke kanan-kiri. Gue pengin tertawa sekeras mungkin, tapi gue tau itu nggak sopan. Jadi gue masih tetep memasang tampang serius.

“Maksudnya?” Ia pura-pura tidak tahu.

Strategi kedua. Gue merapatkan tubuh ke arahnya, samar-samar aroma vanilla menguar dari rambutnya, masuk dengan manis ke hidung gue.

“ Gue tahu lo dari tadi ngeliatin gue,”

Dia salah tingkah. Mukanya udah kayak kepiting rebus. Gue suka ngeliat perubahan warna pada wajahnya. Gue suka tingkahnya yang malu-malu. Gue suka…

“ Gue tahu lo dari tadi ngeliatin gue,” ulang gue.

“Enam,” gumamnya. Gue seneng dia nggak bilang delapan, sembilan ataupun sepuluh. Bukan gue sombong, tapi kebanyakan cewek menilai gue sempurna. Mereka gak tahu apa yang bener-bener ada dalam diri gue. People only judge by my cover.

“Apa gue sejelek itu?”

“Gue belom tahu kepribadian lo dan menurut gue angka enam sementara cukup buat lo,”

Gue tersenyum penuh arti. “ Artinya gue bisa jadi sepuluh?”

“Tergantung elo-nya. Lo bisa buat diri lo bernilai sepuluh atau nggak bernilaipun, semua tergantung lo dan apa yang ada disini,” Dia menunjuk dadanya. Dia tersenyum. Entah sejak kapan gue suka senyum itu.

Nggak terasa kartu mahasiswa selesai kami tandatangan. Sebelum dia berbalik, gue memanggilnya.

“Raizel, lo tunggu aja gue di depan kampus,”

Dia mengangguk.

Tunggu gue.

terkadang hadirnya rasa sakit itu perlu, karena darisitu kita bersyukur atas bahagia yang sejenak kita lupakan